------###################$$$$ Kumpulan Artikel Penelitian Sains, Kesehatan, Kualitatif dan Kuantitatif Terbaru dan Akurat $$$$###################------ by alumni (SDN 24 KAMP. TANGNGA BELOPA LUWU - SMPN 1 BELOPA, LUWU - SMAN 1 BELOPA, LUWU - POLITEKNIK NEGERI UJUNG PANDANG - UNIV NEG MAKASSAR) SULAWESI SELATAN
Tampilkan postingan dengan label ALERGI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ALERGI. Tampilkan semua postingan
Rabu, 13 Juni 2012
Pengidap Alergi Berisiko Kanker Darah
Aliza Marcella
Pasien yang memiliki alergi, terutama alergi terhadap tanaman, rumput dan pohon memiliki risiko lebih kecil terkena kanker darah.
TEXAS, Jaringnews.com - Alergi tampaknya menjadi kondisi umum dan dapat mempengaruhi banyak orang. Alergi biasanya terjadi karena makanan, ataupun udara. Namun, studi terbaru menunjukkan alergi dapat meningkatkan risiko kanker.
Secara khusus, studi baru yang dilakukan para peneliti dari University of Washington Fred Hutchinson Cancer Research Center menemukan pasien dengan alergi mungkin memiliki risiko lebih tinggi berkembangnya leukemia daripada mereka yang tidak menderita alergi.
Penelitian ini melibatkan lebih dari 64 ribu pasien yang ditanya mengenai gejala alergi dan asma. Para pasien kemudian dievaluasi tujuh tahun kemudian untuk melihat apakah mereka telah didiagnosa menderita kanker darah.
Pasien yang memiliki alergi, terutama alergi terhadap tanaman, rumput dan pohon memiliki risiko lebih kecil terkena kanker darah. Tapi pasien dengan asma ternyata tidak memiliki peningkatan risiko kanker darah.
"Studi menunjukkan kemungkinan adanya peningkatan insiden kanker tertentu jika Anda memiliki jenis alergi tertentu", jelas Dr Edward Kim, profesor dari Departmen Onkologi di MD Anderson Cancer Center, Universitas Texas, seperti dilansir ABC News.
Para peneliti menduga peradangan yang sama yang menyebabkan gejala alergi dapat menyebabkan sistem kekebalan terlalu aktif. Dan aktivitas yang berlebihan pada nantinya dapat menyebabkan kanker darah.
“Penelitian ini diharapkan dapat membuat seseorang menjadi lebih waspada, rutin melakukan kontrol ke dokter, serta melakukan pemeriksaan fisik tahunan”, harap sang doketr
Secara khusus, studi baru yang dilakukan para peneliti dari University of Washington Fred Hutchinson Cancer Research Center menemukan pasien dengan alergi mungkin memiliki risiko lebih tinggi berkembangnya leukemia daripada mereka yang tidak menderita alergi.
Penelitian ini melibatkan lebih dari 64 ribu pasien yang ditanya mengenai gejala alergi dan asma. Para pasien kemudian dievaluasi tujuh tahun kemudian untuk melihat apakah mereka telah didiagnosa menderita kanker darah.
Pasien yang memiliki alergi, terutama alergi terhadap tanaman, rumput dan pohon memiliki risiko lebih kecil terkena kanker darah. Tapi pasien dengan asma ternyata tidak memiliki peningkatan risiko kanker darah.
"Studi menunjukkan kemungkinan adanya peningkatan insiden kanker tertentu jika Anda memiliki jenis alergi tertentu", jelas Dr Edward Kim, profesor dari Departmen Onkologi di MD Anderson Cancer Center, Universitas Texas, seperti dilansir ABC News.
Para peneliti menduga peradangan yang sama yang menyebabkan gejala alergi dapat menyebabkan sistem kekebalan terlalu aktif. Dan aktivitas yang berlebihan pada nantinya dapat menyebabkan kanker darah.
“Penelitian ini diharapkan dapat membuat seseorang menjadi lebih waspada, rutin melakukan kontrol ke dokter, serta melakukan pemeriksaan fisik tahunan”, harap sang doketr
jaringnews.com
Kamis, 07 Juni 2012
Ereksi dan Kulit Gatal Ada Kaitannya?
Asep Candra | Senin, 27 Februari 2012 | 15:02 WIB
KOMPAS.com - Bagi pria yang selama ini sering mengabaikan kesehatan kulit sebaiknya mulai waspada. Bukan tidak mungkin, kehidupan seks Anda bakal terancam berantakan gara-gara terlalu 'cuek' dengan kondisi kulit. Lalu apa sebenarnya hubungan antara seks dengan kesehatan kulit?
Penelitian terbaru mengindikasikan bahwa gangguan ereksi berkaitan dengan kondisi kesehatan kulit pria. Seperti yang dilaporkanJournal of Sexual Medicine, pria yang memiliki eksim ternyata berisiko lebih tinggi mengalami disfungsi ereksi (DE) atau impotensi. Eksim adalah sejenis alergi kulit yang menyebabkan kulit gatal-gatal dan bersisik.
Eksim juga lebih dikenal dengan dermatitis atopik yakni peradangan kulit akibat reaksi hipersensitif terhadap alergen. Pada umumnya eksim bersifat kambuhan, tetapi dapat dikendalikan agar tak mudah kambuh. Sebagian para ahli membedakan antara eksim dan dermatitis namun kebanyakan tidak membedakannya.
Dalam sebuah kajian, para ilmuwan dari Taipei Medical University Taiwan mengumpulkan informasi dari 4.000 pria yang didiagnosa mengalami impotensi. Data dan informasi ini kemudian dibandingkan dengan data 20.000 pria yang tidak mengidap DE.
Hasil kajian mengungkapkan, sekitar 11 persen pria pengidap DE pernah menderita eksim sebelum didiagnosa impotensi. Sementara itu, hanya 7 persen pria non DE yang memiliki riwayat eksim. Setelah memperhitungkan beragam faktor lain seperti diabetes dan penyakit jantung, peneliti menemukan bahwa pria impotensi 60 persen lebih mungkin memiliki riwayat eksim ketimbang pria yang tidak mengalami disfungsi ereksi.
"Ada hubungan antara DE dengan riwayat dermatitis atopik. Penelitian lanjutan diperlukan, baik untuk mereplikasi hasil yang tampak dalam riset ini maupun mengklarifikasi mekanisme di baliknya," ungkap pemimpin riset Shiu-Dong Chung.
Donald Leung, pakar alergi dan imunolog dari National Jewish Health di Denver, Colorado, berpendapat penelitian ini masih terlalu dini dan perlu dikaji lebih lanjut. Ia menilai, studi ini hanya berpatokan pada data administratif sehingga belum tentu akurat. Selain itu, ada keterbatasan pada riset ini yakni tidak jelas diungkapkan apakah pria menderita eksim pada saat didiagnosis DE atau beberapa tahun sebelumnya.
KOMPAS.com - Bagi pria yang selama ini sering mengabaikan kesehatan kulit sebaiknya mulai waspada. Bukan tidak mungkin, kehidupan seks Anda bakal terancam berantakan gara-gara terlalu 'cuek' dengan kondisi kulit. Lalu apa sebenarnya hubungan antara seks dengan kesehatan kulit?
Penelitian terbaru mengindikasikan bahwa gangguan ereksi berkaitan dengan kondisi kesehatan kulit pria. Seperti yang dilaporkanJournal of Sexual Medicine, pria yang memiliki eksim ternyata berisiko lebih tinggi mengalami disfungsi ereksi (DE) atau impotensi. Eksim adalah sejenis alergi kulit yang menyebabkan kulit gatal-gatal dan bersisik.
Eksim juga lebih dikenal dengan dermatitis atopik yakni peradangan kulit akibat reaksi hipersensitif terhadap alergen. Pada umumnya eksim bersifat kambuhan, tetapi dapat dikendalikan agar tak mudah kambuh. Sebagian para ahli membedakan antara eksim dan dermatitis namun kebanyakan tidak membedakannya.
Dalam sebuah kajian, para ilmuwan dari Taipei Medical University Taiwan mengumpulkan informasi dari 4.000 pria yang didiagnosa mengalami impotensi. Data dan informasi ini kemudian dibandingkan dengan data 20.000 pria yang tidak mengidap DE.
Hasil kajian mengungkapkan, sekitar 11 persen pria pengidap DE pernah menderita eksim sebelum didiagnosa impotensi. Sementara itu, hanya 7 persen pria non DE yang memiliki riwayat eksim. Setelah memperhitungkan beragam faktor lain seperti diabetes dan penyakit jantung, peneliti menemukan bahwa pria impotensi 60 persen lebih mungkin memiliki riwayat eksim ketimbang pria yang tidak mengalami disfungsi ereksi.
"Ada hubungan antara DE dengan riwayat dermatitis atopik. Penelitian lanjutan diperlukan, baik untuk mereplikasi hasil yang tampak dalam riset ini maupun mengklarifikasi mekanisme di baliknya," ungkap pemimpin riset Shiu-Dong Chung.
Donald Leung, pakar alergi dan imunolog dari National Jewish Health di Denver, Colorado, berpendapat penelitian ini masih terlalu dini dan perlu dikaji lebih lanjut. Ia menilai, studi ini hanya berpatokan pada data administratif sehingga belum tentu akurat. Selain itu, ada keterbatasan pada riset ini yakni tidak jelas diungkapkan apakah pria menderita eksim pada saat didiagnosis DE atau beberapa tahun sebelumnya.
Langganan:
Postingan (Atom)