website trackingwebsite tracking

PTC..PELUANG DAPAT UANG HANYA DENGAN MODAL KLIK

Cara Instan Untuk Verifikasi PayPal !
Tampilkan postingan dengan label GARAM. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label GARAM. Tampilkan semua postingan

Rabu, 13 Juni 2012

Terlalu Sedikit Garam Bisa Bahaya untuk Kesehatan


RABU, 6 JUNI 2012 18:26 wib


Gustia Martha Putri - Okezone

detail berita
Garam (Foto: google)
MENURUT studi penelitian yang banyak dikabarkan belakangan ini menyatakan bahwa asupan tinggi garam berbahaya bagi kesehatan. Tetapi, terlalu sedikit natrium pun hampir sama buruknya.

Sebuah studi terbaru yang diterbitkan dalam Journal of American Medical Association mengemukakan hasil penelitian bahwa terlalu sedikit natrium dapat mempengaruhi kesehatan jantung.

Para peneliti dari studi ini menemukan bahwa mirip dengan diet natrium tinggi, diet rendah sodium juga tidak bagus untuk kesehatan. Dalam penelitian ini, peneliti melibatkan 28.880 pria dan wanita berusia 55 tahun.

Sebagaimana dilansir iVillage, Rabu (6/6/2012), hasil penelitian mengungkapkan bahwa orang yang memiliki empat sampai enam gram natrium setiap hari berisiko 19 persen lebih besar mengalami penyakit kardiovaskular dan kematian dibandingkan dengan orang yang memiliki dua sampai tiga gram natrium. Dengan kata lain, lebih sedikit garam yang mereka konsumsi, semakin besar risikonya pada kesehatan mereka.

Selain itu, peserta studi yang sedang diet rendah garam mengalami peningkatan rawat inap dan risiko kematian lebih tinggi akibat gagal jantung, ujar seorang peneliti studi tersebut.

Dr Susan Jebb, Kepala Gizi dan Penelitian Kesehatan MRC di kantornya Cambridge seperti dikutipTimesonline, mengatakan konsumsi garam yang direkomendasikan untuk orang dewasa sebesar enam gram atau setara dengan satu sendok teh. Dengan konsumsi garam enam gram per hari, bisa mengurangi risiko stroke 13 persen dan risiko penyakit jantung 10 persen.

Asupan garam memang perlu dibatasi agar terhindar dari penyakit tekanan darah, seperti stroke dan jantung. Namun, terlalu sedikit garam dapat menyebabkan gangguan mental, ketidakmampuan berkonsentrasi, dan dalam kasus yang ekstrem bisa berakibat fatal mengalami hiponatremia.
(tty)

Asupan Garam Bikin Otak Makin Bodoh



Garam memengaruhi kesehatan secara keseluruhan.

JUM'AT, 2 SEPTEMBER 2011, 09:43 WIB
Anda Nurlaila
VIVAnews - Garam merupakan salah satu bumbu penyedap yang selalu disiram pada hampir setiap menu masakan. Banyak yang menganggap, makanan tanpa garam menyebakan hambar makanan, juga kurang nendang. Sebuah studi mungkin bisa menjadi pertimbangan untuk mengurangi konsumsi garam.

Penelitian terbaru menunjukkan, mengonsumsi lebih sedikit garam dan berolahraga lebih sering dapat menjaga otak tetap cerdas. Meskipun tak menyelidiki proses garam yang memengaruhi kecerdasan, peneliti menemukan korelasi kuat antara gaya hidup, konsumsi natrium tinggi dan menurunnya fungsi kognitif.

Studi menganalisis data dari studi longitudinal nutrisi dan penuaan. Hasilnya, ada hubungan kuat antara asupan natrium, aktivitas fisik rendah dan penurunan fungsi otak dengan usia seseorang. Hal ini telah memperhitungkan faktor lain seperti tingkat pendidikan dan diet secara keseluruhan.

Para peneliti tidak mengklaim garam mengikis sel abu-abu di otak penyebab penurunan kognitif, namun melihatnya sebagai penurunan tingkat kesehatan secara keseluruhan. Bahwa sodium terkait dengan kenaikan tekanan darah, berdampak pada kesehatan tulang dan jantung secara keseluruhan.

Namun, pengaruh garam dapat dikurangi dengan melakukan aktivitas fisik terutama berolahraga. Penulis utama studi Carol Greenwood, seorang ilmuwan gizi dan direktur interim penelitian terapan di Baycrest Kunin-Lunenfeld  Toronto menyatakan," Orang-orang yang aktif secara fisik terlindungi dari efek buruk garam, terlepas berapa banyak asupan sodium mereka. Yang penting adalah menjaga sistem kardiovaskular.  Dan manfaat olahraga akan lebih besar daripada efek negatif yang ditimbulkan garam," katanya seperti dikutip dari Shine.

Dr David Katz, direktur studi medis kesehatan masyarakat di Universitas Yale, menambahkan, " Cukup beralasan bahwa orang yang aktif , bugar dan sehat secara keseluruhan, lebih baik dalam  'menahan' potensi bahaya sodium daripada yang kurang berolahraga."

Namun ia mengingatkan, diet sodium akan langsung memengaruhi fungsi kognitif pada orang usia lanjut. Sehingga, asupan garam harus dibatasi hingga tingkat yang direkomendasikan antaralain mengurangi makanan olahan dan lebih baik mengasup makanan yang diolah dari bahan segar
.

Senin, 11 Juni 2012

Kurangi Kadar Garam dengan Mencium Makanan


Merry Wahyuningsih - detikHealth

img
(Foto: thinkstock)
Burgundy, Bermain-main dengan bau makanan bisa menjadi kunci untuk membuat makanan tampak lebih asin. Mencium makanan sebelum Anda memakannya bisa membantu mengurangi kadar garam yang Anda makan.

Otak bisa tertipu dan berpikir makanan lebih asin daripada yang sebenarnya, yaitu dengan menggunakan bau tertentu yang meningkatkan persepsi garam dalam makanan.

Menurut peneliti, mencium makanan sebelum Anda memakannya dapat mengurangi kandungan garam dari makanan lebih dari 25 persen, dengan meningkatkan intensitas bau tertentu.

Penelitian baru yang dilakukan oleh ilmuwan University of Burgundy, menunjukkan bahwa dengan menambahkan aroma buatan yang terkait dengan rasa asin, seperti berasal dari sarden, keju atau daging, bisa menipu pikiran konsumen bahwa ada lebih banyak garam dalam makanan dibandingkan yang sebenarnya. Peneliti telah mengidentifikasikan 14 bau berbeda yang dapat meningkatkan persepsi asin makanan tanpa tambahan garam.

"Dalam penelitian kami mengamati peningkatan rasa asin disebabkan oleh bau sarden tetapi tidak dengan bau wortel. Bau sarden kongruen dengan rasa asin sedangkan wortel tidak bau," jelas Dr Thierry Thomas-Danguin, peneliti Centre for Science of Taste and Food di University of Burgundy, seperti dilansir Telegraph, Senin (15/8/2011).

Bau yang meningkatkan persepsi asin adalah sebuah fenomena yang terpusat berdasarkan memori asosiatif dan pengaktifan representasi internal dari bau garam.

Selain bau sarden, bau lain seperti kacang tanah, ham, teri dan bacon juga dapat meningkatkan rasa garam dalam makanan.

Dengan menambahkan bau tersebut untuk makanan, peneliti percaya hal itu akan dapat mengurangi jumlah garam pada makanan sebenarnya. Namun dibutuhkan penelitian lebih lanjut untuk dapat mengembangkannya.

Konsumsi garam berlebihan adalah faktor risiko utama pada penyakit jantung, tekanan darah tinggi dan stroke.

Food Standard's Agency memperkirakan bahwa pengurangan konsumsi garam hingga jumlah sehat 6 gram per hari dapat mencegah sekitar 20.000 kematian prematur per tahun. Saat ini rata-rata orang dewasa Inggris makan 8,6 gram garam sehari.


Sumber : detik.com

Makanan Asin Bisa Rusak Pembuluh Darah Dalam Waktu 30 Menit


Vera Farah Bararah - detikHealth

img
(Foto: thinkstock)
Jakarta, Mengonsumsi makanan dengan kadar garam atau natrium yang tinggi bisa menimbulkan masalah bagi tubuh. Namun ternyata efek ini lebih buruk daripada yang diperkirakan. Kadar garam tinggi bisa merusak pembuluh darah dalam waktu 30 menit.

Peneliti dari Australia mengungkapkan bahwa makanan yang sarat akan garam dengan cepat akan menghentikan pelebaran pembuluh darah, meskipun orang tersebut memiliki tekanan darah yang normal. Kerusakan pembuluh darah ini bisa terjadi hanya dalam waktu 30 menit dari saat ia makan.

Kacie M Dickinson dan rekannya dari Commonwealth Scientific and Industrial Research Organization di Adelaide melibatkan 16 orang sehat dalam studi ini. Partisipan dibagi menjadi dua kelompok, yang mana kelompok pertama diberikan sup tomat dengan kadar garam rendah sedangkan kelompok kedua diberikan sup tomat yang sama dengan kadar garam 10 kali lipat lebih banyak.

Setelah itu peneliti mengukur arteri (pembuluh darah) peserta dengan menggunakan ultrasound. Didapatkan arteri peserta yang mengonsumsi garam lebih banyak akan mengalami kerusakan yang membuat aliran darah terbatas. Efek ini akan mulai berkurang dalam waktu sekitar 2 jam. Hasil ini telah dipublikasikan dalamAmerican Journal of Clinical Nutrition.

"Yang penting dari studi ini adalah menambahnya bukti bahwa natrium bisa memberikan efek kronis langsung pada pembuluh darah," ujar Dr Sahil Parikh, ahli jantung dari University Hospitals Case Medical Center, seperti dikutip dari AOLHealth, Kamis (10/2/2011).

Ketika jantung memompa darah melalui arteri akan menghasilkan gas oksida nitrat yang menyebabkan dinding arteri menjadi rileks dan memungkinkannya untuk menyempit atau melebar, sesuai dengan keadaan.

Para ilmuwan percaya garam yang berlebih bisa menghalangi pelepasan oksida nitrat yang membuat dinding arteri mengeras dalam waktu singkat. Karenanya orang yang berpotensi atau memiliki faktor risiko terhadap hipertensi dan juga jantung harus melakukan diet garam atau natrium.

Parikh menyarankan masyarakat untuk mengikuti pedoman yang direkomendasikan dalam mengonsumsi garam per harinya. Sedangkan pada orang yang bekerja keras dan berolahraga mungkin membutuhkan kadar garam yang sedikit lebih tinggi dalam pola dietnya.

Rekomendasi konsumsi garam yang diberikan pakar kesehatan setiap hari berdasarkan usia adalah
0-6 bulan 1 gram
7-12 bulan 1 gram
1-3 tahun 2 gram
4-6 tahun 3 gram
7-10 tahun 5 gram
11-14 tahun 6 gram
Dewasa 6 gr
(ver/ir


sumber : detik.com

Penyakit-penyakit Akibat Konsumsi Garam Berlebih


Vera Farah Bararah - detikHealth

img
(Foto: thinkstock)
Jakarta, Garam merupakan bumbu yang selalu digunakan dalam masakan sehari-hari. Tapi sebaiknya perhatikan jumlah asupan garam yang dikonsumsi, karena jika berlebihan bisa memicu beberapa penyakit.

Garam adalah mineral yang terdiri dari 40 persen natrium dan 60 persen klorida. Mineral tersebut memang penting untuk semua makhluk hidup, tapi tidak boleh dikonsumsi secara berlebihan.

Kelebihan garam dalam tubuh bisa menyebabkan efek yang serius pada kesehatan, termasuk rasa haus, anemia, rasa lapar palsu dan beberapa penyakit utama seperti dikutip dari Lifemojo, Jumat (17/6/2011) yaitu:

1. Tekanan darah tinggi (hipertensi)
Asupan garam yang tinggi diketahui bisa meningkatkan tekanan darah. Studi tahun 2007 menemukan pasien dengan tekanan darah tinggi akan mendapatkan manfaat yang signifikan dengan mengurangi asupan garam.

2. Penyakit kardiovaskular
Tekanan darah yang tinggi bisa mengakibatkan seseorang terkena penyakit serius yang berhubungan dengan kardiovaskular seperti jantung dan kelumpuhan stroke. Diketahui mengurangi asupan 1 gram garam bisa mengurangi risiko stroke hingga seperenamnya.

3. Pembesaran jantung
Catatan medis menemukan asupan garam yang tinggi bisa membuat seseorang berisiko menderita left ventricular hypertrophy (pembesaran dari jaringan otot yang membentuk dinding utama jantung untuk memompa).

4. Retensi cairan
Jumlah natrium dalam tubuh menentukan tingkat cairan. Jika konsumsi garamnya terlalu banyak maka ginjal akan sulit menghilangkannya dan membuat tubuh mempertahankan cairan yang bisa memicu pembengkakan.

5. Gangguan sistem pencernaan
Garam berlebih yang masuk ke tubuh bisa berinteraksi dengan bakteri H.pylori yang menyebabkan tukak lambung, serta garam berlebih bisa mengurangi jumlah pepsin (enzim pencernaan) di dalam tubuh yang akan meningkatkan keasaman dan diare.

6. Meningkatkan sekresi empedu
Ketika seseorang banyak mengonsumsi makanan asin maka sekresi empedu akan meningkat yang menyebabkan kepadatan darah semakin tinggi sehingga mengurangi vitalitas. Hal ini juga mengakibatkan masalah kulit seperti wajah dan bibir kering serta kadang menyebabkan sakit dan pendarahan di bibir.

7. Osteoporosis 
Kelebihan garam bisa mencegah penyerapan kalsium dalam tubuh yang membuat seseorang rentan terkena osteoporos
(ver/ir


sumber : detik.com

Jutaan Kematian Bisa Dicegah dengan Mengurangi Garam


Vera Farah Bararah - detikHealth

img
(Foto: thinkstock)
Jakarta, Konsumsi garam yang terlalu tinggi bisa menimbulkan bahaya bagi tubuh termasuk penyakit kardiovaskular. Karenanya mengurangi asupan garam, bisa mencegah jutaan kematian di seluruh dunia.

Professor Francesco Cappuccio dari Warwick Medical School dalam pertemuan tahunan PBB tingkat tinggi mengenai penyakit tidak menular menuturkan asupan garam yang diturunkan memiliki potensi untuk menyelamatkan jutaan nyawa di seluruh dunia karena mengurangi kasus penyakit jantung dan stroke.

Penelitian baru yang dilakukan oleh Professor Cappuccio dalamBritish Medical Journal menunjukkan bahwa di Inggris pengurangan 3 gram garam per hari bisa mencegah 8.000 kematian stroke dan 12.000 kematian penyakit jantung koroner per tahun di Inggris.

Penurunan serupa juga terjadi di Amerika Serikat yaitu pengurangan kasus penyakit jantung koroner sebanyak 120.000, kasus stroke berkurang hingga 6.000 dan serangan jantung hingga 99.000 per tahunnya. Kondisi ini bisa menghemat biaya perawatan kesehatan sebesar US$ 24 miliar per tahunnya.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga telah menetapkan tujuan global dalam mengurangi asupan garam hingga kurang dari 5 gram (sekitar 1 sendok teh) per orang per tahunnya. Hal ini karena asupan garam di banyak negara saat ini sudah jauh melebihi yang dianjurkan.

"Harus diakui bahwa produsen makanan juga memberikan kontribusi terhadap epidemi penyakit kardiovaskular, karenanya mereka juga memiliki tanggung jawab yang besar," ujar Professor Cappuccio.

Professor Cappuccio memperingatkan pencegahan yang bisa dilaksanakan melalui reformulasi makanan, intervensi pasar atau tindakan wajib bagi seluruh industri, serta peran dari semua pihak termasuk akademisi, pemerintah dan organisasi kesehatan.

Garam adalah mineral yang terdiri dari 40 persen natrium dan 60 persen klorida. Mineral tersebut memang penting untuk semua makhluk hidup, tapi tidak boleh dikonsumsi secara berlebihan. Karena kelebihan garam dalam tubuh bisa menyebabkan efek yang serius pada kesehatan, termasuk rasa haus, anemia, rasa lapar palsu dan beberapa penyakit.<
(ver/ir


Sumber : detik.com

Garam Bisa Bikin Kecanduan Seperti Rokok dan Narkoba


Merry Wahyuningsih - detikHealth

img
(Foto: thinkstock)
Melbourne, Sama halnya dengan rokok dan obat-obatan terlarang, garam ternyata juga bisa bikin orang ketagihan. Penelitian menunjukkan garam, rokok dan narkoba menstimulasi daerah otak yang sama.

Temuan ini dapat menjelaskan mengapa banyak orang yang begitu sulit untuk mengurangi asupan garam, meskipun terdapat peringatan tentang bahaya tekanan darah tinggi dan kesehatan jantung.

Peneliti dari Australia dan Amerika menemukan bahwa garam dapat memicu gen, sel-sel otak dan koneksi otak yang sama dengan yang dilakukan oleh rokok dan obat-obatan terlarang.

"Dalam studi ini kami telah menunjukkan bahwa salah satu naluri klasik 'kelaparan' garam, menyediakan organisasi saraf sama seperti yang pada kecanduan opiat (opium) dan kokain," ujar Prof Derek Denton dari University of Melbourne, seperti dilansirTimeofindia, Selasa (11/10/2011).

Menurut Prof Denton, ketika orang makan makanan asin maka sel otak akan membuat protein lebih banyak dari biasanya, sama seperti yang terjadi ketika otak sudah kecanduan heroin, kokain dan nikotin.

Penelitian ini juga mengungkapkan bahwa setelah makan garam otak akan percaya telah memperbaiki tubuh dengan baik setelah sebelumnya 'kelaparan' garam. Dengan kata lain, perubahan yang disebabkan oleh 'nafsu' garam menghilang sebelum garam bisa meninggalkan usus, memasuki darah dan sampai ke otak.

"Sungguh menakjubkan melihat gen yang disetting 'off' ketika kehilangan natrium (garam) tiba-tiba kembali pada state awal hanya dalam beberapa menit," jelas Prof Denton.

Hasil penelitian ini telah dipublikasikan pada jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences.

Penelitian sebelumnya juga menemukan bahwa makanan yang mengandung garam akan terus merangsang otak sehingga dopamin akan menyala dan membuat seseorang terus memikirkan makanan tersebut yang akan memicu terjadinya ketagihan terhadap makanan tersebut.

Selain itu indera pengecap manusia memang mendambakan makanan asin dari waktu ke waktu, sehingga lebih banyak gula dan garam yang dimakan, maka keinginan untuk terus makan juga semakin kuat. Kondisi ini seperti halnya seseorang yang kecanduan nikotin dalam rokok.

Jika rasa ketagihan ini terus menerus muncul maka bisa memicu terjadinya obesitas, diabetes dan tekanan darah tinggi (hipertensi). Penyakit-penyakit tersebut diketahui bisa menimbulkan berbagai macam komplikasi.

Untuk itu masyarakat diharapkan mulai mengurangi asupan gula dan garam secara bertahap, misalnya dengan menghindari makan di depan televisi yang membuat seseorang menjadi overeating dan mengurangi stres.


sumber : detik.com

Garam Laut Tidak Lebih Sehat dari Garam Meja


Merry Wahyuningsih - detikHealth

img
(Foto: thinkstock)
Jakarta, Garam laut dan garam batu (rock salt) diyakini sebagai alternatif yang lebih rendah bahaya kesehatannya ketimbang garam meja biasa. Namun studi membuktikan bahwa garam laut sama saja berbahayanya dengan garam meja.

Garam adalah mineral yang terdiri dari 40 persen natrium dan 60 persen klorida. Mineral tersebut memang penting untuk semua makhluk hidup, tapi tidak boleh dikonsumsi secara berlebihan.

Studi yang dilakukan Salt and Health company menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan komposisi kimia antara berbagai jenis garam. Semua jenis garam 100 persen mengandung natrium klorida, yang berbahaya bila dikonsumsi dalam jumlah besar.

"Juru masak tidak berperilaku cukup jujur dengan mempromosikan penggunaan garam laut atau garam batu (rock salt) sebagai pilihan sehat, yang diklaim mengandung mineral penting," jelas dokter dari Wolfson Institute of Preventive Medicine, seperti dilansirGeniusbeauty, Rabu (21/12/2011).

Pada studi ini, dilakukan juga survei pada 1000 orang dan menemukan bahwa 1 dari 3 responden menganggap bahwa garam laut dan garam batu lebih sehat ketimbang garam meja.

Saat ini, orang makan garam terlalu banyak (lebih dari satu sendok teh per hari yang direkomendasikan oleh dokter) sehingga dapat berisiko terhadap tekanan darah tinggi, risiko stroke dan gagal jantung kongestif.

Berdasarkan penelitian, garam sangat erat hubungannya dengan hipertensi. Setengah sendok teh garam dapat menaikkan tekanan sistolik (tekanan darah ketika jantung memompa) naik sebesar 5 poin dan tekanan diastolik (tekanan ketika jantung relaksasi) naik 3 poin. Sedangkan ketika orang mulai mengurangi garam menjadi kurang dari 1 sendok teh, maka tekanan sistolik akan turun 7 poin dan tekanan diastolik turun 4 poin.


sumber : detik.com

Diet Rendah Garam Tidak Terlalu Bermanfaat untuk Jantung


Adelia Ratnadita - detikHealth

img
(Foto: thinkstock)
Jakarta, Diet rendah garam dianggap dapat menurunkan risiko penyakit tekanan darah tinggi (hipertensi) dan penyakit jantung (kardiovaskular). Namun, sebuah hasil studi baru menunjukkan bahwa, mengurangi asupan garam mungkin tidak ada manfaatnya bagi jantung.

Diet rendah garam memang mengurangi tekanan darah, namun akan meningkatkan kadar kolesterol lemak, dan hormon dalam darah yang diketahui dapat meningkatkan risiko penyakit jantung.

"Secara keseluruhan, diet rendah garam memiliki efek yang baik dan buruk yang menyebabkan diet tersebut tidak terlalu berpengaruh. Sehingga diet tersebut memiliki efek yang relatif kecil terhadap perkembangan penyakit," kata peneliti Dr. Niels Graudal, dari Copenhagen University Hospital, Denmark seperti dilansir dariFoxNewsHealth, Kamis (10/11/2011).

Penelitian tersebut membuat banyak pihak bertanya-tanya mengenai manfaat jangka panjang diet rendah garam. Tinjauan dari 7 studi sebelumnya yang telah diterbitkan dalam journal the Cochrane Library menemukan pengurangan konsumsi garam tidak menurunkan risiko penyakit jantung.

"Rekomendasi tersebut seharusnya tidak pernah ada, karena tidak ada ilmu pengetahuan cukup untuk menunjang argumen tersebut," kata Dr. Graudal.

"Temuan tersebut jelas memerlukan penelitian lebih lanjut, karena terlalu cepat untuk menghapuskan rekomendasi diet rendah garam," kata Dr. Jochen Reiser, seorang profesor di University of Miami Miller School of Medicine.

Dr Graudal dan rekannya telah mengkaji data dari 167 studi di mana peserta secara acak diinstruksikan untuk melakukan diet rendah garam dan diet tinggi garam. Rata-rata, peserta diamati perkembangannya selama setidaknya 4 minggu. Para peneliti hanya melihat efek kecil dari diet rendah garam pada tekanan darah.

"Efek tersebut paling signifikan untuk orang dengan hipertensi, diet rendah garam mengurangi tekanan darah mereka sebesar 3,5 persen. Namun, diet rendah garam menyebabkan peningkatan 2,5 persen pada tingkat kolesterol dan peningkatan 7 persen pada trigliserida. Selanjutnya, juga menyebabkan peningkatan hormon yang mengatur kadar garam tubuh, yang akan menyebabkan tubuh untuk mempertahankan garam, sehingga garam tidak dibuang bersama urin," kata Dr. Graudal.

Hasil penelitian tersebut telah dipublikasikan dalam American Journal of Hypertension pada 9 November 2011. Rata-rata orang Amerika mengonsumsi 3,5-5 gram garam (natrium) per hari. American Heart Association mengeluarkan pedoman diet rendah garam terbatas pada 1,5 gram sehari.

"Temuan tersebut menunjukkan bahwa, perlu ditinjau kembali bahwa diet rendah garam sangat bermanfaat. Namun, studi tersebut memiliki keterbatasan. Para peneliti mendefinisikan diet rendah garam dengan batasan kurang dari 2,3 gram garam per hari. Hal tersebut masih menunjukkan jumlah yang tinggi dari garam. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk menyelidiki apakah diet rendah garam mungkin memiliki manfaat yang lebih bagi kesehatan. Selain itu, penelitian harus menguji efek dari diet rendah garam selama lebih dari 4 minggu," kata Dr Reis
(ir/ir


sumber : detik.com

Kurangi Garam, Rahasia Hidup Sehat Lebih Lama


PEMAKAIAN garam pada makanan memang menyedapkan. Tapi berhati-hatilah, terlalu banyak garam dapat membahayakan kesehatan tubuh Anda.


Siapa yang tak mau hidup sehat sepanjang masa? Anda bisa dapatkan itu jika Anda menyayangi kesehatan tubuh dengan cara menjaganya dengan baik. Salah satu cara menjaganya dengan membatasi asupan makanan yang masuk ke dalam tubuh. Guna menjaga kesehatan peredaran darah agar tidak terserang hipertensi atau tekanan darah tinggi, perhatikan asupan sodium ke dalam tubuh.

Mengatur kadar sodium yang masuk dalam tubuh paling mudah dengan membatasi asupan garam. Menurut Prof C Hanny Wijaya, seorang ahli gizi dari IPB, dalam sehari batas konsumsi garam dalam satu hari hanya boleh enam gram garam.

Adapun langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk mengurangi konsumsi garam adalah dengan cara:

- Konsumsi lebih banyak produk segar, lebih sedikit olahan.
- Batasi penambahan garam pada masakan Anda; caranya dengan gunakan rempah-rempah, gunakan pengganti garam.
- Pilih produk yang rendah garam.
- Konsumsi buah dan sayur.
- Cerdas dalam membaca label.

Guna membantu Anda mengingat kadar asupan sodium, berikut data kandungan sodium pada beberapa makanan:
1 bungkus potato chips = 0,7 gram
french fries besar = 0,9 gram
1 porsi mie ayam = 1,5 gram
1 potong sosis = 2 gram
Dada ayam goreng tepung = 2,8 gram

Selain beberapa list di atas, saran dari Prof Hanny, baiknya Anda selalu memerhatikan tabel papan gizi pada setiap produk makanan yang Anda beli.

"Jangan konsumsi makanan yang jumlah sodiumnya tertulis lebih dari 300 miligram sodium," pungkasnya.
(tty)

Sumber : okezone.com
JUM'AT, 27 JANUARI 2012 09:51 wib
Gustia Martha Putri - Okezone

Garam vs MSG, Mana Lebih Menguntungkan Kesehatan?



detail berita
MSG mengandung jumlah sodium lebih sedikit dibandingkan dengan garam. (Foto: gettyimages)
BANYAK ibu rumah tangga masih mengandalkan garam untuk mendapatkan rasa gurih makanan. Padahal, MSG terbukti bisa menggantikan garam, bahkan dengan risiko kesehatan yang jauh lebih minim.

Protein merupakan penyusun 20 persen berat tubuh manusia. Dari Stable Isotope Tracer Study yang dilakukan Munro (1979) terhadap manusia dengan berat badan 60 kg terungkap, bahwa terdapat 1400 mg glutamat (dalam bentuk bebas dan terikat) yang disimpan dalam tubuh ditambah dengan 41 g glutamat bebas yang diproduksi setiap harinya.

Sedangkan secara alami, glutamat bebas juga banyak ditemukan pada berbagai bahan pangan. Dalam praktiknya, komponen-komponen pembentuk rasa umami bisa berkolaborasi menghasilkan efek sinergi. Kombinasi antara MSG dengan 5’-Inosine Monophosphate (IMP) atau inosinate dan disodium 5’-Guanosine Monophosphate (GMP) atau guanylate dapat memberikan rasa umami yang lebih kuat.

Efek sinergisme tersebut sebenarnya juga telah banyak diaplikasikan pada berbagai resep kuliner berbagai negara, misalnya pada makanan Jepang, yang dikenal dengan nama “Dashi”. Dalam resepdashi, digunakan dried bonito (sebagai sumber IMP) dan juga kelp. Kombinasi keduanya dapat meningkatkan rasa dan flavor.

Sebenarnya, banyak isu yang menyudutkan penggunaan MSG. Namun, hampir semua isu tersebut terbantahkan oleh berbagai penelitian ilmiah. Bahkan sebaliknya, MSG terbukti memberi beberapa manfaat terhadap kesehatan. Salah satunya adalah dalam mengurangi asupan sodium. Sodium berkaitan erat dengan masalah hipertensi, sehingga banyak orang mulai mengurangi konsumsinya. Sumber utama sodium adalah garam (NaCI). Recommended Daily Intake (RDI) untuk sodium adalah 2 g (setara dengan 5g garam).

MSG mengandung jumlah sodium lebih sedikit dibandingkan dengan garam. Kandungan garam sodium pada 1 sendok makan garam tiga kali lebih tinggi sodium pada 1 sendok makan MSG.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Yamaguchi dan Takahashi (1984), diketahui bahwa ternyata MSG dapat mempertegas rasa asin. Dengan demikian, MSG dapat mengurangi penggunaan garam untuk memeroleh rasa enak yang sama. Artinya, dengan pengurangan jumlah garam, sodium pun akan berkurang. (ftr)
Sumber : okezone.com
RABU, 25 AGUSTUS 2010 14:13 wib
Adhini Amaliafitri - Okezone

Mengapa Garam Bikin Ketagihan?



MASAKAN akan terasa kurang pas tanpa garam yang menjadi penyedap rasa. Namun makanan yang mengandung garam diformulasikan secara khusus untuk menarik konsumen dan memicu terjadinya kecanduan. Itu disebabkan makanan tersebut mengaktifkan bagian otak yang memperkuat perilaku adiktif.

Seperti rokok dan obat keras, garam memiliki zat adiktif yang merangsang sel-sel otak. Itu berdasarkan hasil kesimpulan para peneliti yang mengklaim bahwa garam merupakan zat adiktif dengan cara yang sama seperti rokok atau obat-obatan keras, sehingga memicu gen yang sama seperti pada sel-sel otak dan koneksi di otak.

Temuan ini dapat membantu menjelaskan mengapa banyak orang begitu sulit untuk mengurangi garam, meskipun peringatan tentang bahaya tekanan darah dan kesehatan jantung mengintai. Demikian yang dinukil dariDailymail, Selasa (12/7/2011).

Untuk studi ini, ilmuwan Australia dan Amerika terus melakukan penelitian kepada beberapa tikus yang menjalani diet rendah garam dan memberi orang beberapa tetes garam.

Aktivitas dalam otak manusia kemudian dibandingkan dengan pada tikus yang makan secara normal. Mereka juga memelajari otak tikus yang telah kelaparan selama tiga hari dan kemudian diberi air asin untuk diminum dengan bebas.

Ketika tikus itu masih membutuhkan garam, sel-sel otak membuat protein lebih dari biasanya. Ini berhubungan dengan kecanduan zat seperti heroin, kokain, dan nikotin.

Profesor Derek Denton, dari University of Melbourne mengatakan, "Dalam studi ini kami telah menunjukkan bahwa salah satu naluri klasik, kelaparan terhadap makanan dengan tambahan garam, menyediakan organisasi saraf yang kecanduan opiat subserves, dan kokain."

Penelitian ini juga mengungkapkan bahwa setelah meniadakan pemakaian garam, otak percaya bahwa itu telah memerbaikinya dengan baik sebelum harus dilakukan secara fisik.

Dengan kata lain, perubahan yang disebabkan oleh nafsu garam menghilang jauh sebelum garam melewati usus, memasuki darah, dan sampai ke otak.

Profesor Denton mengatakan, "Sungguh menakjubkan melihat bahwa gen yang mengatur 'ditiadakannya' natrium sudah mulai kembali ke keadaan semula dalam waktu sepuluh menit. Ini merupakan mekanisme evolusi nilai kelangsungan hidup yang tinggi karena ketika binatang kehabisan air atau garam dapat minum apa yang dibutuhkan dalam lima sampai 10 menit, dan keluar tempat persembunyian yang membuatnya kurang rentan terhadap predator."

Para peneliti mengatakan, bahwa pentingnya garam untuk kesehatan secara keseluruhan berarti bahwa keinginan untuk itu membentuk “naluri kuno” yang tertanam di otak. Hal ini mungkin menjelaskan mengapa kita menemukan makanan yang asin terasa begitu lezat.

Percobaan juga mengungkapkan, bahwa menghentikan tikus dari mendapatkan rasa kesenangan mengudap makanan dengan tambahan garam sebagian dipadamkan terhadap nafsu makan hewan yang dilengkapi “bumbu penyedap” itu. Begitu laporan jurnal Proceedings dari National Academy of Sciences.

Dr Wolfgang Liedtke dari Duke University di North Carolina mengatakan, "Kami terkejut dan bersyukur untuk melihat bahwa kecanduan terkait kuat dengan selera makan yang dilengkapi natrium."

Pembalap Inggris rata-rata mengonsumsi 8,6 gram garam sehari, sementara batas yang direkomendasikan adalah 6 gram per hari.

Sebuah studi terbaru dari Universitas Exeter menyebutkan, hampir 6.500 orang menyimpulkan "tidak ada bukti kuat" bahwa kadar dalam makanan mengurangi risiko penyakit jantung atau kematian dini.

Bahkan ditemukan bahwa meniadakan konsumsi garam benar-benar menimbulkan kematian pada beberapa pasien dengan masalah jantung.

Namun, kampanye kesehatan mengatakan ini karena pengurangan garam perlu periode yang lebih lama daripada sebuah penelitian. (nsa)

Sumber : Okezone.com
Chaerunnisa - Okezone
Selasa, 12 Juli 2011 17:52 wib

Garam Mandi Sebabkan Ketergantungan Obat


detail berita
Garam mandi sebabkan ketergantungan obat. (Foto: Getty Images)
SALAH satu bahan kimia atau kosmetik yang digunakan dalam ritual mandi tersebut adalah garam mandi atau dikenal denganbath salt. Melarutkan satu genggam garam mandi dapat melancarkan peredaran darah, menghilangkan capai, merilekskan otot-otot yang tegang, dan bisa dipakai untuk manicure & padicure.

Siapa sangka dengan semua nilai positif tersebut, garam mandi bisa berbahaya untuk kesehatan manusia, seperti yang dinyatakan para ahli dari American Association of Poison Control Center.

Keprihatinan dokter ini disebabkan oleh efek samping yang muncul setelah mandi dengan garam tersebut. Menurut para ilmuwan, garam mandi termasuk pemicu tekanan darah tinggi, nadi cepat, berlebihan, dan halusinasi. Selain itu, orang yang mandi dengan garam ini akan menyebabkan paranoid, dan amnesia. Demikian yang dikutip okezone dari Genius Beauty, Jumat (21/1/2011).

Para ilmuwan menekankan, garam mandi digunakan oleh beberapa pecandu narkoba sebagai pengganti kokain. Dalam kasus tersebut, ada keinginan mengembangkan produk sama dengan pengaruh penggunaan metamfetamin. Alasannya, terletak pada kenyataan bahwa garam mandi berisi zat kimia methylenedioxypyrovalerone (MDPV). Senyawa kimia ini tidak direkomendasikan untuk penggunaan medis di Amerika Serikat.

Pada akhir Desember, 85 kasus intoksikasi dengan bahan yang digunakan dalam garam mandi telah dicatat oleh para pakar di negara bagian Louisiana. (nsa)

Sumber : okezone.com
Chaerunnisa - Okezone
Jum'at, 21 Januari 2011 10:54 wib


Garam Tak Pengaruhi Kesehatan Jantung


detail berita
Makan garam tak timbulkan penyakit jantung (Foto: getty image)
MENGURANGI asupan garam ternyata tidak mampu menurunkan risiko terkena sakit jantung. Ini tentu saja bertolak belakang dari pedoman kesehatan umum yang jamak disosialisasikan ke masyarakat.

Mengurangi asupan garam dalam program diet pada populasi umum ternyata tidak memiliki dampak kesehatan secara keseluruhan yang positif. Mengurangi garam juga tidak mengurangi risiko seseorang terkena penyakit jantung. Hal itu terungkap dalam review lebih dari 160 studi ilmiah yang telah diterbitkan beberapa waktu lalu. Dalam analisis mengenai sederetan efek kesehatan utama dari garam,peneliti menulis dalam American Journal of Hypertension dan jurnal di Cochrane Library.

Ulasan sistematis tersebut menambahkan bukti baru yang semakin banyak yang menunjukkan bahwa para pejabat kesehatan harus kembali mengevaluasi kebijakan yang menyarankan semua orang untuk makan lebih sedikit garam.

Tinjauan ini,yang disusun dan menganalisis temuan dari 167 penelitian sebelumnya, menemukan bahwa saat mengurangi garam untuk menurunkan tekanan darah pada orang yang memiliki tekanan darah normal atau tinggi, ternyata juga akan menyebabkan peningkatan beberapa hormon dan senyawa lainnya yang dapat memengaruhi kesehatan jantung seseorang.

“Saya tidak bisa benarbenar melihat,jika Anda melihat total dari bukti-buktinya bahwa ada alasan untuk memercayai adanya manfaat dari penurunan asupan garam dalam populasi umum,”kata Niels Graudal dari Copen-hagen University Hospital di Denmark,yang memimpin reviewtersebut kepada Reuters lewat percakapan telepon.

Menurunkan asupan garam memang bagus untuk mengurangi tekanan darah. Namun, sejumlah penelitian belum menunjukkan apakah yang diterapkan pada kesehatan jantung akan baik juga secara keseluruhan pada populasi yang lebih luas.Meski demikian, banyak negara telah menyusun pedoman pemerintah yang menyerukan masyarakatnya untuk mengurangi asupan garam untuk kepentingan jangka panjang kesehatan mereka.

Tekanan darah tinggi atau disebut juga hipertensi merupakan salah satu penyebab utama dari stroke,serangan jantung, dan penyakit kardiovaskular lainnya,yang bersama-sama merupakan pembunuh manusia terbesar di seluruh dunia dan telah menewaskan lebih dari 17 juta jiwa per tahunnya. “Pertanyaannya bukan kita ‘harus’ mengurangi asupan garam,tapi ‘bagaimana’, ” kata Graham MacGregor,seorang profesor kedokteran kardiovaskular dan ketua grup kampanye World Action on Salt yang tidak setuju dengan temuan Graudal itu.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah memasukkan pengurangan asupan garam dalam daftar 10 teratas “pilihan terbaik”untuk mengurangi tingkat penyakit kronis. Franceso Cappuccio,Kepala WHO Collaborating Center for Nutrition di University of Warwick setuju dengan Mac- Gregor dan mengatakan bahwa studi terbaru ini seharusnya tidak mengalihkan perhatian masyarakat untuk melaksanakan kebijakan reduksi garam pada tingkat populasi global, seperti yang diarahkan oleh pemerintah setiap negara, WHO,dan PBB.

Sebuah tinjauan yang dilakukan oleh Cochrane Library yang dikomandani oleh para peneliti Inggris dan diterbitkan pada Juli lalu tidak menemukan bukti bahwa pengurangan sedikit asupan garam dapat menurunkan risiko penyakit jantung atau menyebabkan mati muda.

Sementara satu studi yang dilakukan para ilmuwan Belgia yang diterbitkan pada Mei menemukan bahwa orang yang makan banyak garam tidak lebih mungkin untuk mendapatkan tekanan darah tinggi dan secara statistik kecil kemungkinannya untuk meninggal karena penyakit jantung,dibandingkan dengan mereka dengan asupan garam yang rendah.

Graudal mengatakan,hasil temuan ini menunjukkan bahwa ketika asupan garam berkurang, ada peningkatan dalam sejumlah hormon dan di lemak dikenal sebagai lipid yang bisa berbahaya jika terjadi terus-menerus dari waktu ke waktu.Dia menambahkan, jika tidak ada studi dalam kajian tersebut yang mampu mengukur efek jangka panjang kesehatan.

Timnya juga tidak bisa mengatakan,apakah diet rendah garam memperbaiki atau memperburuk hasil kesehatan. Graudal mengatakan bahwa meningkatnya jumlah penelitian yang mempertanyakan keuntungan dari pengurangan asupan garam berarti pejabat kesehatan masyarakat harus meninjau kembali pedoman mereka.

Pemerintah Inggris saat ini langsung melakukan akselerasi pengurangan asupan garam oleh orang dewasa dari maksimal 6 gram per hari pada 2015 menjadi 3 gram pada 2025. Pedoman pemerintah Amerika Serikat merekomendasikan diet kurang dari 2,3 gram garam sehari atau 1,5 gram sehari untuk orangorang tertentu yang lebih berisiko terhadap tekanan darah tinggi atau penyakit jantung. Satu sendok teh garam atau sekitar 5 gram,mengandung sekitar 2,3 gram natrium.

MacGregor mempertanyakan kesimpulan Graudal tentang kurangnya manfaat pengurangan garam.Dia mengatakan, temuan ini dengan jelas menunjukkan sekali lagi bahwa mengurangi asupan garam menurunkan tekanan darah.
(tty)

Sumber : okezone.com
SINDO
Rabu, 16 November 2011 08:58 wib


Kurangi Garam demi Kesehatan


Hati-hati konsumsi garam berlebihan bisa memicu hipertensi yang berakibat stroke dan jantung koroner. 

GARAM memang sangat dibutuhkan untuk membuat nikmat masakan. Namun, terlalu banyak garam ternyata membahayakan kesehatan. Konsumsi garam berlebihan bisa tingkatkan tekanan darah.

Barang yang satu ini kelihatannya sepele. Tapi sedikit kurang pada masakan, bisa membuat makanan hambar. Sementara bila kebanyakan akan mengancam kesehatan Anda. “Jika dilihat dalam ukuran individu, mengurangi konsumsi garam mungkin hanya akan berpengaruh sedikit pada tubuh. Namun dalam populasi yang lebih besar, dapat terlihat penurunan gangguan jantung yang signifikan dan tentunya menghemat biaya kesehatan,” kata penulis Annals of Internal Medicine Dr Crystal Smith-Spangler.

Untuk kepentingan inilah pemerintah AS mulai menggalakkan gerakan mengurangi garam. Selain menambah tingkat kesehatan, juga mengurangi anggaran negara. “Kami berharap agar pemerintah tidak menunda aksi ini. Dan kami mendesak Departemen Kesehatan,” Dr Walter Willett selaku kepala Nutrisi dan Epidemiology di Harvard School of Public Health, Boston. Walter.

Gayung bersambut, Departemen Kesehatan New York pun mendukung penuh kampanye ini, dengan memprakarsai gerakan The National Salt Reduction atau pengurangan konsumsi garam nasional. Kampanye ini berupaya memotong asupan garam sebanyak 20 persen selama lima tahun ke depan. Kampanye ini utamanya ditujukan bagi pihak restoran dan pengusaha makanan, yang sebagian besar berkontribusi pada asupan garam bagi penduduk Amerika Serikat.

Tindakan yang dilakukan pemerintah Amerika ini bukan tanpa alasan. Menurut Dr Thomas R Frieden, terlalu banyak mengonsumsi garam menyebabkan sedikitnya 100.000 kematian setiap tahunnya di Amerika. Lebih lanjut Thomas mengatakan, seperti dikutip dari webmd.com, ada setidaknya dua cara untuk memotong penggunaan garam dalam makanan dan membuat masyarakat hidup lebih sehat.

Jalan pertama, pemerintah berkolaborasi dengan perusahaan makanan untuk mengurangi jumlah sodium yang digunakan dalam pengolahan makanan. Tindakan ini serupa dengan yang dilakukan oleh negara Inggris sebelumnya. Dengan menjalankan hal ini, ada penurunan asupan garam sekitar 9,5 persen pada setiap penduduk Inggris.

Persentase yang sama bisa didapat oleh Amerika Serikat jika mengikuti cara yang sudah dijalankan oleh Inggris. Amerika pun dapat mencegah terjadinya kasus stroke sebanyak 531.885 dan 480.358 kasus serangan jantung, bagi mereka yang berusia antara 40–85 tahun. Hal ini sekaligus dapat meningkatkan kualitas hidup lebih dari 2,1 juta nyawa dan dapat menghemat pengeluaran medis sampai 32,1 juta dolar.

Jalan lain adalah dengan menarik pajak pada produk garam sehingga harga garam naik 40 persen. Dengan cara ini diperkirakan 327.892 kasus stroke dan 306.137 kasus serangan jantung dapat ditekan. Ongkos kesehatan pun dapat dihemat hingga 22,4 juta dolar, dan meningkatkan kualitas hidup 1,3 juta jiwa.

Berkaca pada pengalaman negara lain, Inggris misalnya, yang menjadi pelopor gerakan mengurangi garam secara nasional, mengurangi kadar garam dengan seketika malah akan memunculkan pro dan kontra dalam masyarakat.

“Sebaliknya, jika pemerintah melakukan pemangkasan kadar garam ini secara bertahap dan perlahan, maka masyarakat tidak akan menyadarinya,” ujar Dr David Fleming, direktur Kesehatan Masyarakat untuk Seattle dan King County, Washington.

Agaknya Amerika memang jor-joran memerangi asupan garam. Bahkan Departemen Makanan dan Obat-obatan Amerika Serikat menyatakan, makanan sehat kandungan garamnya tidak boleh melebihi 480 mg dalam setiap penyajiannya.

Meski keberadaannya banyak dicerca, namun sejatinya sodium atau garam berperan besar dalam pengolahan makanan. Kandungan dalam garam berguna untuk menjaga bakteri berkembang biak dalam makanan. Terutama dalam produk keju, dressing salad, dan makanan fermentasi. Garam juga merupakan nutrisi esensial untuk menambah rasa dan pewarna makanan. Beberapa makanan yang ditambahkan garam di dalamnya, di antaranya saus tomat, sup, dan makanan kaleng.

Sebelum membeli produk makanan, ada baiknya Anda membaca dahulu label yang tertera. Kandungan garam pada makanan tersebut dapat dilihat dari label nutrition facts. Perhatikan berapa kadar sodium yang ada pada makanan, yang dihitung dalam miligram (mg). Baca pula apakah makanan itu mengandung soda. Soda di sini mengacu pada sodium bicarbonate atau baking soda.

Perlu diketahui pula, beberapa tulisan yang biasanya tercantum dalam label. Misalnya bebas sodium atau sodium free, maksudnya hanya menggunakan sodium kurang dari 5 mg dalam setiap produknya. Sedangkan sodium sangat rendah atau very low sodium, berarti mengurangi sodium sebanyak 35 mg dalam setiap produk. Adapun low sodium, berarti produk tersebut mengurangi 140 mg sodium dalam setiap penyajiannya.

Mungkin Anda sering pula menemukan produk yang ditulis tidak mengandung garam atau tanpa tambahan garam (unsalted atau no salt added). Produk ini memang tidak menggunakan garam seperti yang biasa digunakan. Namun bukan berarti bebas garam, tetap saja masih mengandung garam, namun garam tersebut merupakan bagian alami dari produk bersangkutan.

Kandungan sodium harus diwaspadai bukan hanya pada makanan. Pun demikian dengan obat-obatan. Faktanya, obat-obatan yang beredar di pasaran juga mengandung sodium. Maka itu, baca dahulu label yang ada pada obat tersebut. Perhatikan kandungan yang ada dalam obat dan baca dengan teliti apakah obat itu memang mengandung sodium.

Biasanya obat yang mengandung sodium terdapat 5 mg per dosisnya. Solusinya, beberapa perusahaan farmasi kini mulai memproduksi obat-obatan yang rendah sodium. Jika Anda masih ragu, ada baiknya bertanya dahulu kepada dokter atau apoteker sebelum memutuskan membeli obat. Jadi, sudahkah Anda mengurangi garam hari ini?
(tty)

Sumber : okezone.com

Kamis, 11 Maret 2010 10:18 wib

Saatnya Bersahabat dengan Garam


detail berita
Garam (Foto: Google)
GARAM kerap dianggap musuh bagi para penderita hipertensi. Pasalnya, mengonsumsi garam secara berlebihan akan mengganggu tensi darah mereka. Padahal, hal tersebut sebenarnya tidak sepenuhnya benar. Terbukti, garam pun membantu proses metabolisme tubuh. Benarkah?

Berapa banyak Anda mengonsumsi garam setiap harinya? Apakah Anda termasuk orang yang tidak bisa menyentuh makanan dengan jumlah garam yang berlebihan? Atau apakah Anda termasuk kategori yang secara keras menolak untuk menambahkan garam dalam makanan karena dianggap merusak diet? Sebenarnya, terlalu banyak garam dan tidak mengonsumsi sama sekali keduanya adalah hal yang sama-sama berbahaya.

Menurut konsultan Ahli jantung Interventional Dr Vijay Surase, garam dianggap banyak orang sebagai komponen penting ketika seseorang melakukan diet. Belakangan, seiring dengan kebutuhan tersebut, kesadaran masyarakat tentang mengonsumsi garam yang berlebihan justru meningkat. Apalagi rak-rak di supermarket dipenuhi dengan makanan yang mengandung sedikit garam atau bahkan tidak ada asupan garam sama sekali. Pertanyaannya, apakah sebegitu pentingnya pembatasan garam dilakukan?

“Garam secara umum terdiri dari natrium dan klor. Natrium klorida adalah zat penting untuk memelihara keseimbangan osmotic dan fungsi lainnya. Memang benar garam bisa menjadi berbahaya bagi sebagian orang. Apalagi natrium klorida juga dapat diperoleh dari makanan lain. Namun, penelitian menunjukkan bahwa sekitar 80 persen penduduk justru mendapatkan keuntungan dari konsumsi garam laut alami yang biasanya kurang halus daripada garam meja dimana tidak mengandung senyawa alumunium di dalamnya.

Hal terpenting adalah, Anda baru perlu membatasi garam ketika spesialis kesehatan memang melarang Anda untuk menghentikan asupan garam pada konsumsi makanan Anda. Pasalnya ketika hal tersebut dilanjutkan maka akan menyebabkan gangguan kesehatan seperti mengantuk, depresi, kejang dan bahkan koma. Bahkan, pasien hipertensi pun tidak perlu merasa takut dengan garam karena asupan garam yang normal sangat baik untuk kesehatannya. Tetapi kelebihan garam yang diakibatkan oleh konsumsi dari kentang goreng, acar, dan makanan lainnya itulah yang perlu dihindari,” kata Dr Surase.

Interventional Cardiologist Dr Shantanu Deshpande mengatakan, garam sangat penting untuk menjaga homeostasis dalam tubuh kita. “Persyaratan normal untuk memenuhi kebutuhan harian yakni 500 mg per hari dan tidak dianjurkan melebihi batasan tersebut. Asupan garam berlebihan biasanya akan diekspresikan dalam urin yang Anda keluarkan. Hampir 50 persen ginjal individu tidak dapat menangani hal ini yakni kelebihan natrium. Kelebihan garam dalam aliran darah Anda akan mengakibatkan kenaikan volume darah dan tekanan darah. Ini akan menyebabkan hipertrofi jantung dan otot pembuluh darah sehingga mengakibatkan peningkatan permanen dalam tekanan darah. Efek ini akan terasa jelas pada orangtua dan penderita diabetes. Mengurangi asupan garan dalam diet Anda dan mengurangi tekanan darah bisa menjadi solusinya. Diet rendah garam yang mengandung kurang dari 5 gram garam per hari dianjurkan kepada pasien tekanan darah tinggi. Selain itu, mereka pun perlu menghindari makanan seperti keju, makanan olahan dan junk food.

Sementara itu, Interventional Cardiologist Senior Dr Rajiv Bhagwat mengatakan, pentingnya asupan garam dalam pengaturan tekanan darah sangatlah dibutuhkan. “Pengurangan garam adalah salah satu modifikasi hidup yang paling penting dan efektif untuk mengurangi tekanan darah. Penurunan tekanan darah akan mengurangi mortalitas stroke sebesar 10 persen dan tujuh persen lainnya akan berpengaruh pada penurunan mortalitas akibat penyakit jantung koroner. Selain mengurangi tekanan darah, pengurangan garam juga mengurangi Left Ventricular Sickness (Hyper Trophy), mengurangi hilangnya protein dalam urin, mengurangi osteoporosis dan kehilangan mineral seiring perjalanan usia, melindungi kanker lambung, asma, dan katarak. Meningkatkan asupan kalium yang ditemukan dalam buah-buahan, kacang-kacangan, dan sayuran terbukti menjadi asupan efektif untuk mengurangi tekanan darah tersebut.

Sumber : okezone.com

Dwi Indah Nurcahyani - Okezone
Senin, 4 Juli 2011 18:23 wib

Kurangi Garam Mulai Sekarang



detail berita
Garam (Foto: Corbis)
SEMENTARA di televisi kita sering melihat iklan layanan masyarakat yang dibawakan oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengenai sosialisasi gula tambahan dan bahayanya bagi kesehatan anak, sebenarnya ada bahaya lain yang juga mengancam kesehatan, baik pada anak-anak maupun orang dewasa.

Apakah itu? Garam. Ya, penggunaan garam memang tidak bisa dipisahkan dari pembuatan berbagai masakan, khususnya masakan Nusantara. Seperempat masyarakat Indonesia mengonsumsi makanan asin setiap hari. Padahal, konsumsi garam yang berlebih dapat memberikan efek serius terhadap kesehatan. Asupan garam yang tinggi dapat meningkatkan tekanan darah yang berpotensi menimbulkan penyakit serius, seperti penyakit jantung dan stroke. Asupan garam berlebih juga meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular.

Penelitian membuktikan bahwa pasien dengan tekanan darah tinggi yang normal mendapat keuntungan secara signifikan dengan mengurangi asupan garam. Karena itu, risiko mereka menderita penyakit kardiovaskular menurun hingga 25 persen untuk 10 hingga 15 tahun mendatang. Mengurangi asupan garam juga bisa menurunkan risiko stroke.

Kardiologis dr A Sari S Mumpuni SpJP FIHA mengatakan, Perhimpunan Hipertensi Indonesia (Perhi) sebenarnya sudah beberapa kali mendatangi Kementrian Kesehatan untuk menyosialisasikan bahaya garam berlebih dan rokok.

“Namun, sampai saat ini belum ada tanggapan serius. Padahal, kalau kita lihat di Amerika Serikat, pemerintahnya lebih concern. Ambil contoh di restoran-restoran, kini sudah tidak diperbolehkan lagi menaruh garam di atas meja,” kata Sari.

Pada kemasan makanan pun selalu tertera jumlah kandungan garam dan gula. Idealnya asupan garam yang boleh dikonsumsi setiap hari adalah hanya? Sendok teh. Namun, bukan hanya garam yang ditambahkan pada masakan yang patut diwaspadai.

“Makanan maupun minuman yang mengandung natrium benzoate dan monosodium glutamate (MSG) juga mengandung kadar garam yang tinggi,” sebut ahli gizi dr Fiastuti Witjaksono MSc MS SpGK yang ditemui pada acara ASMIHA ke-21.

Ia menambahkan, orangtua seharusnya menyediakan makanan bergizi kepada anak-anaknya dan menghindari junk food serta mengajak anak rutin berolahraga. Pada intinya diperlukan kerja sama yang lebih intensif antara pemerintah, profesi, dan masyarakat agar upaya pencegahan PTM benar-benar menggema di Indonesia.

Manfaat pencegahan sendiri telah dihitung ahli ekonomi kesehatan di Amerika. Misalnya untuk peraturan dilarang merokok di ruang publik yang benar-benar dipatuhi, diperkirakan akan menghemat biaya kesehatan langsung dan tak langsung sebesar USD10 triliun per tahun.
(tty)
Sumber : Okezone.com
RABU, 11 APRIL 2012 14:34 wib
SINDO

GRATIS PLUS HADIAH

Hosting Gratis