website trackingwebsite tracking

PTC..PELUANG DAPAT UANG HANYA DENGAN MODAL KLIK

Cara Instan Untuk Verifikasi PayPal !
Tampilkan postingan dengan label KANKER. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KANKER. Tampilkan semua postingan

Selasa, 19 Juni 2012

Peneliti AS Temukan Terobosan Baru dalam Pengobatan Leukimia


Ada terobosan baru dalam pengobatan leukemia, kanker darah yang sulit diobati dan biasanya fatal. Para peneliti di Universitas Pennsylvania, Philadelphia telah memodifikasi secara genetik sistem kekebalan sel T pasien, mengubahnya menjadi sel "pembunuh serial", yang kemudian diarahkan untuk melenyapkan kanker darah.

Gambar sel T pasien yang dimodifikasi (berwana cokelat), seperti terlihat lewat mikroskop. Sel T ini disuntikkan ke pasien setelah kemoterapi standar, dimasukkan pada sel-sel B kanker dalam sumsum tulang, sehingga setiap limfosit T mampu membunuh ribuan

sumber : http://www.voaindonesia.com

Viktor Pattianakotta

Senin, 18 Juni 2012

Dua Sendok Makan Minyak Olive Sehari Cegah Penyakit Jantung





Dua Sendok Makan Minyak Olive Sehari Cegah Penyakit JantungJakarta - Banyak penelitian mengungkap kehebatan minyak buah zaitun ini. Minyak yang diperah dari biji buah zaitun yang masak ini bukan hanya bisa mencegah kanker tetapi mencegah serangan jantung. Cukup konsumsi 2 sendok makan per hari!

Penelitian tentang minyak olive atau zaitun ini sudah banyak dilakukan. Namun, hanya sedikit yang mengungkap khasiat minyak ini untuk mengurangi angka kematian. Sebuah riset terbaru menyebutkan bahwa minyak olive yang dikonsumsi 2 sendok makan per hari bisa mengurangi resiko kematian akibat penyakit jantung.

Kesimpulan ini didapat dari riset yang melibatkan 41.000 orang dewasa dalam European Prospective Investigation into Cancer and Nutrition ini dimulai 20 tahun silam. Hasilnya dipublikasikan di  American Journal of Clinical Nutrition. Disebutkan bahwa minyak olive tidak bisa mengurangi angka kematian karena kanker. Justru dampaknya pada angka kematian akibat serangan jantung.

Manfaat minyak olive ini sangat besar untuk kesehatan jantung. 'Penemuan ini sangat berarti. Sekaligus mengkonfirmasi bahwa minyak olive sangat bagus buat jantung,'demikian Dr. Charles Knight dari British Cardiovascular Society seperti dilansir dailymail.

Minyak olive sangat kaya akan minyak jenuh tunggal dan polyphenol, zat yang memampu meredam peradangan dan mengurangi resiko penggumpalan. Peneliti Spanyol meneliti kebiasaan makan 10.622 laki-laki dan wanita usia 29-69 tahun dan dilacak selama 13 tahun untuk mengetahui efek minyak olive ada angka kematian.

Dalam masa penelitian itu, hanya 2000 orang meninggal, 956 karena kanker dan 416 karena penyakit jantung. Data menunjukkan jumlah yang meninggal karena penyakit jantung merupakan yang paling sedikitmengonsumsi minyak olive. Mereka yang mengonsumsi 29 gram minyak olive per hari atau 2 sendok makan, berkurang resikonya 44% dari kematian karena problem jantung.

Minyak olive banyak dikonsumsi dalam diet Mediteranian. Dalam diet ini banyak dikonsumsi sayuran dan buah segar dan minyak olive dipakai sebagai dressing atau saus salad. Minyak olive juga bisa dipakai untuk memanggang atau menumis dan yang paling bagus dikonsumsi adalah jenid extra virgin, minyak olive paling murni. 

(odi/odi)

Install Aplikasi "Makan di Mana" GRATIS untuk smartphone Anda, di sini.


detik.com



Demikian isi postingan kali ini.....
Jika ada yang tidak berkenan mohon maaf yang sebesar-besarnya. Silahkan tinggalkan komentar ke kotak komentar atau di kotak chat (obrolan)
Terim kasih atas kunjungannya. semoga apa yang kami sampaikan di atas ada manfaatx...mari kita saling mendoakan kebaikan untuk sesama..


PLUS DARI KAMI .....
Terkhusus bagi sobat yang ingin membuat atau mengatur blog tetapi mengalami kesulitan dalam membuat blog atau mengatur tampilan blog, kami berinisiatif menyediakan tutorial cara membuat dan mengatur blog.
kami akan memberikan segala kemampuan kami membantu sobat semua menghadapi kesulitan dalam membuat dan mengatur blog sesuai kemampuan dan ilmu yang kami punya.
Kami akan menyediakan tutoril sedemikian mulai dari tingkat pemula sampai pengembangan blog!Kami akan merancang sedemikian rupa sehingga dapat mudah dipahami meskipun masih kategori pemula.
Klik matari pilihan kamu untuk melihat tutorialnya!!!!!
Adapun materi-materi yang akan kami muat antara Lain:


TAHAP AWAL :
Tutorial cara Membuat account gmail
Tutorial cara Membuat pendaftaran blog di blogspot.com dengan account gmail
Tutorial cara Membuat postingan
Tutorial cara Mengatur tata letak
Tutorial cara mendftarkan blog di search engine


Pengembangan
Tutorial cara meminimalkan layar
Tutorial cara membuat tulisan berjalan ( merquee)
Tutorial cara membuat animasi
Tutorial cara menambahkan kotak chatting
Tutorial cara menambahkan google translate
Tutorial cara meshare vidio
Tutorial cara blogroll
Tutorial cara membuat tabel
Tutorial share
Tutorial atribut facebook
Tutorial menshare di google+
Tutorial menambahkan gadget pilihan
Tutorial  menshare di Stumleupon


Keyword : penelitian, abstrak, penelitian terbaru, penelitian terbaru 2012, penelitian 2012, alamiah, sains, kesehatan, sehat, penelitian kuantitatif, penelitian kualitatif, penelitian sains, sains, penelitian tindakan kelas, ktk, kualitatif, kuantitatif, khasiat, manfaat, kandungan, khasiat avokad, buah avokad, avokad, buah, antioksidan, antibiotik, diet, langsing, kegemukan, hopertensi, tidur, insomnia, kolesterol, obesitas, balita, teknologi, tutorial, cara, blog, arsip, tulisan, animasi, label, komunikasi, template, virus, bakteri, wanita, makanan, minuman, menemukan, meningkatkan, buahan, merusak, peneliti, ahli, kumpulan, artikel, otak, kopi, teh, jantung, stroke, ekstrak, berbahaya, tekanan darah, sehat, payudara, diabetes, gizi, wanita, anak, obat, kanker, orang, contoh, bahaya, pria'

Sabtu, 16 Juni 2012

KRITERIA BUAH Yang Sehat Untuk Sarapan

JAKARTA–Sarapan pagi merupakan sinyal tubuh untuk mengaktifkan proses metabolisme dari keadaan istirahat menjadi keadaan aktif. Maka sarapan sebaiknya mengandung protein, karbohidrat dan lemak yang cukup. Sarapan buah yang sehat dapat memberikan asupan serat, fitonutrien penting, antioksidan dan juga karbohidrat.
Jangan menggunakan sembarang buah untuk sarapan. Buah yang dikonsumsi untuk sarapan sebaiknya memenuhi kriteria seperti yang dilansir Lifestrong, Selasa (29/5/2012) di bawah ini:
1. Kaya Kandungan Anthocyanin
Buah-buahan yang sangat berwarna seperti blueberry, blackberry, raspberry, ceri, cranberry, anggur merah dan stroberi kaya akan pigmen tanaman yang disebut anthocyanin. Penelitian tahun 1997 menganalisis sifat antioksidan kuat dari 14 anthocyanin yang ditemukan dalam buah.
Temuan menunjukkan bahwa anthocyanin dapat memperbaiki gangguan penglihatan, penyakit pembuluh darah dan melindungi tubuh dari kerusakan akibat bahan kimia dan radiasi. Penelitian ini juga menemukan bahwa anthocyanin dapat berfungsi sebagai anti radang dan menurunkan risiko kanker.
2. Kaya Kandungan Karotenoid
Karotenoid adalah jenis pigmen lain pada tanaman yang penting bagi manusia. Karotenoid terkandung dalam buah-buahan berwarna kuning, oranye dan merah seperti jeruk, jeruk keprok, jeruk, melon, semangka, aprikot, peach, tomat dan mangga. Ada lebih dari 600 jenis karotenoid, tapi yang paling sering ditemukan dalam makanan adalah alpha-carotene, beta-karoten, beta-cryptoxanthin, lycopene, lutein dan zeaxanthin.
Karotenoid melindungi tubuh dari gangguan penglihatan seperti katarak dan degenerasi makular, juga dapat meningkatkan kesehatan paru-paru dan menurunkan resiko kanker atau penyakit jantung dan pembuluh darah.
3. Kaya Serat
Serat penting agar sistem pencernaan dapat bekerja optimal. Serat juga membantu mencegah diabetes serta penyakit jantung dan pembuluh darah. Wanita sebaiknya mengkonsumsi 21 – 25 gram serat per hari dan pria 30 – 38 gram sehari. Contoh buah kaya serat antara lain raspberry, blackberry, alpukat, pir, apel, blueberry, kurma, stroberi, pisang, plum dan kismis.
4. Rendah Indeks Glikemik
Buah dengan kandungan gula yang tinggi dapat menyebabkan lonjakan glukosa darah dan insulin sehingga memicu diabetes. Makanlah buah dengan indeks glikemik yang rendah, yaitu yang berada pada peringkat 55 ke bawah seperti ceri, jeruk, aprikot kering, apel, pir, plum, persik, jeruk dan anggur.
Buah kiwi dan pisang berada pada peringkat paling mepet dalam daftar aman, yaitu menempati peringkat indeks glisemik 53 dan 54. Buah dengan kandungan indeks glikemik sedang contohnya mangga, aprikot segar, kismis dan nanas. Semangka memiliki indeks glikemik tinggi, yaitu peringkat 72.
http://www.solopos.com

5 Manfaat Makan Apel



Lifestyle + / Sabtu, 16 Juni 2012 06:37 WIB
Apel merupakan buah yang manis dan mudah didapat. Apel cocok dijadikan kudapan mentah, atau dijadikan jus, salad, bahkan cake. Bukan hanya rasanya yang enak, apel juga memiliki banyak manfaat untuk kesehatan. Buah apel mengandung vitamin A, B, dan C. Apel dapat menurunkan kadar kolesterol dalam darah. Jadi, kenapa tak memulai membiasakan diri untuk menikmati Apel sebutir tiap hari?

1. Apel merupakan slow food

Buah ini mengandung serat sebanyak 5 gram atau 20 persen dari kebutuhan asupan harian Anda. Karena keras, apel mengharuskan Anda untuk mengunyah dengan sabar, dan hal ini bisa memberikan sinyal pada tubuh bahwa Anda kenyang, sebelum terlalu banyak mengonsumsi kalori.

Pemanis alami dalam apel memasuki aliran darah secara bertahap, membantu menjaga kadar gula darah dan tingkat insulin tetap stabil, sehingga Anda merasa kenyang lebih lama. Hal ini kebalikan dari snack dengan pemanis buatan, yang membuat Anda cepat lapar kembali.

2. Apel membantu bernafas lebih mudah

Para peneliti dari Inggris baru-baru ini mengungkapkan perempuan yang mengonsumsi apel saat hamil akan melahirkan anak dengan risiko penyakit asma yang berkurang. Buah apel juga dapat melindungi paru-paru orang dewasa, menurunkan risiko asma, kanker paru-paru, dan penyakit lainnya.

3. Apel bisa menurunkan kolesterol

Berkat dua komponen kunci, pektin (sejenis serat) dan polifenol (salah satu antioksidan kuat), apel dapat menurunkan kadar kolesterol darah dan mencegah oksidasi kolesterol jahat, proses kimia yang mengubahnya menjadi plak yang menyumbat arteri. Untuk memaksimalkan manfaat apel, makan apel bersama kulitnya. Kulit apel memiliki dua sampai enam kali senyawa antioksidan.

4. Apel mampu melawan kanker

Hasil uji laboratorium menunjukkan bahwa beberapa senyawa dalam buah yang berair mengekang pertumbuhan sel kanker, tapi akan bekerja secara maksimal saat apel dimakan seluruhnya (minus batang dan biji, tentunya). Orang yang mengonsumsi apel lebih dari satu buah dalam sehari akan menurunkan risiko beberapa jenis kanker. Di antaranya kanker mulut, esofagus, usus besar, payudara, ovarium, prostat, sebesar 9 hingga 42 persen.

5. Apel membuat Anda pintar

Mungkin karena meningkatkan produksi asetilkolin, zat kimia yang mentransmisikan pesan antara sel-sel saraf, apel diperkirakan dapat menjaga otak tetap tajam seiring pertambahan usia, meningkatkan memori, dan berpotensi mengurangi kemungkinan mendapatkan penyakit Alzheimer, demikian menurut sebuah penelitian terbaru dari University of Massachusetts at Lowell. Penelitian ini memang baru dilakukan terhadap binatang. Namun tak ada salahnya bila Anda mulai mencoba membiasakan diri mengonsumsi apel yang bergizi ini.(Decha/Wrt1)
http://www.metrotvnews.com

Minimalkan Resiko Kanker Kulit Dengan Kopi


kanker dan kopi
Bagi Anda yang gemar begadang, kopi adalah teman terbaik yang dipercaya dapat membuat mata tetap melek. Namun menurut sebuah penelitian baru yang hasilnya dilansir oleh situs Genius Beauty,manfaat kopi tak hanya untuk menghilangkan kantuk. Namun juga mampu meminimalkan resiko perkembangan kanker kulit.
Ilmuwan yang meneliti hal tersebut berasal dari Rutgers University, AS. Mereka melakukan percobaan dengan mencampurkan kafein dari kopi ke dalam sunscreen, yaitu krim perlindungan kulit.
Memang objek penelitian tersebut masih dilakukan pada tikus percobaan yang telah direkayasa secara genetik untuk memiliki kanker kulit, namun efek yang nampak memperlihatkan hasil yang positif.
Tikus yang diolesi sunscreen dengan kafein kopi ternyata kulitnya tidak menyerap radiasi sinarultra violet dari matahari, dan tidak nampak terjadi perkembangan sel tumor yang signifikan.
Sedangkan pada tikus yang tidak diberi krim sunscreen dengan kafein kopi, terjadi hal yang sebaliknya, menuju ke arah negatif.
Hingga waktu percobaan ke 19 minggu, perkembangan tikus dengan krim yang mengandung kafein lebih baik hingga 69% dibanding yang tidak.
Ini karena kafein menghambat pengaruh dari enzim ATR, enzim yang dapat memperburuk kanker jika terpapar sinar matahari.
Jadi, kopi ternyata mampu meminimalkan resiko terjadinya kanker kulit dan menolak pengaruh buruk sinar UV. Anda yang ingin mencoba, silahkan saja.
 sidomi.com

Jumat, 15 Juni 2012

Aspirin Pangkas Resiko Kanker Kulit?

SEJAK lama, para dokter merekomendasikan meminum aspirin untuk mencegah serangan jantung dan stroke. Namun kini, aspirin juga bisa dimungkinkan untuk mengurangi resiko beberapa bentuk kanker kulit.

Hipotesis itu didapat dalam sebuah penelitian yang menganalisis catatan medis hampir 200 ribu orang dewasa di Denmark.

Dari catatan tersebut, para peneliti menemukan bahwa orang yang telah mendapatkan lebih dari dua resep aspirin atau obat anti peradangan (NSAID) - seperti ibuprofen atau naproxen - selama periode 10 tahun memiliki resiko 15 persen lebih rendah terkena karsinoma sel skuamosa. Selain itu, mereka juga memiliki resiko lebih rendah 13 persen terkena melanoma jika dibandingkan dengan orang yang hanya mendapatkan satu resep atau kurang.

Bahkan, menurut penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Cancer itu, orang-orang yang diberi resep NSAID dosis tinggi selama tujuh tahun atau lebih memiliki resiko kanker kulit terendah.

Namun demikian, hasil studi hanya menunjukkan sebuah hubungan. Penelitian ini masih memiliki beberapa keterbatasan penting yang menghalangi kesimpulan kuat apapun tentang kemungkinan adanya hubungan antara NSAID dan kanker kulit.

Para peneliti tidak dapat memastikan bahwa peserta penelitian benar-benar mengonsumsi resep mereka. Misalnya, mereka juga tidak memiliki data apapun pada gaya hidup peserta, jenis kulit, atau paparan sinar berbahaya matahari ultraviolet (UV).

Menurut Jennifer Y. Lin, MD, dermatolog di Dana-Farber/Brigham dan Pusat Kanker Wanita di Boston, semua peserta studi tinggal di utara Denmark, sehingga temuan tidak selalu berlaku untuk populasi lain dan wilayah, termasuk Amerika Serikat.

"Mungkin ada biologi dan penjelasan yang nyata tentang mengapa (NSAID) sangat membantu," kata Lin, yang tidak terlibat dalam penelitian baru tersebut. Namun, dia menambahkan, "Masih terlalu dini untuk mengatakan kepada pasien kanker kulit semua untuk mengonsumsi obat ini."

Kunci untuk mencegah kanker kulit tidak berubah, kata Lin, batasi paparan sinar matahari, gunakan tabir surya dan pakaian pelindung, dan hindari indoor tanning.

Peran NSAID dalam pencegahan kanker menjadi area yang diminati kalangan dokter. Aspirin telah menunjukkan bisa mengurangi risiko kanker kolorektal dan polip prakanker, dan pada sepasang penelitian yang diterbitkan awal tahun ini. 

Peneliti menemukan bahwa orang mungkin kurang mengembangkan atau meninggal karena kanker -- termasuk paru-paru, prostat, dan kandung kemih -- jika mereka mengonsumsi aspirin setiap hari.

Hal itu wajar untuk berpikir bahwa NSAID dapat melawan kanker secara langsung. Obat-obatan tersebut mengurangi rasa sakit dan peradangan dengan menghambat (COX) enzim siklooksigenase.

Enzim ini terlibat tidak hanya dengan peradangan tetapi juga dengan proses tertentu yang terlibat dalam kanker, seperti suplai darah ke kematian sel tumor dan diprogram (dikenal sebagai apoptosis). (go4/Wrt3)


sumber : http://www.metrotvnews.com/

Ancaman Kanker dalam Air PAM


AN Uyung Pramudiarja - detikHealth

Washington, Berbagai pemicu kanker bisa dijumpai di mana saja, tak terkecuali di air keran dari perusahaan air minum (PAM). Salah satu bahan untuk melapisi pipa logam mencemari air PAM di Amerika Serikat dan berisiko menyebabkan kanker.

Bahan tersebut adalah senyawa hexavalent chromium, pelapis pipa logam yang juga digunakan dalam penyamakan kulit binatang. Berdasarkan penelitian di National Institute of Health pada tahun 2008, senyawa ini diduga merupakan karsinogenik atau penyebab kanker.

Hasil pengujian pada binatang menunjukkan, cemaran senyawa ini terbukti memicu leukemia atau kanker sel darah putih. Diyakini, risiko kanker akibat senyawa ini juga bisa menyerang bagian vital lainnya seperti ginjal dan hati.

Oleh karena itu sejak tahun 2009, California menjadi negara pertama di Amerika Serikat yang membatasi penggunaanhexavalent chromium maksimal 0,06 ppm dalam air PAM. Dikutip dari Telegraph, Selasa (21/12/2010), kebijakan tersebut lantas diikuti oleh semua negara bagian di Amerika Serikat.

Namun temuan terkini dari Environmental Working Groupmenunjukkan cemaran hexavalent chromium pada air PAM masih ditemukan di 31 kota se-Amerika Serikat. Sebanyak 25 kota di antaranya memiliki cemaran di atas ambang batas aman sehingga berisiko menyebabkan kanker.

Empat kota dengan cemaran paling tinggi adalah Norman di Oklahoma, Honolulu di Hawaii, Riverside di California, dan Madison di Wisconsin. Diduga masih banyak kota lain yang memiliki cemaran hexavalent chromium, sebab hingga kini baru 35 kota yang diteliti.

"Tidak mengejutkan bagi saya, air PAM di seluruh Amerika memang berbahaya," ungkap Erin Brockovich, aktivis lingkungan yang kisahnya pernah difilmkan pada tahun 2000 dengan judul yang sama dengan naman
(up/ir
sumber : detik.com

Kamis, 14 Juni 2012

Wanita Berperut Buncit Rawan Kanker Payudara


Merry Wahyuningsih - detikHealth

img
(Foto: thinkstock)
Boston, Tak hanya merusak penampilan, perut buncit juga menimbun banyak masalah kesehatan. Penelitian terbaru mengungkapkan bahwa lemak yang bikin perut buncit menyebabkan wanita lebih rentan terkena kanker payudara.

"Wanita pre-menopause yang membawa kelebihan lemak di daerah perut lebih mungkin mengembangkan kondisi pre-diabetes yang dikenal sebagai hyperinsulinemia. Dan penelitian telah menunjukkan bahwa reseptor insulin dapat mendorong pertumbuhan sel-sel kanker payudara," jelas Holly R. Harris dari Brigham dan Women's Hospital dan Harvard Medical School di Boston, dilansir Healthday, Jumat (17/12/2010).

Banyak penelitian sebelumnya yang menunjukkan bahwa lemak di perut lebih banyak menyebabkan masalah kesehatan ketimbang lemak pada bagian tubuh yang lain, antara lain memicu kolesterol tinggi, insulin tinggi dan tekanan darah tinggi sehingga meningkatkan risiko terkena diabetes, penyakit jantung, stroke dan demensia (pikun).

Penelitian terbaru itu juga mengungkapkan bahwa wanita pre-menopause yang memiliki kelebihan lemak di perut alias perut buncit akan menghadapi risiko yang lebih tinggi untuk kanker payudara, khususnya estrogen reseptor (ER)-negatif.

Kanker payudara reseptor estrogen (ER)-negatif berarti kanker tidak memiliki reseptor untuk hormon estrogen pada wanita, sehingga hormon tidak merangsang kanker untuk tumbuh.

Dalam penelitian terbaru ini, Harris dan rekan-rekannya terfokus pada data dari lebih dari 116.000 wanita yang telah terdaftar dalam Nurses Health Study II sejak tahun 1989, termasuk juga catatan lingkar pinggang dan pinggul.

Sebelumnya, tim peneliti menunjukkan bahwa komposisi lemak tubuh (yang ditunjukkan dengan indeks massa tubuh atau BMI) memiliki hubungan yang kompleks dengan risiko kanker.

Misalnya, BMI yang lebih tinggi sebelumnya telah dikaitkan dengan peningkatan risiko untuk kanker payudara pasca-menopause, tetapi bukan kanker payudara pre-menopause, seperti yang ditunjukkan pada penelitian terbaru ini
(mer/ir


sumber : detik.com



PENELITIAN MENGHASILKAN PETUNJUK BARU UNTUK OTAK BAGAIMANA SEL KANKER BERMIGRASI DAN MENYERANG

Release Date: 2012/05/02

Temuan dari para ilmuwan Johns Hopkins memberi petunjuk mengapa kanker otak tertentu bersifat sangat mematikan
Johns Hopkins peneliti telah menemukan bahwa protein yang mengangkut natrium, kalium dan klorida dapat memegang petunjuk bagaimana glioblastoma, jenis yang paling umum dan paling mematikan kanker otak, bergerak dan menyerang jaringan otak di sekitarnya sehat.
Temuan ini dilaporkan dalam jurnal PLoS Biology, juga menunjukkan bahwa obat yang disetujui FDA murah sudah ada di pasar bisa memperlambat pergerakan sel glioblastoma, dan berisi penyebarannya.
"Tantangan terbesar pada kanker otak adalah migrasi sel kanker. Kita tidak bisa mengontrolnya, "kata pemimpin studi Alfredo Quinones-Hinojosa, MD, seorang profesor bedah saraf dan onkologi di Johns Hopkins University School of Medicine. "Jika kita bisa menangkap sel-sel ini sebelum mereka lepas landas ke bagian lain dari otak, kita bisa membuat tumor ganas lebih mudah dikelola, dan meningkatkan harapan hidup dan kualitas hidup. Penemuan ini memberi kita harapan dan membawa kita lebih dekat untuk menyembuhkan. "
Glioblastoma, yang didiagnosis pada sekitar 10.000 orang Amerika setiap tahun, begitu agresif bahwa harapan hidup rata-rata setelah diagnosis hanya 15 bulan, Quinones mengatakan. Kanker menyebar ke jaringan otak yang sehat sehingga cepat dan benar yang menyembuhkan bedah hampir tidak mungkin dan kemajuan dalam radiasi dan kemoterapi telah lambat datang.
Dalam mencari cara untuk mencegah atau membatasi penyebaran, dan berhenti kambuh mematikan tumor, Johns Hopkins peneliti berfokus pada protein yang disebut NKCC1 pada sel tumor manusia dalam laboratorium dan sel tumor disuntikkan ke tikus.
NKCC1 mengangkut ion natrium, kalium dan klorida, dan mengatur volume sel.
Quinones-Hinojosa dan timnya menemukan bahwa sel-sel dengan NKCC1 lebih muncul untuk bergerak lebih jauh karena protein membuat lebih mudah bagi sel-sel tumor untuk ambil ke sel dan jaringan lain di otak dan mendorong diri mereka sendiri melalui jaringan. Semakin banyak protein ini dalam sel tumor, mereka menemukan, semakin cepat sel glioblastoma mampu bepergian. Ketika NKCC1 tidak hadir, mereka mencatat bahwa sel memiliki adhesi fokus lebih besar, yang memungkinkan untuk Velcro-seperti keterikatan pada sel-sel sekitarnya. Adhesi yang lebih besar, katanya, muncul untuk sel tetap lebih berlabuh di tempat, sementara yang lebih kecil membuat sel lebih mobile dan memungkinkan migrasi lebih.
Dalam percobaan mereka, para peneliti diblokir protein dan mampu memperlambat migrasi sel tumor. Mobilitas kurang, Quinones-Hinojosa mengatakan, berarti invasi kurang dari jaringan di sekitarnya.
Untuk memblokir saluran, tim menggunakan bumetanide diuretik, pil air sederhana secara rutin digunakan untuk mengurangi retensi cairan dan pembengkakan yang disebabkan oleh berbagai masalah medis. Ditambahkan ke sel-sel tumor baik di laboratorium, atau sel-sel tumor manusia pada tikus, obat diblokir saluran NKCC dan memperlambat laju gerakan sel.
Jika sel dibuat kurang invasif, catatan Quinones, tumor juga akan lebih mudah untuk menghapus pembedahan.
Para peneliti juga dapat berkorelasi kelas tumor manusia dengan tingkat NKCC1. Tumor kurang agresif, mereka menemukan, memiliki jumlah yang lebih kecil protein, sedangkan tumor yang lebih agresif memiliki lebih. Hal ini menunjukkan NKCC1 yang mungkin tidak hanya memberikan kontribusi pada peningkatan invasi tumor kelas yang lebih tinggi, tetapi juga berfungsi sebagai penanda potensial untuk diagnosis.
Lain Johns Hopkins peneliti yang terlibat dalam penelitian ini meliputi Tomas Garzon-Muvdi, MD, MS; Paula Schiapperelli, Ph.D., Collette ap Rhys, Ph.D., Hugo Guerrero-Cazares, MD, Ph D., Christopher Smith; Deok-Ho Kim, Ph.D., Lyonel Kone; Harrison Farber; Daneille Y. Lee, Steven S. An, Ph.D., dan Andre Levchenko, Ph.D.


Sumber : http://www.hopkinsmedicine.org/
Release Date: 05/02/2012
Versi Asli  (inggris) : klik  dibawah
Translator : Google Translate

RESEARCH YIELDS NEW CLUES TO HOW BRAIN CANCER CELLS MIGRATE AND INVADE

Findings from Johns Hopkins scientists hint at why certain brain cancers are so deadly

Johns Hopkins researchers have discovered that a protein that transports sodium, potassium and chloride may hold clues to how glioblastoma, the most common and deadliest type of brain cancer, moves and invades nearby healthy brain tissue.
The findings, reported in the journal PLoS Biology, also suggest that a cheap FDA-approved drug already on the market could slow movement of glioblastoma cells, and contain their spread.
“The biggest challenge in brain cancer is the migration of cancer cells. We can’t control it,” says study leader Alfredo Quinones-Hinojosa, M.D., an associate professor of neurosurgery and oncology at the Johns Hopkins University School of Medicine. “If we could catch these cells before they take off into other parts of the brain, we could make malignant tumors more manageable, and improve life expectancy and quality of life. This discovery gives us hope and brings us closer to a cure.”
Glioblastoma, which is diagnosed in roughly 10,000 Americans each year, is so aggressive that the average life expectancy after diagnosis is just 15 months, Quinones says. The cancer spreads to healthy brain tissue so quickly and completely that surgical cures are virtually impossible and advances in radiation and chemotherapy have been slow in coming.
In a search for ways to prevent or limit the spread, and stop lethal recurrence of the tumor, the Johns Hopkins researchers focused on a protein called NKCC1 in human tumor cells in the laboratory and tumor cells injected into mice.
NKCC1 transports sodium, potassium and chloride ions, and regulates cell volume.
Quinones-Hinojosa and his team found that cells with more NKCC1 appear to move farther because the protein made it easier for tumor cells to grab onto other cells and tissues in the brain and propel themselves through tissue. The more of this protein in the tumor cell, they discovered, the faster the glioblastoma cells were able to travel. When NKCC1 was absent, they noted that the cells had larger focal adhesions, which allow for Velcro-like attachment to surrounding cells. Larger adhesions, he says, appear to keep the cells more anchored in place, while smaller ones made cells more mobile and allowed for more migration.
In their experiments, the researchers blocked the protein and were able to slow the migration of the tumor cells. Less mobility, Quinones-Hinojosa says, means less invasion of surrounding tissue.
To block the channel, the team used the diuretic bumetanide, a simple water pill routinely used to reduce swelling and fluid retention caused by various medical problems. Added to either tumor cells in the laboratory, or to human tumor cells in mice, the drug blocked the NKCC channel and slowed the pace of cell movement.
If the cells were made less invasive, Quinones notes, tumors also would be easier to surgically remove.
The researchers were also able to correlate human tumor grade with levels of NKCC1. Less aggressive tumors, they discovered, had smaller amounts of the protein, while more aggressive tumors had more. This suggests that NKCC1 may not only contribute to the increased invasiveness of higher grade tumors, but also serve as a potential marker for diagnosis.
Other Johns Hopkins researchers involved in the study include Tomas Garzon-Muvdi, M.D., M.S.; Paula Schiapperelli, Ph.D.; Collette ap Rhys, Ph.D.; Hugo Guerrero-Cazares, M.D., Ph. D.; Christopher Smith; Deok-Ho Kim, Ph.D.; Lyonel Kone; Harrison Farber; Daneille Y. Lee; Steven S. An, Ph.D.; and Andre Levchenko, Ph.D.


Sumber : http://www.hopkinsmedicine.org/
Release Date: 05/02/2012
Versi Terjemahan (indonesia) : klik  dibawah
Translator : Google Translate
















Rabu, 13 Juni 2012

Sikat Gigi Tidak Bersih Sebabkan Kanker


SELASA, 12 JUNI 2012 12:15 wib


Restika Ayu Prasasty - Okezone

detail berita
Rajin sikat gigi (Foto: Corbis)
HATI-HATI saat menyikat gigi. Pasalnya, para peneliti mengklaim bahwa menyikat gigi dengan tidak benar dan bersih dapat meningkatkan risiko kematian prematur akibat kanker.

Peneliti menemukan hubungan antara tingginya tingkat plak atau bakteri gigi dengan kematian akibat kanker. Terlalu banyak bakteri pada permukaan gigi dan gusi menyebabkan peningkatan risiko kematian dini sebanyak 80% (mengurangi usia hingga 13 tahun).

Para peneliti mengatakan, infeksi dan inflamasi sebagai penyebab satu dari lima kanker. Infeksi dan inflamasi juga merupakan elemen kunci dalam penyakit gusi yang disebabkan oleh plak gigi. Penyakit gusi menyebabkan bau mulut dan gusi berdarah. Jika tidak diobati akan menyebabkan gigi berlubang, gusi surut, dan ompong karena plak mengendap di antara gigi dan gusi.

Infeksi dan inflamasi gigi dan gusi juga dikaitkan dengan masalah kesehatan kronis, termasuk penyakit jantung. Hal ini diduga disebabkan peradangan dari gusi ke dalam aliran darah, meskipun peneliti di Amerika Serikat baru-baru ini menyampaikan bahwa hubungan tersebut mungkin hanya kebetulan.

Para peneliti di Swedia mengaku, temuan dalam studi terbaru mereka tidak membuktikan adanya hubungan sebab akibat antara kanker dan plak gigi. Namun, dibenarkan jika kebersihan mulut yang buruk dapat menjadi indikator faktor gaya hidup lain yang terkait dengan kanker.

Studi ini melacak kesehatan 1.390 orang dewasa yang dipilih secara acak dari Stockholm selama 24 tahun, mulai 1985. Semua peserta berusia 30-an dan 40-an pada awal periode pemantauan. Kebersihan mulut mereka dinilai untuk mengetahui tingkat plak gigi, karang gigi, penyakit gusi, dan gigi mereka.

Tidak ada seorang pun di antara mereka yang memiliki penyakit gusi terbuka, tetapi mereka semua memiliki berbagai tingkat plak pada gigi dan permukaan gusi. Pada 2009, sebanyak 58 dari 1.390 orang tersebut meninggal, sekira sepertiga di antaranya perempuan (35%). Dari 58 kematian, 35 sendiri disebabkan kanker.

Rata-rata usia kematian 1.390 orang tersebut ialah 61 tahun untuk wanita dan 60 tahun untuk pria, menurut studi yang dipublikasikan dalam jurnal online BMJ Open. Padahal, pimpinan studi dari departemen kedokteran gigi di Institut Karolinka di Huddinge, Profesor Birgitta Soder mengatakan, para wanita dalam penelitian ini diharapkan hidup sekitar 13 tahun lebih lama, sedangkan para prianya 8,5 tahun. Kematian di antara para wanita itu terutama disebabkan kanker payudara, sedangkan para pria disebabkan berbagai jenis kanker yang berbeda.

Indeks plak gigi asli pada mereka yang telah meninggal lebih tinggi dibandingkan mereka yang masih hidup. Mereka yang meninggal memiliki nilai plak gigi 0,84-0,91 menunjukkan bahwa permukaan gusi dan gigi telah ditutupi dengan plak. Sedangkan nilai plak pada mereka yang masih hidup secara konsisten lebih rendah, berkisar antara 0,66-0,67 yang menunjukkan bahwa gigi dan gusi hanya sebagian tertutup plak.

Bahkan setelah faktor risiko penyebab kanker, seperti usia, merokok, tingkat pendidikan rendah dan frekuensi kunjungan gigi, hubungan antara jumlah plak gigi dan kematian dini tetap kuat. Namun, risiko absolut dari kematian dini rendah, seperti dilansir Dailymail, Selasa (12/6/2012).
(tty)

Pengidap Alergi Berisiko Kanker Darah


Aliza Marcella
Pasien yang memiliki alergi, terutama alergi terhadap tanaman, rumput dan pohon memiliki risiko lebih kecil terkena kanker darah.
TEXAS, Jaringnews.com - Alergi tampaknya menjadi kondisi umum dan dapat mempengaruhi banyak orang. Alergi biasanya terjadi karena makanan, ataupun udara. Namun, studi terbaru menunjukkan alergi dapat meningkatkan risiko kanker.

Secara khusus, studi baru yang dilakukan para peneliti dari University of Washington Fred Hutchinson Cancer Research Center menemukan pasien dengan alergi mungkin memiliki risiko lebih tinggi berkembangnya leukemia daripada mereka yang tidak menderita alergi.

Penelitian ini melibatkan lebih dari 64 ribu pasien yang ditanya mengenai gejala alergi dan asma. Para pasien kemudian dievaluasi tujuh tahun kemudian untuk melihat apakah mereka telah didiagnosa menderita kanker darah.

Pasien yang memiliki alergi, terutama alergi terhadap tanaman, rumput dan pohon memiliki risiko lebih kecil terkena kanker darah. Tapi pasien dengan asma ternyata tidak memiliki peningkatan risiko kanker darah.

"Studi menunjukkan kemungkinan adanya peningkatan insiden kanker tertentu jika Anda memiliki jenis alergi tertentu", jelas Dr Edward Kim, profesor dari Departmen Onkologi di MD Anderson Cancer Center, Universitas Texas, seperti dilansir ABC News.

Para peneliti menduga peradangan yang sama yang menyebabkan gejala alergi dapat menyebabkan sistem kekebalan terlalu aktif. Dan aktivitas yang berlebihan pada nantinya dapat menyebabkan kanker darah.

“Penelitian ini diharapkan dapat membuat seseorang menjadi lebih waspada, rutin melakukan kontrol ke dokter, serta melakukan pemeriksaan fisik tahunan”, harap sang doketr

jaringnews.com

Menyikat Gigi Pemicu Kematian Dini Pasien Kanker


INILAH.COM, Jakarta- Menyikat gigi dengan tidak benar disebut sebagai pemicu kematian lebih awal terhadap para pasien penderita kanker.
Penelitian yang baru-baru ini dilakukan menemukan kematian dini akibat peningkatan bakteri hingga 80%.
Dilansir dari dailymail, para peneliti menemukan, risiko kematian prematur mencapai 13 tahun lebih awal daripada yang mungkin diharapkan. Ini terjadi karena peningkatan bakteri seperti tingginya tingkat plak gigi yang juga menyebabkan penyakit gusi dan bau mulut.
Para peneliti mengatakan infeksi dan inflamasi berperan dalam satu sampai lima penyakit kanker.
Meski peneliti Swedia dalam penelitiannya menemukan bahwa tingginya plak gigi atau penyakit mulut lainnya tidak berhubungan dengan penyebab kanker. Namun mereka setuju kebersihan mulut yang tidak terjaga bisa menjadi pemicu semakin buruknya penyakit hingga menyebabkan kematian prematur.
Penelitian melibatkan 1.390 orang dewasa yang dipilih secara acak dari Stockholm selama 24 tahun, mulai tahun 1985. Peserta yang saat itu semua berusia antara 30-an dan 40-an tahun berpendapat bahwa pemicu kanker yang utama adalah merokok dan gaya hidup tidak sehat.
Namun saat itu mereka juga diperiksa untuk kebersihan mulut. Meski tidak ada yang memiliki penyakit gusi terbuka, tetapi semua memiliki berbagai tingkat plak pada gigi dan permukaan gusi.
Pada 2009 telah ditemukan di antaranya sebanyak 58 orang meninggal dunia akibat kanker, yang sepertiga atau 35% adalah perempuan. Rata-rata usia kematian adalah 61 untuk perempuan dan 60 untuk laki-laki, menurut studi yang sudah dipublikasikan dalam jurnal online BMJ.
Indeks plak gigi pada mereka yang telah meninggal dunia adalah lebih tinggi dibandingkan mereka yang selamat. Mereka memiliki nilai 0,84-0,91, menunjukkan bahwa permukaan gusi dan gigi telah ditutupi plak.
Sedangkan yang masih bertahan memiliki indeks plak gigi yang lebih rendah secara konsisten yaitu berkisar antara 0,66 0,67, yang menunjukkan bahwa gigi dan gusi hanya sebagian tertutup plak.
Meski penyebab utama risiko kanker diketahui adalah dari faktor usia, kebiasaan merokok, tingkat pendidikan rendah, namun hubungan antara jumlah plak gigi dengan penyebab kematian dini masih kuat. [mor]

Selasa, 12 Juni 2012

WHO: Asap Diesel Picu Kanker


E-LIFE
Rabu, 13 Juni 2012 , 12:41:00


JENEWA - Organisasi Kesehatan Sedunia (WHO) meningkatkan level peringatan gas buang knalpot diesel sebagai salah satu pemicu kanker.  Karenanya, WHO mengimbau adanya standar emisi yang lebih ketat serta menyamakan risiko gas buang knalpot dengan asap rokok.

Pengumuman itu disampaikan setelah pakar-pakar internasional selama seminggu mengkaji ulang penelitian baru termasuk kajian jangka panjang atas 12 ribu penambang yang terpapar gas buang diesel. Hal ini diharapkan bakal mendorong banyak negara memperketat standar emisi diesel.

Dengan naiknya level peringatan ini, WHO mengharapkan institusi bisnis melakukan berbagai inovasi alternatif bahan bakar. Dicontohkan seperti bahan bakar rendah-sulfur, desain mesin baru dan kendali gas buang yang lebih baik, terutama di Amerika Utara dan Eropa.

"Bukti ilmiah menyimpulkan knalpot mesin diesel menyebabkan kanker paru-paru pada manusia yang terpapar secara terus menerus," ujar Dr Christopher Portier, pemimpin peneliti kajian gas buang diesel, seperti dikutip BBC, (12/6).

Mengingat dampak kesehatan dari paparan partikulat diesel, maka pemakaiannya harus dikurangi seluruh dunia, lanjutnya. Namun,dampak pada populasi lebih besar yang terkena paparan lebih rendah dan dalam waktu dekat, masih belum diketahui.

Departemen Kesehatan Inggris menyatakan akan berhati-hati atas laporan tersebut. Pasalnya, polusi udara adalah masalah kesehatan masyarakat yang signifikan dan merupakan bagian dari rencana pemerintah untuk meningkatkan kesehatan masyarakat. Sebelumnya, hasil penelitian dalam Jurnal Asosiasi Medis Amerika (JAMA) yang menggabungkan hasil dari 34 penelitian, menemukan hubungan secara statistik yang signifikan antara risiko serangan jantung dan sejumlah besar polutan udara, kecuali ozon.(esy/jpnn)
http://www.jpnn.com

Senin, 11 Juni 2012

Jus Buah Delima Hambat Penyebaran Sel Kanker


AN Uyung Pramudiarja - detikHealth

img
foto: Thinkstock
Los Angeles, Manfaat buah-buahan dalam mengatasi penyakit kanker kembali diungkap oleh para ahli. Kali ini jus buah delima terbukti menghambat penyebaran kanker prostat ke jaringan tulang. Diyakini buah ini berkhasiat juga untuk jenis kanker lainnya.

Buah delima atau pomegranate (punica granatum) berasal dari Timur Tengah, namun telah menyebar ke berbagai wilayah. Tanaman ini bisa hidup di iklim tropis maupun subtropis dan sering ditanam sebagai tanaman hias yang buahnya bisa dimakan.

Khasiatnya menghambat pertumbuhan sel kanker terungkap dalam sebuah penelitian di University of California, Los Angeles (UCLA) beberapa bulan yang lalu. Namun pada saat itu para peneliti gagal menjelaskan mekanisme biologis termasuk senyawa apa yang menyebabkan buah ini berkhasiat.

Bahkan perusahaan yang menyuplai buah delima untuk penelitian tersebut, yakni Pom Wonderful sempat didenda oleh Komisi Perdagangan Amerika Serikat. Pasalnya perusahaan ini dianggap memberikan klaim palsu terkait manfaat buah delima yang saat itu belum jelas betul.

Namun baru-baru ini peneliti yang sama akhirnya berhasil mengungkap bahwa penghambatan sel kanker dipicu oleh kandungan asam lemak dalam buah delima. Pada kanker prostat, senyawa ini bisa mencegah serangan kanker meluas ke jaringan tulang di sekitarnya.

Keberhasilan mengidentifikasi senyawa bermanfaat dalam buah delima dianggap cukup penting meski sebenarnya khasiat buah ini sudah diketahui sebelumnya. Para peneliti mengatakan modifikasi terhadap senyawa alami tersebut kini bisa dilakukan untuk meningkatkan efektivitasnya.

"Karena gen dan protein yang terlibat dalam persebaran sel kanker prostat tidak jauh berbeda dengan jenis kanker lain, maka asam lemak dalam buah delima bisa sedikit dimodifikasi untuk jenis kanker yang lain," ungkap Dr Manuela Martins-Green dari UCLA seperti dikutip dari Dailymail, Selasa (14/12/2010).

Hasil penelitian tersebut dipersentasikan dalam pertemuan tahunan American Society of Cell Biology(up/ir


sumber : detik.com

Minggu, 10 Juni 2012

Dua Kali CT Scan, Risiko Kanker Otak Naik Tiga Kali Lipat




MENURUT para ilmuwan, risiko kanker otak naik tiga kali lipat pada anak-anak setelah melakukan CT scan dua atau tiga kali. Mereka juga berisiko lebih besar terkena leukemia (kanker darah).

Para peneliti memperkirakan setiap 10.000 anak berusia 10 tahun atau kurang yang di-CT scan, satu dari mereka terkena tumor otak dan satu lagi didiagnosis mengidap leukemia. Tetapi mereka juga mengatakan, CT scan dapat menyelamatkan nyawa dan risiko berkembangnya kanker sangat kecil.

Dr. Mark Pearce dari Newcastle University mengatakan, “CT scan bersifat akurat dan cepat, sehingga harus digunakan bila manfaat langsung CT scan lebih besar daripada risiko jangka panjangnya. Kami telah diberi tahu bahwa CT scan meningkatkan risiko kanker, tetapi ini adalah penyakit langka. Risikonya pun kecil, tapi kita harus tetap menyadari bahwa risiko apapun tetap adalah risiko.”

Dalam studi yang dipublikasikan di The Lancet, para peneliti dari Newcastle University dan National Cancer Institute di AS mengamati 175.000 anak dan remaja di bawah usia 21 yang dirawat di NHS dan menerima CT scan pertama mereka antara 1985 dan 2002.

Mereka memperkirakan dan menghubungkan jumlah radiasi yang diterima tubuh akibat CT scan dengan risiko tumor otak dan leukemia selama 10 tahun ke depan. Risiko tumor otak meningkat tiga kali lipat setelah kepala menyerap 50-60 milligray unit radiasi. Jumlah itu adalah tingkat pemaparan usai melakukan CT scan sebanyak 2-3 kali.

Dosis radiasi yang sama pada sumsum tulang yang diproduksi oleh lima sampai 10 kali CT scan pada kepala dapat melipatgandakan risiko terkena leukemia sebanyak tiga kali.

Seorang juru bicara Departemen Kesehatan mengatakan, CT scan dilakukan hanya ketika “dibenarkan secara klinis”. Setiap 100.000 anak berusia sampai 19 tahun di Inggris, ditemukan tiga kasus tumor otak dan empat sampai lima kasus leukemia, seperti dilansir Dailymail.



Sumber : koranFB

PARA ILMUWAN PROGRAM ULANG SEL KANKER DENGAN OBAT EPIGENETIK


Release Date: 2012/03/29
ILMUWAN memprogram ulang sel KANKER DENGAN DOSIS RENDAH OBAT epigenetik
Bereksperimen dengan sel dalam kultur, para peneliti di Johns Hopkins Kimmel Cancer Center telah meniupkan kehidupan baru mungkin ke dua obat yang dulu dianggap terlalu beracun untuk pengobatan kanker manusia.  Obat-obatan, azacitidine (AZA) dan decitabine (DAC), adalah epigenetik bertarget narkoba dan bekerja untuk memperbaiki penyebab kanker perubahan yang memodifikasi DNA.
Para peneliti mengatakan obat juga ditemukan membidik sub-populasi kecil tapi berbahaya sel memperbaharui diri, kadang-kadang disebut sebagai kanker sel induk, yang menghindari obat kanker yang paling dan kambuh penyebab dan menyebar.
Dalam laporan yang diterbitkan dalam, 20 Maret 2012, isu Cancer Cell , Johns Hopkins tim mengatakan bahwa penelitian mereka memberikan bukti bahwa dosis rendah obat diuji pada kultur sel menyebabkan tanggapan antitumor pada kanker payudara, paru-paru, dan usus besar.
Agen kemoterapi konvensional bekerja dengan tanpa pandang bulu meracuni dan membunuh sel-cepat membagi, termasuk sel kanker, dengan merusak mesin seluler dan DNA. "Sebaliknya, dosis rendah AZA dan DAC dapat mengaktifkan kembali gen yang menghentikan pertumbuhan kanker tanpa menyebabkan kerusakan langsung membunuh sel-atau DNA," kata Stephen Baylin , MD, Ludwig Profesor Onkologi dan wakil direktur dari Johns Hopkins Kimmel Cancer Center .
Banyak ahli kanker telah meninggalkan AZA dan DAC untuk pengobatan kanker umum, menurut para peneliti, karena mereka adalah racun bagi sel-sel normal pada dosis tinggi standar, dan ada sedikit penelitian menunjukkan bagaimana mereka mungkin bekerja untuk kanker pada umumnya.  Baylin dan nya rekan Cynthia Zahnow , Ph.D., memutuskan untuk melihat lagi pada obat setelah dosis rendah obat yang menunjukkan manfaat pada pasien dengan gangguan pra-leukemia disebut sindrom myelodysplastic (MDS).  Johns Hopkins peneliti juga menunjukkan manfaat dari dosis rendah obat dalam tes dengan sejumlah kecil pasien kanker paru-paru lanjut."Hal ini bertentangan dengan cara kita biasanya melakukan hal-hal dalam penelitian kanker," kata Baylin, mencatat bahwa "biasanya, kita mulai di laboratorium dan kemajuan ke uji klinis.  Dalam hal ini, kami melihat hasil dalam uji klinis yang membuat kita kembali ke laboratorium untuk mencari cara untuk memindahkan terapi ke depan. "
Untuk penelitian ini, tim Baylin dan Zahnow yang bekerja dengan leukemia, payudara, dan baris sel kanker lainnya dan sampel tumor manusia menggunakan dosis serendah mungkin yang efektif melawan kanker. Secara keseluruhan, para peneliti mempelajari enam baris sel leukemia, leukemia sampel tujuh pasien, tiga baris sel kanker payudara, tujuh sampel tumor payudara (termasuk empat sampel tumor yang telah menyebar ke paru-paru), satu paru-paru sampel kanker tumor, dan satu kanker usus besar sampel tumor.  Tim diperlakukan jalur sel dan sel-sel tumor dengan dosis rendah AZA dan DAC dalam budaya selama tiga hari dan memungkinkan obat-diperlakukan sel untuk beristirahat selama seminggu. Sel diperlakukan dan sampel tumor kemudian ditransplantasikan ke tikus di mana para peneliti mengamati tanggapan antitumor dilanjutkan hingga 20 minggu. Respon diperpanjang ini sejalan dengan pengamatan pada beberapa pasien MDS yang terus memiliki efek antikanker lama setelah menghentikan obat.
Terapi dosis rendah terbalik jalur kanker gen sel, termasuk yang mengontrol siklus sel, perbaikan sel, pematangan sel, diferensiasi sel, interaksi sel kekebalan tubuh, dan kematian sel. Efek bervariasi pada sel tumor individu, tetapi para ilmuwan umumnya melihat bahwa sel kanker kembali ke keadaan yang lebih normal dan akhirnya meninggal.  Hasil ini disebabkan, sebagian, dengan perubahan lingkungan epigenetik, atau kimia, DNA.  kegiatan epigenetik menghidupkan gen tertentu dan lain-lain blok, kata Zahnow, asisten profesor onkologi dan Evelyn Grolman Glick Cendekia di Johns Hopkins.
Stephen Baylin, MD, Ph.D., menjelaskan Epigenetika:



Tim peneliti juga menguji AZA dan efek DAC pada jenis sel kanker payudara metastatik berpikir untuk mendorong pertumbuhan kanker dan menolak terapi standar.  sel metastatik sulit untuk belajar dalam model tumor laboratorium standar, karena mereka cenderung untuk melepaskan diri dari tumor asli dan mengapung di dalam darah dan cairan getah bening.  The Johns Hopkins tim diciptakan kembali lingkungan metastasis sel induk ', yang memungkinkan mereka untuk tumbuh sebagai bola mengambang.  "Sel-sel ini tumbuh dengan baik sebagai bulatan di suspensi, tetapi ketika kita diobati sel dengan AZA, baik ukuran dan jumlah bola secara dramatis berkurang, "kata Zahnow.
Mekanisme yang tepat tentang bagaimana kerja obat adalah fokus dari studi berkelanjutan oleh Baylin dan timnya.  "Temuan kami dapat ditemukan bukti dari uji klinis terakhir menunjukkan bahwa obat mengecilkan tumor lebih lambat dari waktu ke waktu karena mereka memperbaiki mekanisme diubah dalam sel dan gen kembali ke fungsi normal dan sel-sel mungkin akhirnya mati, "kata Baylin.
Para hasil uji klinis pada kanker paru-paru , yang dipimpin oleh Johns Hopkins 'Charles Rudin, MD, dan diterbitkan akhir tahun lalu di Penemuan Kanker , juga menunjukkan bahwa obat membuat tumor lebih responsif terhadap pengobatan obat standar antikanker.  Ini berarti, kata mereka, bahwa obat yang bisa menjadi bagian dari pendekatan kombinasi perlakuan daripada terapi yang berdiri sendiri dan sebagai bagian dari pendekatan pribadi pada pasien yang kanker cocok profil epigenetik dan genetik tertentu.
Dosis rendah dari kedua obat tersebut disetujui oleh US Food and Drug Administration untuk pengobatan MDS dan leukemia myelomonocytic kronis (CMML). Uji klinis pada payudara dan kanker paru-paru mulai pada pasien dengan penyakit lanjut, dan uji coba pada kanker usus besar yang direncanakan.
Stand Up Untuk Kanker Tim Epigenetika Dream:



Selain Baylin dan Zahnow, peneliti lain yang berpartisipasi dalam penelitian ini meliputi Hsing-Chen Tsai, Huili Li, Leander Van Neste, Yi Cai, Carine Robert, Feyruz V. Rassool, James J. Shin, Kirsten M. Harbom, Robert Beaty, Emmanouil Pappou, James Harris, Ray-Whay Yen Chiu, Nita Ahuja, Malcolm V. Brock, Vered Stearns, David Feller-Kopman, Lonny B. Yarmus, Yi-Chun Lin, Alana L. Welm, Jean-Pierre Issa, Il Minn , William Matsui, Yoon-Young Jang, dan Saul J. Sharkis.
Penelitian ini didanai oleh hibah spora untuk kanker paru-paru dari National Institutes of Health, Hodson Kepercayaan Foundation, Industri Hiburan Foundation, Lee Jeans, Samuel Waxman Cancer Research Foundation, Departemen Pertahanan Kanker Payudara Program Penelitian, Huntsman Cancer Foundation, dan Cindy Rosencrans Dana untuk Riset Kanker Payudara triple negatif.  Semua penelitian telah dipercepat oleh pendanaan dari Stand Up untuk Kanker (SU2C) proyek dalam kemitraan dengan American Association of Cancer Research (AACR).

Sumber : http://www.hopkinsmedicine.org/
Translator : Google Translate
Versi Asli (ingris) : klik  dibawah
http://penelitianilmiahterbaru.blogspot.com/2012/06/scientists-reprogram-cancer-cells-with.html

GRATIS PLUS HADIAH

Hosting Gratis