website trackingwebsite tracking

PTC..PELUANG DAPAT UANG HANYA DENGAN MODAL KLIK

Cara Instan Untuk Verifikasi PayPal !
Tampilkan postingan dengan label DIABETES. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label DIABETES. Tampilkan semua postingan

Senin, 25 Juni 2012

Gula Buah Aman Untuk Penderita Diabetes

Gula Buah Aman Untuk Penderita DiabetesGula buah atau fruktosa merupakan jenis gula yang mudah larut dalam air. Banyak ditemukan dalam buah dan madu. Beberapa penelitian sempat menyebutkan kalau gula ini tidak aman dikonsumsi penderita diabetes. Namun penelitian baru menyebutkan fruktosa aman dikonsumsi.

Penelitian yang dilakukan di St. Michael's Hospital, menemukan bahwa penderita diabetes tipe 1 dan diabetes tipe 2 dapat dikontrol gula darahnya meskipun mengkonsumsi fruktosa. Selain itu tekanan darah, kolesterol dan berat badan responden juga bisa dikendalikan.

Responden yang terlibat dalam penelitian ini sebanyak 209 orang, dikelompokkan berdasarkan usia remaja dan orang tua. Masing-masing responden diberikan fruktosa setiap hari selama 12 minggu. Gula buah yang diberikan berasal dari madu, buah dan sayuran.

"Fruktosa yang dikonsumsi tidak berlebihan atau dalam jumlah yang cukup, namun anggapan negatif pada fruktosa masih terjadi." ungkap Adrian Cozna, seorang asisten peneliti di St. Michael's Hospital.

Selain itu, penelitian dari Universitas of Maryland Medical Center, menghubungkan minum minuman manis dengan peningkatan resiko hipertensi. Hasilnya tidak ada hubungan antara fruktosa dengan kenaikan tekanan darah.

Namun peneliti menemukan responden yang banyak makan buah dinyatakan memiliki resiko hipertensi. "Mungkin Anda akan berfikir kalau fruktosa adalah penyebabnya dan memilih untuk banyak makan apel yang juga dapat meningkatkan resiko hipertensi." ujar Dr. Lisa Cohen Reuters, seorang peneliti. Detik.com

Para peneliti juga mencatat hasil studi dan menyarankan penderita kanker harus mengurangi asupan fruktosa. Karena sel-sel kanker dapat berkembang biak jika mengkonsumsi gula buah. Dalam penelitianMayo Clinic juga ditemukan, kebanyakan wanita di Amerika Serikat mendapatkan tambahan kalori dari gula tambahan kurang dari 100 kalori, sedangkan untuk pria sekitar 150 kalori perhari

Minggu, 24 Juni 2012

Minum 4 Cangkir Teh Sehari Turunkan Resiko Diabetes

Minum 4 Cangkir Teh Sehari Turunkan Resiko DiabetesJakarta - Diabetes adalah salah satu penyakit keturunan yang sulit disembuhkan. Untuk mencegahnya mungkin beberapa orang telah melakukan diet untuk tetap menjaga pola makannya. Sebuah penelitian baru berhasil menemukan minuman yang dapat mencegah diabetes.

Sebuah studi yang dilakukan di Eropa menemukan bahwa orang yang minum teh sebanyak empat cangkir perhari memiliki resiko 20 persen lebih rendah untuk terkena penyakit diabetes tipe-2. Penelitian ini telah terbukti di negara Inggris yang rata-rata warganya sering minum teh.

Penelitian ini juga menemukan bahwa orang yang minum teh kurang dari empat cangkir ternyata tidak dapat menurunkan resiko terkena diabetes tipe-2.

Tim penelitian ini dipimpin oleh Criatian Herder dari Leibniz Center for Diabetes Research dari Heinrich Heine Universitas Duesseldorf, Jerman. Ia juga mengatakan bahwa, hasil analisis sebelumnya menunjukkan bahwa konsumsi teh dihubungkan dengan kejadian penurunan resiko diabetes tipe-2.

Penelitian ini telah melibatkan banyak orang karena dilakukan di 26 wilayah didelapan negara Eropa. Tediri dari 12.403 responden dengan kasus diabetes tipe-2 dan ditambah ribuan responden lainnya yang tanpa penyakit.

Obesitas adalah faktor utama terjadinya penyakit diabetes, namun faktor makanan juga sangat berperan. Teh dapat menyerap glukosa dengan melindungi beta-sel dari kerusakan radikal bebas. Kandungan polifenol dalam teh sangat menguntungkan untuk tubuh.

"Minum sedikitnya empat cangkir teh per hari dan akan menurunkan resiko 20 persen terkena diabetes, dibandingkan dengan mereka yang hanya minum satu atau tiga cangkir teh perhari." ungkap Herder.

Laporan kejadian penyakit diabetes cepat meningkat. Dengan mengubah gaya hidup dipercaya juga dapat mengurangi resiko diabetes. Minum teh bisa dijadikan sebagai bagian gaya hidup baru yang menyehatkan.


Dyah Oktabriawatie Waluyani - detikFood
detik,com

Sabtu, 23 Juni 2012

Buah Persik Bisa Cegah Diabetes dan Penyakit Jantung


Buah Persik Bisa Cegah Diabetes dan Penyakit JantungJakarta - Persik atau peach memiliki daging buah berwarna kuning. Aromanya harum dan memiliki satu biji. Kalau di Jepang buah ini disebut dengan buah momo. Buah yang bernama latin Prunus persica ini punya berkhasiat mencegah beragam penyakit.

Buah persik dipercaya dapat mencegah obesitas, yang dapat mengakibatkan penyakit jantung dan diabetes. Buah yang pertama tumbuh didataran Cina ini sudah dikonsumsi sejak 3000 tahun lalu. Kini sudah banyak dibudidayakan, terutama didataran tinggi berhawa sejuk.

Menurut hasil penelitian yang dilakukan oleh California Plum Board danCalifornia Grape and Tree League, senyawa fenolik dalam buah persik bersifat anti-obesitas. Juga mengandung anti-inflamasi dan anti-diabetes serta dapat mengurangi jumlah LDL (lemak jahat) yang bisa menyebabkan penyakit jantung.

Temuan ini nantinya akan dipresentasikan pada American Chemical Society di Philadelphia, Agustus mendatang. Senyawa bioaktif dalam buah persik dapat bekerja dengan baik dalam tubuh terutama untuk mencegah terkena penyakit.

“Hasil penelitian kami menunjukkan bahwa empat kelompok fenolik utama dalam persik adalahanthocyaninsclorogenic acids, quercetin derivatives dan catechins. Senyawa tersebut akan bekerja dalam sel lemak dan pembuluh darah,” jelas Luis Cisneros-Zevallos, penulis penelitian.

Berdasarkan hasil tes laboratorium buah ini dapat membasmi sel-sel kanker payudara. Dalam pengujiannya melibatkan beberapa penderita kanker payudara dan diberikan ekstrak peach dan plum. Sel-sel kanker responden dapat berkurang dan kembali normal.

Tidak hanya tinggi senyawa fenol, buah persik juga dapat memperkuat sistem kekebalan tubuh. Selain persik buah lainnya yang tinggi fenol adalah ceri, anggur dan plum. Sedangkan sayuran ada artichoke dan kentang. 
Sumber: Detik.com

Jumat, 22 Juni 2012

Buah penangkal diabetes




(Istimewa)
Kegagalan dalam menjaga pola hidup sehat bisa menyebabkan diabetes dan obesitas. Keduanya merupakan pintu masuk beragam penyakit. Namun dengan rajin mengonsumsi buah, beberapa penelitian mengungkap bahwa kedua masalah kesehatan tersebut tidak lagi menjadi ancaman.

Meski penyakit ini kerap menghantui masyarakat di beberapa negara, diabetes dan kegemukan setidaknya bisa ditangkal dengan beberapa jenis buah, seperti buah persik, nektarin, dan plum. Menurut penelitian yang dilangsungkan di Texas Agrilife Research baru-baru ini, ketiga buah tersebut mengandung komponen bioaktif yang mampu memerangi diabetes serta penyakit jantung.

Dari hasil penelitian yang dilansir oleh situs Zeenews,   menunjukkan bahwa senyawa dalam buah-buahan tersebut bisa menjadi senjata untuk melawan sindrom metabolik. Sebuah sindrom yang menyebabkan masalah kesehatan metabolisme yang lebih serius. Selain itu, senyawa fenolik yang terdapat di dalam ketigabuah ini juga bisa mengurangi tingkat LDL yang biasanya dihubungkan dengan penyakit kardiovaskular.

Penelitian lainnya dalam situs Dailymail disebutkan juga bahwa tiap ketiga buah ini memiliki empat zat fenolik yang bekerja secara aktif dalam memerangi empat penyekit seperti kegemukan, peradangan, diabetes, dan juga penyakit jantung. Perlu diketahui, dari data statistik menujukkan bahwa sekitar 30 persen dari populasi warga di AS, mengalami peningkatan keparahan diabetes dan kegemukan setiap tahunnya dalam jumlah yang mengkhawatirkan.

Seperti yang diakui oleh Prof. Cisneros Zevallos dari Texas A&M University, gaya hidup yang tidak sehat, dan juga kecenderungan genetik dari keluarga yang memiliki kegemukan, merupakan penyumbang terbesar dari kedua penyakit ini. Lanjutnya, “Studi kami menunjukkan bahwa buah persik, nektarin, dan plum, memiliki senyawa bioaktif yang berpotensi melawan sindrom tersebut,” ujarnya
http://www.waspada.co.id

Sabtu, 16 Juni 2012

KRITERIA BUAH Yang Sehat Untuk Sarapan

JAKARTA–Sarapan pagi merupakan sinyal tubuh untuk mengaktifkan proses metabolisme dari keadaan istirahat menjadi keadaan aktif. Maka sarapan sebaiknya mengandung protein, karbohidrat dan lemak yang cukup. Sarapan buah yang sehat dapat memberikan asupan serat, fitonutrien penting, antioksidan dan juga karbohidrat.
Jangan menggunakan sembarang buah untuk sarapan. Buah yang dikonsumsi untuk sarapan sebaiknya memenuhi kriteria seperti yang dilansir Lifestrong, Selasa (29/5/2012) di bawah ini:
1. Kaya Kandungan Anthocyanin
Buah-buahan yang sangat berwarna seperti blueberry, blackberry, raspberry, ceri, cranberry, anggur merah dan stroberi kaya akan pigmen tanaman yang disebut anthocyanin. Penelitian tahun 1997 menganalisis sifat antioksidan kuat dari 14 anthocyanin yang ditemukan dalam buah.
Temuan menunjukkan bahwa anthocyanin dapat memperbaiki gangguan penglihatan, penyakit pembuluh darah dan melindungi tubuh dari kerusakan akibat bahan kimia dan radiasi. Penelitian ini juga menemukan bahwa anthocyanin dapat berfungsi sebagai anti radang dan menurunkan risiko kanker.
2. Kaya Kandungan Karotenoid
Karotenoid adalah jenis pigmen lain pada tanaman yang penting bagi manusia. Karotenoid terkandung dalam buah-buahan berwarna kuning, oranye dan merah seperti jeruk, jeruk keprok, jeruk, melon, semangka, aprikot, peach, tomat dan mangga. Ada lebih dari 600 jenis karotenoid, tapi yang paling sering ditemukan dalam makanan adalah alpha-carotene, beta-karoten, beta-cryptoxanthin, lycopene, lutein dan zeaxanthin.
Karotenoid melindungi tubuh dari gangguan penglihatan seperti katarak dan degenerasi makular, juga dapat meningkatkan kesehatan paru-paru dan menurunkan resiko kanker atau penyakit jantung dan pembuluh darah.
3. Kaya Serat
Serat penting agar sistem pencernaan dapat bekerja optimal. Serat juga membantu mencegah diabetes serta penyakit jantung dan pembuluh darah. Wanita sebaiknya mengkonsumsi 21 – 25 gram serat per hari dan pria 30 – 38 gram sehari. Contoh buah kaya serat antara lain raspberry, blackberry, alpukat, pir, apel, blueberry, kurma, stroberi, pisang, plum dan kismis.
4. Rendah Indeks Glikemik
Buah dengan kandungan gula yang tinggi dapat menyebabkan lonjakan glukosa darah dan insulin sehingga memicu diabetes. Makanlah buah dengan indeks glikemik yang rendah, yaitu yang berada pada peringkat 55 ke bawah seperti ceri, jeruk, aprikot kering, apel, pir, plum, persik, jeruk dan anggur.
Buah kiwi dan pisang berada pada peringkat paling mepet dalam daftar aman, yaitu menempati peringkat indeks glisemik 53 dan 54. Buah dengan kandungan indeks glikemik sedang contohnya mangga, aprikot segar, kismis dan nanas. Semangka memiliki indeks glikemik tinggi, yaitu peringkat 72.
http://www.solopos.com

Hindari Diabetes! Ganti Jus Buah di Pasaran dengan Air Putih


TRIBUNNEWS.COM - Mengganti kebiasaan mengonsumsi minuman bersoda dan jus buah yang dijual di pasaran dengan air putih terbukti sangat ampuh mencegah munculnya diabetes mellitus.
Tim peneliti dari Harvard School of Public Health yang memublikasikan penelitian ini di American Journal of Clinical Nutrition menyatakan secara tidak langsung bahaya dibalik minuman bersoda dan jus buah. Banyak orang tidak sadar bahwa kedua jenis minuman itu mengandung gula dengan takaran sangat tinggi.
Ketua tim peneliti Dr Frank Hu mengatakan penelitian ini menegaskan bahwa minuman manis tidak baik. Jumlah air putih yang diminum sebenarnya tidak memengaruhi risiko diabetes. Orang yang minum lebih dari enam cangkir sehari berisiko sama seperti yang minum kurang dari satu cangkir sehari. Namun, kandungan gula pada minuman bersoda dan jus buahlah yang terkait erat dengan risiko diabetes. Orang yang mengasup minuman manis berisiko sekitar 10 persen lebih tinggi menderita diabetes untuk setiap cangkir yang dikonsumsi setiap hari.
Tim peneliti memperkirakan bahwa jika konsumsi satu cangkir minuman bersoda atau jus buah diganti dengan satu cangkir air putih, risiko diabetes  akan menurun 7 sampai 8 persen."Pada kenyataannya, jus buah mengandung jumlah kalori dan gula yang hampir sama dengan minuman ringan"
"Diabetes merupakan hal yang  umum dalam masyarakat kita, dari  7 sampai 8 persen risiko diabetes menurun pada seseorang, membawa pengaruh cukup besar dalam suatu populasi" kata Dr Hu.
Para peneliti juga menemukan bahwa kopi tanpa gula atau teh mungkin bisa menjadi alternatif yang baik pula untuk minuman manis.
Para peneliti memperkirakan bahwa mengganti satu cangkir minuman bersoda atau jus buah dengan satu cangkir kopi atau teh bisa mengurangi risiko diabetes sebesar 12 hingga 17 persen.
"Penelitian ini penting untuk menunjukkan bahwa jus buah bukan solusi yang optimal mengganti minuman bersoda atau minuman manis. Intinya,  air putih adalah salah satu solusi yang bebas kalori, sehingga merupakan suatu pilihan yang terbaik untuk minuman" tambahnya.

Siswa SMA Temukan Manfaat Limbah Kulit Manggis untuk Obati Diabetes

PURWOREJO, suaramerdeka.com -
Selama ini, kebanyakan manggis hanya dimanfaatkan daging buahnya saja. Kulit buah manggis dibuang menjadi limbah sampah, yang terkadang justru mengotori lingkungan. Tapi di tangan Sinta Farida Rahma (17), kulit buah manggis bisa dikreasikan menjadi minuman yang justru memiliki khasiat pengobatan. Dengan penelitian yang dilakukannya, siswa kelas XI IPA SMAN 1 Purworejo berhasil menemukan khasiat pengobatan dari kulit buah manggis. Bahkan hasil penelitiannya itu berhasil mengantarkannya meraih juara lomba karya tulis ilmiah nasional XII Magistra Utama Yogyakarta. "Alhamdulillah hasil penelitian saya diapresiasi. Harapannya hasil penelitian ini bisa memberikan manfaat kepada masyarakat," ujar gadis yang bercita-cita menjadi news anchor atau pembaca berita ini. Penelitian tersebut, sambung putri pasangan Yasin dan Lestari ini, didorong adanya potensi buah manggis yang melimpah di Kabupaten Purworejo. "Selama ini kan setiap panen raya manggis di Kaligesing, kulit manggis banyak ditemukan tempat-tempat pembuangan sampah. Itu yang mendorong saya untuk meneliti kandungannya. Ternyata ada khasiat pengobatannya," paparnya. Diungkapkan Sinta, karya ilmiahnya berjudul "Limbah Kulit Manggis sebagai Minuman Teh Berkhasiat Terapi Penyembuhan Diabete Melitus". Dari penelitian yang dilakukan, dia mengetahui kuli manggis ternyata mengandung santone atau senyawa anti oksida yang bisa menggantikan insulin, berfungsi mengubah glukosa menjadi glikogen atau gula otot. Kulit manggis juga mengandung vitamin A, C, dan E.

Kamis, 14 Juni 2012

Tak Mau Diabetes? Batasi Waktu Duduk


“Duduk adalah kegiatan yang mematikan” ujar Dr James Levine, dari Mayo Clinic.

VIVAlife – Menunjukan loyalitas pada perusahaan, tidak berati Anda mengesampingkan sisi kesehatan. Sebuah penelitian baru, menunjukan bahwa jangka waktu duduk dapat meningkatkan resiko diabetes tipe 2 pada wanita, seperti yang dilansir dalam My Health News Daily.
Kemungkinan wanita memiliki faktor resiko untuk diabetes, seperti resistensi insulin dan peradangan kronis semakin meningkat dengan banyaknya waktu yang dihabiskan untuk duduk.
Bahkan perempuan yang terlibat dalam aktivitas fisik sedang atau kuat juga berada pada resiko tanda awal diabetes. Hal ini tetap berkaitan dengan jumlah periode duduk yang dilakukan.
“ Jika hasil ini direplikasi, mereka memiliki aplikasi untuk rekomendasi gaya hidup dan intervensi perubahan perilaku kesehatan. Waktu duduk yang minim sangat penting untuk menghindari penyakit kronis pada wanita” tulis para peneliti dalamAmerican Journal of Preventive Medicine.
Selain itu, studi lain yang diterbitakan dalam  American Journal of Epidemiology, menemukan bahwa pria yang duduk selama 6 jam sehari memiliki tingkat kematian hingga 20 persen lebih tinggi, jika dibandingka dengan pria yang hanya duduk selama 3 jam per harinya.
Sedangkan wanita dengan waktu duduk 6 jam per harinya, memiliki 60 persen tingkat kematian lebih tinggi.
“Duduk adalah kegiatan yang mematikan” ujar Dr James Levine, dari Mayo Clinic di Rochester, Minnesota, New York.
Untuk menghindari hal negatif tersebut, sebaiknya Anda melakukan beberapa gerakan minimal satu jam dalam keseharian saat berada di kantor, seperti kegiatan di bawah ini:
1. Biasakan berdiri saat menerima telepon dan mengirim email.
2. Berjalan menuju pantry untuk membuat minuman, tanpa harus menunggu bantuan OB.
3. Pasang alarm setiap jam 3 sore, saat berdering itu tanda waktunya 
4. Anda berjalan-jalan mengelilingi kantor.
5. Jangan manjakan naik lift, bila Anda hanya naik satu atau dua tingkat. Biasakan naik tangga untuk melatih otot. (eh)

Rabu, 13 Juni 2012

Peminum Teh Jarang Kena Diabetes


Bramirus Mikail | Asep Candra | Jumat, 8 Juni 2012 | 16:07 WIB

shutterstock
KOMPAS.com — Ini adalah kabar baik bagi Anda pencinta minuman teh. Riset terbaru mengindikasikan, minum teh dapat membantu menurunkan risiko diabetes tipe 2, tetapi hanya jika Anda minum empat cangkir atau lebih setiap hari.

Sebuah studi populasi di Eropa menemukan bahwa negara-negara yang minum empat cangkir teh sehari—rata-rata masyarakat di Inggris—memiliki risiko 20 persen lebih rendah terkena penyakit diabetes tipe 2.

Peneliti mengatakan, manfaat dari minum teh tampak paling jelas di antara peminum teh berat (4 cangkir atau lebih sehari). Sedangkan mereka yang minum satu sampai tiga cangkir sehari tidak mengalami penurunan risiko terhadap diabetes.

Tim peneliti yang dipimpin oleh Christian Herder dari Leibniz Center untuk Penelitian Diabetes di Heinrich Heine University Duesseldorf, Jerman, mengatakan, riset sebelumnya menunjukkan konsumsi teh dikaitkan dengan insiden lebih rendah dari diabetes tipe 2.

"Obesitas merupakan faktor risiko utama untuk pengembangan diabetes tipe 2, tetapi faktor makanan juga dapat berperan. Salah satu faktor diet yang menarik adalah konsumsi teh. Konsumsi teh dapat menurunkan risiko diabetes tipe 2 dengan memengaruhi pencernaan glukosa, penyerapan glukosa, dan dengan melindungi sel beta dari kerusakan radikal bebas. Efek menguntungkan ini mungkin disebabkan oleh kandungan polifenol dalam teh," jelas Herder.

"Minum sedikitnya empat cangkir teh per hari dikaitkan dengan 20 persen risiko lebih rendah, sedangkan minum satu sampai tiga cangkir per hari tidak menurunkan risiko diabetes dibandingkan dengan mereka yang bukan peminum teh," tambahnya.

Herder mengatakan, belum diketahui secara pasti apakah jumlah asupan teh memengaruhi. Oleh karena itu, ia meneliti hubungan antara konsumsi teh dan jumlah kasus diabetes tipe 2 pada populasi masyarakat Eropa.

Riset ini dilakukan di 26 pusat penelitian di delapan negara Eropa, dan terdiri dari 12.403 insiden kasus diabetes tipe 2 ditambah ribuan relawan lain yang tidak memiliki penyakit.

"Meningkatkan pemahaman kita tentang modifikasi gaya hidup terkait dengan perkembangan diabetes tipe 2 menjadi sangat penting karena prevalensi diabetes terus meningkat dengan cepat."

"Sejalan dengan temuan ini, tidak ada hubungan ketika konsumsi teh dipelajari sebagai suatu variabel kontinu. Ini mungkin menunjukkan bahwa efek perlindungan teh hanya terbatas untuk mereka yang mengonsumsi teh dalam jumlah paling tinggi," ungkapnya.

Studi: Obesitas Pemicu Diabetes



Memiliki bobot ideal bukan sekadar persoalan estetika, tapi pencegahan penyakit kronis.

SABTU, 27 AGUSTUS 2011, 13:28 WIB
Pipiet Tri Noorastuti
VIVAnews - Memiliki berat tubuh ideal bukan sekadar persoalan estetika. Para ilmuwan menemukan alasan mengapa mereka yang gemuk atau menderita obesitas rentan terserang gangguan kesehatan kronis seperti penyakit jantung dan diabetes.

Mereka melakukan penelitian dengan melihat secara spesifik kemungkinan sindroma metabolisme pada orang gemuk. Sindroma ini umumnya ditandai gejala peningkatan tekanan darah, naiknya gula darah, kelebihan lemak pada perut dan tingkat kolesterol di luar batas.

Dalam penelitian itu, mereka menemukan sel lemak melepaskan indikator yang berhubungan dengan kekebalan insulin serta peradangan kronis pada jantung dan pembuluh darah. “Beberapa lemak dapat berbahaya bagi tubuh,” kata Ishwarlal Jialal, profesor bidang endikronologi, diabetes, dan metabolisme UC Davis, seperti dikutipTimes of India.

Jialal membuktikan sindroma metabolisme berisiko tinggi pada orang yang menderita obesitas. Namun, ia mengatakan bahwa sindroma metabolik ini dapat disembuhkan melalui diet dan olahraga untuk menurunkan berat badan hingga batas ideal.

Jialal melakukan penelitian ini selama 34 tahun. Persoalan utama adalah pasien terlambat melakukan melakukan pencegahan. “Sekali orang terkena penyakit kardiovaskular atau diabetes, itu sudah terlambat dan biaya pengobatannya sangat mahal,” kata Jialal seperti yang tertulis dalam jurnal Clinical Endocrinology and Metabolism.
 
Mereka yang tergolong obesitas memiliki indeks massa tubuh (IMT) lebih dari 30. Sedangkan orang gemuk dibatasi pada skala 25-30, dan tubuh ideal sebesar 18,5-24,9.

IMT dihitung dari berat badan (kilogram) dibagi tinggi badan kuadrat (meter persegi). Sebagai gambaran, seseorang berbobot 70 kilogram dan tinggi badan 160 sentimeter memiliki IMT 27,4 kilogram per meter persegi. Angka yang memposisikan dia dalam kategori gemuk itu muncul setelah membagi bilangan 70 kilogram dengan 2,56 meter persegi (1,6 meter x 1,6 meter). (Rudy Bun
)

Selasa, 12 Juni 2012

Penderita Diabetes Lebih Moody dan Depresi

imgJakarta, Orang yang mengidap penyakit diabetes cenderung menderita depresi, mudah cemas dan marah jika kadar gula darahnya tak terkontrol dengan baik.

Oleh karena itu Dr. Satish Garg, pemimpin redaksi Diabetes Technology & Therapeutics dan profesor kedokteran dan kedokteran anak di University of Colorado Denver dalam artikelnya menuliskan bahwa peningkatan pemahaman tentang hubungan antara variabilitas glikemi dan gangguan psikologis dapat membantu kita menyusun strategi-strategi yang efektif untuk mengelola kondisi pasien.

"Hal ini karena gangguan mood dan kaitannya dengan rendahnya kontrol glukosa yang dapat menyebabkan komplikasi diabetes jangka panjang adalah
kekhawatiran yang luar biasa," ujar Garg seperti dilansir dariUPI.com, Rabu (9/5/2012).

"Namun kami masih belum tahu kondisi mana yang datang lebih dulu. Hal ini membutuhkan investigasi lebih lanjut, terutama dengan menggunakan teknologi yang lebih baru seperti pemantauan glukosa secara kontinyu," lanjutnya.

Hasil penelitian ini didapatkan Garg dari Sue Penckofer dari Loyola University Chicago di Maywood, Ill., dan koleganya dari University of Illinois, Chicago, Saint Mary's College, Notre Dame and Integrated Medical Development di Princeton Junction, N.J. yang melakukan pemantauan glukosa secara kontinyu dari sekelompok wanita penderita diabetes tipe 2.

Dalam artikel berjudul 'Does Glycemic Variability Impact Mood and Quality of Life?' tersebut, Gard juga mengungkapkan bahwa peneliti menemukan variabilitas glikemi yang lebih besar mungkin saja berkaitan dengan mood negatif dan rendahnya kualitas hidup.


sumber : http://health.detik.com/

Jumat, 08 Juni 2012

1 dari 3 Pengidap Diabetes Depresi Menghadapi Penyakitnya



Jakarta, Gangguan metabolisme tubuh bisa berpengaruh langsung terhadap kondisi kesehatan jiwa. Menurut penelitian terbaru, 35 persen atau sekitar 1 dari 3 pengidap diabetes khususnya tipe 2 juga mengalami gangguan depresi dan kegelisahan.

Penelitian yang dilakukan oleh The Diabetes Miles Study tersebut mengungkap, 35 persen pengidap diabetes melitus tipe 2 mengalami depresi dengan tingkat keparahan sedang hingga berat. Gangguan kejiwaan ini biasanya disertai juga dengan kegelisahan.

Salah seorang peneliti, Lewis Kaplan mengatakan diabetes cukup banyak menyumbang kasus depresi. Di Australia misalnya, dengan perkiraan 200.000 pengidap diabetes melitus tipe 2 maka paling tidak 70.000 di antaranya juga mengalami depresi dan kegelisahan.

"Sebagai pengidap diabetes melitus tipe 1 selama 31 tahun, saya sangat senang bahwa perhatian tengah difokuskan pada hubungan antara depresi dengan diabetes," kata Kaplan yang kebetulan juga seorang pengidap diabetes, seperti dikutip dari NineMSN, Selasa (15/5/2012).

Diabetes melitus tipe 1 seperti yang diidap oleh Kaplan umumnya tidak bisa dicegah karena dipicu oleh gangguan metabolisme yang dibawa sejak lahir. Sementara diabetes melitus tipe 2, sangat mungkin dicegah karena erat hubungannya dengan diet dan gaya hidup sehat.

Baik diabetes melitus tipe 1 maupun tipe 2 sama-sama menghambat metabolisme gula menjadi energi, sebab fungsi hormon insulin tidak bekerja sebagaimana mestinya. Gejala yang sering dirasakan para pengidapnya antara lain pandangan kabur dan cepat lelah.

Selain memicu depresi, diabetes melitus juga memicu komplikasi lain di berbagai sistem organ. Pada mata bisa memicu kebutaan, di organ vital bisa memicu gagal jantung atau ginjal sementara khusus pada lelaki juga bisa menyebabkan disfungsi ereksi.
sumber : http://health.detik.com/

Senin, 04 Juni 2012

Penderita Diabetes Anak di Indonesia Meningkat 500 Persen

imgJakarta, Diabetes biasanya identik dengan penyakit orang dewasa yang baru menyerang di usia 40 tahun ke atas. Namun tidak banyak orangtua yang tahu bahwa anak-anak pun bisa menderita diabetes. Bahkan dalam 2 tahun saja penderita diabetes anak di Indonesia sudah meningkat hingga 500 persen.

"Di tahun 2009 anak yang menderita diabetes tidak sampai 150 anak. Sekarang data terakhir sudah hampir 800 anak yang menderita diabetes. Tidak ada apa-apa saja tapi dalam 2 sampai 3 tahun tahun kenaikannya sudah 500 persen," jelas Dr. Aman Pulungan, Sp.A (K), Ketua UKK Endorinologi IDAI dalam acara konferensi pers 'Komitmen Bersama Institusi Kesehatan dan Pelaku Industri dalam Mengatasi Penyakit Degeneratif dan Double Burden di Indonesia' di Hotel Shangril-La, Jakarta, Selasa (29/5/2012).

Dari 800 anak tersebut kebanyakan menderita diabetes tipe 1 (karena kerusakan sel pankreas), namun 60 diantaranya adalah penderita diabetes tipe 2 (diabetes karena gaya hidup tidak sehat) dan kesemuanya mengalami kegemukan.



Dr Aman mengatakan hal ini sangat memprihatinkan, karena jika anak-anak saja sudah menderita diabetes maka tentu kualitas hidupnya ke depan sudah sangat berkurang.

Belum lagi anak yang menderita diabetes memiliki peluang besar untuk mengalami penyakit komplikasi seperti hipertensi, penyakit jantung dan stroke lebih dini.

"Kalau generasi sakarang sudah sakit, saya yakin semua dokter nggak bakal mampu menangani, asuransi apa pun tidak cukup lagi," tegas Dr Aman.

Hal ini bisa terjadi karena sejak dalam kandungan sang calon bayi sudah mendapatkan kelebihan kalori dan hiper insulin. Jadi saat ia lahir, sang bayi sudah mengalami hiper insulin. Paradigma yang salah bahwa ibu hamil makan untuk 2 orang adalah penyebabnya.

"Wanita hamil bukan makan untuk 2 orang, tapi makan sesuai dengan yang dibutuhkan oleh ibu. Kalau kurus sekali yang harus makan banyak tapi kalau ibunya sudah gemuk yang tidak perlu makan untuk 2 orang," jelas DR dr Damayanti Rusli Sjarif, Sp.A (K), Ketua UKK Nutrisi dan Penyakit Metabolik IDAI.

Kondisi diabetes anak makin diperparah karena orangtua yang tidak mengetahui dengan jelas mengenai gizi yang sehat. Banyak orangtua yang menganggap bahwa makanan yang mahal adalah makanan sehat, misalnya seperti western food dan junk food.

"Makanan western itu mahal, tinggi energi (kalori) tapi rendah nilai gizi. Banyak yang menganggap mahal itu baik, padahal belum tentu. Ini karena pengetahuan yang kurang. Sekarang kalau saya tanya makanan apa yang kandungan omega-3 paling tinggi, pasti pada jawab ikan salmon. Padahal ikan kembung justru yang tertinggi. Jadi yang sederhana bisa lebih bergizi," jelas Dr Damayanti.


sumber : http://health.detik.com/

Sabtu, 02 Juni 2012

Banyak Minum Air Putih Pangkas Risiko Diabetes





Jakarta, Bila ingin menjauhi risiko diabetes, ada baiknya Anda mengganti minuman bersoda dan minuman manis lainnya dengan air putih. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa banyak minum air putih dapat menurunkan risiko diabetes.

Peneliti di Harvard School of Public Health menemukan bahwa mengganti minuman manis dengan air putij dapat membantu mencegah gangguan metabolisme, yang pada gilirannya dapat memangkas risiko diabetes.

Temuan ini didasarkan pada penelitian kebiasaan minum pada 83.000 wanita yang sudah dipelajari selama lebih dari satu dekade (10 tahun). Seiring waktu, sekitar 2.700 dari partisipan mengembangkan diabetes.

Wanita yang minum minuman bersoda dan jus buatan memiliki risiko diabetes lebih tinggi, sekitar 10 persen lebih tinggi untuk setiap gelas yang dikonsumsi setiap hari.

Tim peneliti memperkirakan bahwa jika wanita mengganti satu gelas minuman bersoda atau jus buah buatan dengan satu gelas air putih, maka risiko diabetes akan turun sekitar 7 hingga 8 persen.

"Meskipun penurunan risiko tidak terlalu besar, karena diabetes begitu umum dalam masyarakat kita, tapi bahkan 7 atau 8 persen penurunan risiko sudah cukup besar dalam hal populasi," jelas Dr Frank Hu, pemimpin penelitian dari Harvard School of Public Health, seperti dilansir Dailymail, Minggu (3/6/2012).

Studi Dr Hu, yang telah diterbitkan di American Journal of Clinical Nutrition, juga menemukan bahwa kopi tanpa gula atau teh mungkin menjadi alternatif yang baik untuk menggantikan minuman manis.

Para peneliti memperkirakan bahwa mengganti satu gelas minuman bersoda atau jus buah dengan satu cangkir kopi atau teh bisa mengurangi risiko diabetes sebesar 12 menjadi 17 persen.

Dr Hu mengatakan penelitian ini penting dalam menunjukkan bahwa jus buah buatan tidak optimal untuk dijadikan pengganti soda atau minuman manis lainnya.

"Kenyataannya adalah jus buah buatan mengandung jumlah kalori yang sama dan gula sebagai minuman ringan. Intinya bahwa air putih adalah salah satu pilihan yang bebas kalori yang terbaik untuk minuman dan jika air terlalu polos, Anda bisa menambahkan perasan lemon atau jeruk nipis," jelas Dr Hu.


sumber : http://health.detik.com

GRATIS PLUS HADIAH

Hosting Gratis