website trackingwebsite tracking

PTC..PELUANG DAPAT UANG HANYA DENGAN MODAL KLIK

Cara Instan Untuk Verifikasi PayPal !
Tampilkan postingan dengan label INSOMNIA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label INSOMNIA. Tampilkan semua postingan

Kamis, 14 Juni 2012

Susah Tidur Karena Takut Gelap?


NILAH.COM, Jakarta-Gelap ternyata memicu seseorang menjadi sangat sulit untuk tidur atau insomnia. Hal itu ditemukan dalam penelitian terbaru terhadap para pelajar di Toronto, Kanada.
Para ilmuwan dari Ryerson University Sleep and Depression Lab di Toronto seperti dilansir dari healtday, penelitian menggunakan suara bising untuk mengukur respons kedip mata di antara sekelompok pelajar yang dibagi menjadi dua. Yaitu yang tidur dengan penerangan dan tanpa penerangan (gelap).
Hasilnya hampir setengah dari mahasiswa mengaku tidak bisa tidur karena lebih kepada takut gelap. Sedangkan yang terbiasan dengan gelap tidak terpengaruh meski ada suara bising.
"Mereka yang mengalami gangguan tidur lebih mudah terkejut dalam gelap dibandingkan dengan individu yang punya kebiasaan tidur baik," kata Taryn Moss, peneliti studi tersebut.
Katanya lagi, temuan itu menyimpulkan bahwa orang yang susah tidur mudah tegang ketika lampu dimatikan.
Rencananya temuan ini akan dipresentasikan pada pertemuan tahunan ke-26 Associated Professional Sleep Societies (APSS) di Boston. Riset dipublikasikan dalam jurnalSleep2012.

Nantinya metode terapi diharapkan dapat membantu orang dewasa yang memiliki masalah tidur karena takut gelap.
"Kami mungkin perlu menambahkan komponen terapi untuk pasien ini dan menyelaraskan komponen yang ada untuk mengatasi fobia akan gelap. Penelitian lebih lanjut diperlukan, tetapi kami yakin kami telah sengaja menemukan kebutuhan pengobatan yang belum terpenuhi untuk beberapa orang yang memiliki masalah dengan tidur," sambung Colleen Carney, PhD, seorang peneliti. [mor]

Rabu, 13 Juni 2012

Fakta Aneh Tentang Insomnia


Rahma Lillahi Sativa - detikHealth


Jakarta, Insomnia atau kondisi kesulitan tidur di malam hari tidak terjadi pada setiap orang. Tapi gangguan ini makin banyak saja yang mengalaminya.

Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders(DSM) mengatakan bahwa pada insomnia yang sebenarnya, gejala-gejalanya muncul selama setidaknya satu bulan dan tidak terjadi bersamaan dengan gangguan tidur lainnya, gangguan mental, kondisi medis atau penggunaan obat-obatan tertentu.

Kehilangan jam tidur memiliki efek negatif pada kesehatan. Sebuah tinjauan dari University of Rochester pada tahun 2010 menemukan bahwa orang yang terus-menerus mengalami kekurangan jam tidur lebih mungkin mengalami kecelakaan lalu lintas, melewatkan hari kerja, kurang puas dengan pekerjaannya dan lebih mudah terganggu oleh lingkungan di sekitarnya.

Simak 7 fakta aneh yang membantu menjelaskan mengapa orang tidak bisa tidur seperti dilansir dari myhealthnewsdaily, Rabu (13/6/2012) berikut ini.

1. Insomnia Bisa Saja Turunan

Masalah tidur bisa muncul dalam satu keluarga. Sebuah penelitian di tahun 2008 menemukan bahwa remaja yang orangtuanya menderita insomnia juga berisiko tinggi menggunakan obat tidur yang diresepkan dan memiliki masalah mental.

2. Hewan Peliharaan dan Serangga Juga Bisa Menderita Insomnia

Hewan lain seperti serangga tidak bisa mengeluh begitu saja saat mengalami insomnia, tetapi beberapa studi menunjukkan hewan juga menderita gangguan tidur seperti manusia.

Lalat-lalat insomnia itu pun lebih sering kehilangan keseimbangan, lebih lambat belajar dan memiliki lebih banyak lemak, semuanya menyerupai gejala pada manusia yang kurang tidur.

3. Jet Lag Sosial Bisa Jadi Penyebab Insomnia

Jika Anda kesulitan bangun di Senin pagi, bisa saja Anda mengalami 'jet lag sosial' yaitu kebiasaan mengikuti jadwal tidur pada hari kerja dan akhir pekan yang berbeda dari orang-orang pada umumnya.

Sebuah penelitian baru menunjukkan bahwa orang dengan jadwal tidur di hari kerja dan akhir pekan yang berbeda tiga kali lebih mungkin mengalami kelebihan berat badan.

4. Obat tidur Masih Populer Meski Gagal Sembuhkan Insomnia

Dalam sebuah studi yang dipublikasikan di jurnal BMJ Open, peneliti menemukan bahwa orang yang memakai obat tidur yang diresepkan hampir lima kali lebih mungkin meninggal pada studi selama 2,5 tahun dibandingkan orang-orang yang tidak minum obat tidur.

5. Hormon Wanita Bisa Saja Menyebabkan Insomnia

Wanita dua kali lebih mungkin menderita insomnia daripada pria. Hal ini diungkap National Sleep Foundation.

Tak tidur di malam hari dan mengantuk di siang hari pun seringkali dikaitkan dengan perubahan hormon dalam kehidupan wanita, termasuk kehamilan, menopause dan siklus menstruasi.

Namun seiring dengan perubahan hormon, insomnia juga dikaitkan dengan kondisi seperti kecemasan, depresi, masalah pernafasan saat tidur dan sindrom gelisah kaki.

6. Meski Jarang, Seseorang Juga Bisa Meninggal Akibat Insomnia

Fatal familial insomnia adalah penyakit genetik langka yang mencegah seseorang dari tertidur karena akhirnya bisa menimbulkan kematian.

Para ahli telah mengidentifikasi fatal familial insomnia sebagai penyakit prion yang disebabkan oleh protein abnormal yang berkembang dari mutasi genetik yang mempengaruhi fungsi otak sehingga menyebabkan hilangnya memori, tak dapat mengendalikan gerakan otot dan halusinasi.

Pada tahun 1986, para peneliti melaporkan kasus seorang pria berusia 53 tahun yang menderita kurang tidur dan hanya mendapatkan tidur 2-3 jam per malam dalam New England Journal of Medicine.

Dua bulan kemudian, pria itu hanya bisa tidur satu jam per malam dan sering terganggu oleh mimpi yang nyata. Setelah 3-6 bulan, dia sama sekali tak bisa tidur dengan normal sehingga dia mengalami kelelahan parah, tremor tubuh dan sulit bernafas. Setelah 8 bulan, ia terjatuh dan akhirnya meninggal.

Setelah diteliti dari riwayat keluarga pria itu terungkaplah bahwa dua orang saudara perempuan dan banyak anggota keluarganya yang lain juga meninggal akibat penyakit serupa

Awalnya Cuma Susah Tidur, Lama-lama Bisa Darah Tinggi


AN Uyung Pramudiarja - detikHealth
Jakarta, Seseorang yang mengalami insomnia atau usah tidur biasanya gampang stres, tapi jarang dikaitkan dengan risiko penyakit kronis seperti hipertensi. Kali ini para ilmuwan membuktikan bahwa susah tidur bisa memicu tekanan darah tinggi.

Para peneliti dari Henry Ford Center of Sleep Dosirder membuktikan, kasus hipertensi atau tekanan darah tinggi lebih sering terjadi pada penderita insomnia dibandingkan pada orang yang tidurnya normal-normal saja. Kecenderungan ini menunjukkan bahwa keduanya saling berhubungan.

"Penyebab hipertensi pada penderita insomnia adalah seringnya terjaga di tengah malam maupun lamanya waktu yang dibutuhkan sejak terjaga hingga terlelap," kata Christopher Drake yang memimpin penelitian ini seperti dikutip dari Science Daily, Kamis (7/6/2012).

Menurut Drake, makin lama waktu yang dibutuhkan seseorang untuk terlelap maka risiko untuk mengalami tekanan darah tinggi cenderung meningkat. Demikian juga bagi orang yang tidurnya tidak nyenyak, makin sering terbangun di tengah malam maka risiko hipertensi juga lebih tinggi.

Drake menyimpulkan hal itu setelah melakukan pengamatan terhadap 5.314 penderita insomnia di seluruh dunia. Pengamatan tersebut dilakukannya melalui survei di Internet, yang antara lain menggali informasi tentang riwayat hipertensi dan pola tidurnya sehari-hari.

Insomnia sendiri adalah ketidakmampuan seseorang untuk terlelap dan banyak diderita oleh orang Amerika Serikat. Diperkirakan 30-40 persen warga di negara tersebut pernah mengalami gejala insomnia dalam setahun terakhir, bahkan 10-15 persen sudah mengalami insomnia kronis.

Selain meningkatkan risiko hipertensi seperti yang terungkap dalam penelitian Drake, gangguan tidur juga dikenal sebagai faktor risiko berbagai masalah kesehatan. Penelitian-penelitian terdahulu membuktikan bahwa masalah tidur bisa memicu obesitas, diabetes dan juga gangguan fungsi jantung

Senin, 11 Juni 2012

Insomnia Tingkatkan Risiko Serangan Jantung


Putro Agus Harnowo - detikHealth


Jakarta,
 Orang yang mengalami kesulitan tidur memiliki risiko serangan jantung yang lebih tinggi. Hubungan antara insomnia dan peningkatan risiko serangan jantung memang masih belum jelas, tapi gangguan tidur berpengaruh terhadap tekanan darah dan peradangan yang bisa menjadi faktor risiko serangan jantung.
"Insomnia cukup umum dan mudah diobati. Penting bagi orang-orang untuk menyadari hubungan antara insomnia dan serangan jantung. Sebaiknya berkonsultasilah dengan dokter jika memiliki gangguan tidur," kata Dr Lars Erik Laugsand, internis dari Norwegian University of Science and Technology di Trondheim.

Laugsand bersama timnya mengumpulkan data pada hampir 53.000 orang pria dan wanita yang berpartisipasi dalam survei kesehatan nasional di tahun 1995 hingga 1997 dan diminta menjawab pertanyaan tentang kebiasaan tidurnya. Para peneliti juga mengidentifikasi hampir 2.400 orang yang mengalami serangan jantung pertama selama 11 tahun berikutnya.

Para peneliti menemukan bahwa orang yang mengalami kesulitan tidur hampir setiap hari mengalami 45 persen peningkatan risiko serangan jantung, dibandingkan dengan mereka yang tidak mengalami gangguan tidur.

Selain itu, orang yang mengalami kesulitan untuk tetap tertidur memiliki risiko 30 persen lebih tinggi terkena serangan jantung dibandingkan dengan yang tidak memiliki kesulitan untuk tetap tidur. Orang yang tidak merasa segar setelah tidur malam juga memiliki 27 persen peningkatan risiko serangan jantung, dibandingkan dengan yang merasa segar.

Menurut para peneliti, 33 persen dari populasi umum setidaknya memiliki satu gejala insomnia. Selain itu, kajian sebelumnya yang lebih kecil telah menemukan hubungan antara penyakit jantung dan insomnia serta tekanan darah tinggi dan serangan jantung.

Penelitian yang dilansir HealthDay, Selasa (25/20/2011) ini juga mencatat ada dua keterbatasan penting yang perlu diperhatikan. Pertama, peneliti tidak mempertimbangkan apnea tidur obstruktif, gangguan yang menyebabkan tidur terganggu karena jeda pernapasan selama tidur. Kedua, hasil ini mungkin tidak berlaku untuk Amerika karena jam dan pola tidur yang berbeda dengan Norwegia.

Temuan ini hanyalah sebatas hubungan dan sebab akibatnya belum terbukti. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengkonfirmasi temuan dan mengungkap mekanisme yang mungkin menyebabkan hubungan tersebut.

"Kajian sebelumnya telah menghasilkan hasil yang beragam dan masih belum diketahui apakah tidur yang lebih nyenyak menghasilkan jantung yang sehat," kata Dr. Gregg Fonarow, profesor kardiologi di University of California, Los Angeles dan juru bicara American Heart Association.

"Satu penjelasan yang mungkin untuk temuan ini adalah bahwa semua proses metabolisme dalam tubuh diatur oleh apa yang disebut irama sirkadian yang bervariasi antara siklus tidur-bangun," kata Dr Edward A. Fisher, The Leon H. Charney Profesor Kedokteran Kardiovaskular di Langone NYU Medical Center di New York City.

"Telah diketahui bahwa hewan yang terganggu ritme sirkadiannya berisiko mengalami perubahan metabolisme. Jika hal ini terjadi pada manusia, akan meningkatkan risiko penyakit jantung," ujar Fish
(ir/ir


Sumber : detik.com

GRATIS PLUS HADIAH

Hosting Gratis