website trackingwebsite tracking

PTC..PELUANG DAPAT UANG HANYA DENGAN MODAL KLIK

Cara Instan Untuk Verifikasi PayPal !
Tampilkan postingan dengan label STROKE. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label STROKE. Tampilkan semua postingan

Senin, 25 Juni 2012

Tiga Buah Pisang Kurangi Risiko Stroke


SEBUAH penelitian yang dilakukan ilmuwan Inggris dan Italia menemukan asupan pisang secara teratur berakibat baik untuk kesehatan jantung. Makan tiga buah pisang sehari efektif mengurangi risiko stroke. Menurut para ilmuwan, satu pisang untuk sarapan, satu pisang lagi untuk makan siang, dan satu buah untuk makan malam memberikan cukup kalium untuk mengurangi risiko penggumpalan darah di otak sebanyak 21 persen. Temuan itu juga menunjukkan stroke dapat dicegah dengan mengonsumi makanan lainnya yang kaya kalium seperti bayam, kacang-kacangan, ikan, lentil yang merupakan jenis kacang-kacangan.

Para ilmuwan menganalisis data dari sebuah penelitian yang berbeda dimulai dari pertengahan 1960-an dan mengumpulkan hasilnya. Mereka menemukan asupan harian sekitar 1.600 mg kalium, setengah dari yang dianjurkan 3.500 mg untuk orang dewasa, cukup untuk mengurangi risiko stroke.

Sebuah pisang rata-rata mengandung 500 mg kalium yang membantu menurunkan tekanan darah dan mengontrol keseimbangan cairan dalam tubuh. Kekurangan kalium dapat menyebabkan seseorang mengalami mudah marah, mual, denyut jantung tidak teratur, dan diare.

Peneliti dari University of Warwick dan University of Naples mengatakan, asupan kalium pada kebanyakan orang jauh melebihi jumlah yang disarankan setiap hari. Selain mengurangi risiko stroke, asupan kalium dapat mengurangi asupan garam mereka.

Pisang, juga dikenal sebagai makanan super untuk meningkatkan energi. Penelitian itu telah dipublikasikan dalam Journal of American College of Cardiology
http://www.metrotvnews.com

Jumat, 15 Juni 2012

Ancaman Stroke dari Ikan yang Digoreng


Merry Wahyuningsih - detikHealth

img
(Foto: thinkstock)
Birmingham, Ikan memang makanan yang sangat bermanfaat untuk tubuh karena banyak mengandung omega-3. Tapi untuk mengonsumsi ikan sebaiknya jangan digoreng, karena keseringan makan ikan yang digoreng dapat memicu stroke.

Keseringan makan ikan goreng telah memicu pandemi stroke di Amerika Serikat bagian selatan, antara lain di Alabama, Arkansas, Georgia, Louisiana, Mississippi, North Carolina, South Carolina dan Tennessee.

Di wilayah itu, risiko kematian akibat stroke lebih tinggi daripada di bagian negara lain. Di Alabama, angka kematian stroke 125 per 100.000 orang. Dan penyebab utama stroke di wilayah ini adalah konsumsi ikan goreng yang berlebihan.

Penelitian telah menunjukkan bahwa asam lemak omega-3 pada ikan, terutama lemak ikan, dapat mengurangi risiko stroke. Namun dalam siaran pers American Academy of Neurology (AAN) disebutkan bahwa penelitian lain menunjukkan ikan yang digoreng menyebabkan hilangnya asam lemak alami, sehingga justru dapat memicu serangan stroke.

Penelitian baru tersebut dilakukan oleh REGARDS (Reasons for Geographic And Racial Differences in Stroke) yang dipimpin George Howard, Dr PH, dari Universitas Alabama di Birmingham.

Dalam penelitian tersebut, REGARDS mempelajari 21.675 orang di atas usia 45 tahun antara Januari 2003 hingga Oktober 2007, dan terus mengikuti partisipan dan mengawasi kesehatannya.

Hasilnya, 1 dari 4 partisipan yang mengonsumsi dua atau lebih ikan non-goreng per minggu, memiliki 17 persen risiko stroke yang lebih rendah dibandingkan partisipan yang tidak makan ikan sama sekali.

Sedangkan partisipan yang makan ikan goreng dua porsi atau lebih ikan goreng memiliki risiko stroke 30 persen lebih besar dibandingkan dengan partisipan yang tidak makan ikan.

"Perbedaan dalam porsi dan cara pengolahan ikan dapat menjadi salah satu alasan yang mungkin untuk perbedaan rasial dan geografis dalam insiden stroke dan kematian," jelas Fadi Nahab, MD dari Emory University, dalam rilis yang dikeluarkan AAN, dilansir Medindia, Minggu (26/12/2010).

Penelitian yang didukung National Institute of Neurological Disorders and Stroke, National Institutes of Health dan Department of Health and Human Services ini telah dipublikasikan dalam jurnal kesehatan online AAN Neurology pada 22 Desember 2010.


sumber : detik.com

Kamis, 14 Juni 2012

ITB dan UI Bikin Alat Penyembuh Stroke Lewat Pikiran


Merry Wahyuningsih - detikHealth

img
BCI (dok. indonesiakreatif.net)
Jakarta, Berbagai terapi standar dan terapi alternatif dilakukan untuk mempercepat pemulihan stroke. Kini ilmuwan dari ITB dan UI tengah bekerjasama untuk mengembangkan alat bantu untuk pasien stroke dengan hanya menggunakan pikiran tanpa menyentuhnya yang dinamakan Brain Computer Interface (BCI).

Pasien pasca stroke dengan berbagai stadium senantiasa berkeinginan serta berusaha untuk menemukan kembali kemampuannya, mulai dari kemampuan gerak motorik, berbicara, berpikir hingga pengembalian kemampuan kognitifnya.

Prosedur rehabilitasi yang biasa dilakukan adalah rehabilitasi standar dari dokter rehabilitasi medik dengan menggunakan peralatan stimulasi listrik, Ultrasono dan berbagai alat bantu listrik mekanik lainnya.

Selain terapi standar, pasien biasanya dapat mengkombinasikannya dengan terapi alternatif mulai dari akupunktur, acupressure, herbal, ion, yoga dan meditasi, hingga terapi moderen dengan menggunakan Trans Cranial Stimulation atau pun Brain Stimulation. Upaya ini dapat dikatakan sebagai usaha melakukan stimulasi luar-dalam dari diri pasien.

Tapi kini Fakultas Elektronika & Informatika ITB dan Fakultas Kedokteran UI kini tengah mengembangkan alat bantu gerak hanya dengan bantuan pikiran tanpa menyentuhnya, yaitu Brain Computer Interface (BCI).

"Dengan BCI, kita menggunakan sinyal dari otak untuk dapat menggerakkan benda tanpa menyentuhnya. Jadi seperti di film Avatar, pasien stroke nantinya bisa menggerakkan apa saja cukup dengan pikiran di kepalanya," jelas Prof Dr Ir Tati R Mengko, Guru Besar Fakultas Teknik Elektronika dan Informatika ITB, di sela-sela acara seminar 'Don't Worry Be Happy After Stroke' di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta, Jumat (3/12/2010).

Menurut Prof Tati, penelitian ini merupakan hasil kerjasama antara Laboratorium Elektronika, Biomedika dan Kendali ITB dengan Pusat Kajian Otak di FK UI.

"Tadinya teknologi ini bukan ditujukan untuk pasien stroke, tetapi untuk mendeteksi gelombang alfa di otak. Gelombang alfa bisa mendeteksi kantuk, jadi bisa diaplikasikan untuk para supir. Kalau ngantuk alatnya bunyi biar nggak jadi ngantuk lagi. Tapi setelah dikaji, aplikasinya juga bisa digunakan untuk membantu pemulihan pasien stroke," jelas Prof Tati lebih lanjut.

BCI ini dalam pengembangannya diusahakan dapat digunakan sebagai alat bantu bagi orang yang memiliki keterbatasan fisik atau dapat digunakan sebagai bagian dari teknologi asistif (teknologi alat bantu).

Prof Tati mengatakan, teknologi BCI ini masih dalam tahap awal riset dan pengembangan. Namun adanya kenyataan ini merupakan langkah positif dalam mewujudkan harapan orang-orang yang memiliki keterbatasan fisik seperti pasien stroke untuk dapat memiliki tangan atau kaki yang dapat bebas digerakkan sesuai pikiran, tanpa harus menyentuh atau beranjak.

"Saya belum bisa mengatakan kapan teknologi ini bisa selesai. Ini juga belum diujikan kepada pasien stroke. Masih butuh pengembangan dan tentunya dana. Selama 3 tahun ini kami masih menggunakan dana penelitian dari kampus. Pernah coba mengajukan proposal ke Kementerian Riset dan Teknologi, tapi mungkin belum terlalu penting jadi ditolak. Nanti kami akan coba ajukan proposal lagi dengan model baru ke Kementerian Kesehatan, mudah-mudahan bisa," harap Prof Ta
(mer/ir


sumber : detik.com

Rabu, 13 Juni 2012

Berpikir Positif Cegah Stroke & Serangan Jantung


RABU, 18 APRIL 2012 18:00 wib


Gustia Martha Putri - Okezone

detail berita
Hadapi hidup dengan senyum (Foto: Corbis)
BERPIKIR positif ternyata tidak hanya meringankan beban hidup, tetapi bermanfaat bagi kesehatan tubuh. Penyakit kardiovaskular akan malas datang jika Anda banyak berpikir positif.
Sebuah penelitian terbaru dari Harvard School of Public Health (HSPH) mengungkapkan, bahwa karakteristik psikologis positif seperti optimisme, kepuasan hidup, dan kebahagiaan yang hadir dalam diri seseorang dapat mengurangi risiko penyakit kardiovaskular, seperti serangan jantung dan stroke.

"Kami menemukan bahwa faktor-faktor seperti optimisme, kepuasan hidup, dan kebahagiaan berhubungan dengan penurunan risiko penyakit kardiovaskular dan tidak berhubungan dengan usia seseorang, status sosial, status ekonomi, merokok atau tidak, atau berat badan mereka," kata Julia Boehm, pemimpin penelitian dari Departemen Kesehatan Masyarakat dan Pengembangan Manusia HSPH, sebagaimana dilansirTimes of India, Rabu (18/4/2012).

Boehm menjelaskan, bahwa individu-individu yang paling optimis memiliki penurunan risiko terkena gejala awal gangguan kardiovaskular sekitar 50 persen dibandingkan rekan-rekan yang kurang optimistis.

Dalam reviu lebih dari 200 penelitian yang diterbitkan dalam dua database ilmiah utama, Boehm dan penulis senior Profesor Laura Kubzansky, yang juga dari Departemen Kesehatan Masyarakat dan Pengembangan Manusia HSPH, ditemukan ada aset psikologis seperti optimisme dan emosi positif yang mampu memberikan perlindungan terhadap penyakit kardiovaskular. Selain mencegah, faktor-faktor positif tersebut juga memerlambat perkembangan penyakit ini bagi yang sudah terkena.

Untuk lebih memahami bagaimana kerterkaitan yang terjadi antara kesejahteraan dalam psikologis dan gangguan kardiovaskular, Boehm dan Kubzansky juga meneliti hubungan kesejahteraan dengan gaya hidup yang sehat bagi kardiovaskular dan indikator biologis.

Mereka menemukan, bahwa individu dengan perasaan bahagia yang hadir ketika banyak pikiran-pikiran positif dalam otak turut menjalankan perilaku sehat, seperti berolahraga, makan makanan seimbang, dan tidur cukup.

Selain itu, lebih besar perasaan bahagia yang hadir akibat banyak berpikir positif tersebut, terkait dengan fungsi biologis yang lebih baik. Seperti menurunkan tekanan darah, terdapat banyak lemak sehat dalam tubuh, dan berat tubuh cenderung normal.

"Temuan ini menunjukkan penekanan bahwa kekuatan psikologis dapat meningkatkan kesehatan jantung," kata Kuzbansky. Hasil studi ini baru saja dipublikasikan secara online dalam Psychological Bulletin.
(tty)

Studi: Kurang Tidur Memicu Risiko Stroke



Kurangnya jam tidur membuat tekanan darah meningkat dan juga stres.

SELASA, 12 JUNI 2012, 09:23 WIB
Wuri Handayani
VIVAlife - Pemenuhan jam tidur menjadi hal yang patut mendapatkan perhatian sekarang ini. Di saat semakin sempitnya waktu, yang lebih banyak Anda habiskan untuk bekerja.
Sebuah penelitian terbaru mengatakan, terutama mereka yang berusia paruh baya dengan jam tidur tidak teratur atau kurang, secara signifikan meningkatkan risiko stroke. Penelitian ini diberitakan melaluiHealth Day News, hari ini.
Sebanyak empat kali lipat peningkatan stroke justru terlihat pada mereka yang memiliki berat badan normal, dan jarang sekali mengalami gangguan tidur. Hanya saja, waktu tidur mereka kurang dari enam jam setiap harinya.
Sedangkan pada mereka yang tergolong obesitas, justru menempati posisi ke dua terhadap resiko ini, seperti dilansirivillage.com.
"Tidur sangat penting," demikian dikatakan Megan Ruiter, pemimpin penelitian di University of Alabama dan Birmingham's School of Medicine. Terbukti kurang tidur juga meningkatkan gangguan ketidak normalan pada sistem tubuh.
Seperti peradangan dan juga meningkatkan tekanan darah dan pelepasan hormon yang menyebabkan stress yang lebih besar. Ini yang memicu terjadinya stroke.
Hasil penelitian ini dijadwalkan akan dipresentasikan pada pertemuan tahunanAssociated Professional Sleep Societies di Boston.
Pada penelitian yang dilakukan selama tiga tahun ini, Ruiter bersama tim-nya mengumpulkan data dari 5.600 responden. Mereka tidak menemukan hubungan antara obesitas dan stroke, justru sebaliknya, stroke menjadi lebih mengancam orang-orang dengan berat tubuh normal yang mengalami kurang tidur.
Dr. Michael Frankel, direktur neurologi pembuluh darah di Emory University dan juga direktur di Stroke Marcus & Neuroscience Center di Grady Hospital, Atlanta, berkomentar bahwa "Meskipun sulit untuk menentukan mengapa hal ini mungkin terjadi, seseorang dapat berspekulasi tentang kemungkinan mekanisme terkait terhadap perubahan tingkat kortisol. Yakni hormon stress yang sangat mungkin meningkat saat seseorang tidak memiliki waktu tidur yang benar".
Peningkatan kadar hormon ini memicu disfungsi sel yang melindungi pembuluh darah, sehingga stroke lebih mudah menghampiri, jelasnya. Ini mengapa orang-orang tanpa gangguan vascular seperti obesitas, hipertensi, dan diabetes juga memungkinkan terkena stroke.
"Bagi kita yang bekerja hingga larut, mungkin perlu mempertimbangkan temuan baru ini, dan menyesuaikan diri dengan gaya hidup yang lebih sehat untuk mengurangi resiko terkena stroke," ujar Frankel.
Rutin melakukan pemeriksaan tekanan darah, makan rendah kalori, diet seimbang, olahraga, berhenti merokok, dan tidur teratur, adalah saran dari Frankel untuk menjaga kesehatan pembuluh darah.
Pakar lain, Dr Keith Siller, direktur medis dari NYU Comprehensive Stroke Care Center di New York City, menyepakati bahwa tidur merupakan faktor penting untuk kesehatan. "Saya melihat ini sebagai pesan umum bahwa tidur yang cukup juga merupakan bagian dari hidup sehat," katanya.
Bagaimana dengan waktu tidur Anda, apakah sudah cukup? (eh
)

Selasa, 12 Juni 2012

Penyebab Pasien Stroke Susah Sembuh


Merry Wahyuningsih - detikHealth

img
(Foto: thinkstock)
Jakarta, Stroke memang merupakan penyebab kecacatan dan kematian utama di dunia, tapi dengan penanganan yang cepat dan tepat, pasien stroke bisa diobati dan kembali aktif. Sayangnya, ada beberapa faktor yang membuat pasien stroke susah sembuh. Apa saja?

Stroke adalah gangguan fungsi saraf baik berupa kelumpuhan anggota gerak, gangguan bicara atau penurunan kesadaran yang terjadi secara mendadak akibat gangguan peredaran darah ke otak.

Tingginya angka kejadian stroke baru dan kecacatannya di negara berkembang (seperti Indonesia) tidak dapat dilepaskan dari kurangnya pemahaman tentang stroke. Permasalahan yang muncul adalah kurang dikenalinya gejala stroke.

"Stroke dapat diobati. Pengobatan stroke yang optimal berpacu dengan waktu. Semakin cepat mendapat pertolongan, maka semakin besar kemungkinan terhindar dari kematian dan kecacatan akibat stroke," jelas Prof dr Teguh AS Ranakusuma, SpS (K), dokter spesialis saraf dari Departemen Neurologi FKUI RSCM, dalam acara seminar 'Don't Worry Be Happy After Stroke' di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta, Jumat (3/12/2010).

Menurut Prof Teguh, angka kematian akibat stroke bervariasi, semakin cepat mendapat pertolongan maka akan semakin besar kemungkinan untuk sembuh.

Ada sekitar 70 persen orang dapat selamat dari serangan stroke (stroke survivors). Tapi masih banyak stroke survivors yang mengalami kecacatan, mulai dari kecacatan ringan hingga berat setelah serangan stroke (pasca stroke).

Kenapa pasien stroke susah sembuh?

Prof Teguh mengatakan kecacatan pasca stroke ini sering membuat pasien dan keluarga pasien sangat terpuruk dan berdampak tidak hanya pada fisik, tetapi juga secara sosial, ekonomi dan psikologi. Kondisi mental yang drop kebanyakan yang menyebabkan pasien susah sembuh.

"Jangan biarkan pasien terlantar di rumah, tetapi juga jangan terlalu mengasihaninya. Bantu mereka untuk mandiri melakukan aktivitas sehari-hari dan selalu berikan semangat agar mau kembali sembuh. Untuk sembuh butuh semangat dari diri pasien sendiri dan tentu saja dukungan dari keluarga," kata Prof dr Harsono, SpS (K), dari bagian IP Saraf FK UGM dan SMF Panyakit Saraf RS Dr Sardjito.

Sedangkan Prof Dr Ir Tati R Mengko, Guru Besar Fakultas Teknik Elektronika dan Informatika ITB, yang juga merupakan stroke survivors mengaku bahwa keluarga bisa menjadi penolong yang bisa membantu stroke survivors sembuh dengan lebih cepat. Tapi kadang keluarga yang terlalu mengasihani justru membuat pasien tak kunjung sembuh karena tidak bisa mandiri.

"Kunci utamanya adalah pasien dan keluarga pasien harus mau menerima dan melakukan adaptasi dengan keadaan tersebut. Pasien tidak boleh cengeng dan keluarga juga tidak boleh mengasihani pasien. Dikasihani itu tidak enak," kata Prof Tati.

Jangan kasihani pasien stroke tapi pedulilah dengan pasien stroke, karena pasien stroke yang terlalu cengeng dan selalu dikasihani kebanyakan tidak ada daya juan
(mer/ir


Sumber : detik.com

Senin, 11 Juni 2012

Ibuprofen Memicu Stroke pada Pemakaian Jangka Panjang


AN Uyung Pramudiarja - detikHealth

img
foto: Thinkstock
Jakarta, Salah satu obat pereda nyeri yang bisa dibeli tanpa resep adalah ibuprofen. Meski aman dan mudah didapatkan, obat ini tidak boleh digunakan sembarangan sebab dalam jangka panjang bisa menyebabkan masalah jantung dan pembuluh darah termasuk stroke. 

Ibuprofen bukan satu-satunya pereda nyeri yang meningkatkan risiko penyakit jantung. Pada tahun 2004, pereda nyeri yang lain yakni Rofecoxib yang dipasarkan dengan nama dagang Vioxx ditarik dari peredaran karena dapat memicu stroke dan serangan jantung. 

Risiko yang sama ternyata juga ada pada ibuprofen, yang hingga saat ini sangat populer penggunaannya termasuk untuk meredakan nyeri menstruasi. Bedanya pada ibuprofen peningkatan risiko terjadi hanya dalam pemakaian jangka panjang. 

"Pada umumnya pasien minum ibuprofen dalam periode singkat sekedar untuk mengatasi nyeri akut. Asal tidak berlebihan, risikonya sangat kecil," ungkap Prof Simon Maxwell dari British Pharmacological Society’s Prescribing Committee seperti dikutiop dari Dailymail, Kamis (13/1/2011). 

Menurut Prof Maxwell, risiko untuk mengalami stroke baru akan meningkat pada penggunaan ibuprofen sebanyak 3-4 butir/hari dengan dosis hingga 2.000 mg berturut-turut selama beberapa bulan atau bahkan 1 tahun. Untuk sekedar mengatasi sakit kepala, dosis dan lama pemakaian tentunya tidak akan sebesar itu. 

Kekhawatiran atas pengunaan ibuprofen mencuat setelah para ahli dari University of Bren di Swiss mempublikasikan temuan terbarunya baru-baru ini. Temuan yang dipublikasikan di British medical Journal itu merupakan hasil penelusuran terhadap 31 uji klinis yang melibatkan 116.429 pasien. 

Para ahli mengungkap bahwa pasien yang menggunakan ibuprofen sebagai antiradang maupun sebagai pereda nyeri dalam jangka waktu lama bisa meningkatkan risiko stroke hingga 3 kali lipat. Antiradang yang lain yang juga meningkatkan risiko stroke pada pemakaian jangka panjang adalah di
(up/ir


sumber : detik.com

Kamis, 07 Juni 2012

Obat Pereda Sakit Picu Risiko Stroke


Ini adalah peringatan bagi Anda yang rutin mengonsumsi obat-obatan pereda sakit. Riset terbaru para ahli di Kanada mengindikasikan, konsumsi obat pereda rasa sakit secara rutin setiap hari dan dalam dosis tinggi dapat meningkatkan risiko serangan jantung dan stroke hingga 40 persen.
Menurut peneliti, pasien yang secara teratur mengonsumsi diclofenac (obat penghilang nyeri dan anti-radang), akan mengalami gangguan jantung dua-perlima lebih tinggi. Sementara itu, penggunaan obat penghilang rasa nyeri yang lain seperti ibuprofen telah dikaitkan dengan peningkatan risiko serangan jantung dan stroke sebesar 18 persen lebih tinggi.
Diclofenac adalah salah satu obat dari jenis non-steroidal anti-inflammatory drug (NSAID) dengan rumus kimia 2-(2,6-dichloranilino) phenylacetic acid. Obat-obatan jenis NSAID ini umumnya digunakan untuk mengatasi rematik, sakit pinggang, encok sakit kepala dan flu.
Sebuah kelompok studi kecil para peneliti dari Hull York Medical School dan University of Toronto, Kanada, telah mempelajari dan membandingkan efek dari penggunaan obat pereda sakit pada dosis rendah dan tinggi (untuk keluhan yang lebih serius). Obat-obat yang diteliti cukup beragam, mulai dari jenis yang digunakan di rumah sakit, obat yang diresepkan dokter, hingga obat-obat pereda sakit yang biasa ditemukan seperti ibuprofen dan naproxen.
Hasil penelitian menunjukkan, menggunakan diclofenac dalam dosis rendah (untuk mengobati rasa sakit pascaoperasi), berkaitkan dengan risiko 22 persen lebih tinggi mengalami masalah jantung. Sementara itu, pada dosis yang lebih besar, kemungkinan pasien terkena penyakit jantung atau stroke meningkat sebesar 98 persen.
Pada obat NSAID lainnya seperti ibuprofen, penggunaan obat sesuai dengan rekomendasi tidak berdampak negatif pada pasien. Tetapi, pada orang yang memakai dalam dosis besar, dapat meningkatkan risiko jantung sebesar 78 persen.
"Dalam memilih yang salah satu jenis obat NSAID yang ada, pasien dan dokter harus memperhatikan keseimbangan antara manfaat dan kerugian yang mungkin bisa ditimbulkan dalam penggunaan obat ini," kata salah satu peneliti utama, Dr Patricia McGettigan.
Menurut McGettigan, naproxen dan ibuprofen adalah obat penghilang rasa sakit yang paling aman untuk jantung, asalkan digunakan dalam dosis yang rendah.
Sementara itu, Doireann Maddock, perawat jantung senior dari British Heart Foundation mengatakan, penggunaan obat penghilang rasa sakit sangat berisiko khususnya pada orang dengan penyakit jantung.
"Hal ini sudah diketahui sejak lama dan temuan baru ini tidak boleh diabaikan. Tetapi para ilmuwan dan ahli obat perlu untuk menggali lebih dalam sebelum menarik kesimpulan tentang efek samping obat-obatan ini," katanya.
Ia menambahkan, "Penggunaan obat penghilang rasa sakit apapun pasti ada manfaat dan risikonya. Jika Anda sudah terlanjur meminum obat tersebut dan khawatir akan efeknya, Anda harus berkonsultasi dengan dokter terlebih dahulu. Karena manfaat yang Anda dapat mungkin jauh lebih besar ketimbang risikonya".
KOMPAS.com - Bramirus Mikail | Asep Candra | Rabu, 28 September 2011 | 13:21 WIB

Rabu, 06 Juni 2012

Seni baik untuk penyakit stroke



Menyukai seni ternyata memang baik bagi kesehatan mental seseorang. Penelitian di tahun 2011 telah menunjukkan bahwa orang yang menyukai seni, lebih menikmati hidup. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa orang yang menyukai seni bisa memiliki keuntungan untuk kesehatan fisiknya.

Hasil penelitian yang dipresentasikan dalam pertemuan 12 tahunan Cardiovascular Nursing memaparkan bahwa penderita stroke yang menyukai seni, seperti musik, melukis dan teater, memiliki kemungkinan untuk sembuh lebih cepat dibandingkan penderita yang tak menyukai seni. Para peneliti dari University Tor Vergata School di Roma melakukan penelitian dengan memberikan pertanyaan terhadap 192 pasien stroke. Para peneliti menanyakan apakah mereka mencintai seni atau tidak. Kemudian, peneliti membandingkan kualitas hidup antara mereka yang menyukai seni (105 pasien) dengan mereka yang mengatakan tidak menyukai seni (87 pasien).

Peneliti menemukan bahwa pasien stroke yang menyukai seni cenderung memiliki kesehatan yang lebih baik, daripada mereka yang tidak menyukai seni. Bahkan mereka lebih mudah berjalan, lebih berenergi, merasa lebih bahagia dan lebih tenang. Pasien penyuka seni juga memiliki daya ingatan yang lebih tajam dan mudah mengerti apa yang diucapkan orang lain. "Hasil penelitian ini menjelaskan pentingnya paparan seni untuk meningkatkan proses pemulihan setelah stroke. Orang yang sembuh dari stroke menganggap seni sebagai bagian tak terpisahkan dari hidupnya. Mereka ini memperlihatkan pemulihan yang lebih baik daripada orang yang tidak tertarik dengan seni," ungkap peneliti Dr. Ercole Vellone, dilansir melalui Time Healthland, Senin (19/3).(source : id.she.yahoo.com).  


Kumpulan artikel penelitian ilmiah terbaru dan akurat:
"sains, kesehatan, kualitatif, kuantitatif plus penelitian tindakan kelas(ktk),"
Key word : 2012, penelitian, penelitian terbaru, penelitian terbaru 2012, penelitian 2012, abstrak, abstrak penelitian, alamiah, sains, kesehatan, sehat, penelitian kuantitatif, penelitian kualitatif, penelitian sains, sains, penelitian tindakan kelas, ktk, kualitatif, kuantitatif, khasiat, manfaat, kandungan, khasiat avokad, buah avokad, avokad, buah, antioksidan, menemukan, meningkatkan, buahan, merusak, peneliti, ahli, kumpulan, artikel, contoh, bahaya

KLIK LINK UNTUK MEMBUKA

GRATIS PLUS HADIAH

Hosting Gratis