website trackingwebsite tracking

PTC..PELUANG DAPAT UANG HANYA DENGAN MODAL KLIK

Cara Instan Untuk Verifikasi PayPal !
Tampilkan postingan dengan label OTAK. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label OTAK. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 23 Juni 2012

Istirahat Total dapat Sembuhkan Gegar Otak


Beristirahat selama sepekan dari semua kegiatan fisik dan mental -- termasuk menonton televisi, menelepon dan bertemu teman -- dapat membuat kinerja mental menjadi lebih baik dan meredakan gejala pada penderita gegar otak, demikian hasil sebuah penelitian.

Menurut sebuah laporan Journal of Pediatrics, beristirahat selama sepekan penuh masih memiliki manfaat bahkan berbulan-bulan setelah orang mengalami cedera.

"Hal itu sangat penting karena kita sering mendapati pasien dengan gejala pasca-gegar otak berbula-bulan setelah mengalami cedera," kata Direktur Pusat Gegar Otak Olahraga dari New Jersey Rosemarie Moser, yang juga penulis utama dalam penelitian itu.

Gejala pasca-gegar otak meliputi sakit kepala, gangguan mental, kelelahan, sulit konsentrasi dan sulit tidur.

Biasanya, istirahat merupakan jenis perawatan yang utama tapi bukan yang sistematis dan komprehensif, kata Moser. Beristirahat dapat dilakukan secara beragam sesuai dengan bagaimana para praktisi mendefinisikannya. Penelitian tersebut bertujuan untuk menguji hasil dari beristirahat secara intensif.

Kelompok peneliti itu melakukan uji coba dengan meminta 49 pasien, yang berusia setara sekolah menengah tingkat atas (SMA) dan perguruan tinggi, untuk beristirahat selama sepekan penuh. Aturan yang ditetapkan kepada mereka ketat, yaitu mereka tidak boleh pergi sekolah atau bekerja, menelepon, berolahraga, menonton televisi, bersosialisasi maupun bekerja di depan komputer.

Sebanyak 14 pasien memulai terapi itu dalam sepekan selama mereka mengalami cedera, sementara 22 orang lainnya memulainya dalam sebulan. Sisanya memulai istirahat sepekan itu antara satu dan tujuh bulan setelah gegar otak.

Pada awal penelitian, semua pasien mengalami gejala yang berhubungan dengan gegar otak, seperti sakit kepala dan sulit berkonsentrasi. Namun semuanya mengalami perbaikan setelah mereka beristirahat selama sepekan.

Para atlet yang mulai melakukan cara pengobatan itu mengalami penurunan gejala pasca-gegar otak dari angka 22, pada skala poin 132, ke angka tujuh, Mereka yang beristirahat lebih dari sebulan mengalami penurunan gejala dari 28 ke delapan.

"Semua gejala itu membaik secara dramatis. Secara kualitatif, anda merasa lebih baik," kata Moser.

Moser dan rekan-rekannya juga melakukan tes mental terhadap para partisipan -- yaitu pengukuran memori, kecepatan pemrosesan, dan waktu reaksi -- pada saat sebelum dan sesudah mereka beristirahat. Para peneliti itu menemukan bahwa para pasien tersebut menjadi lebih baik saat melakukan tes mental sesudah beristirahat.

Para peneliti itu tidak membandingkan perbaikan kinerja para partisipan dengan penderita gegar otak lain yang tidak beristirahat dalam waktu khusus, atau dengan mereka yang beristirahat tapi kurang dari anjuran seharusnya.

"Penelitian tersebut menghasilkan sejumlah bukti untuk mendukung suatu rekomendasi yang sudah ada," kata Willem Meeuwisse, seorang profesor di Universotas Calgary.

Profesor Willem Meeuwisse juga seorang dokter spesialis di bidang cedera olahraga dan tida terlibat dalam penelitian itu.

Namun dia mengatakan bahwa penelitian itu masih belum jelas apakah istirahat yang diperlukan tersebut menjadi seintensif seperti manfaatnya.  (Ant/ICH)
http://www.metrotvnews.com

Rabu, 20 Juni 2012

Hati-hati! Banyak Makan Permen Bisa Jadi Bodoh

oleh KUMPULAN ARTIKEL PENELITIAN ILMIAH TERBARU

SPONSORED BY
Komisi Gratis | Bisnis Online Tanpa Modal
KLIK GAMBAR ATAU DI SINI UNTUK BERGABUNG

Hati-hati! Banyak Makan Permen Bisa Jadi BodohJakarta - Rasanya yang manis dengan berbagai aroma dan rasa buah yang enak. Selain dijadikan camilan, permen juga sering dijadikan pencuci mulut. Sebaiknya tak terlalu sering mengulum si manis ini karena kinerja otak bisa terganggu.

Dalam sebuah penelitian yang baru saja dilakukan di India, menunjukkan bahwa diet tinggi fruktosa dapat menghambat kinerja otak. Pembuktian ini dilakukan dengan uji coba pada tikus. Meskipun efekburuknya bisa dicegah dengan mengonsumsi asam lemak omega-3.

"Temuan kami menggambarkan, bahwa apa yang dimakan akan berpengaruh dalam cara berfikir," ujar Fernando Gomez Pinilla, seorang profesor bedah saraf di David Geffen School of Medicine UCLA dan seorang profesor biologi intergratif dan fisiologi di UCLA College of Letters and Science.

Menjalankan diet tinggi fruktosa dalam jangka panjang dapat mengubah kemampuan otak saat belajar dan mengingat suatu informasi. Namun penambahan asam lemak omega-3 pada makanan dapat membantu menimimalkan gangguan ini.

Fruktosa banyak terdapat pada sirup jagung dan manisnya enam kali lebih dari manis dari tebu. Biasanya digunakan untuk pemanis makanan olahan, seperti minuman ringan, bumbu, saus apel dan makanan bayi.

Fruktosa sebenarnya dapat merugikan tubuh. Beberapa penyakit bisa dialami seperti diabetes, obesitas dan kelebihan lemak. Penelitian sebelumnya juga memukan bahwa makanan manis dapat mempengaruhi otak.

Sedangkan asam lemak omega-3 dan asam decosahexaenoic (DHA)sangat penting untuk kerja fungsi otak. Kerja sel otak akan mengirimkan sinyal yang merupakan mekanisme untuk belajar dan memperkuat daya ingat. Karena tubuh tidak akan menghasilkan omega-3 maka bisa diperoleh dari makanan seperti, ikan, telur dan biji rami, untuk meningkatkan jumlah sel otak.

Temuan yang telah tercatat dalam Journal of Physiology pada bulan Mei kemarin. Karena itu sebaiknya mulai batasi konsumsi fruktosa yang banyak terdapat di permen. Perbanyak juga konsumsi makanan yang mengandung asam lemak omega-3 dan asam decosahexaenoic (DHA).
Detik,com

Senin, 18 Juni 2012

Punya Otak Lebih Besar bukan Berarti Lebih Cerdas


SERANGGA adalah salah satu makhluk hidup yang memiliki tubuh kecil tetapi bisa jadi lebih cerdik dibanding dengan hewan yang memiliki tubuh besar, walau otaknya hanya seukuran kepala jarum, demikian hasil penelitian yang dimuat di jurnal Current Biology.
Dari penelitian sebeumnya para ilmuwan menemukan bahwa hewan besar mungkin perlu otak yang juga besar karena lebih banyak bagian yang harus dikendalikan. Contohnya untuk menggerakkan otot yang lebih besar maka diperlukan saraf lebih banyak dan lebih besar juga. Namun hal itu tak sejalan dengan kecerdasan.

"Pada otak yang lebih besar seringkali tak ditemukan kompleksitas yang lebih, tapi hanya pengulangan dari sirkuit saraf yang sama. Mungkin ini membantu mengingat detil dari citra dan suara, tapi tak menambah tingkat kerumitan pemikiran," kata Lars Chittka, profesor pakar bidang indra dan ekologi perilaku dari Universitas Queen Mary, London.

"Analoginya dalam bidang komputer, otak lebih besar itu seperti hard-disk yang besar, tapi bukan prosesor yang lebih canggih."

Argumen mereka sesuai dengan beberapa riset terdahulu yang menyatakan bahwa lompatan kecerdasan manusia jutaan tahun lalu kemungkinan besar bukan karena ukuran semata. Bahkan menariknya, menurut para peneliti lain, ukuran otak manusia malah mengecil seiring evolusi terkini.

EKSTRIM

Di dunia hewan, perbedaan ukuran otak bisa ekstrim: otak paus bisa berbobot hampir 9 kg, dan berisi lebih dari 200 miliar sel saraf, sementara otak manusia hanya sekitar 1,25 kg hingga 1,45 kg, dan diperkirakan berisi 85 miliar sel saraf. Otak lebah madu malah hanya 1 mg dan sel sarafnya tak lebih dari sejuta.

Meski begitu, Chittka dan koleganya, Jeremy Niven dari Universitas Cambridge berulangkali menemukan penelitian yang membuktikan bahwa serangga mampu berperilaku pintar. Lebah madu misalnya bisa berhitung, mengkategorikan benda-benda yang serupa seperti membedakan anjing atau wajah manusia, memahami konsep "sama" dan "beda", dan membedakan bentuk-bentuk simetris dan asimetris.

Walau perkembangan ukuran otak memang ada pengaruhnya pada kemampuan berperilaku pintar pada hewan, kebanyakan perbedaan ukuran hanya terjadi pada bagian tertentu dari otak. Ini seringkali terlihat pada hewan dengan indra yang lebih tajam, seperti pada penglihatan atau pendengaran, atau kemampuan bergerak dengan akurat.

Para peneliti menuturkan bahwa pemikiran "tingkat lanjut" sebenarnya tak perlu jumlah saraf neuron yang tinggi. Model komputer juga menunjukkan bahwa kesadaran pikiran bisa dihasilkan dengan sirkuit saraf yang sangat kecil, yang secara teoritis muat di dalam otak serangga.

Kenyataannya, model-model komputer ini menyatakan bahwa kegiatan berhitung bisa dilakukan hanya dengan beberapa ratus sel saraf dan hanya beberapa ribu sel saraf cukup untuk menimbulkan kesadaran.(abc/elz)
http://www.analisadaily.com

Demikian isi postingan kali ini.....
Jika ada yang tidak berkenan mohon maaf yang sebesar-besarnya. Silahkan tinggalkan komentar ke kotak komentar atau di kotak chat (obrolan)
Terim kasih atas kunjungannya. semoga apa yang kami sampaikan di atas ada manfaatx...mari kita saling mendoakan kebaikan untuk sesama..

PLUS DARI KAMI .....
Terkhusus bagi sobat yang ingin membuat atau mengatur blog tetapi mengalami kesulitan dalam membuat blog atau mengatur tampilan blog, kami berinisiatif menyediakan tutorial cara membuat dan mengatur blog.
kami akan memberikan segala kemampuan kami membantu sobat semua menghadapi kesulitan dalam membuat dan mengatur blog sesuai kemampuan dan ilmu yang kami punya.
Kami akan menyediakan tutoril sedemikian mulai dari tingkat pemula sampai pengembangan blog!Kami akan merancang sedemikian rupa sehingga dapat mudah dipahami meskipun masih kategori pemula.
Klik matari pilihan kamu untuk melihat tutorialnya!!!!!
Adapun materi-materi yang akan kami muat antara Lain:

TAHAP AWAL :

Pengembangan

Keyword : penelitian, abstrak, penelitian terbaru, penelitian terbaru 2012, penelitian 2012, alamiah, sains, kesehatan, sehat, penelitian kuantitatif, penelitian kualitatif, penelitian sains, sains, penelitian tindakan kelas, ktk, kualitatif, kuantitatif, khasiat, manfaat, kandungan, khasiat avokad, buah avokad, avokad, buah, antioksidan, antibiotik, diet, langsing, kegemukan, hopertensi, tidur, insomnia, kolesterol, obesitas, balita, teknologi, tutorial, cara, blog, arsip, tulisan, animasi, label, komunikasi, template, virus, bakteri, wanita, makanan, minuman, menemukan, meningkatkan, buahan, merusak, peneliti, ahli, kumpulan, artikel, otak, kopi, teh, jantung, stroke, ekstrak, berbahaya, tekanan darah, sehat, payudara, diabetes, gizi, wanita, anak, obat, kanker, orang, contoh, bahaya, pria'

Sabtu, 16 Juni 2012

5 Manfaat Makan Apel



Lifestyle + / Sabtu, 16 Juni 2012 06:37 WIB
Apel merupakan buah yang manis dan mudah didapat. Apel cocok dijadikan kudapan mentah, atau dijadikan jus, salad, bahkan cake. Bukan hanya rasanya yang enak, apel juga memiliki banyak manfaat untuk kesehatan. Buah apel mengandung vitamin A, B, dan C. Apel dapat menurunkan kadar kolesterol dalam darah. Jadi, kenapa tak memulai membiasakan diri untuk menikmati Apel sebutir tiap hari?

1. Apel merupakan slow food

Buah ini mengandung serat sebanyak 5 gram atau 20 persen dari kebutuhan asupan harian Anda. Karena keras, apel mengharuskan Anda untuk mengunyah dengan sabar, dan hal ini bisa memberikan sinyal pada tubuh bahwa Anda kenyang, sebelum terlalu banyak mengonsumsi kalori.

Pemanis alami dalam apel memasuki aliran darah secara bertahap, membantu menjaga kadar gula darah dan tingkat insulin tetap stabil, sehingga Anda merasa kenyang lebih lama. Hal ini kebalikan dari snack dengan pemanis buatan, yang membuat Anda cepat lapar kembali.

2. Apel membantu bernafas lebih mudah

Para peneliti dari Inggris baru-baru ini mengungkapkan perempuan yang mengonsumsi apel saat hamil akan melahirkan anak dengan risiko penyakit asma yang berkurang. Buah apel juga dapat melindungi paru-paru orang dewasa, menurunkan risiko asma, kanker paru-paru, dan penyakit lainnya.

3. Apel bisa menurunkan kolesterol

Berkat dua komponen kunci, pektin (sejenis serat) dan polifenol (salah satu antioksidan kuat), apel dapat menurunkan kadar kolesterol darah dan mencegah oksidasi kolesterol jahat, proses kimia yang mengubahnya menjadi plak yang menyumbat arteri. Untuk memaksimalkan manfaat apel, makan apel bersama kulitnya. Kulit apel memiliki dua sampai enam kali senyawa antioksidan.

4. Apel mampu melawan kanker

Hasil uji laboratorium menunjukkan bahwa beberapa senyawa dalam buah yang berair mengekang pertumbuhan sel kanker, tapi akan bekerja secara maksimal saat apel dimakan seluruhnya (minus batang dan biji, tentunya). Orang yang mengonsumsi apel lebih dari satu buah dalam sehari akan menurunkan risiko beberapa jenis kanker. Di antaranya kanker mulut, esofagus, usus besar, payudara, ovarium, prostat, sebesar 9 hingga 42 persen.

5. Apel membuat Anda pintar

Mungkin karena meningkatkan produksi asetilkolin, zat kimia yang mentransmisikan pesan antara sel-sel saraf, apel diperkirakan dapat menjaga otak tetap tajam seiring pertambahan usia, meningkatkan memori, dan berpotensi mengurangi kemungkinan mendapatkan penyakit Alzheimer, demikian menurut sebuah penelitian terbaru dari University of Massachusetts at Lowell. Penelitian ini memang baru dilakukan terhadap binatang. Namun tak ada salahnya bila Anda mulai mencoba membiasakan diri mengonsumsi apel yang bergizi ini.(Decha/Wrt1)
http://www.metrotvnews.com

Jumat, 15 Juni 2012

Latihan Otak Untuk Cegah Pikun


Membaca, merajut, atau menjahit dalah latihan otak yang sangat efektif untuk cegah pikun.

SABTU, 2 MEI 2009, 12:15 WIB
Maryadie, Mutia Nugraheni
VIVAnews - Tahukan Anda kalau membaca, merajut, atau menjahit, merupakan  latihan otak yang sangat efektif untuk mencegah pikun.

Hal itu menurut  penelitian yang dilakukan oleh peneliti yang merupakan psikiater saraf  dari Mayo Clinic di, Minnesotta, Amerika Serikat.

Dalam penelitian tersebut, membaca dan merajut adalah aktivitas yang  bisa mencegah kepikunan pada usia 70 hingga 80 tahun. "Meskipun usia  sudah menjelang senja tidak ada kata terlambat untuk melatih otak,"  kata  Yonas Geda, psikiater saraf dari Mayo Clinic.

Penelitian tersebut juga mengungkapkan, permainan otak seperti sudoku,  serta membuat kerajinan tangan bisa menurunkan resiko pikun. Sedangkan,  aktivitas yang bisa meningkatkan resiko pikun adalah menonton televisi.

Hal tersebut dipublikasikann dalam pertemuan American Academy of Neurology di Amerika Serikat.

Untuk meningkakan kemampuan otak, peneliti menganjurkan untuk melakukan  kegiatan yang berbeda dari biasanya. "Cobalah untuk melakukan hal-hal  baru yang belum pernah dilakukan sebelumnya hal itu bisa melatih otak," kata Geda.

Penelitian tersebut melibatkan 197 responden, usia antara 70 hingga 89  tahun yang mengalami ganguan memori dan dibandingkan dengan 1124  responden usia yang sama tanpa ganguan memori.

Responden diajukan  pertanyaan serius tentang kegiatan sehari-hari mereka ketika berusia 50 sampai 65 tahun.

Meditasi Tingkatkan Kesehatan Otak


Bramirus Mikail | Asep Candra | Sabtu, 30 Juli 2011 | 09:11 WIB
KOMPAS.com — Dalam beberapa literatur disebutkan, meditasi adalah praktik rileksasi yang melibatkan pengosongan pikiran dari semua hal yang menarik, membebani, maupun mencemaskan dalam hidup sehari-hari. Meditasi sebenarnya sudah ada sejak lama dan sering dilakukan orang-orang zaman dulu.
Selama ini, meditasi sering disalahartikan sebagian besar orang karena dianggap sebagai kegiatan yang tidak ada gunanya dan membuang-buang waktu. Padahal, bermeditasi secara tidak langsung berhubungan dengan permainan pada otak.
Bahkan, meditasi diyakini bisa menambah banyak masukan untuk meningkatkan kemampuan otak Anda. Sebuah penelitian sebelumnya telah membuktikan bahwa berlatih meditasi dalam waktu yang lama dapat meningkatkan materi abu-abu pada otak.
Sekarang, sebuah studi terbaru mengklaim, dengan bermeditasi risiko seseorang mengalami penyusutan otak jauh lebih rendah. Meditasi juga dipercaya dapat meningkatkan sel-sel otak dalam mengirimkan sinyal-sinyal listrik lebih efisien.
Hasil sebuah penelitian menunjukkan, individu yang bermeditasi secara rutin dalam jangka panjang mampu menurunkan materi putih pada otak sebagai penyebab penuaan.
Penelitian ini melibatkan sebanyak 27 relawan yang berlatih meditasi dengan berbagai gaya dengan usia antara 5 tahun sampai 46 tahun. Sementara itu, 27 relawan lainnya adalah mereka yang tidak melakukan meditasi. Mereka berasal dari jender yang sama dan kelompok usia. Otak dari kedua kelompok ini dipindai menggunakan teknologi pencitraan difusi tensor untuk mengetahui perbedaan dalam konektivitas struktural otak pada masing-masing kelompok.
Hasilnya, peneliti menyimpulkan bahwa meditasi membawa perubahan positif dalam pertumbuhan anatomi otak. Pada waktu yang sama, meditasi juga efektif dalam mencegah penyusutan otak. Para peneliti berpendapat, meditasi meningkatkan kesehatan otak dengan mempromosikan fungsi dari sistem kekebalan tubuh

Kamis, 14 Juni 2012

PENELITIAN MENGHASILKAN PETUNJUK BARU UNTUK OTAK BAGAIMANA SEL KANKER BERMIGRASI DAN MENYERANG

Release Date: 2012/05/02

Temuan dari para ilmuwan Johns Hopkins memberi petunjuk mengapa kanker otak tertentu bersifat sangat mematikan
Johns Hopkins peneliti telah menemukan bahwa protein yang mengangkut natrium, kalium dan klorida dapat memegang petunjuk bagaimana glioblastoma, jenis yang paling umum dan paling mematikan kanker otak, bergerak dan menyerang jaringan otak di sekitarnya sehat.
Temuan ini dilaporkan dalam jurnal PLoS Biology, juga menunjukkan bahwa obat yang disetujui FDA murah sudah ada di pasar bisa memperlambat pergerakan sel glioblastoma, dan berisi penyebarannya.
"Tantangan terbesar pada kanker otak adalah migrasi sel kanker. Kita tidak bisa mengontrolnya, "kata pemimpin studi Alfredo Quinones-Hinojosa, MD, seorang profesor bedah saraf dan onkologi di Johns Hopkins University School of Medicine. "Jika kita bisa menangkap sel-sel ini sebelum mereka lepas landas ke bagian lain dari otak, kita bisa membuat tumor ganas lebih mudah dikelola, dan meningkatkan harapan hidup dan kualitas hidup. Penemuan ini memberi kita harapan dan membawa kita lebih dekat untuk menyembuhkan. "
Glioblastoma, yang didiagnosis pada sekitar 10.000 orang Amerika setiap tahun, begitu agresif bahwa harapan hidup rata-rata setelah diagnosis hanya 15 bulan, Quinones mengatakan. Kanker menyebar ke jaringan otak yang sehat sehingga cepat dan benar yang menyembuhkan bedah hampir tidak mungkin dan kemajuan dalam radiasi dan kemoterapi telah lambat datang.
Dalam mencari cara untuk mencegah atau membatasi penyebaran, dan berhenti kambuh mematikan tumor, Johns Hopkins peneliti berfokus pada protein yang disebut NKCC1 pada sel tumor manusia dalam laboratorium dan sel tumor disuntikkan ke tikus.
NKCC1 mengangkut ion natrium, kalium dan klorida, dan mengatur volume sel.
Quinones-Hinojosa dan timnya menemukan bahwa sel-sel dengan NKCC1 lebih muncul untuk bergerak lebih jauh karena protein membuat lebih mudah bagi sel-sel tumor untuk ambil ke sel dan jaringan lain di otak dan mendorong diri mereka sendiri melalui jaringan. Semakin banyak protein ini dalam sel tumor, mereka menemukan, semakin cepat sel glioblastoma mampu bepergian. Ketika NKCC1 tidak hadir, mereka mencatat bahwa sel memiliki adhesi fokus lebih besar, yang memungkinkan untuk Velcro-seperti keterikatan pada sel-sel sekitarnya. Adhesi yang lebih besar, katanya, muncul untuk sel tetap lebih berlabuh di tempat, sementara yang lebih kecil membuat sel lebih mobile dan memungkinkan migrasi lebih.
Dalam percobaan mereka, para peneliti diblokir protein dan mampu memperlambat migrasi sel tumor. Mobilitas kurang, Quinones-Hinojosa mengatakan, berarti invasi kurang dari jaringan di sekitarnya.
Untuk memblokir saluran, tim menggunakan bumetanide diuretik, pil air sederhana secara rutin digunakan untuk mengurangi retensi cairan dan pembengkakan yang disebabkan oleh berbagai masalah medis. Ditambahkan ke sel-sel tumor baik di laboratorium, atau sel-sel tumor manusia pada tikus, obat diblokir saluran NKCC dan memperlambat laju gerakan sel.
Jika sel dibuat kurang invasif, catatan Quinones, tumor juga akan lebih mudah untuk menghapus pembedahan.
Para peneliti juga dapat berkorelasi kelas tumor manusia dengan tingkat NKCC1. Tumor kurang agresif, mereka menemukan, memiliki jumlah yang lebih kecil protein, sedangkan tumor yang lebih agresif memiliki lebih. Hal ini menunjukkan NKCC1 yang mungkin tidak hanya memberikan kontribusi pada peningkatan invasi tumor kelas yang lebih tinggi, tetapi juga berfungsi sebagai penanda potensial untuk diagnosis.
Lain Johns Hopkins peneliti yang terlibat dalam penelitian ini meliputi Tomas Garzon-Muvdi, MD, MS; Paula Schiapperelli, Ph.D., Collette ap Rhys, Ph.D., Hugo Guerrero-Cazares, MD, Ph D., Christopher Smith; Deok-Ho Kim, Ph.D., Lyonel Kone; Harrison Farber; Daneille Y. Lee, Steven S. An, Ph.D., dan Andre Levchenko, Ph.D.


Sumber : http://www.hopkinsmedicine.org/
Release Date: 05/02/2012
Versi Asli  (inggris) : klik  dibawah
Translator : Google Translate

RESEARCH YIELDS NEW CLUES TO HOW BRAIN CANCER CELLS MIGRATE AND INVADE

Findings from Johns Hopkins scientists hint at why certain brain cancers are so deadly

Johns Hopkins researchers have discovered that a protein that transports sodium, potassium and chloride may hold clues to how glioblastoma, the most common and deadliest type of brain cancer, moves and invades nearby healthy brain tissue.
The findings, reported in the journal PLoS Biology, also suggest that a cheap FDA-approved drug already on the market could slow movement of glioblastoma cells, and contain their spread.
“The biggest challenge in brain cancer is the migration of cancer cells. We can’t control it,” says study leader Alfredo Quinones-Hinojosa, M.D., an associate professor of neurosurgery and oncology at the Johns Hopkins University School of Medicine. “If we could catch these cells before they take off into other parts of the brain, we could make malignant tumors more manageable, and improve life expectancy and quality of life. This discovery gives us hope and brings us closer to a cure.”
Glioblastoma, which is diagnosed in roughly 10,000 Americans each year, is so aggressive that the average life expectancy after diagnosis is just 15 months, Quinones says. The cancer spreads to healthy brain tissue so quickly and completely that surgical cures are virtually impossible and advances in radiation and chemotherapy have been slow in coming.
In a search for ways to prevent or limit the spread, and stop lethal recurrence of the tumor, the Johns Hopkins researchers focused on a protein called NKCC1 in human tumor cells in the laboratory and tumor cells injected into mice.
NKCC1 transports sodium, potassium and chloride ions, and regulates cell volume.
Quinones-Hinojosa and his team found that cells with more NKCC1 appear to move farther because the protein made it easier for tumor cells to grab onto other cells and tissues in the brain and propel themselves through tissue. The more of this protein in the tumor cell, they discovered, the faster the glioblastoma cells were able to travel. When NKCC1 was absent, they noted that the cells had larger focal adhesions, which allow for Velcro-like attachment to surrounding cells. Larger adhesions, he says, appear to keep the cells more anchored in place, while smaller ones made cells more mobile and allowed for more migration.
In their experiments, the researchers blocked the protein and were able to slow the migration of the tumor cells. Less mobility, Quinones-Hinojosa says, means less invasion of surrounding tissue.
To block the channel, the team used the diuretic bumetanide, a simple water pill routinely used to reduce swelling and fluid retention caused by various medical problems. Added to either tumor cells in the laboratory, or to human tumor cells in mice, the drug blocked the NKCC channel and slowed the pace of cell movement.
If the cells were made less invasive, Quinones notes, tumors also would be easier to surgically remove.
The researchers were also able to correlate human tumor grade with levels of NKCC1. Less aggressive tumors, they discovered, had smaller amounts of the protein, while more aggressive tumors had more. This suggests that NKCC1 may not only contribute to the increased invasiveness of higher grade tumors, but also serve as a potential marker for diagnosis.
Other Johns Hopkins researchers involved in the study include Tomas Garzon-Muvdi, M.D., M.S.; Paula Schiapperelli, Ph.D.; Collette ap Rhys, Ph.D.; Hugo Guerrero-Cazares, M.D., Ph. D.; Christopher Smith; Deok-Ho Kim, Ph.D.; Lyonel Kone; Harrison Farber; Daneille Y. Lee; Steven S. An, Ph.D.; and Andre Levchenko, Ph.D.


Sumber : http://www.hopkinsmedicine.org/
Release Date: 05/02/2012
Versi Terjemahan (indonesia) : klik  dibawah
Translator : Google Translate
















Rabu, 13 Juni 2012

Cara Mudah Melindungi Memori


Penelitian menunjukkan penurunan memori dimulai ketika usia 20 tahun.

KAMIS, 25 AGUSTUS 2011, 06:48 WIB
Mutia Nugraheni

VIVAnews - Sering mengalami lupa tempat meletakkan kunci? Atau lupa akan belanja apa padahal sudah sampai di supermarket? Jika sesekali terjadi memang tidak masalah, siapapun bisa mengalaminya, bukan hanya orang tua, tetapi juga pada orang yang berusia muda.

Meskipun usia Anda belum tergolong tua, penelitian menunjukkan penurunan memori dimulai ketika usia 20 tahun dan berlanjur seiring bertambahnya usia. Agar Anda bisa meminimalisirnya, lakukan saja tiga langkah berikut, seperti dilansir dari Health.com. 

1. Konsumsi karbohidrat 

Kekurangan karbohidrat bisa berdampak buruk pada memori Anda. Penelitian yang yang dilakukan tim dari Tufts University menemukan seseorang yang mengurangi konsumsi karbohidrat hasil tes memorinya lebih buruk dibandingkan yang mengonsumsi karbohidrat.

Apa alasannya? Ternyata sel otak membutuhkan karbohidrat untuk dikonversi menjadi glukosa, untuk menjaganya tetap berkonsentrasi. Jika memang Anda takut gemuk, pilih saja sumber karbohidrat sehat seperti gandum atau nasi merah.

2. Olahraga

"Berolahraga meningkatkan aliran darah termasuk ke area otak dan membawa kebutuhan oksigen serta glukosa," kata Sandra Aamodt, PhD, salah satu penulis Welcome to Your Brain.

Faktanya, menurut penelitian yang dipublikasi dalam 'Journal Neurobiology of Learning and Memory', Anda bisa 20 persen lebih cepat menyerap kata-kata baru dari bahasa asing, justru setelah berolahraga. Jadi, mulai sekarang lindungi memori Anda dengan berolahraga rutin.

3. Ganti font di komputer
Anda selalu menggunakan font Times New Roman? Cobalah gunakan font lain yang tidak biasa digunakan, untuk meningkatkan kemampuan retensi jangka panjang Anda. Fokus pada font baru dapat membuat pusat-pusat pengolahan pada otak bekerja sedikit lebih keras. Anda bisa mengubah font menjadi Comic Sans Italicized, mungkin bagi Anda tak terlalu berpengaruh, tetapi otak akan bekerja lebih dari biasanya untuk memprosesnya.(sj)

Asupan Garam Bikin Otak Makin Bodoh



Garam memengaruhi kesehatan secara keseluruhan.

JUM'AT, 2 SEPTEMBER 2011, 09:43 WIB
Anda Nurlaila
VIVAnews - Garam merupakan salah satu bumbu penyedap yang selalu disiram pada hampir setiap menu masakan. Banyak yang menganggap, makanan tanpa garam menyebakan hambar makanan, juga kurang nendang. Sebuah studi mungkin bisa menjadi pertimbangan untuk mengurangi konsumsi garam.

Penelitian terbaru menunjukkan, mengonsumsi lebih sedikit garam dan berolahraga lebih sering dapat menjaga otak tetap cerdas. Meskipun tak menyelidiki proses garam yang memengaruhi kecerdasan, peneliti menemukan korelasi kuat antara gaya hidup, konsumsi natrium tinggi dan menurunnya fungsi kognitif.

Studi menganalisis data dari studi longitudinal nutrisi dan penuaan. Hasilnya, ada hubungan kuat antara asupan natrium, aktivitas fisik rendah dan penurunan fungsi otak dengan usia seseorang. Hal ini telah memperhitungkan faktor lain seperti tingkat pendidikan dan diet secara keseluruhan.

Para peneliti tidak mengklaim garam mengikis sel abu-abu di otak penyebab penurunan kognitif, namun melihatnya sebagai penurunan tingkat kesehatan secara keseluruhan. Bahwa sodium terkait dengan kenaikan tekanan darah, berdampak pada kesehatan tulang dan jantung secara keseluruhan.

Namun, pengaruh garam dapat dikurangi dengan melakukan aktivitas fisik terutama berolahraga. Penulis utama studi Carol Greenwood, seorang ilmuwan gizi dan direktur interim penelitian terapan di Baycrest Kunin-Lunenfeld  Toronto menyatakan," Orang-orang yang aktif secara fisik terlindungi dari efek buruk garam, terlepas berapa banyak asupan sodium mereka. Yang penting adalah menjaga sistem kardiovaskular.  Dan manfaat olahraga akan lebih besar daripada efek negatif yang ditimbulkan garam," katanya seperti dikutip dari Shine.

Dr David Katz, direktur studi medis kesehatan masyarakat di Universitas Yale, menambahkan, " Cukup beralasan bahwa orang yang aktif , bugar dan sehat secara keseluruhan, lebih baik dalam  'menahan' potensi bahaya sodium daripada yang kurang berolahraga."

Namun ia mengingatkan, diet sodium akan langsung memengaruhi fungsi kognitif pada orang usia lanjut. Sehingga, asupan garam harus dibatasi hingga tingkat yang direkomendasikan antaralain mengurangi makanan olahan dan lebih baik mengasup makanan yang diolah dari bahan segar
.

Selasa, 12 Juni 2012

Awas, Tontonan Porno bisa ‘Matikan’ Separuh Otak Anda


SPONSORED BY
Komisi Gratis | Bisnis Online Tanpa Modal
KLIK GAMBAR ATAU DI SINI UNTUK BERGABUNG

TEMPO.COAmsterdam – Kita telah lama mendengar bahwa merangsang diri sendiri secara seksual pada anak-anak bisa berisiko kebutaan. Kini efek yang hampir sepadan menjadi risiko bagi orang dewasa yang suka merangsang dirinya.
Penelitian terbaru menunjukkan menonton film porno benar-benar dapat mematikan bagian otak yang memproses rangsangan visual. Setidaknya, hal ini terjadi pada wanita.
Sebuah tim dari University of Groningen Medical Centre di Belanda mengamati kortek visual primer dari 12 wanita premenopause. Mereka sebelumnya dinyatakan dalam kondisi  sehat, berorientasi heteroseksual, dan tugas mereka selama penelitian hanyalah menonton tayangan adegan ranjang.
Para wanita yang diteliti ada dalam kondisi terkontrol secara hormonal serta terkait gairah seks sesuai siklus menstruasi mereka. Selama penelitian, aktivitas otak mereka dipantau menggunakan positron emission tomography (lebih dikenal sebagai PET scan).
Mereka kemudian disuruh menonton tiga tayangan, yaitu film dokumenter tentang kehidupan laut di Karibia, adegan “pemanasan” sebelum bercinta, dan adegan persenggamaan eksplisit.
Hasil scan menunjukkan bahwa film erotis paling eksplisit, salah satu yang menampilkan oral seks dan persenggamaan, menghasilkan jauh lebih sedikit darah yang dikirim ke korteks visual primer. Efek yang sama terlihat ketika orang diminta untuk melakukan tugas non-visual, seperti mengingat kata-kata, saat mereka juga menonton beberapa jenis rangsangan visual.
Dalam keadaan biasa, ketika menonton film atau melakukan tugas visual lainnya, darah ekstra mengalir ke korteks visual.
Uroneurologis Gert Holstege, salah satu anggota tim peneliti, menyatakan kepadaLiveScience bahwa otak lebih fokus pada gairah seksual dari pemrosesan visual selama aktivitas menonton film. “Anda harus menyadari bahwa otak membutuhkan cadangan energi sebanyak mungkin. Maka, jika ada beberapa bagian otak tidak difungsikan, cadangan itu segera turun, ” katanya seperti dikutip Daily Mail.
Dia menghubungkan hasil penelitian sebelumnya yang menunjukkan otak bisa cemas atau terangsang, tapi tidak keduanya. Selama kegiatan orgasme, daerah otak yang berhubungan dengan kecemasan turun tajam, kata Holstege. “Inilah yang menjelaskan mengapa wanita dengan libido rendah sering menderita kecemasan.”
Penelitian itu juga membuahkan simpulan lain: ‘Jika Anda ingin berhubungan seks, Anda perlu menghasilkan situasi yang aman bagi wanita,” katanya.

Senin, 11 Juni 2012

Operasi Jantung Bisa Akibatkan Kehilangan Ingatan?


Putro Agus Harnowo - detikHealth

img
(Foto: thinkstock)
Durham, North Carolina,Tidak ada suatu prosedur pengobatan yang tidak berisiko, begitu pula operasi jantung yang menyangkut nyawa seseorang. Seorang pasien jantung di Jerman, mengalami penurunan kemampuan berpikir dan kemampuan mengingat beberapa bulan setelah operasi bypass jantung.

Dokter telah lama mengkhawatirkan dampak penurunan kemampuan mental ini pada pasien yang menjalani operasi bypass cangkok arteri koroner atau coronary artery bypass grafting (CABG).

Dan ternyata memang benar, hilang ingatan lebih banyak terjadi setelah menjalani operasi tersebut. Pasien yang menjalani CABG kebanyakan memiliki penyakit aterosklerosis (penebalan dinding pembuluh darah) koroner yang parah.

"Penurunan kemampuan mental setelah operasi ini lebih berhubungan dengan tingkat keparahan aterosklerosis daripada karena operasi itu sendiri," kata Dr Mark Newman dari Duke University Medical Centre di Durham, North Carolina, yang tidak terlibat dalam penelitian ini seperti dilansir Health24.com, Rabu (9/11/2011).

Untuk memastikan hal itu, para peneliti ini memantau 37 orang pasien yang menjalani prosedur stent dan menjalani CABG 47. Sebagian besar pasien berusia 60-an dan awal 70-an. Metode stent adalah prosedur dimana adalah sebuah tabung buatan dimasukkan ke dalam pembuluh darah untuk mencegah atau mengatasi penyempitan aliran darah.

Peserta diberi tes kemampuan berpikir dan memori sebelum operasi dan tiga bulan setelahnya. Setelah beberapa bulan, pasien dalam kelompok stent lebih banyak mengalami penurunan skor pada dua tes dari sepuluh tes yang diberikan dibandingkan dengan kelompok kontrol. Namun skor pada pasien bypass menurun pada tujuh tes dari sepuluh tes.

"Yang belum jelas adalah, seberapa banyak perubahan kemampuan mental yang benar-benar mengganggu kehidupan pasien setelah menjalani operasi jantung?" kata peneliti, Dr. Tibo Gerriets dari Universitas Justus Liebig di Giessen.

Dr Newman menduga bahwa untuk beberapa pasien, perubahan kemampuan berpikir dan kemampuan memori mungkin terasa perbedaannya antara hidup mandiri dengan membutuhkan bantuan orang lain. Namun tidak semua ahli spakat dengan hasil penelitian yang dimuat dalam Journal American Heart ini.

Dr Todd Rosengart, kepala bedah kardiotoraks di Stony Brook University Medical Centre di New York, mengatakan bahwa risiko penurunan kemampuan mental setelah operasi bypass tergantung pada prosedur yang dilakukan. Ia mencurigai bahwa pasien dalam penelitian ini tidak ditangani dengan teknik yang baik.

"Prosedur yang baik bukan berarti hanya berhasil menyelesaikan operasi tanpa menyebabkan kematian, namun juga membuat pasien berada dalam kondisi yang yang paling baik," pungkasn
(ir/ir


sumber : detik.com

Minggu, 10 Juni 2012

Dua Kali CT Scan, Risiko Kanker Otak Naik Tiga Kali Lipat




MENURUT para ilmuwan, risiko kanker otak naik tiga kali lipat pada anak-anak setelah melakukan CT scan dua atau tiga kali. Mereka juga berisiko lebih besar terkena leukemia (kanker darah).

Para peneliti memperkirakan setiap 10.000 anak berusia 10 tahun atau kurang yang di-CT scan, satu dari mereka terkena tumor otak dan satu lagi didiagnosis mengidap leukemia. Tetapi mereka juga mengatakan, CT scan dapat menyelamatkan nyawa dan risiko berkembangnya kanker sangat kecil.

Dr. Mark Pearce dari Newcastle University mengatakan, “CT scan bersifat akurat dan cepat, sehingga harus digunakan bila manfaat langsung CT scan lebih besar daripada risiko jangka panjangnya. Kami telah diberi tahu bahwa CT scan meningkatkan risiko kanker, tetapi ini adalah penyakit langka. Risikonya pun kecil, tapi kita harus tetap menyadari bahwa risiko apapun tetap adalah risiko.”

Dalam studi yang dipublikasikan di The Lancet, para peneliti dari Newcastle University dan National Cancer Institute di AS mengamati 175.000 anak dan remaja di bawah usia 21 yang dirawat di NHS dan menerima CT scan pertama mereka antara 1985 dan 2002.

Mereka memperkirakan dan menghubungkan jumlah radiasi yang diterima tubuh akibat CT scan dengan risiko tumor otak dan leukemia selama 10 tahun ke depan. Risiko tumor otak meningkat tiga kali lipat setelah kepala menyerap 50-60 milligray unit radiasi. Jumlah itu adalah tingkat pemaparan usai melakukan CT scan sebanyak 2-3 kali.

Dosis radiasi yang sama pada sumsum tulang yang diproduksi oleh lima sampai 10 kali CT scan pada kepala dapat melipatgandakan risiko terkena leukemia sebanyak tiga kali.

Seorang juru bicara Departemen Kesehatan mengatakan, CT scan dilakukan hanya ketika “dibenarkan secara klinis”. Setiap 100.000 anak berusia sampai 19 tahun di Inggris, ditemukan tiga kasus tumor otak dan empat sampai lima kasus leukemia, seperti dilansir Dailymail.



Sumber : koranFB

Meditasi Tingkatkan Kesehatan Otak


Bramirus Mikail | Asep Candra | Sabtu, 30 Juli 2011 | 09:11 WIB

Dalam beberapa literatur disebutkan, meditasi adalah praktik rileksasi yang melibatkan pengosongan pikiran dari semua hal yang menarik, membebani, maupun mencemaskan dalam hidup sehari-hari. Meditasi sebenarnya sudah ada sejak lama dan sering dilakukan orang-orang zaman dulu.
Selama ini, meditasi sering disalahartikan sebagian besar orang karena dianggap sebagai kegiatan yang tidak ada gunanya dan membuang-buang waktu. Padahal, bermeditasi secara tidak langsung berhubungan dengan permainan pada otak.
Bahkan, meditasi diyakini bisa menambah banyak masukan untuk meningkatkan kemampuan otak Anda. Sebuah penelitian sebelumnya telah membuktikan bahwa berlatih meditasi dalam waktu yang lama dapat meningkatkan materi abu-abu pada otak.
Sekarang, sebuah studi terbaru mengklaim, dengan bermeditasi risiko seseorang mengalami penyusutan otak jauh lebih rendah. Meditasi juga dipercaya dapat meningkatkan sel-sel otak dalam mengirimkan sinyal-sinyal listrik lebih efisien.
Hasil sebuah penelitian menunjukkan, individu yang bermeditasi secara rutin dalam jangka panjang mampu menurunkan materi putih pada otak sebagai penyebab penuaan.
Penelitian ini melibatkan sebanyak 27 relawan yang berlatih meditasi dengan berbagai gaya dengan usia antara 5 tahun sampai 46 tahun. Sementara itu, 27 relawan lainnya adalah mereka yang tidak melakukan meditasi. Mereka berasal dari jender yang sama dan kelompok usia. Otak dari kedua kelompok ini dipindai menggunakan teknologi pencitraan difusi tensor untuk mengetahui perbedaan dalam konektivitas struktural otak pada masing-masing kelompok.
Hasilnya, peneliti menyimpulkan bahwa meditasi membawa perubahan positif dalam pertumbuhan anatomi otak. Pada waktu yang sama, meditasi juga efektif dalam mencegah penyusutan otak. Para peneliti berpendapat, meditasi meningkatkan kesehatan otak dengan mempromosikan fungsi dari sistem kekebalan tubuh.

sumber : kompas.com

GRATIS PLUS HADIAH

Hosting Gratis