website trackingwebsite tracking

PTC..PELUANG DAPAT UANG HANYA DENGAN MODAL KLIK

Cara Instan Untuk Verifikasi PayPal !
Tampilkan postingan dengan label OBESITAS. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label OBESITAS. Tampilkan semua postingan

Selasa, 03 Juli 2012

Ingin Menurunkan Berat Badan? Konsumsi Saja Kopi Mentah!


Ingin Menurunkan Berat Badan? Konsumsi Saja Kopi Mentah!Jakarta - Minum kopi memang mengasyikkan buat yang menyukainya. Kopi yang selama ini diketahui punya manfaat ternyata punya manfaat baru. Sebuah temuan baru mengungkap manfaat biji kopi hijau atau mentah yang kini mulai populer.

Studi yang dilakukan oleh tim penelitian ini melibatkan sekelompok orang dengan kelebihan berat badan atau obesitas. Mereka diminta untuk mengkonsumsi biji kopi hijau atau biji kopi yang belum disangrai dalam bentuk bubuk setiap hari. Hasilnya, berat badan mereka mengusut hingga 10 persen.

"Berdasarkan hasil penelitian kami, beberapa kapsul ekstrak biji kopi hijau diberikan pada responden setiap hari. Mereka juga diminta untuk menjalankan diet rendah lemak dan berolahraga dengan teratur. Cara yang aman dan mudah ini cukup efektif untuk menurunkan berat badan," ungkap Joe Vinton, salah satu tim peneliti dari University of Scranton.

Sebanyak 16 responden usia 22-26 tahun selalu diberikan dosis rendah dan dosis tinggi selama 22 minggu. Dosis terendah ekstrak kopi sebanyak 700 mg dan dosis tertinggi sekitar 1.050 mg. Proses pengecekan yang ketat dilakukan untuk mendapatkan hasil yang akurat.

Selain itu semua responden juga dimonitor dietnya mulai dari penghitungan jumlah kalori, jenis makanan dan banyaknya makanan yang dimakan. Tidak hanya kalori, jumlah karbohidrat, lemak dan protein pada responden juga diawasi.

Rata-rata berat badan responden menyusut hingga 7 kg selama 22 minggu. Total keseluruhan lemak tubuh yang hilang sekitar 16 persen. Peneliti juga mencatat bahwa penurunan berat badan ini secara signifikan lebih cepat karena pemberian dosisinya.


Detik.com

Sabtu, 16 Juni 2012

Minimalkan Resiko Kanker Kulit Dengan Kopi


rokokBerbagai penelitian seringkali menunjukkan efek tidak baik pada orang yang menjalankan gaya hidup tidak sehat. Cara hidup penuh risiko ini kerap dikaitkan dengan keburukan di tubuh. Misalnya,kolesterol tinggi,tekanan darah tinggi, dan sebagainya. Hanya saja, ada studi terbaru di Inggris yang menunjukkan, gaya hidup tidak sehat tidak signifikan dalam memengaruhi masalah kesuburan sperma pria. Artinya, kemandulan yang terjadi pada pria bukan soal gaya hidup penyebabnya.
Seperti dilansir BBC, penelitian yang dimuat jurnal Human Reproduction itu menyatakan, memang lebih baik untuk menghindari rokok, alkohol, dan obesitas. Namun, ketiga gaya hidup tersebut juga tidak bisa dikaitkan langsung dengan persoalan kesuburan pria. Saran yang sebaiknya diperhatikan adalah terkaitmenghindari pemakaian celana yang cenderung ketat. Panas yang dihasilkan pada area skrotum bisa mengurangi atau bahkan membunuh sperma.
Penelitian ini menjadi kontroversial. Pasalnya, hasil studi ini berbeda jauh dengan penelitian yang telah ada. Pada pengamatan yang dilakukan terhadap relawan yang punya kebiasaan merokok sampai 20 batang per hari, ternyata tidak ditemukan adanya pengurangan jumlah sperma. Selain itu, peneliti juga tidak mendapati bukti kuat berkurangnya kualitas sperma pada pria yang memiliki indeks massa tubuh tinggi,pengonsumsi obat penenang,  dan alkoholik.
“Hal ini memutarbalikkan nasihat yang biasanya diberikan pada pria tentang bagaimana mereka dapat meningkatkan kesuburan. Dan, (studi ini) menunjukkan bahwa risiko-risiko gaya hidup yang umum, mungkin tidak sepenting yang kita duga,” kata Dr Andrew Povey dari University of Manchester.
Namun, disarankan agar pria tetap menjaga kesehatan fisik secara umum. Pasalnya, beberapa faktor tersebut mungkin tidak berpengaruh pada kesuburan, tapi memengaruhi kesehatan tubuh yang lain.
sidomi.com

Menurunkan Tekanan Darah Orang Obesitas dengan Kentang Ungu

Adelia Ratnadita - detikHealth

img
(Foto: thinkstock)
Jakarta, Konsumsi dua porsi kentang ungu dalam diet sehari-hari selama 1 bulan dapat menurunkan tekanan darah pada orang yang kelebihan berat badan atau obesitas. Kentang ungu juga dapat menghentikan penambahan berat badan.

Hal tersebut merupakan hasil penelitian baru. Dalam penelitian tersebut, peneliti melibatkan 18 orang dewasa setengah baya yang kelebihan berat badan.

Separuh dari peserta penelitian diminta untuk makan kulit dan daging dari 6-8 kentang ungu kecil saat makan siang dan makan malam selama 4 minggu. Sedangkan peserta yang lain tidak menambahkan kentang ungu dalam diet sehari-hari.

Dibandingkan dengan mereka yang pergi kentang bebas, Para peserta penelitian yang memakan kentang ungu memiliki penurunan rata-rata lebih dari 4 persen pada tekanan diastolik dan penurunan lebih dari 3 persen pada tekanan sistolik.

Sekitar 14 dari 18 peserta penelitian memiliki tekanan darah tinggi dan hampir semuanya mengonsumsi obat untuk darah tinggi bahkan selama penelitian. Penurunan tekanan darah meskipun dalam angka yang kecil, dapat membantu mengurangi risiko untuk penyakit jantung.

"Kentang ungu adalah agen efektif untuk mengurangi tekanan darah dan menurunkan risiko penyakit jantung dan stroke pada orang dengan tekanan darah tinggi tanpa penambahan berat badan," kata peneliti seperti dilansir dari WebMD, Senin (6/2/2012).

Meskipun orang yang mengonsumsi kentang mengambil lebih banyak kalori dibandingkan dengan orang dewasa yang tidak mengonsumsi kentang, berat badan mereka tidak berubah. Di Korea, kentang berwarna ungu dianggap sebagai obat tradisional untuk menurunkan berat badan.

"Sayuran ungu memiliki banyak pigmen tanaman yang sama baiknya untuk kesehatan seperti buah-buahan ungu. Sayur dan buah yang berwarna ungu kaya akan antioksidan, seperti anthocyanin, karotenoid, dan asam fenolik, yang dapat mengurangi peradangan kronis yang terkait dengan penyakit jantung dan stroke," kata peneliti.

Kentang berpigmen juga memiliki jumlah tinggi asam klorogenat. Asam klorogenat merupakan zat yang menunjukkan dapat untuk mengurangi tekanan darah tinggi dalam penelitian terhadap hewan.

Mengonsumsi kentang ungu bersama dengan kulitnya adalah salah satu cara terbaik untuk mendapatkan antioksidan yang paling efektif. Orang Amerika rata-rata makan sekitar porsi sedang kentang sehari.

Kentang ungu adalah sumber vitamin C dan kalium, dan jika mengonsumsinya beserta kulitnya, maka akan dapat menambahkan lebih banyak serat dalam diet sehari-hari.

Para peneliti tidak tahu apakah kentang putih, yang memiliki lebih sedikit pigmen tanaman dan antioksidan, akan memiliki efek menguntungkan yang sama dengan kentang ungu. Hasil penelitian tersebut telah dipublikasikan dalam Journal of Agricultural and Food Chemistry.

Sumber : detik.com

Rabu, 13 Juni 2012

Studi: Obesitas Pemicu Diabetes



Memiliki bobot ideal bukan sekadar persoalan estetika, tapi pencegahan penyakit kronis.

SABTU, 27 AGUSTUS 2011, 13:28 WIB
Pipiet Tri Noorastuti
VIVAnews - Memiliki berat tubuh ideal bukan sekadar persoalan estetika. Para ilmuwan menemukan alasan mengapa mereka yang gemuk atau menderita obesitas rentan terserang gangguan kesehatan kronis seperti penyakit jantung dan diabetes.

Mereka melakukan penelitian dengan melihat secara spesifik kemungkinan sindroma metabolisme pada orang gemuk. Sindroma ini umumnya ditandai gejala peningkatan tekanan darah, naiknya gula darah, kelebihan lemak pada perut dan tingkat kolesterol di luar batas.

Dalam penelitian itu, mereka menemukan sel lemak melepaskan indikator yang berhubungan dengan kekebalan insulin serta peradangan kronis pada jantung dan pembuluh darah. “Beberapa lemak dapat berbahaya bagi tubuh,” kata Ishwarlal Jialal, profesor bidang endikronologi, diabetes, dan metabolisme UC Davis, seperti dikutipTimes of India.

Jialal membuktikan sindroma metabolisme berisiko tinggi pada orang yang menderita obesitas. Namun, ia mengatakan bahwa sindroma metabolik ini dapat disembuhkan melalui diet dan olahraga untuk menurunkan berat badan hingga batas ideal.

Jialal melakukan penelitian ini selama 34 tahun. Persoalan utama adalah pasien terlambat melakukan melakukan pencegahan. “Sekali orang terkena penyakit kardiovaskular atau diabetes, itu sudah terlambat dan biaya pengobatannya sangat mahal,” kata Jialal seperti yang tertulis dalam jurnal Clinical Endocrinology and Metabolism.
 
Mereka yang tergolong obesitas memiliki indeks massa tubuh (IMT) lebih dari 30. Sedangkan orang gemuk dibatasi pada skala 25-30, dan tubuh ideal sebesar 18,5-24,9.

IMT dihitung dari berat badan (kilogram) dibagi tinggi badan kuadrat (meter persegi). Sebagai gambaran, seseorang berbobot 70 kilogram dan tinggi badan 160 sentimeter memiliki IMT 27,4 kilogram per meter persegi. Angka yang memposisikan dia dalam kategori gemuk itu muncul setelah membagi bilangan 70 kilogram dengan 2,56 meter persegi (1,6 meter x 1,6 meter). (Rudy Bun
)

Kamis, 07 Juni 2012

Tidur Minimal 9 Jam/Hari Bisa Melawan Gen Penyebab Gemuk

Jakarta, Bagi orang-orang yang memang memiliki gen penyebab gemuk, diet dan olahraga saja kadang-kadang tidak sukses mengontrol berat badan. Dibutuhkan juga istirahat yang cukup, bukan hanya 7 jam tiap hari tetapi minimal 9 jam tiap hari.

Sebuah penelitian yang dilakukan terhadap 1.088 pasangan anak kembar menunjukkan, makin lama waktu yang dihabiskan untuk tidur maka pengaruh faktor genetik terhadap berat badan makin berkurang. Artinya meski punya gen gemuk, badan tetap bisa kurus asal tidurnya cukup.

Namun waktu tidur yang dikatakan cukup agak berbeda dari yang disarankan selama ini yaitu 7 -8 jam dalam sehari. Menurut penelitian ini, waktu tidur yang dianggap cukup untuk melawan pengaruh gen penyebab gemuk adalah minimal 9 jam dalam sehari.

Penelitian ini dilakukan oleh para ahli dari University of Washington, dengan melibatkan 1.088 pasangan anak kembar yang dianggap memiliki kemiripan tinggi secara genetik. Hasil penelitian ini telah dipublikasikan dalam jurnal Sleep yang terbit baru-baru ini.

Sebelumnya, berbagai penelitian telah membuktikan bahwa beberapa gen dalam tubuh manusia sangat mempengaruhi berat badan. Gen-gen tersebut mempengaruhi metabolisme energi, proses penimbunan dan pembakaran lemak menjadi energi serta pengaturan sinyal rasa lapar.

"Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa waktu tidur yang pendek membuat pengaruh lingkungan makin kuat terhadap ekspresi gen-gen yang berhubungan dengan obesitas," kata Dr Nathaniel Watson yang memimpin penelitian itu, seperti dikutip dari Telegraph, Selasa (1/5/2012).

Meski diakui bahwa hasil penelitian ini masih terlalu awal untuk disimpulkan, Dr Watson meyakini bahwa istirahat yang cukup akan sangat mempengaruhi keberhasilan diet.

Makin banyak tidur, pengaruh gen-gen penyebab gemuk makin berkurang sehingga diet menjadi lebih efektif.






Sumber : http://health.detik.com
Selasa, 01/05/2012 18:27 WIB 
AN Uyung Pramudiarja - detikHealth

Selasa, 05 Juni 2012

Obesity Shrinks Organ Donor Pool

Cenefom PVA mata tombak manufaktur Air Foam PVA THT produk <untuk Otology, Sinus, endonasal operasi 
www.cenefom.com
Menurut sebuah penelitian di Amerika yang dipresentasikan pada 2012 National Kidney Foundation Pertemuan Musim Semi Klinis, mayoritas donor ginjal potensial mengalami obesitas, membuat donasi organ sulit bagi mereka. 

Mala Sachdeva, MD, dari Hofstra North Shore-LIJ Fakultas Kedokteran dan Feinstein Institute for Penelitian Medis, dan penulis utama studi tersebut berkomentar " Kita semua tahu bahwa prevalensi obesitas meningkat secara global dan bahwa tidak ada penelitian yang cukup mempelajari prevalensi obesitas di kalangan penduduk donor potensial. Selain itu, belum ada yang meneliti bagaimana sulitnya untuk menurunkan berat badan dan kemudian menyumbang. " Di Amerika Serikat saja ada sekitar 92.000 orang menunggu giliran untuk transplantasi ginjal. donor potensial dengan indeks massa tubuh (BMI) lebih dari 35 dianggap gemuk dan tidak memenuhi syarat untuk menyumbangkan organ . studi awal Sachdeva yang dilakukan pada donor ginjal potensial pada Shore-LIJ System Center Utara Kesehatan Transplantasi di Long Island, NY Mayoritas orang-orang ini. (82%) adalah obesitas atau kelebihan berat badan dan karenanya, dikeluarkan dari menyumbangkan organ tubuh mereka Hanya tiga di antara donor potensial dikecualikan itu. berhasil mengurangi berat badan ke nilai yang akan memungkinkan mereka untuk donasi. Studi ini mendukung fakta bahwa obesitas memang menimbulkan keprihatinan yang mendalam dan strategi baru harus dikembangkan untuk melestarikan kolam donor. Transplantasi pusat perlu datang dengan lebih ketat pengurangan berat badan program , dengan efektif tindak lanjut dan mengintip struktur dukungan untuk memastikan positif penurunan berat badan hasil dan kesehatan jangka panjang. Sebagai transplantasi ginjal daftar tunggu tumbuh, ada kebutuhan besar untuk donor hidup , "kata Lynda Szczech, MD, National Kidney Foundation presiden." Studi ini menunjukkan dampak dari obesitas sebagai penghalang untuk sumbangan. Sebagai sebuah komunitas, kita perlu mengidentifikasi cara untuk mengatasi penghalang ini sehingga kita dapat meningkatkan kolam donor kami dan mengakhiri menunggu untuk transplantasi. " Organ Donasi Organ sumbangan adalah suatu proses dimana jaringan sehat atau organ dari satu orang yang ditransplantasikan ke lain individu. Sebagian besar organ yang disumbangkan setelah seseorang meninggal Tetapi beberapa organ, seperti ginjal, dapat disumbangkan ketika seseorang masih hidup.. Organ / jaringan yang dapat disumbangkan termasuk ginjal, hati, jantung, pankreas, usus, paru-paru, kulit, tulang, sumsum tulang dan kornea. Orang-orang dari segala usia di atas 18 dapat menyumbangkan organ dengan menandatangani kartu donor. Keluarga donor harus dibuat sadar akan keinginan individu. Organ dari satu orang mati dapat menyimpan sebanyak 8 kehidupan ! Tingkat keberhasilan untuk donasi organ adalah antara 80 dan 90% Ada jutaan orang yang mati sambil menunggu organ atau jaringan yang menyelamatkan jiwa. Untuk menjadi donor organ adalah untuk menjadi penyelamat!. Donasi Organ-Save hidup! Sumber- Medindia

Read more: Obesity Shrinks Organ Donor Pool | MedIndia http://www.medindia.net/news/healthwatch/obesity-shrinks-organ-donor-pool-102038-1.htm#ixzz1wvyjwRxa

Senin, 04 Juni 2012

Obesitas, Anak Rawan Penyakit


KOMPAS.com — Anak-anak yang kegemukan atau memiliki berat badan yang sangat berlebih (obesitas) terancam berbagai penyakit kronis, seperti diabetes melitus, penyakit kardiovaskular, henti napas saat tidur, osteoartritis, hingga gangguan pubertas pada anak perempuan.
Saat ini, diperkirakan ada 300 juta orang di dunia yang menderita obesitas. Jumlah ini setara dengan jumlah penduduk yang kelaparan. Di Amerika Serikat, menurut data tahun 2003, anak yang obesitas sudah mencapai 15 persen penduduk. Sementara itu, di Tanah Air, menurut Riskesdas 2010 terdapat 14 persen anak usia 0-5 tahun yang kegemukan.
"Baik obesitas maupun kegemukan bukan masalah estetika atau penampilan. Namun, ini adalah penyakit. Meski tidak ada data secara nasional, tetapi obesitas sudah menjadi pandemi di Indonesia," kata dr Aman Bhakti Pulingan, SpA, ahli endokrinologi anak dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Ia menjelaskan, obesitas kini sudah dikategorikan sebagai penyakit oleh para ahli dari seluruh dunia. "Kegemukan juga menjadi masalah ekonomi karena berkaitan dengan biaya kesehatan negara," katanya dalam acara konferensi pers Cermati Asupan Gula Berlebih pada Susu Anak, Rabu (15/6/2011) di Jakarta.
Orangtua yang memiliki anak obesitas disarankan untuk mulai mengambil langkah menurunkan berat badan anak agar anak terhindar dari risiko penyakit.
"Kembalikan anak pada pola hidup sehat. Asupan kalorinya tidak boleh lebih dari 1.600 per hari, perbanyak aktivitas fisik, dan cermati komponen makannya," imbuhnya.
Penelitian menunjukkan, 1 dari 6 remaja gemuk menderita pra-diabetes, suatu keadaan ketika toleransi terhadap glukosa terganggu. "Jika diintervensi dengan pola makan yang benar selama 20 bulan, maka anak bisa terhindar dari diabetes. Ingat! Sekali diabetes, seumur hidup anak akan diabetes," katanya.
Ia juga menganjurkan agar anak yang kegemukan atau orangtuanya menderita diabetes sebaiknya melakukan pemeriksaan gula darah. "Anak usia 10 tahun sudah disarankan untuk melakukan check up. Namun jika punya faktor risiko, sebaiknya jangan menunda pemeriksaan sampai anak remaja," katanya

Orang Gemuk Pasti Tak Sehat?



shutterstock

Kompas.com - Berat badan terlalu gemuk alias obesitas selama ini memang identik dengan berbagai penyakit. Namun, tidak semua orang yang kegemukan pasti tidak sehat. Sebuah studi terbaru menunjukkan orang obesitas juga bisa digolongkan ke dalam orang sehat.
Studi yang dilakukan terhadap 8.000 orang Amerika ini menemukan orang yang obesitas (indeks massa tubuhnya di atas 30) juga bisa bebas dari masalah kesehatan.
Indeks massa tubuh (IMT) ditentukan dengan cara menghitung perbandingan antara berat badan dan tinggi badan. Di Indonesia, nilai IMT di atas 25 sudah digolongkan ke dalam obesitas tingkat 1. Meski begitu para ahli mengatakan bahwa nilai IMT tidak selalu berkorelasi dengan kesehatan.
Lantas, bagaimana caranya bisa kegemukan namun tetap sehat? Faktor genetik, seperti halnya gaya hidup, termasuk pola makan dan level kebugaran, berperan penting dalam beresiko tidaknya seseorang yang kegemukan menderita penyakit kronik akibat kelebihan berat badannya.
Dengan kata lain, jangan hanya menilai sehat tidaknya seseorang dari berat badannya. Lihatlah pula seluruh kondisi tubuh dan gaya hidupnya. Gaya hidup sehat, berapa pun berat badan Anda, adalah cara terbaik untuk mencegah penyakit.

Obesitas Ancam Remaja


Jakarta, Kompas - Kelebihan berat badan dan obesitas mengancam generasi muda Indonesia. Kondisi yang salah satunya disebabkan kelebihan gizi tersebut, justru membawa kerentanan berbagai penyakit tak menular yang membahayakan.
Remaja juga terbelit masalah kelebihan berat badan. Mengutip riset kesehatan dasar Kementerian Kesehatan tahun 2007 dan 2010, remaja perempuan gemuk meningkat dari 23,8 persen menjadi 26,9 persen. Remaja laki-laki gemuk meningkat dari 13,9 persen menjadi 16,6 persen.
”Dari sepuluh remaja putri, tiga di antaranya gemuk. Dari sepuluh remaja putra, dua di antaranya gemuk,” kata Guru Besar Ilmu Gizi Fakultas Ekologi Manusia Institut Pertanian Bogor Hardinsyah pada Seminar Nasional Gizi di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia Depok, Sabtu (19/11).
Sepertiga anak obesitas, lanjut Hardinsyah, akan menjadi obesitas saat dewasa. Sementara separuh anak sekolah yang obesitas akan menjadi obesitas saat dewasa.
”Risiko obesitas saat dewasa lebih besar pada anak yang sangat obesitas dan anak berusia lebih tua (3-10 tahun),” kata dia.
Kepala Subdirektorat Bina Kewaspadaan Gizi Kementerian Kesehatan Erman Sumarna menyatakan, kasus kelebihan berat badan (overweight—level di atas obesitas) terus meningkat. Perbandingan hasil riset kesehatan dasar pada anak usia di bawah lima tahun menunjukkan, kelebihan berat badan tercatat 12,2 persen pada 2007 dan naik menjadi 14 persen pada 2010.
Selain pola makan dan kurang aktivitas fisik, kelebihan berat badan terjadi karena kebijakan masa lalu yang memukul rata peningkatan gizi anak tanpa melihat kondisi spesifiknya.
Penyakit degeneratif
Kelebihan berat badan sangat erat hubungannya dengan berbagai penyakit degeneratif yang membahayakan, antara lain, diabetes, jantung, hipertensi, tekanan darah, dan tulang.
Sejauh ini olahraga masih dinilai solusi mencegah kegemukan. Gaya hidup sehat, seperti menjauhi rokok dan minuman keras juga positif.
Selain olahraga dan memilih makanan sehat, Hardinsyah memberi kiat-kiat mengurangi berat badan dengan minum air putih 500 mililiter sebelum makan utama. Banyak minum bisa sangat membantu mengurangi berat badan.
Cara tersebut memicu metabolisme lemak. Dengan mengurangi berat badan, risiko berbagai penyakit bisa dikurangi.
Masalah global
Isu gizi telah menjadi permasalahan banyak negara. Selain Amerika Serikat, banyak penduduk di China yang mengalami masalah kelebihan berat badan.
Sementara di negara lain, seperti Malaysia dan Timor Leste, menurut Erman, dihadapkan pada masalah postur tubuh kurus-pendek. Di Laos dan Kamboja, dilanda masalah kekurangan vitamin A. Thailand didominan masalah kekurangan zat besi.
Di Indonesia? ”Semua masalah gizi itu ada, seperti anemia, vitamin A, overweight, iodium, dan zat besi. Ini menunjukkan kita punya permasalahan serius,” ucap Erman.
Dampak semua kondisi itu bisa ditemui di kalangan anak-anak usia sekolah dasar dan menengah.
Sri Megawati, Direktur Human Resources and Corporate Affairs Frisian Flag menyatakan, penelitian mikronutrien menyeluruh masih kurang dilakukan di Indonesia. Selama produknya berada di Indonesia sekitar 90 tahun, ukuran kandungan gizi susu di dalamnya masih didasarkan riset global. ”Belum ada yang spesifik untuk kondisi masyarakat Indonesia,” ucap dia.
Sejak Januari 2011, bersama Persatuan Ahli Gizi Indonesia (Persagi), dilakukan penelitian terhadap 7.200 anak usia 23 bulan hingga 12 tahun di 48 kabupaten/kota dan 25 provinsi yang dipilih acak. Peneliti mengecek darah, memberi tes psikologis, dan survei pola hidup/konsumsi masyarakat. Diperkirakan selesai akhir Desember 2011.

Tidur Larut, Anak Lebih Berisiko Obesitas


KOMPAS.com - Kelebihan berat badan atau obesitas kini sudah menjadi masalah umum tidak hanya orang dewasa, tetapi juga anak-anak. Menjalankan pola diet sehat seimbang yang diimbangi olahraga teratur merupakan cara terbaik untuk mencegah kegemukan.

Ada cara yang lebih mudah dan sederhana untuk menjaga berat badan anak Anda tetap ideal. Sebuah riset terbaru mengindikasikan bahwa waktu istirahat yang lebih awal dan durasi tidur yang cukup dapat menekan risiko anak mengalami kegemukan. Anak-anak yang terbiasa tidur lebih awal dan bangun lebih awal akan memiliki tubuh lebih ramping dan aktif secara fisik ketimbang anak yang terbiasa tidur larut malam.

Dalam risetnya, para peneliti dari University of South Australia mencatat waktu tidur dan waktu bangun dari 2.200 peserta, berusia 9-6 tahun. Peserta yang memiliki waktu tidur lebih baik, umumnya tidur lebih awal (pukul 09:20) dan bangun lebih awal (pukul 07:00). Sedangkan mereka yang memiliki jam tidur buruk, tidur (pukul 22:40) dan bangun (pukul 08:20). Kemudian peneliti membandingkan bobot para peserta.

Penelitian yang dipublikasikan dalam journal Sleep itu menunjukkan bahwa anak-anak yang tidur larut malam dan bangun terlambat berada pada risiko 1,5 kali lebih besar menjadi gemuk daripada mereka yang tidur dan bangun lebih awal. Bahkan, anak-anak yang tidur larut malam hampir dua kali lebih mungkin tidak aktif secara fisik dan 2,9 kali lebih mungkin untuk duduk di depan TV, komputer atau bermain video game selama berjam-jam lebih dari batas yang direkomendasikan.

"Dalam beberapa tahun terakhir para ilmuwan menyadari bahwa anak-anak yang kurang tidur cenderung memiliki kondisi kesehatan yang buruk," kata Dr Carol Maher peneliti utama.

"Anak yang tidur larut lalu bangun kesiangan, dan anak-anak yang tidur lebih awal dan bangun lebih pagi secara virtual memiliki durasi istirahat yang sama secara total. Para ilmuwan menemukan, dalam  beberapa tahun terakhir anak-anak yang kurang tidur cenderung melakukan hal-hal yang merugikan kesehatan, termasuk yang berisiko membuat tubuh menjadi kegemukan dan obes.  Tsudi ini mengindikasikan bahwa waktu tidur juga bahkan lebih penting," tambah Maher.
Di pagi hari, kata Maher, lebih kondusif untuk anak-anak dan remaja dibandingkan malam hari, di mana tersedia program  TV yang menarik dan kesempatan melakukan aktivitas jejaring sosial.  Hubungan antara waktu serta ketersediaan aktivitas mungkin dapat menjelaskan kenapa perilaku yang kurang aktif (sedentari) terkait dengan waktu tidur yang larut, tandasnya.

Cegah Kegemukan, Perhatikan Waktu Makan

Kompas.com - Melakukan diet ketat dengan cara mengurangi waktu makan ternyata bukan cara yang ideal untuk mengurangi berat badan. Menurut penelitian, makan di waktu yang tidak tepat menjadi salah satu faktor kegemukan.

Tubuh kita memiliki siklus metabolik atau lazim disebut jam biologis.  "Setiap organ memiliki jam biologisnya sendiri," kata Satchidananda Panda, dari Salk Institute for Biological Studies, California, Amerika Serikat. 

Itu berarti, ada waktu-waktu tertentu di mana organ tubuh, misalnya liver, otot, atau pencernaan, berada dalam puncak kesibukan dan ada waktu lain di mana mereka kurang sibuk atau "tertidur". 

Siklus metabolik tersebut, menurut Panda, sangat penting untuk proses tertentu, misalnya memecah kolesterol. Karenanya, seharusnya kita makan di saat proses tersebut terjadi dan berhenti makan ketika organ-organ beristirahat. 

Ia mengatakan, pola makan manusia saat ini cenderung telah berubah seiring dengan makin mudahnya akses terhadap makanan. Selain itu, manusia modern juga cenderung terjaga sampai larut malam sehingga mereka makan lebih sering.

Hal tersebut sudah dibuktikan Panda dalam penelitian terhadap mencit di laboratorium selama 18 minggu.  Kelompok mencit yang diberi makanan tinggi lemak dan diperbolehkan makan setiap waktu, sudah jelas akan mengalami kegemukan. Akan tetapi mencit yang dibatasi hanya boleh mengasup makanan dalam 8 jam setiap harinya, ternyata mengasup kalori yang sama dengan mencit yang bebas makan tetapi berat badannya lebih sedikit.

Selain itu, mencit yang dibatasi jam makannya terlindungi dari efek pola makan tinggi lemak. Siklus metabolik mereka juga membaik dibandingkan dengan mencit yang makan sebebasnya. Keuntungan lain adalah berat badan mereka turun 28 persen dibandingkan dengan rekannya. 

"Riset lebih dalam memang diperlukan untuk mengetahui apakah hal yang sama juga terjadi pada manusia. Tetapi studi mengenai pencegahan obesitas seharusnya tidak cuma meneliti apa yang dimakan tapi juga kapan waktu terbaik untuk makan," kata Panda.

Makin Gemuk Makin Sering Sakit?

Apabila Anda ingin hidup sehat dan terbebas dari berbagai rasa nyeri, awalilah dengan memiliki berat badan yang normal. Dalam studi terhadap lebih dari satu juta orang, diketahui kaitan antara kegemukan dengan nyeri.

Hasil penelitian yang dimuat dalam jurnal Obesity itu menunjukkan orang yang paling gemuk adalah kelompok orang yang palign sering mengeluhkan nyeri.

"Hasil studi ini menguatkan studi awal mengenai kaitan antara obesitas dengan nyeri," kata ketua peneliti Arthur Stone. 

 Dalam studi yang dilaporkan tahun 2010 di Journal of Pain dan melibatkan 3.500 saudara kembar, diungkapkan bahwa orang yang gemuk kerap menderita nyeri punggung, migren, fibromyalgia, nyeri perut, dan nyeri persendian. 

Para pakar mengungkapkan nyeri tersebut bukan hanya ditimbulkan dari tekanan mekanikal pada sendi karena bobot tubuh yang berat, tapi juga disebabkan faktor genetik dan depresi.

Dalam studi yang dilakukan Stone dan timnya, ia menganalisa data survei telepon yang dikumpulkan antara tahun 2008 dan 2010 yang mengindikasikan tinggi dan berat badan responden. Para responden juga menjawab pertanyaan seputar rasa nyeri dan frekuensinya.

Bila dibandingkan dengan orang yang memiliki BMI (body mass index) rendah dan normal, mereka yang tergolong kegemukan merasakan nyeri 20 persen lebih sering setiap harinya. Sementara itu orang yang masuk dalam kelompok obesitas tipe 1 (BMI 30-35), frekuensi nyerinya 68 persen lebih tinggi, dan lebih tinggi lagi pada kelompok obesitas 2 dan 3. 

"Orang yang obesitas memiliki kelebihan lemak yang memicu proses fisiologis dan inflamasi, yang sering dikaitkan dengan nyeri. Penjelasan lain adalah karena depresi yang juga bisa memicu rasa nyeri," katanya.

Faktor lingkungan dan psikososial juga ditengarai ikut berperan. Orang yang menderita artritis atau rematik tentu memiliki keterbatasan gerak, sehingga jika mereka kegemukan lebih sulit bagi mereka untuk menurunkan berat badannya.

SPONSORED BY
Komisi Gratis | Bisnis Online Tanpa Modal
KLIK GAMBAR ATAU DI SINI UNTUK BERGABUNG

GRATIS PLUS HADIAH

Hosting Gratis