website trackingwebsite tracking

PTC..PELUANG DAPAT UANG HANYA DENGAN MODAL KLIK

Cara Instan Untuk Verifikasi PayPal !
Tampilkan postingan dengan label RADIASI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label RADIASI. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 16 Juni 2012

KRITERIA BUAH Yang Sehat Untuk Sarapan

JAKARTA–Sarapan pagi merupakan sinyal tubuh untuk mengaktifkan proses metabolisme dari keadaan istirahat menjadi keadaan aktif. Maka sarapan sebaiknya mengandung protein, karbohidrat dan lemak yang cukup. Sarapan buah yang sehat dapat memberikan asupan serat, fitonutrien penting, antioksidan dan juga karbohidrat.
Jangan menggunakan sembarang buah untuk sarapan. Buah yang dikonsumsi untuk sarapan sebaiknya memenuhi kriteria seperti yang dilansir Lifestrong, Selasa (29/5/2012) di bawah ini:
1. Kaya Kandungan Anthocyanin
Buah-buahan yang sangat berwarna seperti blueberry, blackberry, raspberry, ceri, cranberry, anggur merah dan stroberi kaya akan pigmen tanaman yang disebut anthocyanin. Penelitian tahun 1997 menganalisis sifat antioksidan kuat dari 14 anthocyanin yang ditemukan dalam buah.
Temuan menunjukkan bahwa anthocyanin dapat memperbaiki gangguan penglihatan, penyakit pembuluh darah dan melindungi tubuh dari kerusakan akibat bahan kimia dan radiasi. Penelitian ini juga menemukan bahwa anthocyanin dapat berfungsi sebagai anti radang dan menurunkan risiko kanker.
2. Kaya Kandungan Karotenoid
Karotenoid adalah jenis pigmen lain pada tanaman yang penting bagi manusia. Karotenoid terkandung dalam buah-buahan berwarna kuning, oranye dan merah seperti jeruk, jeruk keprok, jeruk, melon, semangka, aprikot, peach, tomat dan mangga. Ada lebih dari 600 jenis karotenoid, tapi yang paling sering ditemukan dalam makanan adalah alpha-carotene, beta-karoten, beta-cryptoxanthin, lycopene, lutein dan zeaxanthin.
Karotenoid melindungi tubuh dari gangguan penglihatan seperti katarak dan degenerasi makular, juga dapat meningkatkan kesehatan paru-paru dan menurunkan resiko kanker atau penyakit jantung dan pembuluh darah.
3. Kaya Serat
Serat penting agar sistem pencernaan dapat bekerja optimal. Serat juga membantu mencegah diabetes serta penyakit jantung dan pembuluh darah. Wanita sebaiknya mengkonsumsi 21 – 25 gram serat per hari dan pria 30 – 38 gram sehari. Contoh buah kaya serat antara lain raspberry, blackberry, alpukat, pir, apel, blueberry, kurma, stroberi, pisang, plum dan kismis.
4. Rendah Indeks Glikemik
Buah dengan kandungan gula yang tinggi dapat menyebabkan lonjakan glukosa darah dan insulin sehingga memicu diabetes. Makanlah buah dengan indeks glikemik yang rendah, yaitu yang berada pada peringkat 55 ke bawah seperti ceri, jeruk, aprikot kering, apel, pir, plum, persik, jeruk dan anggur.
Buah kiwi dan pisang berada pada peringkat paling mepet dalam daftar aman, yaitu menempati peringkat indeks glisemik 53 dan 54. Buah dengan kandungan indeks glikemik sedang contohnya mangga, aprikot segar, kismis dan nanas. Semangka memiliki indeks glikemik tinggi, yaitu peringkat 72.
http://www.solopos.com

Rabu, 06 Juni 2012

Penelitian Terbaru, Handphone Bukanlah Pemicu Kanker Otak


Penelitian Terbaru, Handphone Bukanlah Pemicu Kanker OtakTRIBUNNEWS.COM, KOPENHAGEN – Penelitian terakhir tentang penggunaan telepon genggam menunjukkan tidak ada kaitan dengan peningkatan risiko kanker otak. Risiko penggunaan telepon genggam itu merupakan debat dalam 20 tahun terakhir.
Penelitian terakhir yang dipimpin of Institut Epidemiologi Kanker di Denmark mendata 350.000 orang yang menggunakan telepon seluler dalam 18 tahun terakhir. Para peneliti menyimpulkan risiko para pengguna sama saja dengan orang lain yang tinggak memakan telepon genggam untuk kemungkinan terkena kanker otak.
Temuan yang diterbitkan di jurnal medis Inggris itu muncul setelah serangkaian penelitian yang sama dengan kesimpulan serupa. Reaksi atas temuan ini beragam.
Sejumlah pakar mengatakan hasil penelitian ini meyakinkan kembali orang, namun pihak lain mempertanyakan cara penelitian dilakukan. Mereka tidak melibatkan pengguna telepon untuk bisnis, yang sangat bergantung pada telepon genggam.
Hazel Nunn, kepala informasi kesehatan di Cancer Research, Inggris, mengatakan, "Hasil ini adalah bukti terkuat selama ini bahwa menggunakan telepon genggam tidak meningkatkan risiko kanker otak atau mengganggu sistem syaraf orang dewasa."
Profesor Anders Ahlbom, dari Insitut Karolinska Swedia, memuji penelitian ini dan menyatakan temuan para ilmuwan itu meyakinkan. Sementara Profesor David Spiegelhalter, pakar risiko kesehatan dari Universitas Cambridge, Inggris mengatakan, "Penggunaan telepon genggam mulai meningkat tahun 1995 dan perbandingan ini mulai dari masa awal."
"Namun tidak adanya bukti risiko tumor otak tetap merupakan bukti yang sangat penting," tambah Spiegelhalter, seperti dikutip dari BBC.

Minggu, 27 Mei 2012

Radiasi Handphone tak ganggu kesehatan

Banyak berita baik di media cetak, elektronik maupun digital yang menganjurkan pemakaian telepon genggam agar tidak terlalu sering lantaran akibat-akibat yang akan ditimbulkannya (baca= tips mudah amankan bahaya radiasi ponsel)

Banyak penelitian yang mengungkapkan dampak buruk dari pemakaian handphone terhadap tubuh manusia. Namun sebuah penelitian terbaru yang dilakukan Lembaga Perlindungan Kesehatan Inggris menyatakan belum ada bukti konkrit antara sinyar elektromagnetik dengan kesehatan.

bahaya ponsel, radiasi handphone, tips aman dari radiasi sinyal, penjelasan tentang bahaya gelombang sinyal hpLaporan tersebut merupakan update dari tinjauan oleh Advisory Group on Non-ionising Radiation's (AGNIR) pada 2003 lalu. Lembaga perlindungan kesehatan Inggris mempertimbangkan bukti ilmiah tentang paparan medan elektromagnetik frekuensi radio yang diproduksi oleh teknologi handphone dan perangkat nirkabel lainnya, seperti WiFi, serta televisi dan pemancar radio.

Laporan ini menjelaskan bahwa setelah penelitian intensif, tidak ada bukti yang meyakinkan bahwa frekuensi radio berefek pada kesehatan orang dewasa atau anak-anak.Profesor Anthony Swerdlow, Ketua lembaga perlindungan kesehatan, menyimpulkan: "Masih ada keterbatasan dalam penelitian-penelitian yang dilakukan. Ini menghalangi keputusan akan efek frekuensi radio secara definitif, namun bukti secara keseluruhan tidak menunjukkan efek merugikan pada kesehatan manusia dari paparan medan frekuensi radio asal beradi di bawah tingkat pedoman yang diterima secara internasional. " ungkap Swerdlow. 
Sumber : http://www.teknokers.com/

Ponsel Tidak Meningkatkan Risiko Kanker Otak

Ponsel Tidak Meningkatkan Risiko Kanker Otak


S
ekarang kita sudah bisa lebih tenang lagi untuk melakukan panggilan telepon menggunakan ponsel. Karena sebuah penelitian di Denmark telah mengungkapkan bahwa ponsel tidak meningkatkan risiko kanker otak.

Salah satu penelitian terbesar dan terlama ini menemukan bahwa tidak ada tumor otak pada orang-orang yang menggunakan ponsel selama lebih dari 17 tahun. Dikatakan bahwa kalau pun memang ada, maka risiko tersebut sangatlah kecil.
Penelitian-penelitian sebelumnya memang banyak yang menyatakan hal yang sebaliknya. Bahkan WHO pun sampai menempatkan ponsel sebagai benda yang mungkin bersifat karsinogenik alias dapat menyebabkan kanker.
Namun penelitian terbaru yang diterbitkan di BMJ edisi 20 Oktober ini tampaknya telah memperlihatkan fakta lain. Peneliti telah mengumpulkan data dari sekitar 360.000 orang di Denmark yang menggunakan ponsel dan tidak menemukan adanya peningkatan insidensi tumor pada mereka. Peneliti memang sempat menemukan adanya sedikit peningkatan risiko glioma (sejenis tumor otak ganas) pada laki-laki, namun risiko ini menghilang dengan sendirinya setelah lima tahun.
Walaupun sudah ada fakta baru ini, ada baiknya kita tetap mengikuti anjuran WHO untuk membatasi penggunaan ponsel langsung ke telinga untuk menelepon, melainkan dengan menggunakan earphone. Paling tidak kita ikuti anjuran ini sampai WHO mengubah pandangannya tentang ponsel.
Health Day: Cell Phones Don't Raise Brain Cancer Risk, Study Says




Perhatian: 
Dibebaskan menyalin sebagian ataupun keseluruhan isi blog ini demi kepentingan pendidikan kesehatan bagi masyarakat umum dengan ketentuan mencantumkan alamat link blog ini sebagai sumbernya.





Sumber : 
http://gigisehatbadansehat.blogspot.com/


Penelitian Terbaru Ungkap Bahaya Radiasi Ponsel


Penelitian Terbaru Ungkap Bahaya Radiasi Ponsel


TEMPO InteraktifJakarta: Tengoklah iklan tarif telepon seluler dari berbagai perusahaan. Tawaran mereka benar-benar menggiurkan: gratis bicara sepanjang hari, bebas menelepon semaumu atau ngobrol sampai dower, dan banyak iming-iming lainnya. Gara-gara tarif murah, orang dengan mudah berhalo-halo tanpa batas. Pulsa mungkin saja "aman", namun kesehatan bisa terancam.
Pembantu rumah tangga atau buruh bangunan pun mengantongi telepon. Di Indonesia, menurut Budi Putra, pengamat dan pengelola blog teknologi komunikasi, pengguna telepon seluler kini mencapai 115 juta orang, sekitar separuh dari jumlah penduduk Indonesia. Menurut data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), pengguna handphone di seluruh jagat mencapai tiga miliar orang. Dua kali lipat dibandingkan data 2005.

Di balik semua kemudahan berkomunikasi, telepon genggam memunculkan kekhawatiran, terutama bagi kesehatan. Pemicunya, penelitian Vini Gautam Khurana, ahli bedah saraf dari Universitas Nasional Australia, Canberra, yang dipublikasikan pada akhir Maret lalu.

Selama 15 bulan, Khurana menelaah lebih dari 100 penelitian yang telah dilakukan berbagai lembaga, tentang keselamatan penggunaan telepon seluler. Hasil penelitian itulah yang menimbulkan gelombang reaksi besar hingga sekarang, karena Khurana menyatakan penggunaan telepon seluler akan memicu epidemi tumor otak, yang akan membunuh lebih banyak orang ketimbang rokok. Menurut riset profesor peraih 14 penghargaan medis ini, penggunaan telepon seluler--langsung dari handset--lebih dari 10 tahun akan menggandakan risiko terkena kanker otak.

Tidak hanya Khurana yang punya perhatian besar terhadap dampak buruk penggunaan telepon seluler, lembaga penelitian bergengsi lain juga demikian. Pada Juni lalu Mobile Telecommunications and Health Research di Inggris, bekerja sama dengan Imperial College, London, mengadakan penelitian besar-besaran tentang apakah telepon genggam bisa memicu gejala kanker otak, alzheimer, dan parkinson. Penelitian yang didanai pemerintah Inggris dan sejumlah perusahaan seluler ini akan "membuntuti" 90 ribu orang responden selama setahun. Lalu mengevaluasi dampak kesehatannya.

Menjawab kekhawatiran dunia akan bahaya telepon genggam, Organisasi Kesehatan Dunia juga telah meluncurkan Health Evidence Network. Ini merupakan layanan informasi Organisasi Kesehatan Dunia Kantor Regional Eropa, sebagai referensi bagi pengambil keputusan di bidang medis.

Ternyata, menurut organisasi kesehatan di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa ini, bukti bahwa radiasi telepon seluler dapat memicu tumor otak, tumor pada sel saraf pendengaran, tumor kelenjar saliva, leukemia dan limfoma, masih "lemah dan tak bisa disimpulkan". Alasannya, orang hanya memakai telepon dalam waktu terbatas--bukan sepanjang hari secara terus-menerus.

Meski begitu, lembar fakta Organisasi Kesehatan Dunia menyebutkan, tidak ada bukti bukan berarti tidak ada efek. Harus ada penelitian lanjutan yang lebih spesifik untuk tiap-tiap kasus. Untuk itu, pada Oktober 2009, organisasi ini akan mengeluarkan rekomendasi resmi tentang aturan menggunakan telepon genggam, tentu saja berdasar penelitian yang lebih kredibel. Khurana sendiri menyarankan untuk membuat penelitian dampak penggunaan telepon seluler dalam jangka 10-15 tahun, agar menghasilkan "kajian ilmiah yang solid".

Belum adanya kepastian tentang tingkat bahaya penggunaan telepon seluler itulah yang menjadi masalah. Para dokter di Indonesia menyatakan, meski pemakaian telepon seluler meningkat belakangan ini, belum ada penelitian di Tanah Air tentang bahayanya bagi kesehatan. Menurut Silvia F. Lumempouw, dari berbagai kasus penyakit saraf yang ia tangani--termasuk alzheimer dan neuroma akustik--belum pernah ada yang terkait langsung dengan penggunaan telepon genggam. Spesialis saraf dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo dan Rumah Sakit Dharma Nugraha ini menyatakan, radiasi dari seluler sebetulnya tak terlalu berbahaya jika dibandingkan dengan sumber radiasi lain seperti rontgen atau CT-scan. Para pekerja medis yang setiap hari berurusan dengan radiasi pun aman, apalagi "cuma" telepon.

Silvia juga mengingatkan, sebetulnya kita juga dikelilingi radiasi dari televisi, radio, komputer, dan berbagai peranti lain. Karena itu, ia menyarankan, kita juga wajib mewaspadai gejala akibat penggunaan handphone yang berlebihan. "Teknologi kan diciptakan untuk memudahkan, bukan untuk membuat sakit," katanya.

Pengurus Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia (Perdossi) ini membandingkan telepon genggam dengan obat. Jika sebelum dipasarkan, obat harus sukses melalui serangkaian proses (dicoba di hewan, lalu di manusia, kemudian di orang sakit), alat-alat teknologi pun seharusnya begitu. "Mesti ada aturan dari sisi kesehatan, sebelum produk itu dipasarkan," kata Silvia. Jangan hanya berorientasi pada kecanggihan tapi tak mementingkan sisi medis.

Himawan W.H. juga menyatakan hal senada. Dokter spesialis telinga, hidung, dan tenggorokan di jaringan Rumah Sakit Mitra Internasional ini menyebut semua radiasi pada dasarnya berbahaya. Namun radiasi dari telepon genggam relatif kecil.

Selain dari telepon genggam, potensi radiasi di sekitar kita yang patut diwaspadai adalah penggunaan microwave, telepon tanpa kabel, paparan sinar matahari langsung, dan penerbangan. Laporan United States Federal Aviation Administration menyatakan, mereka yang terbang secara rutin terekspos radiasi setara dengan 170 kali dipindai sinar X. Karena selalu mengarungi udara itulah, pramugari dan pilot lebih rentan terkena kanker. (Majalah Tempo)
http://www.tempo.co/

GRATIS PLUS HADIAH

Hosting Gratis