website trackingwebsite tracking

PTC..PELUANG DAPAT UANG HANYA DENGAN MODAL KLIK

Cara Instan Untuk Verifikasi PayPal !
Tampilkan postingan dengan label GAYA HIDUP. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label GAYA HIDUP. Tampilkan semua postingan

Kamis, 28 Juni 2012

Selamatkan Diri dan Keluarga dari Penyakit Materialisme


Selamatkan Diri dan Keluarga dari Penyakit Materialisme
Sabtu, 09 Juni 2012 
Oleh: Abdullah al-Mustofa

SEBUAH 
penelitian di Amerika Serikat yang dilakukan tiga orang ahli dari tiga universitas yang berbeda di Amerika Serikita yang hasil penelitian mereka dipublikasikan olehAssociation for Consumer Research, sebuah lembaga penelitian konsumen di University of Minnesota Duluth, Amerika Serikat, meneliti pengaruh frekuensi menonton program televisi pada pengadopsian nilai-nilai materialistis. Penelitian tersebut membuktikan semakin banyak jam yang dihabiskan seseorang dalam menonton televisi maka yang bersangkutkan semakin materialistis. Hubungan antara menonton televisi dengan materialisme lebih besar bagi mereka yang lebih fokus memperhatikan ketika menonton televisi, dan bagi mereka yang lebih mengembangkan apa yang ditonton dengan berfantasi.
Untuk mengurangi tingkat materialisme pada seseorang, para peneliti tersebut menyarankan untuk mengurangi jumlah waktu yang dihabiskan di depan televisi. Namun, tren menonton televisi di mana-mana menunjukkan hanya sedikit yang mau atau mampu melakukan hal ini. Sebagai obat alternatif, kata mereka, seseorang dapat memerangi materialisme dengan menyadari apa yang mereka menonton dan efeknya, dan menahan dorongan untuk berfantasi tentang gaya hidup makmur yang digambarkan di televisi.
Dengan kata lain, mengingatkan diri kita bahwa dunia pertelevisian terdistorsi. Lanjut mereka, tentu saja, ini mungkin bukan cara yang menyenangkan untuk menonton televisi karena pemirsa cenderung memaksimalkan kenikmatan dengan berfantasi.
Cara untuk mengurangi tingkat materialisme dan memerangi materialisme tersebut di atas ternyata kurang efektif, bahkan sulit untuk dilakukan. Namun lain halnya dengan Islam.
Islam telah menyediakan vaksin untuk mencegah dan obat mujarab untuk menyembuhkan penyakit materialisme. Dalam Islam ada satu cara yang sangat efektif dan praktis untuk mencegah dan mengobati materialisme, yaitu dengan cara mengingat mati.

Dari Abu Hurairah, dari Nabi saw, beliau berkata:

أَكْثِرُوا ذِكْرِ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ

“Perbanyaklah mengingat hal yang akan memutuskan berbagai kenikmatan. – yaitu maut." (HR. Ashabus Sunan, dishahihkan Al-Albani dalam Al-Irwa’)

Salah satu efek positif dari mengingat mati adalah menyebabkan hati memiliki sikap qana’ah. 

"Barangsiapa banyak mengingat mati maka dia akan dimuliakan dengan tiga perkara: segera bertaubat, hatinya qana’ah terhadap dunia, dan semangat beribadah. Sedangkan barangsiapa yang melupakan mati, dia akan dibalas dengan tiga perkara: menunda-nunda taubat, hatinya tidak qana’ah terhadap dunia, dan malas beribadah. Maka ingat-ingatlah kematian, sakaratul maut, dan susah serta sakitnya, wahai orang yang tertipu dengan dunia!.” (Abu Ali Ad-Daqqaq rahimahullah)

Menurut bahasa, qana’ah berarti merasa cukup. Sedangkan menurut istilah, qana’ah berati merasa cukup dan menerima atas apa yang telah diberikan Allah swt, sehingga mampu menjauhkan diri dari sikap tamak, dan sikap tidak puas yang berlebihan.
Dari Fadlolah bin Ubaid bahwasanya dia mendengar Rasulullah saw bersabda:

“Sungguh berbahagialah orang yang mendapatkan hidayah Islam dan penghidupannya sederhana serta mau qana’ah (menerima apa adanya).” (HR. Tirmidzi)

“Qana’ah itu mengandung lima perkara: Menerima dengan rela akan apa yang ada. Memohonkan kepada Tuhan tambahan yang pantas, dan berusaha. Menerima dengan sabar akan ketentuan Tuhan. Bertawakal kepada Tuhan. Tidak tertarik oleh tipu daya dunia.” (Hamka)

Mari latih dan biasakan diri dan anggota keluarga kita untuk selalu mengingat mati agar mempunyai gaya dan pola hidup qana’ah dan bukannya kebalikannya yakni gaya dan pola hidup materialistis yang mengajak “meminum air laut”. Semoga diri dan keluarga kita bebas dari penyakit al-Wahn (cinta dunia dan benci/takut mati) yang telah Rasulullah saw sebut 15 abad yang lalu. Semoga diri dan keluarga kita bukan orang-orang yang fasik, yakni yang lebih mencintai harta benda dari pada Allah dan Rasul-Nya serta berjihad di jalan-Nya dengan jiwa dan harta benda. Wallahu a’lam.*
Penulis peneliti ISFI (Islamic Studies Forum for Indonesia) Kuala Lumpur Malaysia


http://www.hidayatullah.com

Senin, 25 Juni 2012

Pria bersuara berat kurang sperma

Suara berat pria biasanya dilihat sebagai salah satu tanda kejantanan dan kerap kali menjadi daya tarik pria. Namun, para peneliti mengklaim bahwa hal tersebut bisa menjadi tanda sedikitnya jumlah sperma yang diproduksi tubuh.




Leigh Simmons, Marianne Peters dan Gillian Rhodes dari Universitas Western Australia mengatakan bahwa pria bersuara berat mungkin memiliki lebih banyak testosteron. Tapi, terlalu banyak testosteron justru mengurangi jumlah sperma yang dihasilkan pada proses ejakulasi.

Tentu hasil penelitian ini menjadi kejutan besar bagi para wanita. Pasalnya, wanita kerap kali tertarik pada pria dengan suara yang berat, memiliki banyak rambut di tubuh, dan berotot sebagai indikasi kejantanan.

Seperti dilansir dari Daily Mail, penelitian ini dimulai dengan ketertarikan wanita terhadapa pria bersuara rendah, setelah responden wanita mendengar rekaman suara 54 pria berusia 18 hingga 32 tahun.

Responden pria tersebut juga diminta untuk memberikan contoh sperma untuk diteliti lebih lanjut. Contoh sperma tersebut pun dibandingkan dengan jumlah sperma yang sehat dalam sekali ejakulasi.

Hasil yang diterbitkan oleh jurnal Plos ONE ini justru menunjukkan fakta yang berbeda. Mereka menemukan bahwa pria bersuarta rendah cenderung menghasilkan sperma dalam jumlah yang sedikit.

Para peneliti menyimpulkan bahwa hal ini sebagai adaptasi yang dilakukan tubuh. Mereka percaya bahwa suara yang berat adalah cara alami untuk menyeimbangkan sedikitnya jumlah sperma yang dihasilkan.(vivanews.com)

Ingin Selalu Terlihat Cerdas? Tatap Wajah Cantik

Banyak cara yang dilakukan seseorang untuk mengingkatkan kecerdasan, mulai dari mengkonsumsi makanan, multivitamin, hingga sering melakukan latihan berkesinambungan.

Namun tanpa disadari , sebuah penelitian mengungkapkan melihat wajah cantik juga dapat meningkatkan kesigapan seseorang dalam melakukan tugas keprofesian. Benarkan?

Dilansir Times of India, penelitian yang dipimpin Jonathan Haidt ini meminta responden perempuan dan pria menatap foto anak kucing dan anjing. Kelompok lainnya diperlihatkan gambar kucing dan anjing dewasa. Mereka lantas diminta melakukan permainan operasi.

Peneliti menemukan, responden yang sebelumnya diperlihatkan foto-foto itu ternyata mendapatkan nilai lebih tinggi daripada peserta yang melihat foto kucing dan anjing dewasa.

Haidt mengemukakan keimutan foto-foto hewan memang berpengaruh pada ketangkasan gerak motorik peserta. Sebab, jelasnya, melihat sesuatu yang membuat gemas memicu kelembutan, mendorong rasa peduli, dan meningkatkan kemampuan ekspresi kepeduliannya itu.

Dan pada akhirnya, penelitian itu menyimpulkan bahwa sifat imut tersebut punya dampak positif besar pada emosi positif seperti kehangatan, empati, dan kasih sayang. inilah.com

Proses Bayi Tabung Tingkatkan Kanker Payudara?


HeadlinePenelitian di Australia baru-baru ini menemukan bahwa wanita yang pernah atau sedang melakukan proses fertilisasi in vitro (IVF) cenderung memiliki risiko lebih tinggi terkena kanker payudara ketimbang yang tidak.
Namun demikian, seperti yang dilansir dariReuters, penelitian memang tidak spesifik menemukan apakah risiko kanker merupakan kontribusi langsung dari IVF atau ada hal lainnya yang kebetulan ditemukan pada wanita yang melakukan IVF dan terkena kanker payudar
Penelitian yang melibatkan 21.000 wanita ini sudah dipublikasikan dalam jurnal Fertility and Sterility.
"Saya tidak berpikir meningkatnya risiko itu lalu harus membuat Anda khawatir atau panik," kata Louise Stewart, penulis utama penelitian dan seorang peneliti di University of Western Australia di Crawley.
Untuk penelitian ini, Stewart dan rekan-rekannya mengumpulkan informasi dari 21.025 perempuan berusia 20-40 yang melakukan perawatan kesuburan di rumah sakit Australia Barat antara 1983-2002.
Hasilnya, sekitar 1,7% dari 13.644 wanita yang menggunakan obat kesuburan namun tanpa proses IVF terkena kanker payudara pada akhir penelitian. Sebaliknya ada penambahan dua persen dari angka tersebut terhadap para wanita yang menjalani.
Wanita yang mulai menkonsumsi obat kesuburan sekitar usia mereka di 24 tahun dan menjalani IVF memiliki kesempatan 56% lebih besar terkena kanker payudara dibanding mereka yang hanya menkonsumsi obat kesuburan tanpa IVF.
Tapi risiko itu tidak ditemukan pada wanita yang baru melakukan pengobatan itu pada umur 40 tahun dan terlepas dari apakah mereka memiliki bayi tabung atau tidak.
Stewart mengatakan, banyak alasan yang mungkin mengapa risiko kanker payudara hanya menyerang wanita muda yang melakukan IVF, yaitu salah satunya adalah sirkulasi produksi estrogen yang berlebihan selama perawatan IVF.
"Perkembangan kanker payudara terkait dengan eksposur estrogen," kata Linda Giudice, presiden terpilih dari American Society of Reproductive Medicine.
Fertilisasi in vitro/In vitro fertilization (IVF)adalah proses pembuahan sel telur dengan sperma yang dilakukan di luar rahim. Bayi yang dilahirkan dengan proses ini disebut sebagai bayi tabung.
In vitro berarti‘in glass’ atau dalam gelas. In vitro berarti semua proses yang dilakukan diluar tubuh, yaitu dilakukan pada lingkungan artifisial atau buatan. Jadi IVF adalah proses fertilisasi yang dilakukan di laboratorium dan bukan di dalam tubuh wanita. inilah.com

Sabtu, 23 Juni 2012

Istirahat Total dapat Sembuhkan Gegar Otak


Beristirahat selama sepekan dari semua kegiatan fisik dan mental -- termasuk menonton televisi, menelepon dan bertemu teman -- dapat membuat kinerja mental menjadi lebih baik dan meredakan gejala pada penderita gegar otak, demikian hasil sebuah penelitian.

Menurut sebuah laporan Journal of Pediatrics, beristirahat selama sepekan penuh masih memiliki manfaat bahkan berbulan-bulan setelah orang mengalami cedera.

"Hal itu sangat penting karena kita sering mendapati pasien dengan gejala pasca-gegar otak berbula-bulan setelah mengalami cedera," kata Direktur Pusat Gegar Otak Olahraga dari New Jersey Rosemarie Moser, yang juga penulis utama dalam penelitian itu.

Gejala pasca-gegar otak meliputi sakit kepala, gangguan mental, kelelahan, sulit konsentrasi dan sulit tidur.

Biasanya, istirahat merupakan jenis perawatan yang utama tapi bukan yang sistematis dan komprehensif, kata Moser. Beristirahat dapat dilakukan secara beragam sesuai dengan bagaimana para praktisi mendefinisikannya. Penelitian tersebut bertujuan untuk menguji hasil dari beristirahat secara intensif.

Kelompok peneliti itu melakukan uji coba dengan meminta 49 pasien, yang berusia setara sekolah menengah tingkat atas (SMA) dan perguruan tinggi, untuk beristirahat selama sepekan penuh. Aturan yang ditetapkan kepada mereka ketat, yaitu mereka tidak boleh pergi sekolah atau bekerja, menelepon, berolahraga, menonton televisi, bersosialisasi maupun bekerja di depan komputer.

Sebanyak 14 pasien memulai terapi itu dalam sepekan selama mereka mengalami cedera, sementara 22 orang lainnya memulainya dalam sebulan. Sisanya memulai istirahat sepekan itu antara satu dan tujuh bulan setelah gegar otak.

Pada awal penelitian, semua pasien mengalami gejala yang berhubungan dengan gegar otak, seperti sakit kepala dan sulit berkonsentrasi. Namun semuanya mengalami perbaikan setelah mereka beristirahat selama sepekan.

Para atlet yang mulai melakukan cara pengobatan itu mengalami penurunan gejala pasca-gegar otak dari angka 22, pada skala poin 132, ke angka tujuh, Mereka yang beristirahat lebih dari sebulan mengalami penurunan gejala dari 28 ke delapan.

"Semua gejala itu membaik secara dramatis. Secara kualitatif, anda merasa lebih baik," kata Moser.

Moser dan rekan-rekannya juga melakukan tes mental terhadap para partisipan -- yaitu pengukuran memori, kecepatan pemrosesan, dan waktu reaksi -- pada saat sebelum dan sesudah mereka beristirahat. Para peneliti itu menemukan bahwa para pasien tersebut menjadi lebih baik saat melakukan tes mental sesudah beristirahat.

Para peneliti itu tidak membandingkan perbaikan kinerja para partisipan dengan penderita gegar otak lain yang tidak beristirahat dalam waktu khusus, atau dengan mereka yang beristirahat tapi kurang dari anjuran seharusnya.

"Penelitian tersebut menghasilkan sejumlah bukti untuk mendukung suatu rekomendasi yang sudah ada," kata Willem Meeuwisse, seorang profesor di Universotas Calgary.

Profesor Willem Meeuwisse juga seorang dokter spesialis di bidang cedera olahraga dan tida terlibat dalam penelitian itu.

Namun dia mengatakan bahwa penelitian itu masih belum jelas apakah istirahat yang diperlukan tersebut menjadi seintensif seperti manfaatnya.  (Ant/ICH)
http://www.metrotvnews.com

Jumat, 22 Juni 2012

Gila Kerja, Antara Stres dan Gangguan Lambung

Headline
Memiliki sifat pekerja keras atau yang dikenal denganWorkhaholic memang baik untuk mengukur produkstivitas kerja, namun tidak untuk kesehatan.

Pasalnya workhaholic selain dapat menimbulkan stres karena berpacu dengan deadline juga dapat menimbulkan penyakit kronik mulai dari gangguan pencernaan hingga jantung.

Berdasarkan riset, gangguan pencernaan yang dialami workaholic biasanya disebabkan karena tidak teraturnya pola makan. Tak hanya itu, rasa cemas yang berlebihan juga merupakan sumber utama penyebab sakit maag.
Rasa cemas yang diikuti stres dapat mempengaruhi sistem saraf pusat sehingga mengakibatkan gangguan motilitas (gerakan) lambung.
"Beban pekerjaan yang berlebih membuat pola hidup dan pola makan berubah. Dari sini muncullah rasa khawatir yang berlebihan sehingga bisa menyebabkan keluhan fisik,' kata Dokter Spesialis Penyakit Dalam Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Dr Ari Fahrial Syam, saat dihubungi INILAH.COM,Jumat (25/5).
Fahrial menjelaskan terjadi hubungan yang kuat antara otak manusia dengan lambung (Brain Gut Axix). Dimana, ketika otak bekerja dengan keras dan kurang tidur akan mengakibatkan beberapa gangguan pencernaan diantaranya diare, asam lambung meningkat hingga depresi.
"Tergantung daerah mana yang saat terjadinya stres rentan terkena penyakit," jelas Fahrial.
Namun, dari beberapa penelitian, sambung Fahrial akan terlihat dampak negatif dari orang yang workaholic dengan ganggunan lambung. Manurut praktisi kesehatan dari Universitas Indonesia itu, penyebab utama dari gangguan lambung adalah pola makan yang tidak teratur, penggunaan obat-obatan seperti obat pengurang rasa sakit, infeksi, cemas atau depresi hingga komplikasi dengan penyakit lain.
Stres yang kerap muncul akibat pekerjaan bisa memicu gangguan lambung, tepatnya pada usus dua belas jari. Gangguan lainnya bisa menyerang bagian usus besar yang apabila dibiarkan akan muncul peradangan atau infeksi.
Fahrial menambahkan, secara teknis rasa cemas akibat pekerjaan menyebabkan saraf simpatis bekerja lebih aktif menstimuli hormon cathecholamin. Alhasil hormon tersebut akan meningkat dan menyebabkan sekresi asam lambung melonjak pula.
"Rasa cemas mempengaruhi sistem saraf pusat melalui saraf vagus, mengakibatkan gangguan motilitas lambung,” ungkap Fahrial.

Cara pencegahaan

Jika stres sebagai penyebab gangguan lambung biasanya akan dilakukan beberapa prosedur diagnosis. Para dokter terlebih dahulu akan mencari tahu riwayat timbulnya penyakit pada si penderita. Tahap selanjutnya dilakukan pemeriksaan fisik dan laboratorium.

Biasanya dokter juga akan melakukan pemeriksaan gastroduodenoskopi dan biopsi yang kemudian dilanjutkan dengan diagnosis banding dengan kasus gangguan lambung akibat sebab lainnya.
Fahrial menyarankan agar gangguan lambung dicegah dengan menjalani pola hidup yang lebih sehat.

”Memperbaiki pola hidup sebaiknya termasuk mengerjakan tugas dengan rileks dan tepat waktu.Dengan bekerja rileks maka akan jauh dari rasa cemas dan stres yang berpotensi menimbulkan penyakit. Tapi tugas itu juga dikerjakan dengan baik dan diikuti pikiran positif, yakni berharap mendapat hasil yang baik," ungkap Fahrial. [mor]
INILAH.COM,Jakarta - 

Selasa, 19 Juni 2012

Tak Selalu Harus Diobati, Batuk Kadang Cuma Ada di Pikiran



img
Ilustrasi (dok: Thinkstock)
Jakarta, Banyak orang terlalu menggantungkan diri pada obat ketika mulai mengeluh batuk-batuk. Padahal menurut penelitian, terkadang batuk hanya ada di pikiran dan tetap sembuh meski cuma diberi obat palsu yang sebenarnya tidak ada isinya.

Penelitian yang dilakukan di University of Queensland ini melibatkan 21 orang dewasa yang diminta menghirup uap menyengat yang mengandung capcaicin. Uap ini dibuat dari saripati cabe, yang dalam penelitian ini difungsikan sebagai perangsang batuk.

Sebelumnya, sebagian partisipan diminta menghirup obat semprot yang oleh peneliti dikatakan mengandung anestesi lokal bernama lidocain. Secara teori, pemberian lidokain akan meredam respons batuk, sehingga partisipan lebih tahan menghirup uap cabe tanpa batuk-batuk.

Benar saja, partisipan yang lebih dulu disemprot obat sebelum menghirup uap cabe lebih sedikit yang batuk-batuk. Rangsang batuk yang dialami para partisipan di kelompok ini 45 persen lebih rendan dibanding partisipan yang tidak disemprot obat apapun.

Namun seusai penelitian, para ilmuwan mengungkap bahwa ternyata obat yang disemprotkan adalah plasebo alias obat kosong sehingga tidak secara langsung mempengaruhi repons batuk. Artinya tanpa diobati, sebenarnya batuk bisa diatasi sendiri dengan cara mengontrol pikiran.

"Saya sangat terkejut melihat betapa besarnya respons partisipan terhadap penggunaan plasebo. Ini sangat besar," kata Stuart Mazzone yang memimpin penelitian ini seperti dikutip dari Dailymail, Selasa (19/6/2012).

Sebelumnya, penelitian di Cardiff University juga pernah mengungkap bahwa efek plasebo memang bekerja pada keluhan batuk-batuk ringan. Tingkat kesembuhan pada pasien yang diberi plasebo atau obat kosong sama saja dengan yang diberi obat batuk sungguhan.

"Saya pikir kuncinya adalah, bahwa jika pasien percaya pada pengobatannya maka apapun obatnya (termasuk obat kosong) tetap akan muncul efeknya," kata Ronald Eccles, seorang peneliti dari Cardiff University.




AN Uyung Pramudiarja - detikHealth

Selasa, 19/06/2012 19:02 WIB 

Sabtu, 16 Juni 2012

KRITERIA BUAH Yang Sehat Untuk Sarapan

JAKARTA–Sarapan pagi merupakan sinyal tubuh untuk mengaktifkan proses metabolisme dari keadaan istirahat menjadi keadaan aktif. Maka sarapan sebaiknya mengandung protein, karbohidrat dan lemak yang cukup. Sarapan buah yang sehat dapat memberikan asupan serat, fitonutrien penting, antioksidan dan juga karbohidrat.
Jangan menggunakan sembarang buah untuk sarapan. Buah yang dikonsumsi untuk sarapan sebaiknya memenuhi kriteria seperti yang dilansir Lifestrong, Selasa (29/5/2012) di bawah ini:
1. Kaya Kandungan Anthocyanin
Buah-buahan yang sangat berwarna seperti blueberry, blackberry, raspberry, ceri, cranberry, anggur merah dan stroberi kaya akan pigmen tanaman yang disebut anthocyanin. Penelitian tahun 1997 menganalisis sifat antioksidan kuat dari 14 anthocyanin yang ditemukan dalam buah.
Temuan menunjukkan bahwa anthocyanin dapat memperbaiki gangguan penglihatan, penyakit pembuluh darah dan melindungi tubuh dari kerusakan akibat bahan kimia dan radiasi. Penelitian ini juga menemukan bahwa anthocyanin dapat berfungsi sebagai anti radang dan menurunkan risiko kanker.
2. Kaya Kandungan Karotenoid
Karotenoid adalah jenis pigmen lain pada tanaman yang penting bagi manusia. Karotenoid terkandung dalam buah-buahan berwarna kuning, oranye dan merah seperti jeruk, jeruk keprok, jeruk, melon, semangka, aprikot, peach, tomat dan mangga. Ada lebih dari 600 jenis karotenoid, tapi yang paling sering ditemukan dalam makanan adalah alpha-carotene, beta-karoten, beta-cryptoxanthin, lycopene, lutein dan zeaxanthin.
Karotenoid melindungi tubuh dari gangguan penglihatan seperti katarak dan degenerasi makular, juga dapat meningkatkan kesehatan paru-paru dan menurunkan resiko kanker atau penyakit jantung dan pembuluh darah.
3. Kaya Serat
Serat penting agar sistem pencernaan dapat bekerja optimal. Serat juga membantu mencegah diabetes serta penyakit jantung dan pembuluh darah. Wanita sebaiknya mengkonsumsi 21 – 25 gram serat per hari dan pria 30 – 38 gram sehari. Contoh buah kaya serat antara lain raspberry, blackberry, alpukat, pir, apel, blueberry, kurma, stroberi, pisang, plum dan kismis.
4. Rendah Indeks Glikemik
Buah dengan kandungan gula yang tinggi dapat menyebabkan lonjakan glukosa darah dan insulin sehingga memicu diabetes. Makanlah buah dengan indeks glikemik yang rendah, yaitu yang berada pada peringkat 55 ke bawah seperti ceri, jeruk, aprikot kering, apel, pir, plum, persik, jeruk dan anggur.
Buah kiwi dan pisang berada pada peringkat paling mepet dalam daftar aman, yaitu menempati peringkat indeks glisemik 53 dan 54. Buah dengan kandungan indeks glikemik sedang contohnya mangga, aprikot segar, kismis dan nanas. Semangka memiliki indeks glikemik tinggi, yaitu peringkat 72.
http://www.solopos.com

5 Manfaat Makan Apel



Lifestyle + / Sabtu, 16 Juni 2012 06:37 WIB
Apel merupakan buah yang manis dan mudah didapat. Apel cocok dijadikan kudapan mentah, atau dijadikan jus, salad, bahkan cake. Bukan hanya rasanya yang enak, apel juga memiliki banyak manfaat untuk kesehatan. Buah apel mengandung vitamin A, B, dan C. Apel dapat menurunkan kadar kolesterol dalam darah. Jadi, kenapa tak memulai membiasakan diri untuk menikmati Apel sebutir tiap hari?

1. Apel merupakan slow food

Buah ini mengandung serat sebanyak 5 gram atau 20 persen dari kebutuhan asupan harian Anda. Karena keras, apel mengharuskan Anda untuk mengunyah dengan sabar, dan hal ini bisa memberikan sinyal pada tubuh bahwa Anda kenyang, sebelum terlalu banyak mengonsumsi kalori.

Pemanis alami dalam apel memasuki aliran darah secara bertahap, membantu menjaga kadar gula darah dan tingkat insulin tetap stabil, sehingga Anda merasa kenyang lebih lama. Hal ini kebalikan dari snack dengan pemanis buatan, yang membuat Anda cepat lapar kembali.

2. Apel membantu bernafas lebih mudah

Para peneliti dari Inggris baru-baru ini mengungkapkan perempuan yang mengonsumsi apel saat hamil akan melahirkan anak dengan risiko penyakit asma yang berkurang. Buah apel juga dapat melindungi paru-paru orang dewasa, menurunkan risiko asma, kanker paru-paru, dan penyakit lainnya.

3. Apel bisa menurunkan kolesterol

Berkat dua komponen kunci, pektin (sejenis serat) dan polifenol (salah satu antioksidan kuat), apel dapat menurunkan kadar kolesterol darah dan mencegah oksidasi kolesterol jahat, proses kimia yang mengubahnya menjadi plak yang menyumbat arteri. Untuk memaksimalkan manfaat apel, makan apel bersama kulitnya. Kulit apel memiliki dua sampai enam kali senyawa antioksidan.

4. Apel mampu melawan kanker

Hasil uji laboratorium menunjukkan bahwa beberapa senyawa dalam buah yang berair mengekang pertumbuhan sel kanker, tapi akan bekerja secara maksimal saat apel dimakan seluruhnya (minus batang dan biji, tentunya). Orang yang mengonsumsi apel lebih dari satu buah dalam sehari akan menurunkan risiko beberapa jenis kanker. Di antaranya kanker mulut, esofagus, usus besar, payudara, ovarium, prostat, sebesar 9 hingga 42 persen.

5. Apel membuat Anda pintar

Mungkin karena meningkatkan produksi asetilkolin, zat kimia yang mentransmisikan pesan antara sel-sel saraf, apel diperkirakan dapat menjaga otak tetap tajam seiring pertambahan usia, meningkatkan memori, dan berpotensi mengurangi kemungkinan mendapatkan penyakit Alzheimer, demikian menurut sebuah penelitian terbaru dari University of Massachusetts at Lowell. Penelitian ini memang baru dilakukan terhadap binatang. Namun tak ada salahnya bila Anda mulai mencoba membiasakan diri mengonsumsi apel yang bergizi ini.(Decha/Wrt1)
http://www.metrotvnews.com

Minimalkan Resiko Kanker Kulit Dengan Kopi


rokokBerbagai penelitian seringkali menunjukkan efek tidak baik pada orang yang menjalankan gaya hidup tidak sehat. Cara hidup penuh risiko ini kerap dikaitkan dengan keburukan di tubuh. Misalnya,kolesterol tinggi,tekanan darah tinggi, dan sebagainya. Hanya saja, ada studi terbaru di Inggris yang menunjukkan, gaya hidup tidak sehat tidak signifikan dalam memengaruhi masalah kesuburan sperma pria. Artinya, kemandulan yang terjadi pada pria bukan soal gaya hidup penyebabnya.
Seperti dilansir BBC, penelitian yang dimuat jurnal Human Reproduction itu menyatakan, memang lebih baik untuk menghindari rokok, alkohol, dan obesitas. Namun, ketiga gaya hidup tersebut juga tidak bisa dikaitkan langsung dengan persoalan kesuburan pria. Saran yang sebaiknya diperhatikan adalah terkaitmenghindari pemakaian celana yang cenderung ketat. Panas yang dihasilkan pada area skrotum bisa mengurangi atau bahkan membunuh sperma.
Penelitian ini menjadi kontroversial. Pasalnya, hasil studi ini berbeda jauh dengan penelitian yang telah ada. Pada pengamatan yang dilakukan terhadap relawan yang punya kebiasaan merokok sampai 20 batang per hari, ternyata tidak ditemukan adanya pengurangan jumlah sperma. Selain itu, peneliti juga tidak mendapati bukti kuat berkurangnya kualitas sperma pada pria yang memiliki indeks massa tubuh tinggi,pengonsumsi obat penenang,  dan alkoholik.
“Hal ini memutarbalikkan nasihat yang biasanya diberikan pada pria tentang bagaimana mereka dapat meningkatkan kesuburan. Dan, (studi ini) menunjukkan bahwa risiko-risiko gaya hidup yang umum, mungkin tidak sepenting yang kita duga,” kata Dr Andrew Povey dari University of Manchester.
Namun, disarankan agar pria tetap menjaga kesehatan fisik secara umum. Pasalnya, beberapa faktor tersebut mungkin tidak berpengaruh pada kesuburan, tapi memengaruhi kesehatan tubuh yang lain.
sidomi.com

Rabu, 13 Juni 2012

Ingin Sehat? Kurangi Nonton Televisi


Laporan Wartawan Tribun Jakarta, Daniel Ngantung
TRIBUNNEWS.COM - Menonton televisi (TV) sudah menjadi aktivitas rutin untuk masyakarat di kota besar seperti Jakarta. Tapi saking asyiknya nonton TV, kita jadi lupa waktu dan melupakan aktivitas lainnya yang lebih bermanfaat seperti berolahraga. Tidak ada aktivitas yang membakar lemak tubuh, maka berat badan pun kian bertambah.
Bukan omong kosong, ternyata hal ini juga sudah dibuktikan oleh banyak penelitian ilmiah yang menyimpulkan kalau menonton TV dengan durasi cukup panjang dapat memicu obesitas dan diabetes tipe 2.
Oleh karena itu, para ilmuwan mengambil simpulan, dengan mengurangi waktu menonton adalah satu cara paling efektif untuk mengurangi berat badan. Tak hanya itu saja, agar lebih efektif lagi, Anda juga disarankan untuk menambah asupan seperti buah dan sayuran.
"Dengan hanya mengubah dua gaya hidup itu, maka akan memberikan perubahan besar, orang pun juga tak merasa terbebani," ujar Bonnie spring, profesor di Fakultas Kedokteran Northwestern University Feinberg, seperti yang dikutip dari Medical Daily.
Lewat penelitian yang dipimpinnya, para peneliti merekrut 204 partisipan berumur 21 tahun-61 tahun. Semua partisipan harus melakukan semua tugas yang dibagi menjadi empat grup.
Grup pertama diharuskan meningkatkan konsumsi buah dan sayuran, plus aktivitas fisik. Grup kedua hanya mengurangi makanan berlemak dan tetap dengan gaya hidup lama, yaitu menonton TV. Sedangkan grup ketiga, para partisipan diharuskan mengurangi makanan berlemak dan meningkatkan kegiatan fisik. Dan grup terakhir harus meningkatkan asupan buah-buahan dan sayuran sekaligus mengurangi menonton TV.
Seluruh partisipan yang berhasil menurunkan berat badan mendapatkan bayaran. Setelah berhasil, mereka dapat kembali ke gaya hidup lamanya asalkan mereka mau mengirimkan data kesehatan mereka selama tiga hari per bulannya selama enam bulan.
Hasil penelitian menyimpulkan, para partisipan yang mengonsumsi buah dan sayuran, serta mengurangi waktu bermalas-malasan di sofa karena nonton TV berhasil mengurangi berat badannya.
Hampir 86 persen dari para partisipan itu mengatakan ketika mereka berhasil menurunkan berat badan, mereka pasti akan mencoba untuk mempertahankan dan menjaga stabilitas berat badan mereka.
"Kami menyimpulkan orang dapat membuat perubahan besar dalam waktu yang cukup singkat dan menjaga berat bedan itu dengan baik," ungkap Spring.
"Banyak sekali gaya hidup orang Amerika yang dapat memicu berbagai macam penyakit seperti kanker dan jantung, tapi mereka dan para dokter bingung bagaimana memulai cara untuk merubah gaya hidup tersebut," tambahnya

Efek Buruk Jadi Seorang Pekerja Komuter


Wanita dengan usia anak pra-sekolah paling rentan mengalami gangguan psikologis.

JUM'AT, 2 SEPTEMBER 2011, 15:37 WIB
Anda Nurlaila
VIVAnews - Jarak antara rumah dan tempat bekerja yang tidak ada dalam satu kota adalah fenomena yang lazim terjadi saat ini. Terbatasnya perumahan di kota besar kerap menjadi alasan orang untuk menjadi seorang komuter.

Bagaimana komuter harian memengaruhi kualitas kesehatan seseorang? Sebuah penelitian yang mengamati efek pekerja komuter menemukan, menjadi seorang lebih memengaruhi wanita ketimbang pria. Perjalanan komuter membuat wanita semakin terbebani disamping tanggung jawab pengasuhan anak, pekerjaan rumah tangga serta karir mereka.

Dan, yang paling merasakan dampak buruk menjadi salah satu komuter adalah para ibu yang memiliki anak usia pra-sekolah. Studi menemukan, wanita dari kalangan ini lebih mungkin menderita masalah mental daripada pria dengan anak-anak usia yang sama.

Studi yang dipublikasikan dalam Journal Health Economics, mewawancarai para komuter dan meminta pendapat mereka mengenai rasa khawatir, kehilangan waktu tidur, merasa tertekan, atau rasa percaya diri.

"Wanita, terutama mereka yang memiliki anak, lebih mungkin untuk mendapat beban tambahan seperti berbelanja dan mengantar-jemput anak ke sekolah," ujar penulis studi dan profesor ekonomi Jennifer Roberts, dari Universitas Sheffield.

"Komuter menyebabkan kendala waktu dan fleksibilitas yang berkurang akibat adanya stres dari perjalanan yang tidak dapat dijelaskan."

Hal berbeda dialami para wanita lajang dan memiliki anak, wanita dengan jam kerja fleksibel, atau wanita dengan pasangan yang menjaga anak-anak.

Paul Dolan, dari London School of Economics, mengatakan, "Pria juga menuntut untuk menikmati waktu mereka sendiri, sehingga mereka tak begitu terpengaruh secara psikologis bila harus menjadi seorang pekerja komuter," ucapnya kepadaFemale First.

sumber : vivanews.co
m

Pengaruh Positif Video Games

on facebook




Selasa, 13 Maret 2012 - Ada studi mengatakan kalau pemain games itu kesepian, kegemukan, dan depresi. Tetapi ada juga dampak positif dari video games.

Berikut dampak positif video games:

Meningkatkan Ketajaman Penglihatan

Studi yang dilakukan oleh University of Rochester menemukan kalau video games meningkatkan ketajaman penglihatan. Untuk melakukan studi ini, tim peneliti Rochester mencari mahasiswa yang jarang bermain games. Setelah itu, para peneliti membagi mahasiswa kedalam dua kelompok, pertama bermain   Unreal Tournament dan separuhnya lagi bermain   Tetris dalam waktu satu bulan.
Setelah 30 hari, kelompok Unreal meningkatkan ketajaman penglihatannya 20 persen pada tes mata. Studi lain dari Rochester menggunakan games FPS meningkatkan ketajaman mata secara mingguan jika dimainkan 50 jam dalam Sembilan minggu. Kali ini, pemain Unreal menunjukkan 43 persen peningkatan dalam kemampuan mereka membedakan berbagai jenis arsiran abu-abu.
Dan bagaimana pemain Tetris? Tidak menunjukkan peningkatan ketajaman penglihatan.
Jurnal:
 Green, C.S. & Bavelier, D. (2007). Action video game experience alters the spatial resolution of attention.Psychological Science, 18(1), 88-94
Li, R., Polat, U., Makous, W. & Bavelier, D. (2009). Enhancing the contrast sensitivity function through action video game playing. Nature Neuroscience

Menghilangkan Stress Pasca-Trauma

Para psikolog dari universitas Oxford memaparkan 40 relawan sehat pada sederetan gambar yang sangat mengesalkan. Setelah deretan gambar ini, separuh kelompok bermain Tetris dan separuh lainnya duduk tanpa melakukan apapun. Dalam minggu-minggu selanjutnya, mereka yang bermain Tetris mengalami lebih sedikit ingatan traumatis daripada yang tidak. Studi berspekulasi kalau kekuatan game Tetris yang analitis jangka pendek memotong kemampuan subjek menyimpan ingatan inderawi jangka panjang. Walau begitu, Tetris hanya dapat menghilangkan peristiwa traumatis yang terjadi dalam enam jam sebelumnya.
Jurnal:
Holmes EA, James EL, Coode-Bate T, Deeprose C (2009) Can Playing the Computer Game “Tetris” Reduce the Build-Up of Flashbacks for Trauma? A Proposal from Cognitive Science. PLoS ONE 4(1): e4153. doi:10.1371/journal.pone.0004153

Kemungkinan Membuat Anda Menjadi Baik

Studi dari Iowa State menemukan hal ini. Para peneliti meminta 161 siswa bermain satu dari enam permainan: tiga berjenis kekerasan dan tiga pro-sosial. Setelah 20 menit bermain, gamer dipasangkan dan memberikan pasangan mereka 10 teka-teki dengan mengetahui kalau temannya akan mendapat sertifikat jika berhasil memecahkan teka-teki. Menariknya, gamer pro-sosial cenderung membantu pasangannya memecahkan teka-teki. Gamer kekerasan tidak mau.
Games pro-sosial sepertinya mendorong anak-anak memperoleh mood yang baik. Dan sebuah studi di Jerman juga mendukung hal ini. Dalam studi tersebut, bermain Lemmings (yang melibatkan menyelamatkan Lemming yang ingin bunuh diri) membuat mereka cenderung pro-sosial setelah bermain.
Jurnal
Gentile, D. A., Anderson, C. A., Yukawa, N., *Saleem, M., Lim, K. M., Shibuya, A., Liau, A. K., Khoo,
A., Bushman, B. J., Huesmann, L. R., & Sakamoto, A. (2009). The effects of prosocial video
games on prosocial behaviors: International evidence from correlational, longitudinal, and
experimental studies.
Greitemeyer TOsswald S. Playing prosocial video games increases the accessibility of prosocial thoughts. J Soc Psychol. 2011 Mar-Apr;151(2):121-8.

Membantu Melacak Penyebaran Penyakit

 Bulan September 2005 pernah kejadian adanya penyebaran wabah “Corrupted Blood”, sebuah wabah virtual, yang menyebar di dunia Azeroth, membunuh segalanya dalam jalurnya. Para programmer WoW marancang wabah ini hanya akan menginfeksi pemain level tinggi, namun sesuatu menyebabkan wabah juga menyerang pemain level rendah.
Sementara para programmer mencari cara mengkarantina infeksi ini, beberapa ilmuan menemukan kalau pandemic ini meniru penyebaran penyakit di dunia nyata, khususnya terkait respon manusia. Epidemiologis biasanya bertopang pada data historic dan statistic untuk memprediksi arah wabah, namun dengan insiden Corrupted Blood mereka memiliki laboratorium digital dimana orang melarikan diri dari kota-kota, mengambil resiko menyelamatkan orang sakit, dan ketakutan.
Para peneliti kesehatan public mendapatkan alat analisis baru dari wabah penyakit gamers online ini dan karenanya Warcraft memberi sumbangan pada kemajuan sains.
Jurnal
Eric T Lofgren , Nina H Fefferman. The untapped potential of virtual game worlds to shed light on real world epidemics. The Lancet Infectious Diseases, Volume 7, Issue 9, Pages 625 – 629, September 2007

 Meningkatkan Kesehatan Manula

Para peneliti dari Universitas Illonis meminta satu kelompok relawan manula bermain Rise of Nationsselama 23,5 jam dan kelompok lain hanya duduk-duduk saja. Setelah satu hari bermain games strategi real-time, kelompok pertama memperoleh peningkatan multi-tasking, konsentrasi, dan ingatan jangka pendek, semua sambil merasa senang.
Sementara itu, para peneliti dari Universitas Rochester dan Universitas Queensland mempelajari otak para gamers yang bermain  Medal of Honor dan Tetris. pemain MoH, yang multitasking dalam dunia 3D, memiliki skor tes kognitif lebih tinggi dari pemain Tetris, yang sibuk pada satu blok saja setiap saat.
 Jurnal
Basak C, et al “Can train­ing in a real-time strat­egy video game atten­u­ate cog­ni­tive decline in older adults?” Psy­chol Aging 2008; DOI: 10.1037/a0013494.
Boot, W. R., Kramer, A. F., Simons, D. J., Fabi­ani, M. & Grat­ton, G. (2008) The effects of video game play­ing on atten­tion, mem­ory, and exec­u­tive con­trol. Acta Psy­cho­log­ica, 129, 387–398.

Memberi Pengetahuan Bedah

Para peneliti Iowa State University meminta dokter dan warga sekolah medis bermain tiga games yang menguji skill motorik dan koordinasi mata-tangan. Para dokter bedah yang bermain setidaknya tiga jam seminggu melakukan pembedahan laparoskopik 27 persen lebih cepat dan 37% lebih sedikit kesalahan. Perlu diketahui, pembedahan laparoskopik menggunakan kamera optic dan joystick untuk navigasi di dalam saluran darah di tubuh. Manfaat dari bermain games ini cukup signifikan.
Jurnal
Rosser, J.C. “Video Game and Laparoscopic Surgery, Medicine Meets Virtual Reality Conference” Newport Beach, CA, January 16, 2004.
Referensi dampak negatif video games:
  1. James B Weaver III, Darren Mays, Stephanie S Weaver, Wendi Kannenberg, Gary L Hopkins, Dogan Eroglu, Jay M Bernhardt. Health-Risk Correlates of Video-Game Playing Among AdultsAmerican Journal of Preventive Medicine, Volume 37, Issue 4 (October 2009)
  2. Kannenberg, W., Riggs, M., Hopkins, G. L., Weaver, J. B., III, Weaver, S. S., McBride, D. C., & Stevens, J. V., Jr. (October, 2008). Video gaming: Emerging “New Media” Determinant for Adult Obesity. American Public Health Association, San Diego, CA.
  3. Brian A Primack. Video Games: Play or ‘Playlike Activity’? American Journal of Preventive Medicine, Volume 37, Issue 4 (October 2009)
Sumber : http://www.faktailmiah.com

Menyikat Gigi Pemicu Kematian Dini Pasien Kanker


INILAH.COM, Jakarta- Menyikat gigi dengan tidak benar disebut sebagai pemicu kematian lebih awal terhadap para pasien penderita kanker.
Penelitian yang baru-baru ini dilakukan menemukan kematian dini akibat peningkatan bakteri hingga 80%.
Dilansir dari dailymail, para peneliti menemukan, risiko kematian prematur mencapai 13 tahun lebih awal daripada yang mungkin diharapkan. Ini terjadi karena peningkatan bakteri seperti tingginya tingkat plak gigi yang juga menyebabkan penyakit gusi dan bau mulut.
Para peneliti mengatakan infeksi dan inflamasi berperan dalam satu sampai lima penyakit kanker.
Meski peneliti Swedia dalam penelitiannya menemukan bahwa tingginya plak gigi atau penyakit mulut lainnya tidak berhubungan dengan penyebab kanker. Namun mereka setuju kebersihan mulut yang tidak terjaga bisa menjadi pemicu semakin buruknya penyakit hingga menyebabkan kematian prematur.
Penelitian melibatkan 1.390 orang dewasa yang dipilih secara acak dari Stockholm selama 24 tahun, mulai tahun 1985. Peserta yang saat itu semua berusia antara 30-an dan 40-an tahun berpendapat bahwa pemicu kanker yang utama adalah merokok dan gaya hidup tidak sehat.
Namun saat itu mereka juga diperiksa untuk kebersihan mulut. Meski tidak ada yang memiliki penyakit gusi terbuka, tetapi semua memiliki berbagai tingkat plak pada gigi dan permukaan gusi.
Pada 2009 telah ditemukan di antaranya sebanyak 58 orang meninggal dunia akibat kanker, yang sepertiga atau 35% adalah perempuan. Rata-rata usia kematian adalah 61 untuk perempuan dan 60 untuk laki-laki, menurut studi yang sudah dipublikasikan dalam jurnal online BMJ.
Indeks plak gigi pada mereka yang telah meninggal dunia adalah lebih tinggi dibandingkan mereka yang selamat. Mereka memiliki nilai 0,84-0,91, menunjukkan bahwa permukaan gusi dan gigi telah ditutupi plak.
Sedangkan yang masih bertahan memiliki indeks plak gigi yang lebih rendah secara konsisten yaitu berkisar antara 0,66 0,67, yang menunjukkan bahwa gigi dan gusi hanya sebagian tertutup plak.
Meski penyebab utama risiko kanker diketahui adalah dari faktor usia, kebiasaan merokok, tingkat pendidikan rendah, namun hubungan antara jumlah plak gigi dengan penyebab kematian dini masih kuat. [mor]

Selasa, 12 Juni 2012

MASALAH EMOSI Yang Dapat Bikin Gemuk


Mengatasi masalah emosional terkadang bisa jadi cara terbaik untuk menurunkan berat badan. Terkadang yang menjadi penyebab naiknya berat badan bukan dari lingkungan atau fisik, melainkan masalah emosi. Setidaknya ada tiga perubahan emosi yang bisa bikin orang menjadi gemuk.
Dalam beberapa tahun terakhir, penelitian pengobatan obesitas telah diperluas dengan mencakup penyebab psikologis. Studi telah mengidentifikasi emosi mungkin memainkan peran dalam kenaikan berat badan, obesitas dan penurunan berat badan.
Ada tiga masalah emosi yang bisa menyebabkan kenaikan berat badan, seperti dilansir about.com, Rabu (29/2/2012):
1. Stres
Bagi kebanyakan orang, alasan makan adalah untuk mengisi perut dan menghasilkan tenaga. Tapi pada saat stres, beberapa orang menggunakan makanan sebagai cara terbaik untuk menenangkan emosi. Makan karena emosi (emosional eating) tidak selalu menyebabkan kenaikan berat badan untuk semua orang, namun ini bisa menjadi penyebab obesitas pada beberapa orang.
Dalam sebuah studi tentang pola makan dan kebiasaan olahraga dari ibu obesitas, peneliti menemukan bahwa stres memicu makan berlebihan dan mencegah perempuan mempraktikkan kebiasaan sehat.
Menghindari stres tidak selalu memungkinkan. Tapi teknik relaksasi dapat menjadi alternatif yang sehat untuk mengelola emosi selama masa stres.
2. Depresi
Dalam sebuah tinjauan literatur obesitas, satu kelompok peneliti mengidentifikasi beberapa cara di mana depresi dapat menyebabkan obesitas. Salah satunya beberapa antidepresan yang sering diresepkan dapat menyebabkan kenaikan berat badan.
Para peneliti juga mencatat bahwa kurang tidur, gejala yang umum dari depresi, juga merupakan faktor risiko obesitas. Tidak aktif dan kurang olahraga, gejala lain depresi, juga dapat memicu berat badan meningkat.
Jika Anda sedang berjuang melawan obesitas, melakukan diskrining untuk depresi mungkin menjadi langkah yang wajar. Pertimbangkan berbicara dengan dokter perawatan Anda tentang mendapatkan rujukan ke seorang profesional kesehatan mental.
3. Trauma personal atau masa kecil
Beberapa peneliti telah menemukan bahwa orang yang terkena kekerasan fisik, pelecehan seksual atau bullying (olok-olokan) berada pada risiko tinggi untuk obesitas.
detik.com

Sentuhan Lembut Redakan Emosi



ilustrasi (fineartamerica.com)
Jangan remehkan efek sentuhan. Menurut sejumlah peneliti, sentuhan ternyata dapat meredakan emosi, meski semua tergantung siapa yang menyentuh.
Sebuah penelitian terbaru mengungkap adanya hubungan erat antara emosi dan kerja otak merespons sentuhan. Penelitian itu dikembangkan dengan memindai otak manusia heteroseksual. Peneliti memantau bagaimana mereka merespons perlakuan sensual dari wanita cantik dibandingkan dengan pria maskulin.
Hasilnya, orang-orang tersebut lebih responsif terhadap sentuhan ala wanita dibanding sentuhan pria. Hsil itu didapat dari pengukuran menggunakan pemindai function magnetic resonance imaging (fMRI) untuk mengetahui perubahan aliran darah di otak.
“Kami menemukan, bagaimana salah satu bagian otak cukup sensitif merespons sentuhan,” ujar peneliti, Michael Spezio seperti dilansir Livecience, kemarin (10/6).
Menurut Spezio, kondisi tersebut menunjukkan persepsi sosial akibat sentuhan akan memengaruhi persepsi dari sensasi fisik.(ali)

sumber : http://www.solopos.com

Pria Lebih Banyak Mati Muda daripada Wanita

Jakarta, Pria memang lebih banyak mengambil risiko yang membahayakan bagi kesehatan dan nyawanya. Namun meski faktor-faktor tersebut dihilangkan, faktanya pria lebih banyak mati muda daripada wanita.

Dulu risiko mati muda pria terjadi karena pertempuran atau peperangan. Sementara saat ini risiko mati muda pria karena sering mengambil risiko untuk merespons tantangan yang membahayakan sehingga pria lebih mungkin mati muda daripada perempuan.

Tapi jika faktor darah muda tersebut dihilangkan, seperti dikutip dariPsychologyToday, Jumat (5/8/2011) fakta pendukung yang mencolok tetap ada: Pada setiap usia dan tahap kehidupan, pria lebih cepat mati daripada wanita.

Data tahun 1998 di Amerika Serikat, di antara orang-orang berusia di atas 65 tahun tercatat sebanyak 4.655 pria kulit putih dan 132 pria Afrika-Amerika (kulit hitam atau negro) bunuh diri. Sebaliknya, hanya 902 perempuan kulit putih dan 20 wanita Afrika-Amerika bunuh diri di tahun yang sama.

Kesenjangan gender dalam kematian bukan hanya suatu hal aneh di Amerika Serikat. Sebuah studi baru di 20 negara mengungkapkan bahwa laki-laki berisiko besar mengalami mati muda baik di Irlandia, Australia, Singapura maupun El Salvador. Kesenjangan gender meningkat sejak tahun 1940-an dan telah tumbuh semakin besar dalam beberapa tahun terakhir.

Tidak ada yang yakin mengapa hal itu terjadi. Apakah ada sesuatu tentang kromosom Y yang membuat pria rentan mati muda?

Laki-laki mendapat kromosom X dan Y, sementara perempuan hanya mendapat dua X. Dan X kedua mampu menyediakan duplikasi genetik lebih banyak daripada yang dapat dimuat kromosom Y. Penjelasan genetik atas perilaku yang pria yang rumit itu telah menjadi tren selama sepuluh tahun terakhir, namun tak banyak memberikan hasil yang baik.

Petunjuk yang menarik muncul dari penelitian lain, terutama yang mencakup informasi tentang dukungan sosial. Dukungan sosial diketahui berfungsi untuk mengurangi stres dan meningkatkan kesehatan fisik dan mental. Pengaruh dukungan sosial sebegitu besarnya sehingga kekurangan dukungan sosial disebut-sebut sebagai penyebab kematian dalam kasus merokok contohnya.

Para peneliti baru-baru ini melihat pemikiran bunuh diri pada orang-orang tua dan menemukan bahwa mereka yang memiliki pikiran bunuh diri cenderung kurang memiliki dukungan emosional dari orang sekitarnya. Mereka juga nampaknya kurang mendapat dukungan yang berasal dari keyakinan spiritual atau agama yang kuat.

Jenis kelamin juga berbeda secara dramatis dalam mendapat dukungan sosial. Alasannya cukup sederhana, pria lebih kompetitif sehingga membatasi dukungan, sedangkan wanita lebih kooperatif. Akibat yang ditimbulkan dari persaingan antara laki-laki bisa seumur hidup. Meskipun pria kadang-kadang mencemoohnya, wanita cenderung mengembangkan jaringan sosial sehingga mereka dapat memanggil teman-temannya pada saat stres. Secara harfiah, hal ini dapat menyelamatkan nyawa.

Telah lama diselidiki bahwa kecenderungan perempuan untuk mencari dukungan sosial mungkin merupakan hasil dari perannya membesarkan anak. Memelihara memiliki definisi kecenderungan untuk membutuhkan orang lain. Apalagi otak manusia dirancang saling terhubung untuk bekerjasama, baik laki-laki ataupun perempuan.

Para ilmuwan di Emory University di Atlanta memindai otak orang-orang dalam situasi di mana mereka bisa memilih untuk bekerja sama atau mendapatkan keuntungan dengan mengkhianati satu sama lain. Scan otak menunjukkan bahwa orang bekerja sama karena rasanya menyenangkan untuk dilakukan.

Ketika mereka melakukannya, mereka mengaktifkan sirkuit saraf yang merupakan bagian dasar dari sistem penghargaan di otak. Sirkuit tersebut adalah sirkuit yang bisa diaktifkan ketika kecanduan narkoba atau mengalami kesenangan lain seperti makan, seks dan mencapai keberhasilan.

"Penelitian kami untuk pertama kalinya menunjukkan bahwa kerjasama sosial secara intrinsik bermanfaat untuk otak manusia, bahkan dalam menghadapi tekanan dan kesenangan," kata penelitian psikiater Gregory S. Berns, MD, Ph.D.

Ini menunjukkan bahwa dorongan altruistik untuk bekerja sama secara biologis telah tertanam, baik diprogram secara genetik atau diperoleh melalui sosialisasi masa kanak-kanak dan rema
(ir/ir


sumber : http://health.detik.com/

GRATIS PLUS HADIAH

Hosting Gratis