website trackingwebsite tracking

PTC..PELUANG DAPAT UANG HANYA DENGAN MODAL KLIK

Cara Instan Untuk Verifikasi PayPal !
Tampilkan postingan dengan label MALARIA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label MALARIA. Tampilkan semua postingan

Selasa, 19 Juni 2012

Peneliti Temukan Protein yang Bisa Tingkatkan Kemanjuran Vaksin

Para pakar di Irlandia telah menemukan semacam tombol untuk menghidupkan dan mematikan kekebalan tubuh dalam protein yang disebut “off-switch,” yang memungkinkan dokter mengontrol kekebalan tubuh terhadap penyakit, dan bisa meningkatkan kemanjuran vaksin melawan penyakit, seperti HIV dan malaria.



Tombol “off-switch” itu adalah protein yang disebut TMED7. Para peneliti pada Universitas Trinity di Dublin, Irlandia, mengatakan, dalam sel-sel normal dan sehat, protein itu menenangkan sistem kekebalan tubuh setelah membasmi bakteri.
Anne McGettrick, salah seorang kepala penelitian yang menemukan TMED7 itu, mengumpamakan sistem kekebalan tubuh itu dengan orkes yang terdiri dari banyak alat musik yang berbeda, dan TMED 7 adalah salah satu dari alat musik itu. TMED7 merupakan protein pertama yang merupakan pengatur penting sistem kekebalan itu.
Ia mengatakan, “Mengapa itu membuat kami merasa gembira, karena semakin banyak kita bisa memahami sebagian kecil saja sistem kekebalan tubuh kita, dan semakin kita memahami bagaimana setiap sel bekerja, semakin mungkin kita memahami apa yang terjadi kalau kita sakit – mengapa orang menunjukkan gejala berbeda – dan ketika sistem kekebalan tubuh tidak berfungsi, kita bisa menelusuri apa yang tidak beres.”
Apabila TMED7 tidak berfungsi sebagai rem, ujar McGettrick, sistem kekebalan itu akan kacau setelah menetralisir infeksi bakteri.
Para peneliti menon-aktifkan protein itu dan kemudian menulari sel-sel itu dengan bakteri. Mereka menemukan reaksi sel-sel kekebalan tubuh menjadi terlalu aktif.
McGettrick yakin pembuatan obat-obatan, atau modifikasi vaksin, yang memperkuat sistem kekebalan tubuh dengan memisahkan TMED7 dari sel-sel bisa membantu mendorong kemanjuran vaksin melawan HIV dan malaria. Vaksin bekerja lebih baik jika sistem kekebalan tubuh kuat.
Artikel mengenai penemuan protein “off-switch” sistem kekebalan tubuh, TMED7, yang ditulis Anne McGettrick dan rekan-rekannya diterbitkan dalam Nature Communcation.
http://www.voaindonesia.com

Terobosan Baru untuk Atasi Penyakit Malaria


Sebuah terobosan baru dalam dunia kedokteran, ilmuwan Amerika mengatakan bahwa analisis atas sejenis protein vital di dalam parasit penyebab malaria menunjukkan kelemahan dalam parasit mikroskopik ini dan memberi titik awal yang baik untuk obat anti-malaria baru.


Parasit Plasmodium Falciparum, protozoa satu sel yang hidup dalam nyamuk dan menyebabkan tipe malaria yang paling mematikan, di antara sel-sel darah.

Sekelompok ilmuwan di Universitas Washington di St. Louis, Missouri, menghabiskan enam tahun dalam upaya mereka memahami struktur dan fungsi protein yang sangat penting untuk kelangsungan hidupPlasmodium Falciparum.
Ini adalah protozoa satu sel yang hidup dalam nyamuk dan menyebabkan tipe malaria yang paling mematikan. Parasit miskroskopis ini membutuhkan protein jenis ini – enzim yang disebut PMT – untuk membuat membran sel-selnya, dan tak dapat hidup tanpa protein ini.
Joseph Jez, yang memimpin tim penelitian, mengatakan bahwa memecahkan kode desain PMT ini seperti menemukan kelemahan fatal malaria.
"Jika kita dapat membidik protein tersebut dan pada dasarnya membunuh aktivitas protein tersebut, kita bisa mematikan produksi bahan dasar membran yang selanjutnya dapat mematikan organisme ini atau memperlambat pertumbuhannya,” paparnya.
Dr. Jez dan timnya menggunakan metode rumit yang disebut kristalisasi protein untuk dapat mengamati struktur molekul PMT dalam tiga dimensi. Ia mengatakan metode ini sangat penting untuk penelitian mereka.
"Jika kita dapat memahami bagaimana bentuk molekul ini dalam tiga dimensi, maka kita dapat membuat obat yang dapat membidik protein tersebut secara spesifik,” ujarnya.
Dr. Jez menambahkan bahwa karena Plasmodium PMT tidak dapat ditemukan dalam sel manusia, semua obat yang ditujukan pada protein ini dapat dengan aman diberikan kepada manusia.
Dr. Neeraj Mistry adalah direktur pelaksana Jaringan Global untuk Penyakit Tropis yang Terabaikan.Ia mengatakan bahwa riset ini merupakan langkah penting ke arah ditemukannya obat baru yang ampuh dan aman untuk memerangi wabah malaria.
"Penemuan ini membuka pintu ke arah pengembangan obat baru yang secara spesifik hanya akan mempengaruhi parasitnya. Hal ini juga berarti bahwa begitu jalan ini teridentifikasi, kita mungkin akan dapat menghasilkan obat yang unik, yang benar-benar mempengaruhi parasit malaria tersebut,” ujarnya.
Upaya untuk mengidentifikasi senyawa yang menarget Plasmodium PMT baru saja dimulai. Namun penelitian Universitas Washington ini memberi harapan baru, bukan saja untuk obat anti malaria baru, namun juga untuk zat yang dapat membasmi berbagai ulat parasit penyebab penyakit dan juga tumbuhan gulma yang semuanya bergantung pada protein PMT yang sama.
http://www.voaindonesia.com

Kunci Pengobatan Malaria Mungkin Ada dalam Darah Pasien


Penelitian baru menunjukkan bahwa salah satu kunci untuk mengendalikan penyakit malaria kemungkinan ada di dalam darah pasien
Parasit Plasmodium Falciparum, protozoa satu sel yang hidup dalam nyamuk dan menyebabkan tipe malaria yang paling mematikan, tampak di antara sel-sel darah.



S
ebuah tim ilmuwan menemukan cara dengan menggunakan sampel darah untuk mengidentifikasi perubahan genetik penting dalam parasit penyebab malaria. Analisa ini, yang dijelaskan jurnal ilmiah Nature edisi13 Juni, dapat membantu peneliti mengidentifikasi "hot spot" di seluruh dunia di mana parasit berkembang paling cepat dan kebal terhadap obat anti malaria konvensional. 

Malaria sering ditemui di daerah tropis. Lebih dari 200 juta orang terjangkit penyakit ini setiap tahunnya, dan hampir 2.000 orang meninggal setiap hari - kebanyakan anak-anak balita.

Walaupun puluhan tahun dilakukan penelitian, dokter masih belum memiliki vaksin malaria. Dan Plasmodium falciparum, parasit penyebab penyakit ini, dengan cepat mengembangkan kekebalan terhadap obat yang dipakai untuk melawannya. Berbagai varietas parasit malaria yang kebal obat berkembang di berbagai wilayah dunia, dan para ilmuwan kesulitan melacak perubahan genetik yang cukup cepat untuk mencegah wabah penyakit baru.

Sebuah tim peneliti yang dipimpin oleh Dominic Kwiatkowski dari Universitas Oxford di Inggris mengembangkan metode untuk mengekstrak DNA parasit malaria langsung dari darah manusia dan menentukan perubahan genetik menit ke menit untuk memahami penyebabnya. Ini menghilangkan proses penumbuhan parasit yang lama di laboratorium sebelum gen parasit itu dapat diuraikan.
http://www.voaindonesia.com

Jumat, 15 Juni 2012

Malaria Bisa Disembuhkan dengan Ekstrak Sambiloto


E-LIFE
Sabtu, 09 Juni 2012 , 20:24:00
MEDAN – Ekstrak sambiloto diakui bisa mengobati penyakit malaria dan meningkatkan daya tahan tubuh. Hal ini dibuktikan lewat penelitian dan disertasi yang dilakukan Dr dr Umar Zein DTM&H SpPD KPTI tentang penggunaan ekstrak sambiloto (andrographis paniculata).

“Hasil penelitian yang saya lakukan, ekstrak sambiloto itu bisa dijadikan obat untuk penyakit malaria. Malah tidak hanya sebagai obat, sambiloto itu juga bisa meningkatkan daya tahan tubuh,” ungkap Umar Zein, seperti diberitakan Sumut Pos (grup JPNN).

Hasil penelitiannya itu juga bilang Umar, sudah dipatenkan ke Dirjen HAKI (Hak Kekayaan Intelektual) dengan nomor HKI.3 HI.05.01.02.2044.
“Kita sudah lakukan penelitian. Kita berharap, penelitian ini bisa dikembangkan perusahaan farmasi agar bisa diproduksi skala besar. Kalau berhasil, maka Indonesia sangat terbantu. Karena tidak perlu mengimpor obat dan meningkatkan nilai ekonomis di masyarakat,” jelas Umar.

Sejauh ini bilang Umar, kasus malaria di Indonesia masih belum ditangani dengan baik. Terbukti, kasusnya tetap tinggi tiap tahun. Diperkirakan penyakit ini bisa membunuh 30 ribu orang dan menyebabkan 10-12 juta orang jatuh sakit tiap tahun.

“Sejak dari zaman penjajahan Belanda hingga saat ini, wilayah endemis malaria di Indonesia masih belum bisa dibebaskan dari penyakit itu,” katanya.
Indonesia sendiri lanjutnya, estimasi malaria ada 1,96 per 10 ribu penduduk. Pada 2011, setidaknya ada 1,8 juta kasus malaria klinis yang mendapat pengobatan.

“Belum lagi mereka yang tidak dapat pengobatan,” ungkapnya.

Provinsi Sumatera Utara sendiri, sebut Konsultan Penyakit Tropik Indonesia ini, pada 2009 ada 102.446 kasus malaria yang diobati.
Fakta lain, lanjutnya, anak-anak yang selamat dari malaria akut dapat mengalami gangguan belajar, anemia, dan gangguan tumbuh kembang. Bagi ibu hamil, malaria bisa menginfeksi janin. Akibatnya, bayi berisiko terpapar anemia dan berat badan lahir rendah (BBLR).

“Artinya, 50 persen populasi rawan terinfeksi malaria, terutama pedesaan dan wilayah masyarakat miskin. Secara global, penyakit ini merupakan salah satu faktor utama penyebab kemiskinan. Karena, banyaknya penderita, akan menurunkan produktivitas kerja,” sebutnya.

Tingginya kasus malaria, tambah Umar, tidak berbanding lurus dengan manajemen penanggulangan dan pengobatan. Dari sisi pengobatan konvensional yang menggunakan obat kloropin, sulpadokdsin-pirimetamin, kina ternyata sudah resisten bagi parasit malaria.

“Obat yang direkomendasikan WHO saat ini ACT (artemisin combination therapy) yang berasal dari China. Kita menggunakannya sejak 2006. Tetapi, distribusinya masih belum merata.  Padahal, ada bantuan asing dari Global Fund bidang malaria,” sebut Umar lagi.

Karenanya, sambungnya,  sudah sepantasnya Indonesia memproduksi sendiri obat malaria dari bahan baku yang ada di negeri ini yakni ekstrak sambiloto. (uma)

jpnn.com

GRATIS PLUS HADIAH

Hosting Gratis