website trackingwebsite tracking

PTC..PELUANG DAPAT UANG HANYA DENGAN MODAL KLIK

Cara Instan Untuk Verifikasi PayPal !
Tampilkan postingan dengan label OBAT. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label OBAT. Tampilkan semua postingan

Selasa, 10 Juli 2012

Obat Pereda Nyeri Tingkatkan Risiko Keguguran


Satu dari enam ibu hamil masih mengasup obat pereda sakit menjelang dan di awal kehamilan.



ibu hamil (corbis
Hati-hati mengonsumsi obat penghilang rasa sakit yang mengandung ibuprofren saat merencanakan kehamilan hingga usia kandungan 20 minggu. Sebuah penelitian menemukan, wanita yang mengasup ibuprofen sesaat sebelum hamil hingga usia 20 minggu berisiko dua kali lipat mengalami keguguran.

Para ilmuwan memperingatkan, puluhan ribu ibu hamil mengasup ibuprofen saat kehamilan tanpa menyadari bahayanya. Meskipun ada peringatan jelas mengenai bahaya obat selama kehamilan, satu dari enam ibu hamil masih meminum obat pereda rasa sakit ibuprofen.

Penelitian melibatkan kelompok obat penghilang rasa sakit yang dikenal sebagai non-steroid atau obat anti inflamasi (OAINS) meliputi ibuprofen dan naproxen. Aspirin merupakan salah satu kategori ini meski tak dimasukkan dalam studi. Sementara parasetamol dianggap aman selama kehamilan.

Para peneliti percaya, asupan obat-obatan menyebabkan embrio tidak melekat dalam rahim dengan sempurna sehingga wanita lebih mungkin menderita keguguran atau aborsi spontan.

Sekitar satu dari delapan kehamilan berakhir dengan keguguran, dan mayoritas terjadi dalam 12 minggu pertama. Seringkali, penyebab keguguran belum jelas, namun wanita yang berusia lebih tua, minum minuman beralkohol atau menderita obesitas memiliki risiko jauh lebih tinggi.

Studi yang dipublikasikan dalam jurnal Medical Association Kanada melibatkan 47.050 wanita berusia 15-45 tahun. Mereka ditanya apakah mengasup obat penghilang rasa sakit selama dua minggu sebelum hamil hingga 20 minggu pertama kehamilan. Dan, satu dari enam wanita hamil mengaku minum obat penghilang rasa sakit.

Dr Anick Berard dari Universitas Montreal mengatakan, "Kami secara konsisten melihat bahwa risiko aborsi spontan dikaitkan dengan penggunaan diklofenak, naproxen, celecoxib, ibuprofen dan rofecoxib secara sendiri atau dalam kombinasi selama kehamilan. Wanita yang mengasup jenis dan dosis OAINS non-aspirin selama awal kehamilan lebih mungkin untuk memiliki aborsi spontan, " ujarnya seperti dimuat Daily Mail.

Namun, keguguran akibat obat penghilang rasa sakit terbilang kecil. Studi juga tak memperhitungkan penyebab lain seperti merokok dan obesitas. Dr Virginia Beckett, juru bicara untuk Royal College of Obstetricians dan Gynaecologists, mengatakan, "Penting agar setiap wanita mengurangi risiko saat merencanakan dan selama kehamilan untuk mengurangi komplikasi dengan gaya hidup sehat." (eh)

http://kosmo.vivanews.com

Selasa, 03 Juli 2012

Obat Migrain ini Tetap Diresepkan Meski Bahayakan Jantung

Jakarta, Obat-obatan seperti Amerge, Axert, Frova, Imitrex, Maxalt, Relpax, Treximet dan Zomig masuk dalam kelompok obat triptans. Obat-obat itu dianggap sangat efektif mengobati sakit kepala migrain dan dapat meredakan migrain. Sayangnya, obat ini mempersempit pembuluh darah, sehingga penderita penyakit jantung seharusnya tidak boleh menggunakan obat ini.

Sebuah penelitian terhadap lebih dari 120.000 orang penderita migrain menunjukkan bahwa lebih dari 1 di antara 5 orang yang memiliki penyakit jantung diresepkan obat triptan selama bertahun-tahun.

"Angka itu sangat mengecewakan. Saya tidak pernah pikir angka itu dapat begitu tinggi," kata Stewart Tepper MD, dokter spesialis sakit kepala di Klinik Cleveland seperti dikutip dari WebMD, Minggu (2/10/2011).

Obat Triptans memang efektif dan cepat meredakan sakit kepala, kepekaan terhadap cahaya dan suara bising, serta mual dan muntah yang diakibatkan migrain. Obat ini sangat membantu untuk penderita sakit kepala dalam taraf sedang hingga berat yang mengganggu kemampuan penderitanya untuk melakukan tugas sehari-hari.

Namun obat Triptans dapat mempersempit pembuluh darah di otak. Meski bagi kebanyakan orang, obat ini ditoleransi dengan baik dan aman. Tetapi triptans juga mempersempit pembuluh darah yang menuju jantung sebesar 10-20 persen untuk sementara. Hal itu bisa berbahaya bagi orang yang sudah memiliki penyakit jantung.

Kurang dari 1 persen pasien yang menggunakan triptans dalam penelitian ini mengalami masalah jantung dan pembuluh darah, termasuk serangan jantung, stroke, detak jantung yang berbahaya dan kematian. Tapi risiko penggunaannya jauh lebih tinggi untuk penderita penyakit jantung.

Label obat memang sudah jelas menyatakan bahwa penderita penyakit jantung atau yang pernah mendapat serangan jantung, memiliki riwayat stroke, memiliki penyakit pembuluh darah, dan pasien tekanan darah tinggi tidak diperbolehkan memakai triptans.

Tapi penelitian yang dilakukan baru-baru ini masih menemukan banyak pasien migrain yang memiliki penyakit jantung namun tetap diresepkan triptans. Para peneliti mengidentifikasi 121.286 penderita migrain. Hasilnya:
1. 38% diantaranya diberi resep obat triptan.
2. 8% diantaranya memiliki penyakit jantung yang seharusnya tidak diperbolehkan memakai triptans.
3. 22% diantara mereka yang memiliki penyakit jantung telah diberi resep triptan sejak tahun 2009.

Dokter Tepper mengatakan ia memiliki pasien migrain yang hanya mau diberi resep triptans. "Ketika saya mengatakan bahwa mereka tidak boleh meminum obat ini, mereka sangat marah," katanya.

"Jika mereka diberi resep, maka besar kemungkinan mereka meminum obatnya," kata peneliti Daisy Ng-Mak, PhD, direktur kesehatan global di Merck Sharp & Dohme Corp di West Point, AS, yang mendanai penelitian ini.

Untuk penderita migrain yang memiliki risiko penyakit jantung dan pembuluh darah, Tepper menyarankan agar berbicara dengan dokter terlebih dahulu untuk menentukan apakah ia boleh menggunakan tripta
(ir/ir


Sumber : detik.com

Selasa, 19 Juni 2012

Tak Selalu Harus Diobati, Batuk Kadang Cuma Ada di Pikiran



img
Ilustrasi (dok: Thinkstock)
Jakarta, Banyak orang terlalu menggantungkan diri pada obat ketika mulai mengeluh batuk-batuk. Padahal menurut penelitian, terkadang batuk hanya ada di pikiran dan tetap sembuh meski cuma diberi obat palsu yang sebenarnya tidak ada isinya.

Penelitian yang dilakukan di University of Queensland ini melibatkan 21 orang dewasa yang diminta menghirup uap menyengat yang mengandung capcaicin. Uap ini dibuat dari saripati cabe, yang dalam penelitian ini difungsikan sebagai perangsang batuk.

Sebelumnya, sebagian partisipan diminta menghirup obat semprot yang oleh peneliti dikatakan mengandung anestesi lokal bernama lidocain. Secara teori, pemberian lidokain akan meredam respons batuk, sehingga partisipan lebih tahan menghirup uap cabe tanpa batuk-batuk.

Benar saja, partisipan yang lebih dulu disemprot obat sebelum menghirup uap cabe lebih sedikit yang batuk-batuk. Rangsang batuk yang dialami para partisipan di kelompok ini 45 persen lebih rendan dibanding partisipan yang tidak disemprot obat apapun.

Namun seusai penelitian, para ilmuwan mengungkap bahwa ternyata obat yang disemprotkan adalah plasebo alias obat kosong sehingga tidak secara langsung mempengaruhi repons batuk. Artinya tanpa diobati, sebenarnya batuk bisa diatasi sendiri dengan cara mengontrol pikiran.

"Saya sangat terkejut melihat betapa besarnya respons partisipan terhadap penggunaan plasebo. Ini sangat besar," kata Stuart Mazzone yang memimpin penelitian ini seperti dikutip dari Dailymail, Selasa (19/6/2012).

Sebelumnya, penelitian di Cardiff University juga pernah mengungkap bahwa efek plasebo memang bekerja pada keluhan batuk-batuk ringan. Tingkat kesembuhan pada pasien yang diberi plasebo atau obat kosong sama saja dengan yang diberi obat batuk sungguhan.

"Saya pikir kuncinya adalah, bahwa jika pasien percaya pada pengobatannya maka apapun obatnya (termasuk obat kosong) tetap akan muncul efeknya," kata Ronald Eccles, seorang peneliti dari Cardiff University.




AN Uyung Pramudiarja - detikHealth

Selasa, 19/06/2012 19:02 WIB 

Jumat, 15 Juni 2012

Aspirin Pangkas Resiko Kanker Kulit?

SEJAK lama, para dokter merekomendasikan meminum aspirin untuk mencegah serangan jantung dan stroke. Namun kini, aspirin juga bisa dimungkinkan untuk mengurangi resiko beberapa bentuk kanker kulit.

Hipotesis itu didapat dalam sebuah penelitian yang menganalisis catatan medis hampir 200 ribu orang dewasa di Denmark.

Dari catatan tersebut, para peneliti menemukan bahwa orang yang telah mendapatkan lebih dari dua resep aspirin atau obat anti peradangan (NSAID) - seperti ibuprofen atau naproxen - selama periode 10 tahun memiliki resiko 15 persen lebih rendah terkena karsinoma sel skuamosa. Selain itu, mereka juga memiliki resiko lebih rendah 13 persen terkena melanoma jika dibandingkan dengan orang yang hanya mendapatkan satu resep atau kurang.

Bahkan, menurut penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Cancer itu, orang-orang yang diberi resep NSAID dosis tinggi selama tujuh tahun atau lebih memiliki resiko kanker kulit terendah.

Namun demikian, hasil studi hanya menunjukkan sebuah hubungan. Penelitian ini masih memiliki beberapa keterbatasan penting yang menghalangi kesimpulan kuat apapun tentang kemungkinan adanya hubungan antara NSAID dan kanker kulit.

Para peneliti tidak dapat memastikan bahwa peserta penelitian benar-benar mengonsumsi resep mereka. Misalnya, mereka juga tidak memiliki data apapun pada gaya hidup peserta, jenis kulit, atau paparan sinar berbahaya matahari ultraviolet (UV).

Menurut Jennifer Y. Lin, MD, dermatolog di Dana-Farber/Brigham dan Pusat Kanker Wanita di Boston, semua peserta studi tinggal di utara Denmark, sehingga temuan tidak selalu berlaku untuk populasi lain dan wilayah, termasuk Amerika Serikat.

"Mungkin ada biologi dan penjelasan yang nyata tentang mengapa (NSAID) sangat membantu," kata Lin, yang tidak terlibat dalam penelitian baru tersebut. Namun, dia menambahkan, "Masih terlalu dini untuk mengatakan kepada pasien kanker kulit semua untuk mengonsumsi obat ini."

Kunci untuk mencegah kanker kulit tidak berubah, kata Lin, batasi paparan sinar matahari, gunakan tabir surya dan pakaian pelindung, dan hindari indoor tanning.

Peran NSAID dalam pencegahan kanker menjadi area yang diminati kalangan dokter. Aspirin telah menunjukkan bisa mengurangi risiko kanker kolorektal dan polip prakanker, dan pada sepasang penelitian yang diterbitkan awal tahun ini. 

Peneliti menemukan bahwa orang mungkin kurang mengembangkan atau meninggal karena kanker -- termasuk paru-paru, prostat, dan kandung kemih -- jika mereka mengonsumsi aspirin setiap hari.

Hal itu wajar untuk berpikir bahwa NSAID dapat melawan kanker secara langsung. Obat-obatan tersebut mengurangi rasa sakit dan peradangan dengan menghambat (COX) enzim siklooksigenase.

Enzim ini terlibat tidak hanya dengan peradangan tetapi juga dengan proses tertentu yang terlibat dalam kanker, seperti suplai darah ke kematian sel tumor dan diprogram (dikenal sebagai apoptosis). (go4/Wrt3)


sumber : http://www.metrotvnews.com/

Kombinasi Obat & Bawang Putih Percepat Turunkan Darah Tinggi


AN Uyung Pramudiarja - detikHealth

img
foto: Thinkstock
Adelaide, Salah satu bumbu dapur yang punya banyak manfaat adalah bawang putih, termasuk untuk kesehatan jantung. Bila dikonsumsi bersama dengan obat-obat antihipertensi, bawang putih bisa membuat tekanan darah turun lebih mudah. 

Dalam sebuah penelitian diUniversity of Adelaide, tekanan darah pasien yang mengonsumsi obat antihipertensi bersama dengan ekstrak bawang putih turun lebih rendah dibandingkan hanya dengan obat-obatan saja. Perbedaannya cukup signifikan karena mencapai 10 mmHg. 

Sebagian partisipan dalam penelitian ini mendapatkan suplemen bawang putih sebanyak 4 kapsul selama 12 pekan dan sebagian lainnya mendapat plasebo. Jenis obat antihipertensi yang digunakan bervariasi, termasuk di antaranya golongan diuretik. 

"Ini adalah riset pertama yang meneliti bawang putih sebagai terapi tambahan pada hipertensi yang diobati namun tidak terkontrol," ungkap salah satu peneliti, Karl Ried seperti dikutip dari AOL Health, Senin (22/11/2010). 

Berbagai penelitian terdahulu telah membuktikan manfaat bawang putih bagi kesehatan jantung. Pada hipertensi yang tidak terkontrol, efek bawang putih juga telah dibuktikan meski baru kali ini diteliti efeknya jika digunakan bersama dengan obat moderen. 

Namun kombinasi ekstrak bawang putih dengan obat-obat moderen tetap harus dikonsultasikan dengan dokter. Beberapa senyawa dalam herba ini bisa mengencerkan darah, mengurangi kemampuan untuk menggumpal dan bisa berinteraksi dengan golongan obat tertentu. 

Para peneliti juga belum bisa menganjurkan dosis yang tepat untuk mendapatkan efek paling optimal. Yang jelas dalam penelitian ini bawang putih hanya digunakan sebagai suplemen dan tidak untuk menggantikan obat antihipertensi. 

Sementara itu pakar kesehatan jantung dari AOL Health, Dr. Christopher Cannon menilai penelitian ini kurang bisa diterapkan. Dosis bawang putih yang digunakan menurutnya tidak wajar untuk konsumsi sehari-hari. 

"Untuk menurunkan tekanan darah, langkah terpenting adalah mengurangi konsumsi garam. Berikutnya adalah olahraga dan diet, namun beberapa orang mungkin tidak nyaman untuk memasukkan bawang putih ke dalam dietnya,"  
(up/ir


sumber : detik.com

Kamis, 14 Juni 2012

Pengaruh Zat Kimia Pada Wanita Hamil


Kamis, 28 Juli 2011 - Berbagai racun memberikan bahaya pada janin saat perkembangan. Sebuah studi tahun 2011 menemukan kalau hampir semua wanita hamil AS membawa zat kimia ganda, termasuk beberapa yang terlarang sejak tahun 1970an pada tubuh mereka. Para peneliti mendeteksi bifenil poliklorinat, pestisida organoklorin, senyawa perflorinat, fenol, eter difenil polibrominat, phthalat, hidrokarbon aromatik polisiklik, PBDE perklorat, senyawa yang digunakan sebagai pemadam api, dan dikloro difenil trikloroetane (DDT), sebuah pestisida yang dilarang di AS tahun 1972, dalam tubuh 99 hingga100 persen wanita hamil yang diuji. Bisfenol A (BPA) ditemukan dalam 96 persen wanita yang disurvey. Beberapa kimiawi berkonsentasi sama berasosiasi dengan efek negatif pada anak dari studi lain dan diduga paparan pada kimiawi tersebut dapat berpengaruh lebih besar daripada paparan hanya satu zat saja.

Pencernaan alkohol pada saat hamil dapat menyebabkan sindrom alkohol janin, sebuah sindrom gangguan lahir yang permanen dan kadang berbahaya. Sejumlah studi telah menunjukkan kalau minum-minuman keras dalam ukuran ringan hingga sedang saat hamil memang tidak berpengaruh nyata pada janin, namun agar benar-benar aman wanita hamil tidak boleh minum alkohol sama sekali saat hamil.
Sejumlah studi juga menunjukkan kalau anak yang terpapar pada asap rokok sebelum lahir dapat menglami sejumlah gangguan perilaku, syaraf, dan fisik.
Unsur raksa dan metil raksa adalah dua bentuk air raksa yang dapat memberi resiko saat hamil. Metil raksa, sejenis pencemar makanan laut dan ikan air tawar, terkenal menghasilkan gangguan sistem syarafberbahaya, khususnya pada saat perkembangan otak. Memakan ikan adalah sumber utama paparan raksa pada manusia dan sebagian ikan dapat mengandung cukup raksa untuk membahayakan sistem syaraf janin yang sedang berkembang, kadang membawa pada gangguan belajar. Raksa hadir pada banyak jenis ikan, namun paling banyak ditemukan pada ikan berukuran besar. Badan Obat dan Makanan serta Dinas Perlindungan Lingkungan AS menyarankan wanita hamil agar tidak memakan ikan pedang, hiu, makarel raja, dan ikan ubin, serta membatasi konsumsi tuna albacore hingga 6 ons atau kurang dalam seminggu.
Pusat Kesehatan Lingkungan Anak melaporkan studi yang menunjukkan kalau paparan pada polusi udara saat hamil berkaitan dengan kelahiran buruk seperti rendahnya berat lahir, bayi prematur, dan malformasi jantung. Busur darah bayi yang terpapar menunjukkan kerusakan DNA yang berhubungan dengan kanker. Studi lanjutan menunjukkan penundaan perkembangan pada usia tiga tahun, rendahnya skor tes IQ, dan meningkatnya masalah perilaku pada usia enam dan delapan tahun.
Menurut Pusat Pengendalian Penyakit AS, sistem syaraf janin yang berkembang rentan pada racun timbal. Racun syaraf diamati pada anak dari wanita yang terpapar karena kemampuan timbal melintasi halangan plasenta dan menyebabkan catat syaraf janin. Masalah khusus wanita hamil adalah penumpukan timbal di tulang dilepaskan ke darah saat hamil. Beberapa studi memberi bukti kalau paparan ibu hamil yang kecil pada timbal bahkan dapat menghasilkan gangguan intelektual dan perilaku pada anak.
Studi tahun 2006 menemukan kalau anak yang terpaparkan sebelum lahir pada insektisida klorpirifos memiliki perkembangan motorik dan mental yang buruk pada usia tiga tahun dan resiko masalah perilaku yang lebih tinggi. Studi tahun 2007 menggunakan model tikus menunjukkan kalau paparan pada hidrokarbon aromatik polisiklik  ketika lahir dan menyusui mengurangi jumlah sel telur di rahim anak perempuan yang dilahirkan hingga dua pertiga. Studi tahun 2009 pada wanita hamil yang terpaparkan tetrakloroetilen dalam air minum meningkatkan resiko gangguan katup oral dan tabung syaraf pada anak mereka. Studi tahun 2009 menemukan kalau paparan pralahir pada phthalates, senyawa kimia yang digunakan untuk plastik dalam banyak jenis produk perawatan pribadi, mainan anak, dan peralatan medis, mungkin menjadi faktor resiko lingkungan untuk berat lahir yang rendah pada anak. Studi tahun 2010 menemukan kalau paparan pralahir pada senyawa pemadam api bernama difenil eter polibrominat berasosiasi dengan efek perkembangan syaraf terhambat pada anak kecil.
Sumber
Wikipedia. Pregnancy.
Referensi lanjut
  1. Tracey J. Woodruff, Ami R. Zota, Jackie M. Schwartz. Environmental Chemicals in Pregnant Women in the US: NHANES 2003-2004. Environmental Health Perspectives, 2011; DOI: 10.1289/ehp.1002727
  2. Day NL (1992). “The effects of prenatal exposure to alcohol.” Alcohol Health and Research World16(2), 328–244.
  3. Goodlett CR, Peterson SD (1995). “Sex differences in vulnerability to developmental spatial learning deficits induced by limited binge alcohol exposure in neonatal rats”. Neurobiological Learning and Memory64(3), 265–275.
  4. Streissguth AP, et al. (1994). “Prenatal alcohol and offspring development: the first fourteen years”. Drug and Alcohol Dependence36(2), 89–99.
  5. Harvard.edu. Prenatal Exposure to Mercury From a Maternal Diet High in Seafood Can Irreversibly Impair Certain Brain Functions in Children
  6. March of Dimes. Environmental risks and pregnancy
  7. Alan Mozes Exposure to Common Pollutant in Womb Might Lower IQ
  8. Protecting Workers Exposed to Lead-based Paint Hazards : A Report to Congress
  9. Exposures To Insecticide Chlorpyrifos In Pregnancy Adversely Affect Child Development, Study Finds
  10. Environmental Toxins May Limit Fertility In Offspring
  11. Zhang Y, PhD, Lin L, MD, Cao Y, PhD, Chen B, MD, Zheng L, MSC, Ge R, MD. Phthalate Levels and Low Birth Weight: A Nested Case-Control Study of Chinese Newborns. Journal of Pediatrics, DOI: 10.1016/j.jpeds.2009.04.007

Senin, 11 Juni 2012

Obat Darah Tinggi Malah Bahaya Jika Minumnya Tidak Teratur


AN Uyung Pramudiarja - detikHealth

img
foto: Thinkstock
Jakarta, Tidak semua kasus hipertensi atau tekanan darah tinggi perlu diobati, kadang cukup dengan perubahan gaya hidup. Namun jika dokter sudah memberikan obat, maka harus diminum secara rutin sebab jika tidak risikonya malah bisa berbahaya.

Pesan itu disampaikan oleh ahli jantung dari RS Siloam Lippo Karawaci, Dr Antonia Anna Lukito, SpJP-FIKA dalam pemaparan hasil studi CRUCIAL. Studi internasional tentang hipertensi ini dilakukan oleh Pfizer dan melibatkan 1.461 pasien dari 19 negara di Asia, Timur Tengah, Eropa dan Amerika Latin.

Menurut Dr Anna, obat hipertensi yang diminum tidak teratur sama bahayanya dengan hipertensi yang tidak diobati. Risiko terburuknya adalah komplikasi di 4 organ utama yakni stroke di otak, gagal ginjal, serangan jantung dan kerusakan pembuluh darah di mata atau retinopati.

"Sebelum memberi obat, pasien selalu kita edukasi sejak awal bahwa pengobatannya harus teratur. Kalau nggak bisa teratur, mendingan nggak usah sama sekali karena nggak ada gunanya," ungkap Dr Anna di Restoran Kembang Goela, Rabu (12/10/2011).

Dr Anna menambahkan, fungsi obat hipertensi tidak hanya menurunkan tekanan darah tetapi juga mencegah timbulnya komplikasi jangka panjang. Risiko ini sering tidak disadari oleh pasien, sehingga sering menghentikan pengobatan saat gejalanya sudah tidak terasa.

Sementara itu, spesialis penyakit dalam dari RS Cipto Mangunkusumo, Prof Dr Lukman Hakim, SpPD-KKV mengatakan ketidakpatuhan dalam minum obat hipertensi juga bisa memicu rebound. Artinya tekanan darah yang sudah turun saat diobati tiba-tiba bisa melonjak lebih tinggi saat obat dihentikan.

Kalau hanya sesekali tidak minum obat karena lupa, mungkin efeknya tidak akan terlalu signifikan. Pasien dikatakan tidak patuh dan berisiko tinggi mengalami rebound jika terlalu sering menghentikan pengobatan saat merasa tubuhnya baik-baik saja.

"Kalau memang gejalanya berkurang, dokter akan menurunkan dosisnya dan tidak menghentikan pengobatan sama sekali. Kadang-kadang pasien tidak tahu kondisi yang sebenarnya sehingga memang harus rajin-rajin kontrol ke dokter," kata Prof Lukman.

CRUCIAL merupakan studi tentang pengobatan hipertensi yang dilakukan di 19 negara termasuk Indonesia. Penelitian ini membuktikan, pengobatan dengan satu tablet kombinasi dapat meningkatkan kepatuhan minum obat dibandingkan beberapa tablet dan bisa menunda risiko serangan jantung hingga 10 pers
(up/ir
Sumber : detik.com

Ibuprofen Memicu Stroke pada Pemakaian Jangka Panjang


AN Uyung Pramudiarja - detikHealth

img
foto: Thinkstock
Jakarta, Salah satu obat pereda nyeri yang bisa dibeli tanpa resep adalah ibuprofen. Meski aman dan mudah didapatkan, obat ini tidak boleh digunakan sembarangan sebab dalam jangka panjang bisa menyebabkan masalah jantung dan pembuluh darah termasuk stroke. 

Ibuprofen bukan satu-satunya pereda nyeri yang meningkatkan risiko penyakit jantung. Pada tahun 2004, pereda nyeri yang lain yakni Rofecoxib yang dipasarkan dengan nama dagang Vioxx ditarik dari peredaran karena dapat memicu stroke dan serangan jantung. 

Risiko yang sama ternyata juga ada pada ibuprofen, yang hingga saat ini sangat populer penggunaannya termasuk untuk meredakan nyeri menstruasi. Bedanya pada ibuprofen peningkatan risiko terjadi hanya dalam pemakaian jangka panjang. 

"Pada umumnya pasien minum ibuprofen dalam periode singkat sekedar untuk mengatasi nyeri akut. Asal tidak berlebihan, risikonya sangat kecil," ungkap Prof Simon Maxwell dari British Pharmacological Society’s Prescribing Committee seperti dikutiop dari Dailymail, Kamis (13/1/2011). 

Menurut Prof Maxwell, risiko untuk mengalami stroke baru akan meningkat pada penggunaan ibuprofen sebanyak 3-4 butir/hari dengan dosis hingga 2.000 mg berturut-turut selama beberapa bulan atau bahkan 1 tahun. Untuk sekedar mengatasi sakit kepala, dosis dan lama pemakaian tentunya tidak akan sebesar itu. 

Kekhawatiran atas pengunaan ibuprofen mencuat setelah para ahli dari University of Bren di Swiss mempublikasikan temuan terbarunya baru-baru ini. Temuan yang dipublikasikan di British medical Journal itu merupakan hasil penelusuran terhadap 31 uji klinis yang melibatkan 116.429 pasien. 

Para ahli mengungkap bahwa pasien yang menggunakan ibuprofen sebagai antiradang maupun sebagai pereda nyeri dalam jangka waktu lama bisa meningkatkan risiko stroke hingga 3 kali lipat. Antiradang yang lain yang juga meningkatkan risiko stroke pada pemakaian jangka panjang adalah di
(up/ir


sumber : detik.com

Garam Mandi Sebabkan Ketergantungan Obat


detail berita
Garam mandi sebabkan ketergantungan obat. (Foto: Getty Images)
SALAH satu bahan kimia atau kosmetik yang digunakan dalam ritual mandi tersebut adalah garam mandi atau dikenal denganbath salt. Melarutkan satu genggam garam mandi dapat melancarkan peredaran darah, menghilangkan capai, merilekskan otot-otot yang tegang, dan bisa dipakai untuk manicure & padicure.

Siapa sangka dengan semua nilai positif tersebut, garam mandi bisa berbahaya untuk kesehatan manusia, seperti yang dinyatakan para ahli dari American Association of Poison Control Center.

Keprihatinan dokter ini disebabkan oleh efek samping yang muncul setelah mandi dengan garam tersebut. Menurut para ilmuwan, garam mandi termasuk pemicu tekanan darah tinggi, nadi cepat, berlebihan, dan halusinasi. Selain itu, orang yang mandi dengan garam ini akan menyebabkan paranoid, dan amnesia. Demikian yang dikutip okezone dari Genius Beauty, Jumat (21/1/2011).

Para ilmuwan menekankan, garam mandi digunakan oleh beberapa pecandu narkoba sebagai pengganti kokain. Dalam kasus tersebut, ada keinginan mengembangkan produk sama dengan pengaruh penggunaan metamfetamin. Alasannya, terletak pada kenyataan bahwa garam mandi berisi zat kimia methylenedioxypyrovalerone (MDPV). Senyawa kimia ini tidak direkomendasikan untuk penggunaan medis di Amerika Serikat.

Pada akhir Desember, 85 kasus intoksikasi dengan bahan yang digunakan dalam garam mandi telah dicatat oleh para pakar di negara bagian Louisiana. (nsa)

Sumber : okezone.com
Chaerunnisa - Okezone
Jum'at, 21 Januari 2011 10:54 wib


Minggu, 10 Juni 2012

PARA ILMUWAN PROGRAM ULANG SEL KANKER DENGAN OBAT EPIGENETIK


Release Date: 2012/03/29
ILMUWAN memprogram ulang sel KANKER DENGAN DOSIS RENDAH OBAT epigenetik
Bereksperimen dengan sel dalam kultur, para peneliti di Johns Hopkins Kimmel Cancer Center telah meniupkan kehidupan baru mungkin ke dua obat yang dulu dianggap terlalu beracun untuk pengobatan kanker manusia.  Obat-obatan, azacitidine (AZA) dan decitabine (DAC), adalah epigenetik bertarget narkoba dan bekerja untuk memperbaiki penyebab kanker perubahan yang memodifikasi DNA.
Para peneliti mengatakan obat juga ditemukan membidik sub-populasi kecil tapi berbahaya sel memperbaharui diri, kadang-kadang disebut sebagai kanker sel induk, yang menghindari obat kanker yang paling dan kambuh penyebab dan menyebar.
Dalam laporan yang diterbitkan dalam, 20 Maret 2012, isu Cancer Cell , Johns Hopkins tim mengatakan bahwa penelitian mereka memberikan bukti bahwa dosis rendah obat diuji pada kultur sel menyebabkan tanggapan antitumor pada kanker payudara, paru-paru, dan usus besar.
Agen kemoterapi konvensional bekerja dengan tanpa pandang bulu meracuni dan membunuh sel-cepat membagi, termasuk sel kanker, dengan merusak mesin seluler dan DNA. "Sebaliknya, dosis rendah AZA dan DAC dapat mengaktifkan kembali gen yang menghentikan pertumbuhan kanker tanpa menyebabkan kerusakan langsung membunuh sel-atau DNA," kata Stephen Baylin , MD, Ludwig Profesor Onkologi dan wakil direktur dari Johns Hopkins Kimmel Cancer Center .
Banyak ahli kanker telah meninggalkan AZA dan DAC untuk pengobatan kanker umum, menurut para peneliti, karena mereka adalah racun bagi sel-sel normal pada dosis tinggi standar, dan ada sedikit penelitian menunjukkan bagaimana mereka mungkin bekerja untuk kanker pada umumnya.  Baylin dan nya rekan Cynthia Zahnow , Ph.D., memutuskan untuk melihat lagi pada obat setelah dosis rendah obat yang menunjukkan manfaat pada pasien dengan gangguan pra-leukemia disebut sindrom myelodysplastic (MDS).  Johns Hopkins peneliti juga menunjukkan manfaat dari dosis rendah obat dalam tes dengan sejumlah kecil pasien kanker paru-paru lanjut."Hal ini bertentangan dengan cara kita biasanya melakukan hal-hal dalam penelitian kanker," kata Baylin, mencatat bahwa "biasanya, kita mulai di laboratorium dan kemajuan ke uji klinis.  Dalam hal ini, kami melihat hasil dalam uji klinis yang membuat kita kembali ke laboratorium untuk mencari cara untuk memindahkan terapi ke depan. "
Untuk penelitian ini, tim Baylin dan Zahnow yang bekerja dengan leukemia, payudara, dan baris sel kanker lainnya dan sampel tumor manusia menggunakan dosis serendah mungkin yang efektif melawan kanker. Secara keseluruhan, para peneliti mempelajari enam baris sel leukemia, leukemia sampel tujuh pasien, tiga baris sel kanker payudara, tujuh sampel tumor payudara (termasuk empat sampel tumor yang telah menyebar ke paru-paru), satu paru-paru sampel kanker tumor, dan satu kanker usus besar sampel tumor.  Tim diperlakukan jalur sel dan sel-sel tumor dengan dosis rendah AZA dan DAC dalam budaya selama tiga hari dan memungkinkan obat-diperlakukan sel untuk beristirahat selama seminggu. Sel diperlakukan dan sampel tumor kemudian ditransplantasikan ke tikus di mana para peneliti mengamati tanggapan antitumor dilanjutkan hingga 20 minggu. Respon diperpanjang ini sejalan dengan pengamatan pada beberapa pasien MDS yang terus memiliki efek antikanker lama setelah menghentikan obat.
Terapi dosis rendah terbalik jalur kanker gen sel, termasuk yang mengontrol siklus sel, perbaikan sel, pematangan sel, diferensiasi sel, interaksi sel kekebalan tubuh, dan kematian sel. Efek bervariasi pada sel tumor individu, tetapi para ilmuwan umumnya melihat bahwa sel kanker kembali ke keadaan yang lebih normal dan akhirnya meninggal.  Hasil ini disebabkan, sebagian, dengan perubahan lingkungan epigenetik, atau kimia, DNA.  kegiatan epigenetik menghidupkan gen tertentu dan lain-lain blok, kata Zahnow, asisten profesor onkologi dan Evelyn Grolman Glick Cendekia di Johns Hopkins.
Stephen Baylin, MD, Ph.D., menjelaskan Epigenetika:



Tim peneliti juga menguji AZA dan efek DAC pada jenis sel kanker payudara metastatik berpikir untuk mendorong pertumbuhan kanker dan menolak terapi standar.  sel metastatik sulit untuk belajar dalam model tumor laboratorium standar, karena mereka cenderung untuk melepaskan diri dari tumor asli dan mengapung di dalam darah dan cairan getah bening.  The Johns Hopkins tim diciptakan kembali lingkungan metastasis sel induk ', yang memungkinkan mereka untuk tumbuh sebagai bola mengambang.  "Sel-sel ini tumbuh dengan baik sebagai bulatan di suspensi, tetapi ketika kita diobati sel dengan AZA, baik ukuran dan jumlah bola secara dramatis berkurang, "kata Zahnow.
Mekanisme yang tepat tentang bagaimana kerja obat adalah fokus dari studi berkelanjutan oleh Baylin dan timnya.  "Temuan kami dapat ditemukan bukti dari uji klinis terakhir menunjukkan bahwa obat mengecilkan tumor lebih lambat dari waktu ke waktu karena mereka memperbaiki mekanisme diubah dalam sel dan gen kembali ke fungsi normal dan sel-sel mungkin akhirnya mati, "kata Baylin.
Para hasil uji klinis pada kanker paru-paru , yang dipimpin oleh Johns Hopkins 'Charles Rudin, MD, dan diterbitkan akhir tahun lalu di Penemuan Kanker , juga menunjukkan bahwa obat membuat tumor lebih responsif terhadap pengobatan obat standar antikanker.  Ini berarti, kata mereka, bahwa obat yang bisa menjadi bagian dari pendekatan kombinasi perlakuan daripada terapi yang berdiri sendiri dan sebagai bagian dari pendekatan pribadi pada pasien yang kanker cocok profil epigenetik dan genetik tertentu.
Dosis rendah dari kedua obat tersebut disetujui oleh US Food and Drug Administration untuk pengobatan MDS dan leukemia myelomonocytic kronis (CMML). Uji klinis pada payudara dan kanker paru-paru mulai pada pasien dengan penyakit lanjut, dan uji coba pada kanker usus besar yang direncanakan.
Stand Up Untuk Kanker Tim Epigenetika Dream:



Selain Baylin dan Zahnow, peneliti lain yang berpartisipasi dalam penelitian ini meliputi Hsing-Chen Tsai, Huili Li, Leander Van Neste, Yi Cai, Carine Robert, Feyruz V. Rassool, James J. Shin, Kirsten M. Harbom, Robert Beaty, Emmanouil Pappou, James Harris, Ray-Whay Yen Chiu, Nita Ahuja, Malcolm V. Brock, Vered Stearns, David Feller-Kopman, Lonny B. Yarmus, Yi-Chun Lin, Alana L. Welm, Jean-Pierre Issa, Il Minn , William Matsui, Yoon-Young Jang, dan Saul J. Sharkis.
Penelitian ini didanai oleh hibah spora untuk kanker paru-paru dari National Institutes of Health, Hodson Kepercayaan Foundation, Industri Hiburan Foundation, Lee Jeans, Samuel Waxman Cancer Research Foundation, Departemen Pertahanan Kanker Payudara Program Penelitian, Huntsman Cancer Foundation, dan Cindy Rosencrans Dana untuk Riset Kanker Payudara triple negatif.  Semua penelitian telah dipercepat oleh pendanaan dari Stand Up untuk Kanker (SU2C) proyek dalam kemitraan dengan American Association of Cancer Research (AACR).

Sumber : http://www.hopkinsmedicine.org/
Translator : Google Translate
Versi Asli (ingris) : klik  dibawah
http://penelitianilmiahterbaru.blogspot.com/2012/06/scientists-reprogram-cancer-cells-with.html

SCIENTISTS REPROGRAM CANCER CELLS WITH EPIGENETIC DRUGS


oleh Kumpulan Artikel Penelitian Ilmiah Terbaru

Suka dengan artikel ini?

Jelajahi artikel-artikel KUMPULAN ARTIKEL PENELITIAN ILMIAH TERBARU yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
 Login


Release Date: 03/29/2012
SCIENTISTS REPROGRAM CANCER CELLS WITH LOW DOSES OF EPIGENETIC DRUGS
Experimenting with cells in culture, researchers at the Johns Hopkins Kimmel Cancer Center have breathed possible new life into two drugs once considered too toxic for human cancer treatment. The drugs, azacitidine (AZA) and decitabine (DAC), are epigenetic-targeted drugs and work to correct cancer-causing alterations that modify DNA.
The researchers said the drugs also were found to take aim at a small but dangerous subpopulation of self-renewing cells, sometimes referred to as cancer stem cells, which evade most cancer drugs and cause recurrence and spread.
In a report published in the March 20, 2012, issue of Cancer Cell, the Johns Hopkins team said their study provides evidence that low doses of the drugs tested on cell cultures cause antitumor responses in breast, lung, and colon cancers.
Conventional chemotherapy agents work by indiscriminately poisoning and killing rapidly-dividing cells, including cancer cells, by damaging cellular machinery and DNA. “In contrast, low doses of AZA and DAC may re-activate genes that stop cancer growth without causing immediate cell-killing or DNA damage,” says Stephen Baylin, M.D., Ludwig Professor of Oncology and deputy director of the Johns Hopkins Kimmel Cancer Center.
Many cancer experts had abandoned AZA and DAC for the treatment of common cancers, according to the researchers, because they are toxic to normal cells at standard high doses, and there was little research showing how they might work for cancer in general.  Baylin and his colleague Cynthia Zahnow, Ph.D., decided to take another look at the drugs after low doses of the drugs showed a benefit in patients with a pre-leukemic disorder called myelodysplastic syndrome (MDS).  Johns Hopkins investigators also showed benefit of low doses of the drugs in tests with a small number of advanced lung cancer patients. “This is contrary to the way we usually do things in cancer research,” says Baylin, noting that “typically, we start in the laboratory and progress to clinical trials.  In this case, we saw results in clinical trials that made us go back to the laboratory to figure out how to move the therapy forward.”
For the research, Baylin and Zahnow’s team worked with leukemia, breast, and other cancer cell lines and human tumor samples using the lowest possible doses that were effective against the cancers. In all, the investigators studied six leukemia cell lines, seven leukemia patient samples, three breast cancer cell lines, seven breast tumor samples (including four samples of tumors that had spread to the lung), one lung cancer tumor sample, and one colon cancer tumor sample.  The team treated cell lines and tumor cells with low-dose AZA and DAC in culture for three days and allowed the drug-treated cells to rest for a week. Treated cells and tumor samples were then transplanted into mice where the researchers observed continued antitumor responses for up to 20 weeks. This extended response was in line with observations in some MDS patients who continued to have anticancer effects long after stopping the drug.
The low-dose therapy reversed cancer cell gene pathways, including those controlling cell cycle, cell repair, cell maturation, cell differentiation, immune cell interaction, and cell death. Effects varied among individual tumor cells, but the scientists generally saw that cancer cells reverted to a more normal state and eventually died.  These results were caused, in part, by alteration of the epigenetic, or chemical environment, of DNA.  Epigenetic activities turn on certain genes and block others, says Zahnow, assistant professor of oncology and the Evelyn Grolman Glick Scholar at Johns Hopkins.
Stephen Baylin, M.D., Ph.D., explains epigenetics:

The research team also tested AZA and DAC’s effect on a type of metastatic breast cancer cell thought to drive cancer growth and resist standard therapies.  Metastatic cells are difficult to study in standard laboratory tumor models, because they tend to break away from the original tumor and float around in blood and lymph fluids.  The Johns Hopkins team re-created the metastatic stem cells’ environment, allowing them to grow as floating spheres.  “These cells were growing well as spheres in suspension, but when we treated the cells with AZA, both the size and number of spheres were dramatically reduced,” says Zahnow.
The precise mechanism of how the drugs work is the focus of ongoing studies by Baylin and his team.  “Our findings match evidence from recent clinical trials suggesting that the drugs shrink tumors more slowly over time as they repair altered mechanisms in cells and genes return to normal function and the cells may eventually die,” says Baylin.
The results of clinical trials in lung cancer, led by Johns Hopkins’ Charles Rudin, M.D., and published late last year in Cancer Discovery, also indicate that the drugs make tumors more responsive to standard anticancer drug treatment.  This means, they say, that the drugs could become part of a combined treatment approach rather than a stand-alone therapy and as part of personalized approaches in patients whose cancers fit specific epigenetic and genetic profiles.
Low doses of both drugs are approved by the U.S. Food and Drug Administration for the treatment of MDS and chronic myelomonocytic leukemia (CMML). Clinical trials in breast and lung cancer have begun in patients with advanced disease, and trials in colon cancer are planned.
Stand Up To Cancer Epigenetics Dream Team:

In addition to Baylin and Zahnow, other investigators participating in this study include Hsing-Chen Tsai, Huili Li, Leander Van Neste, Yi Cai, Carine Robert, Feyruz V. Rassool, James J. Shin, Kirsten M. Harbom, Robert Beaty, Emmanouil Pappou, James Harris, Ray-Whay Chiu Yen, Nita Ahuja, Malcolm V. Brock, Vered Stearns, David Feller-Kopman, Lonny B. Yarmus, Yi-Chun Lin, Alana L. Welm, Jean-Pierre Issa, Il Minn, William Matsui, Yoon-Young Jang, and Saul J. Sharkis.
The research was funded by a SPORE grant for lung cancer from the National Institutes of Health, the Hodson Trust Foundation, Entertainment Industry Foundation, Lee Jeans, Samuel Waxman Cancer Research Foundation, Department of Defense Breast Cancer Research Program, Huntsman Cancer Foundation, and the Cindy Rosencrans Fund for Triple Negative Breast Cancer Research.  All of the studies have been accelerated by funding from the Stand Up to Cancer(SU2C) project in partnership with the American Association of Cancer Research (AACR).


Sumber : http://www.hopkinsmedicine.org/
Translator : Google Translate
Versi Terjemahan (indonesia) : klik  dibawah
http://penelitianilmiahterbaru.blogspot.com/2012/06/para-ilmuwan-program-ulang-sel-kanker.html



Sabtu, 09 Juni 2012

Obat Baru Kanker Ovarium, Lebih Efektif!


Berbeda dari kemoterapi, obat ini tak berefek samping, seperti rambut rontok dan mual-mual

KAMIS, 9 APRIL 2009, 15:52 WIB
Petti Lubis


  (dok. Corbis)
BERITA TERKAIT
  • Pijat untuk Mengatasi Sakit Kepala
  • Iridologi, Check-up Kesehatan Lewat Mata
  • Jangan Salah Deteksi Gejala Penyakit Jantung
  • Meramal Penyakit Lewat Kulit Wajah
  • Saatnya Bersih-bersih Kotak Obat di Rumah
VIVAnews - Ada kabar baik dan harapan baru untuk para penderita kanker ovarium. Baru-baru ini, ditemukan obat baru yang dapat membantu memperpanjang usia penderitanya.

Para peneliti menguji temuan obat baru yang dapat membantu memperpanjang usia penderita kanker ovarium.

Obat, yang memiliki kode nama CNTO328 ini sudah diuji di pusat Experimental Cancer Medicine – bagian dari Rumah Sakit Barts dan  London School of Medicine and Dentistry. Sejauh ini, hasilnya sangat menggembirakan.

Sekelompok wanita yang terdiri dari 18 pengidap kanker ovarium diberikan obatini sejak 2007. Sel-sel kanker pada delapan penderita di antaranya tidak lagi berkembang, dan justru menyusut. Tujuh dari 8 pengidap tersebut masih bertahan.

Para peneliti juga menemukan, bahwa obat tersebut tidak menimbulkan efek samping layaknya yang disebabkan kemoterapi, seperti rambut rontok, mual-mual dan kelelahan kronis.
Sebelum penemuan ini, belum ada penemuan baru diperkenalkan untuk mengatasi penyakit  ini selama lebih dari satu dekade.

Professor Iain McNeish, seorang professor dari gynaecological oncology di rumah sakit  Barts, London Inggris, berkata:

"Hasilnya amat menjanjikan. Harapan dari kelompok pasien ini adalah untuk memperlambat pertumbuhan sel-sel kanker, meningkatkan kualitas hidup, dan memperpanjang usia penderitanya.

"Kami sudah berhasil melakukan hal itu. Jika hal ini bisa dijadikan perawatan, penemuan ini bisa jadi penanganan terbaru dan paling efektif untuk menangani oenderita kanker ovarium."

Kamis, 07 Juni 2012

Rutin Minum Pereda Sakit Picu Impotensi?


Bagi Anda khususnya pria yang rutin menenggak obat pereda sakit sebaiknya mulai waspada. Penggunaan obat-obat pereda rasa sakit atau kerap disebut painkiller yang terlalu sering diduga berkaitan dengan gangguan fungsi seksual di kalangan kaum Adam.
Studi terbaru yang dipublikasikan Journal of Urologymengindikasikan adanya hubungan antara impotensi dan penggunaan obat-obat penahan rasa sakit. Hubungan ini bahkan tetap muncul meskipun peneliti telah memperhitungkan beberapa faktor seperti usia dan beberapa jenis penyakit yang mungkin dapat menjelaskan keterkaitan.
Berdasarkan riset tersebut, pria yang secara rutin menenggak obat-obat seperti aspirin,acetaminophenibuprofen, dan celebrex berisiko mengalami disfungsi ereksi (DE) hingga 38 persen lebih besar, ketimbang pria yang tidak menenggak obat yang juga disebut nonsteroidal anti-inflammatory itu.
Menurut penjelasan Dr Joseph Gleason, urolog yang menulis penelitian ini, obat-obat pereda sakit memang dapat mengganggu produksi hormon yang memicu ereksi pada pria. Hal itu setidaknya dapat membantu memberikan penjelasan akan temuan ini.
Namun, Gleason menekankan, penelitian ini tidak serta-merta membuktikan bahwa obat painkillerdapat menyebabkan impotensi. Menurutnya, faktor-faktor lainnya yang belum dapat diketahui sangat dimungkinkan ikut berperan memicu DE.
Sebagai contoh, banyak pria yang meminum aspirin dalam dosis rendah karena  dalam kondisi berisiko tinggi mengalami serangan jantung. Alhasil, pembuluh darah mereka tidak sedang dalam kondisi terbaiknya. Secara otomatis, hal itu juga dapat memengaruhi tingkat kekerasan penis.
"Kami menyebut penis sebagai termometer bagi penyakit vaskuler atau problem  yang berkaitan dengan pembuluh darah," ujar Dr Brant Inman, urolog dari Duke University Medical Center di North Carolina, yang tak terlibat dalam riset ini.
Inman menambahkan, pembuluh arteri dalam penis salurannya lebih kecil ketimbang yang mengalir di jantung dan, oleh sebab itu, mungkin saja bisa tersumbat selama beberapa tahun sebelumnya. Arteri yang menyempit dapat menghalangi aliran darah yang seharusnya membuat penis berkembang dan menjadi keras.
Lima kali seminggu
Dalam penelitiannya, Gleason beserta koleganya menganalisis hasil kuesioner sekitar 81.000 pria berusia 45 hingga 69. Sekitar 50 persen pria mengaku mengonsumsi obat pereda sakit secara teratur (sekurangnya lima kali dalam seminggu) dan kurang dari sepertiganya dilaporkan mengalami impotensi mulai dari level ringan hingga parah.
Pria yang mengaku rutin menenggak painkiller, 64 persennya mengatakan, mereka tidak pernah mengalami ereksi. Sedangkan pria yang mengaku tidak sering menggunakan obat, kasus DE hanya ditemukan 36 persen.
Setelah memperhitungkan beragam faktor, seperti usia, berat badan, tensi, dan riwayat sakit jantung, peneliti masih menemukan risiko lebih tinggi di kalangan pria yang menggunakan painkiller, yakni mencapai 38 persen.
Oleh karena penelitian ini tidak menguji obat secara langsung, Inman berpesan agar pria tidak perlu menghentikan penggunaan painkillers karena khawatir tidak bisa ereksi.

KOMPAS.com — Asep Candra | Kamis, 3 Maret 2011 | 17:22 WIB

Obat Pereda Sakit Picu Risiko Stroke


Ini adalah peringatan bagi Anda yang rutin mengonsumsi obat-obatan pereda sakit. Riset terbaru para ahli di Kanada mengindikasikan, konsumsi obat pereda rasa sakit secara rutin setiap hari dan dalam dosis tinggi dapat meningkatkan risiko serangan jantung dan stroke hingga 40 persen.
Menurut peneliti, pasien yang secara teratur mengonsumsi diclofenac (obat penghilang nyeri dan anti-radang), akan mengalami gangguan jantung dua-perlima lebih tinggi. Sementara itu, penggunaan obat penghilang rasa nyeri yang lain seperti ibuprofen telah dikaitkan dengan peningkatan risiko serangan jantung dan stroke sebesar 18 persen lebih tinggi.
Diclofenac adalah salah satu obat dari jenis non-steroidal anti-inflammatory drug (NSAID) dengan rumus kimia 2-(2,6-dichloranilino) phenylacetic acid. Obat-obatan jenis NSAID ini umumnya digunakan untuk mengatasi rematik, sakit pinggang, encok sakit kepala dan flu.
Sebuah kelompok studi kecil para peneliti dari Hull York Medical School dan University of Toronto, Kanada, telah mempelajari dan membandingkan efek dari penggunaan obat pereda sakit pada dosis rendah dan tinggi (untuk keluhan yang lebih serius). Obat-obat yang diteliti cukup beragam, mulai dari jenis yang digunakan di rumah sakit, obat yang diresepkan dokter, hingga obat-obat pereda sakit yang biasa ditemukan seperti ibuprofen dan naproxen.
Hasil penelitian menunjukkan, menggunakan diclofenac dalam dosis rendah (untuk mengobati rasa sakit pascaoperasi), berkaitkan dengan risiko 22 persen lebih tinggi mengalami masalah jantung. Sementara itu, pada dosis yang lebih besar, kemungkinan pasien terkena penyakit jantung atau stroke meningkat sebesar 98 persen.
Pada obat NSAID lainnya seperti ibuprofen, penggunaan obat sesuai dengan rekomendasi tidak berdampak negatif pada pasien. Tetapi, pada orang yang memakai dalam dosis besar, dapat meningkatkan risiko jantung sebesar 78 persen.
"Dalam memilih yang salah satu jenis obat NSAID yang ada, pasien dan dokter harus memperhatikan keseimbangan antara manfaat dan kerugian yang mungkin bisa ditimbulkan dalam penggunaan obat ini," kata salah satu peneliti utama, Dr Patricia McGettigan.
Menurut McGettigan, naproxen dan ibuprofen adalah obat penghilang rasa sakit yang paling aman untuk jantung, asalkan digunakan dalam dosis yang rendah.
Sementara itu, Doireann Maddock, perawat jantung senior dari British Heart Foundation mengatakan, penggunaan obat penghilang rasa sakit sangat berisiko khususnya pada orang dengan penyakit jantung.
"Hal ini sudah diketahui sejak lama dan temuan baru ini tidak boleh diabaikan. Tetapi para ilmuwan dan ahli obat perlu untuk menggali lebih dalam sebelum menarik kesimpulan tentang efek samping obat-obatan ini," katanya.
Ia menambahkan, "Penggunaan obat penghilang rasa sakit apapun pasti ada manfaat dan risikonya. Jika Anda sudah terlanjur meminum obat tersebut dan khawatir akan efeknya, Anda harus berkonsultasi dengan dokter terlebih dahulu. Karena manfaat yang Anda dapat mungkin jauh lebih besar ketimbang risikonya".
KOMPAS.com - Bramirus Mikail | Asep Candra | Rabu, 28 September 2011 | 13:21 WIB

GRATIS PLUS HADIAH

Hosting Gratis