website trackingwebsite tracking

PTC..PELUANG DAPAT UANG HANYA DENGAN MODAL KLIK

Cara Instan Untuk Verifikasi PayPal !
Tampilkan postingan dengan label ROKOK. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ROKOK. Tampilkan semua postingan

Senin, 25 Juni 2012

Shisa 70 Kali Lebih Berbahaya daripada Rokok?

Headline
Menghisap shisa ternyata lebih berbahaya dari pada rokok. Satu kali hisapan shisha, mengandung zat berbahaya yang sama dengan 70 kali menghisap rokok biasa.
Dilansir Dailymail, penelitian yang dilakukan kolaborasi Departemen Kesehatan dan Pusat Kontrol Tembakau di Inggris menemukan fakta yang menyebutkan mengisap Shisha lebih berbahaya dengan mengisap rokok tembakau.
Ini disebabkan karena durasi dan jumlah tembakau yang ada pada satu tabung shisha lebih banyak dibanding dengan durasi dan jumlah tembakau yang ada pada rokok biasa.
Jumlah asap yang dihirup oleh si perokok shisha pun jelas lebih banyak dibanding rokok biasa, sebab bentuk pipa shisha yang besar.
Besarnya bahkan mencapai 0,15-1 liter asap sekali hisapan. Sedangkan rokok biasa tidak sebesar itu.
Kandungan tar, nikotin dan karbon monoksida yang dihasilkan shisha pun amat berlimpah.
Profesor Robert West, direktur studi tembakau di University College London menjelaskan berkembangnya kekhawatiran pada shisha karena orang tidak sadar akan risikonya yang sama dengan merokok tembakau.
Menurutnya, jika seseorang duduk dan menghisap shisha satu jam, maka bahayanya sama seperti orang yang menghabiskan 100 batang rokok.
Risiko penularan penyakit paru seperti TBC dan hepatitis juga lebih besar terjadi, sebab pemakaian satu tabung shisha yang bersama-sama membuat kuman dan bakteri mudah berpindah.
Sebabkan sakit kepala dan kanker
Tak hanya penyakit paru dan hepatitis, setiap perokok shisha akan mengalami sakit kepala setelah menikmati shisha. Karbon monoksida dari hisapan shisha dapat menyebabkan sakit kepala dan mual.
Selain itu, kadar karbon monoksida yang tinggi bisa menyebabkan kerusakan otak yang memicu rasa sakit di kepala dan hilangnya kesadaran.
Sementara, shisha dihisap melalui pipa logam. Ketika Anda menghisap melalui pipa logam, maka Anda menghirup logam berat, seperti karbon monoksida, tar, besi dan logam beracun lainnya yang memberikan efek buruk bagi tubuh. Salah satunya memicu kanker.
Bahan kimia ini dapat menjadi karsinogenik (penyebab kanker) bagi tubuh. Merokok shisha tidak sehat karena meningkatkan kemungkinan menderita kanker terutama kanker mulut, tenggorokan, paru-paru atau bibir.
Menghisap shisha merupakan kebiasaan yang berasal dari Timur Tengah yang sudah menjadi tren di beberapa kafe. Menghisap shisha memerlukan pipa khusus, sehingga hal ini membedakanya dengan merokok biasa. inilah.com

Sabtu, 16 Juni 2012

Minimalkan Resiko Kanker Kulit Dengan Kopi


rokokBerbagai penelitian seringkali menunjukkan efek tidak baik pada orang yang menjalankan gaya hidup tidak sehat. Cara hidup penuh risiko ini kerap dikaitkan dengan keburukan di tubuh. Misalnya,kolesterol tinggi,tekanan darah tinggi, dan sebagainya. Hanya saja, ada studi terbaru di Inggris yang menunjukkan, gaya hidup tidak sehat tidak signifikan dalam memengaruhi masalah kesuburan sperma pria. Artinya, kemandulan yang terjadi pada pria bukan soal gaya hidup penyebabnya.
Seperti dilansir BBC, penelitian yang dimuat jurnal Human Reproduction itu menyatakan, memang lebih baik untuk menghindari rokok, alkohol, dan obesitas. Namun, ketiga gaya hidup tersebut juga tidak bisa dikaitkan langsung dengan persoalan kesuburan pria. Saran yang sebaiknya diperhatikan adalah terkaitmenghindari pemakaian celana yang cenderung ketat. Panas yang dihasilkan pada area skrotum bisa mengurangi atau bahkan membunuh sperma.
Penelitian ini menjadi kontroversial. Pasalnya, hasil studi ini berbeda jauh dengan penelitian yang telah ada. Pada pengamatan yang dilakukan terhadap relawan yang punya kebiasaan merokok sampai 20 batang per hari, ternyata tidak ditemukan adanya pengurangan jumlah sperma. Selain itu, peneliti juga tidak mendapati bukti kuat berkurangnya kualitas sperma pada pria yang memiliki indeks massa tubuh tinggi,pengonsumsi obat penenang,  dan alkoholik.
“Hal ini memutarbalikkan nasihat yang biasanya diberikan pada pria tentang bagaimana mereka dapat meningkatkan kesuburan. Dan, (studi ini) menunjukkan bahwa risiko-risiko gaya hidup yang umum, mungkin tidak sepenting yang kita duga,” kata Dr Andrew Povey dari University of Manchester.
Namun, disarankan agar pria tetap menjaga kesehatan fisik secara umum. Pasalnya, beberapa faktor tersebut mungkin tidak berpengaruh pada kesuburan, tapi memengaruhi kesehatan tubuh yang lain.
sidomi.com

Kamis, 14 Juni 2012

Ingin Lepas dari Rokok? Santap Buah dan Sayur!

Bramirus Mikail | Asep Candra | Minggu, 10 Juni 2012 | 10:27 WIB

KOMPAS.com — Bagi Anda yang sedang berusaha berhenti merokok, ada cara mudah dan murah yang dapat dicoba. Mulai saat ini, rutinlah mengonsumsi buah dan sayuran dalam jumlah yang cukup banyak. Penelitian mengindikasikan, tingkat keberhasilan para perokok untuk sembuh dari kecanduan bisa meningkat tiga kali lipat apabila rutin memakan buah-buahan dan sayuran.

Para ilmuwan bidang Kesehatan Masyarakat dari Universitas Bufallo, New York, AS, menemukan bahwa faktor nutrisi dan diet yang baik dapat membantu para perokok lebih cepat sembuh dan mampu bertahan lebih lama dari godaan untuk merokok.

"Penelitian lain melakukan pendekatan dengan cara observasi terpisah dengan mengamati diet para perokok dan nonperokok. Kami tahu dari riset kami sebelumnya bahwa orang yang berhenti merokok selama kurang dari enam bulan mengonsumsi lebih banyak buah dan sayuran ketimbang mereka yang masih merokok. Apa yang kita tidak tahu adalah apakah berhenti merokok berpengaruh pada meningkatnya konsumsi buah dan sayuran, atau apakah perokok yang makan lebih banyak buah dan sayuran lebih mungkin untuk berhenti merokok," kata Garry Giovino, Direktur Department of Community Health and Health Behavior Universitas Bufallo.

Dalam kajiannya, peneliti melakukan survei telepon nasional dari 1.000 perokok berusia 25 tahun dan usia lebih tua. Para peserta survei dihubungi lagi setelah 14 bulan kemudian, untuk mengetahui berapa banyak mereka telah merokok dalam satu bulan terakhir.

Hasilnya menunjukkan, perokok yang paling banyak makan buah dan sayuran tiga kali lebih besar peluangnya untuk tidak merokok selama sedikitnya 30 hari ketimbang mereka yang mengonsumsi buah dan sayur dalam jumlah sedikit. Menurut peneliti, hasil temuan tetap sama bahkan setelah memperhitungkan usia perokok, jenis kelamin, ras dan etnis, pendidikan, pendapatan, dan motivasi untuk menjadi sehat.

Penelitian ini juga mengindikasikan, perokok yang makan lebih banyak buah dan sayuran cenderung lebih sedikit merokok dan ketergantungan terhadap nikotin berkurang.

"Kami mungkin telah mengidentifikasi sebuah alat baru yang dapat membantu orang berhenti merokok," kata peneliti, Jeffrey Haibach, seorang asisten peneliti. "Memang, ini hanya sebuah studi observasional, tetapi meningkatkan asupan buah dan sayur dapat memfasilitasi seseorang untuk berhenti merokok," katanya.

Para peneliti mencatat bahwa buah dan sayuran memperburuk rasa rokok, dan ini bisa membantu menjelaskan mengapa mereka (perokok) dapat berhenti merokok.

"Temuan ini juga memungkinkan bahwa buah dan sayuran memberikan perasaan kenyang sehingga membuat perokok tidak nafsu untuk merokok," kata Haibach yang memublikasikan risetnya dalamJournal Nicotine and Tobacco Research.

Meski demikian, peneliti mengakui perlu riset lebih lanjut untuk mengonfirmasi temuan mereka dan menentukan dengan tepat bagaimana buah dan sayur dapat membantu para perokok menghentikan kebiasaannya. Selain itu, perlu juga diselidiki apakah ada faktor makanan lain yang terlibat dalam keberhasilan untuk berhenti merokok.

"Ada kemungkinan bahwa perbaikan diet bisa menjadi hal penting untuk dimasukkan dalam daftar langkah-langkah untuk membantu seseorang berhenti merokok," kata Haibach. "Kami tentu perlu melanjutkan upaya untuk mendorong orang agar mau berhenti merokok, termasuk lewat pendekatan yang telah terbukti, seperti kenaikan pajak tembakau, sanksi, dan kampanye media," tutupnya.

Rabu, 13 Juni 2012

Kesehatan Jiwa pun Merosot Akibat Rokok


MINGGU, 27 MEI 2012 17:12 wib


Gustia Martha Putri - Okezone

detail berita
Rokok (Foto: GUIM UK)
SEMUA orang tahu bahwa perokok yang berhenti merokok akan memiliki banyak manfaat bagi fisik tubuh. Tetapi ternyata tak hanya fisik, ketika seseorang berhenti merokok kualitas kesehatan mental pun menjadi dapat lebih baik.

Para peneliti di University of Missouri yang melakukan penelitian tentang perokok berusia 18 hingga 35 tahun menemukan bahwa mereka yang telah berhenti di usia tersebut mengalami penurunan terhadap sifat impulsif yang dimiliki, serta neurotisisme, yakni kecenderungan untuk mengalami emosi negatif, seperti kemarahan, kecemasan, atau depresi, dalam diri mereka.

"Studi ini menunjukkan bahwa banyak perokok muda memulai kebiasaan merokok karena dorongan emosi, tanpa mempertimbangkan konsekuensi jangka panjang. Tetapi ketika mereka berhasil menghilangkan kebiasaan tersebut, itu menandakan mereka telah belajar melihat suatu hal atau masalah dengan lebih bijak," ujar seorang penelitia sebagaimana dilansir Askmen, Minggu (27/5/2012).

Para peneliti mengatakan bahwa pola impuls (dorongan emosi hati) perokok remaja masih sama dengan persepsi kuno yang menyatakan bahwa orang yang mulai merokok karena terlihat keren.

"Karena impuls yang ada dan penuh sesak neurotisisme dalam diri kaum muda, mereka menjadi salah jalan untuk menjadi seseorang yang percaya diri," ujar peneliti. (tty)

Tak Ada Kata Terlambat Berhenti Merokok

Jakarta - Rokok diketahui berdampak buruk bagi kesehatan, karenanya orang yang berhasil berhenti bisa hidup lebih lama. Karena itu tak ada kata terlambat untuk berhenti merokok.

Sebuah laporan studi terbaru menunjukkan mantan perokok bisa hidup lebih lama daripada orang yang belum bisa melepaskan kebiasaan merokok. Dalam studi ini peneliti melihat tidak peduli orang tersebut ada dalam kelompok usia yang mana.

Peneliti dari Jerman dalam Archives of Internal Medicine mengungkapkan fakta ini seperti menjadi panggilan bagi para perokok untuk mengikuti program berhenti merokok yang efektif berapa pun usianya.

"Bahkan orang tua yang sudah merokok seumur hidup tanpa konsekuensi negatif tetap harus didorong dan didukung untuk berhenti," ujar pemimpin studi Dr Hermann Brenner dari German Cancer Research Center di Heidelberg, seperti dikutip dari Reuters, Rabu (13/6/2012).

Para peneliti menemukan perokok yang sudah berusia 60 tahun atau lebih memiliki kemungkinan 83 persen lebih tinggi untuk meninggal disetiap usianya dibanding orang yang tidak pernah merokok.

Sementara itu studi yang dilakukan Dr Prabhat Jha dari St. Michael's Hospital di Toronto juga menemukan sekitar 59 persen dari orang yang tidak merokok masih hidup pada usia 80 tahun dibandingkan dengan perokok yang hanya 26 persen.

"Sebagian besar perokok terlalu meremehkan risiko mereka sendiri. Banyak perokok yang sudah tua salah mengerti bahwa mereka terlalu tua untuk berhenti, atau terlalu tua untuk mendapatkan keuntungan dari berhenti merokok," ujar Dr Tai Hing Lam dari University of Hong Kong.

Zat kimia dalam tembakau diketahui bisa menyebabkan kerusakan sel karenanya orang yang merokok akan hidup jauh lebih pendek dibandingkan dengan orang yang tidak merokok.

Untuk itu jangan ragu berhenti merokok pada usia apa pun karena tetap akan ada manfaat yang diperoleh, tetapi sangat efektif jika orang tersebut berhenti merokok sebelum terkena penyakit.

(ver/fat) 
detik.com

Selasa, 12 Juni 2012

Berhentilah Merokok Sebelum Hamil 15 Minggu Wanita hamil disaranka


segera berhenti merokok sejak masa awal kehamilan.

RABU, 1 APRIL 2009, 07:00 WIB
Nenden Novianti
VIVAnews – Wanita hamil yang berhenti merokok sebelum minggu ke-15 kehamilan mengurangi risiko akan kelahiran premature dan memiliki bayi dengan berat badan kurang, dibandingkan dengan wanita yang tidak merokok, demikian kata hasil studi.

Sudah diketahui bahwa merokok selama hamil meningkatkan risiko keguguran, kelahiran premature, bayi berberat badan kurang, dan bayi lahir meninggal. Tapi tak ada penelitian hingga sekarang yang berhasil menunjukkan apakah berhenti merokok dalam masa awal kehamilan akan mengurangi bayi berberat badan kurang dan kelahiran prematur.

“Wanita hamil yang merokok disarankan untuk berhenti merokok sejak masa awal kehamilan, “ kata peneliti utama Dr.Lesley McCowan, professor obstetrics dan ginekolog di Universitas Auckland di Selandia Baru.

Wanita yang tak berhenti merokok setelah 15 minggu, tiga kali berisiko melahirkan secara premature dan dua kali kemungkinan lebih besar memiliki bayi berberat badan kurang, dibandingkan wanita yang berhenti merokok,  kata McCowan.
Untuk penelitian ini, McCowan mengumpulkan data dari 2.504 wanita hamil. Delapan puluh persen tidak merokok, 10 persen baru saja berhenti merokok dan 10 persen masih merokok.
Tak ada perbedaan dalam tingkat spontanitas kelahiran premature antara wanita yang tidak merokok dan mereka yang berhenti merokok pada minggu ke-15, sama-sama empat persen. Begitu juga pada kasus bayi berberat badan kurang, 10 persen berbanding 10 persen.
Wanita yang terus merokok memiliki tingkat spontanitas kelahiran premature lebih tinggi daripada yang berhenti merokok, 10 persen berbanding empat persen, dan angka yang lebih tinggi pula bagi bayi berberat badan kurang, 17 persen berbanding 10 persen.
Penelitian ini juga menemukan fakta, bahwa wanita yang berhenti merokok berkurang stresnya dibanding mereka yang masih terus merokok.

Stop Merokok dengan Minum Susu


Susu dan segala produk olahannya membuat rasa rokok tak nikmat lagi.

RABU, 22 APRIL 2009, 13:46 WIB
Irma Kurniati
VIVAnews - Ingin menghentikan kebiasaan merokok dengan cara yang mudah? Anda bisa memulai kebiasan minum susu.

Minum susu bukan hanya baik untuk memenuhi kebutuhan kalsium untuk menguatkan tulang. Rutin mengonsumsi susu juga bisa menjadi terapi untuk menghentikan kebiasaan merokok.

Menurut sebuah penelitian yang dimuat dalam Journal Nicotine and Tobacco Research, minum susu bisa membuat para pecandu rokok kehilangan selera merokok.

Penelitian ini melakukan pengujian terhadap 209 perokok. Para responden diminta menuliskan makanan atau cita rasa apa yang bisa membuat mereka enggan merokok atau membuat rasa rokok yang mereka hisap menjadi tidak enak atau justru sebaliknya, membuat rasa rokok lebih nikmat..

Sebanyak 19% responden menyatakan bahwa susu atau produk olahan susu seperti keju dan yogurt membuat rasa rokok jadi tidak nikmat. Sejumlah 16% mengatakan buah dan sayuran, sedangkan 14% menjawab minuman tanpa kafein misalnya air atau jus buah.

Sedangkan yang bisa menambah nikmat rasa rokok adalah minuman yang mengandung kafein. Misalnya kopi, teh, dan cola. Sebanyak 44% menjawab alkohol bisa membuat rasa roko lebih enak. Dan 11% mengaku daging bisa membuat hasrat merokok lebih tinggi.

"Dengan mengetahui jenis makanan atau minuman yang bisa membuat rasa rokok menjadi tidak enak, Anda bisa menghentikan kebiasaan merokok," kata salah satu peneliti, Jed E. Rose dari Duke University Medical Center.

Hasil penelitian ini menunjukkan susu merupakan bahan makanan yang paling tinggi membuat rasa roko jadi tak enak. Tapi menurut Rose, hal itu bergantung juga pada jenis rokok serta selera masing-masing orang.

Rokok Picu Hormon Seks Penyebab Penyakit Akut


Selain mengandung racun, rokok juga memengaruhi hormon tubuh.

MINGGU, 4 SEPTEMBER 2011, 16:57 WIB
Anda Nurlaila
VIVAnews - Berbagai studi menunjukkan kebiasaan merokok atau mengirup asap rokok berefek lebih buruk pada wanita daripada pria. Studi terbaru mengungkap, salah satu bahaya merokok adalah mengubah hormon dalam tubuh, terutama wanita pascamenopause.

Perokok di usia menopause memiliki tingkat hormon seks lebih tinggi sehingga memicu  risiko terjadinya penyakit kronis dibandingkan mereka yang bukan perokok.

"Peningkatan kadar hormon seks pada perokok menunjukkan bahwa asap rokok, selain berefek langsung akibat racun karsinogenik, juga memengaruhi risiko penyakit kronis melalui mekanisme hormonal," kata Judith Merek, dari Medical Center Universitas Utrecht di Belanda, penulis utama studi tersebut.

"Kabar baiknya, efek rokok tampaknya reversibel. Hormon seks akan langsung turun begitu wanita berhenti merokok," ujarnya kepada Times of India.

Dalam studi ini, peneliti memeriksa sampel darah dari 2.030 wanita pascamenopause berusia 55-81 tahun, yang dikategorikan sebagai 'perokok', 'mantan perokok' atau 'tidak pernah' merokok.

Mereka menemukan, wanita perokok memiliki kadar androgen dan estrogen lebih tinggi dibanding dua kelompok lain. Sedangkan 'mantan' perokok yang telah berhenti dalam waktu 1-2 tahun memiliki kadar hormon seks sama dengan wanita yang 'tidak pernah' merokok.

Studi ini akan dipublikasikan dalam Jurnal The Endocrine Society of Clinical Endocrinology Metabolism (JCEM). (umi)

sumber : http://kosmo.vivanews.com

Jumat, 08 Juni 2012

Stop Merokok Bisa Kurangi Sikap Temperamen


Bahkan, hanya mencoba untuk berhenti merokok bisa membuat perasaan Anda jadi lebih baik.

JUM'AT, 16 SEPTEMBER 2011, 10:04 WIB
Mutia Nugraheni
VIVAnews - Bertambah lagi keuntungan jika Anda berhenti merokok. Bukan hanya fisik yang lebih sehat, kondisi psikologis juga bisa lebih baik. Menurut penelitian terbaru, berhenti merokok bisa mengurangi sifat neurotik atau suka mengeluh dan sifat impulsif atau temperamental.

Penelitian yang dilakukan Andrew Littlefield dari University of Missouri, Amerika Serikat, menemukan ketika seseorang lebih emosional, lebih sensitif, dan mudah cemas, juga cenderung akan merokok. Penelitian ini membandingkan perokok dan seseorang yang sudah berhenti merokok, berusia antara 18 hingga 35 tahun.

"Perokok di usia 18 memiliki tingkat impulsif lebih tinggi daripada seseorang yang tidak merokok di usia yang sama. Lalu, mereka yang berhenti merokok sifat impulsifnya berkurang secara signifikan antara usia 18 dan 25," kata Littlefield, seperti dikutp dari NY Daily News.

Untuk perokok yang lebih tua, menurut Littlefield, merokok menjadi bagian dari pola perilaku yang teratur. Ini didorong oleh kebiasaan, keinginan, dan toleransi dan bukan sifat dan kepribadian impulsif. Fakta lain yang ditemukan adalah berhenti merokok atau bahkan hanya mencoba untuk berhenti, bisa membuat perasaan Anda jadi lebih baik.

Penelitian yang dipublikasi dalam Nicotine and Tobacco Research ini menganalisis gejala depresi pada orang-orang yang mencoba untuk berhenti merokok. Hal yang menarik, subyek penelitian menggambarkan diri mereka sebagai tidak pernah sebahagia seperti ketika berhasil berhenti merokok. (umi)

Remaja yang Tak Merokok 5 Kali Lebih Bahagia

Ingin lebih bahagia dibandingkan rata-rata orang seusia Anda? Jangan merokok. Demikian penelitian terbaru mengungkapkan.

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Institute for Social and Economic Research di Essex University baru-baru ini, menunjukkan, remaja yang tidak merokok secara signifikan lebih mungkin lima kali lebih bahagia, dibanding para perokok. Hasil penelitian itu dirilis dailymail.co.uk, Sabtu (5/3).

Dalam penelitian yang melibatkan sedikitnya 5.000 orang responden berusia 10-15 tahun itu juga terungkap, remaja perokok, yang minum alkohol dan makan junk food, secara signifikan lebih mungkin tidak bahagia dari rekan-rekan mereka.

Hasil pengamatan menunjukkan, remaja yang punya gaya hidup tidak sehat termasuk merokok dan banyak minum alkohol mendapatkan skor kebahagiaan 4-5 kali lebih rendah daripada yang memiliki gaya hidup sehat. Rokok paling membuat tidak bahagia, yakni dengan skor 5 kali lebih rendah.

Menurut penelitian itu, kebiasaan merokok tak hanya mempengaruhi kesehatan secara fisik saja, tetapi juga secara kejiwaan. Selain lebih memungkinkan tidak bahagia, remaja yang hobi merokok lebih rentan terjerumus dalam tindak kekerasan.

Skor kebahagiaan tertinggi diperoleh para remaja yang rajin makan sayur dan buah-buahan. Gaya hidup yang juga meningkatkan kebahagiaan menurut penelitian tersebut antara lain rajin olahraga, serta mengurangi konsumsi keripik, soda dan makanan bergula.

Menurut ketua tim peneliti, Dr Cara Brooker, kecenderungan ini teramati konsisten bahkan ketika disesuaikan dengan faktor lain seperti status ekonomi sosal dan tingkat pendidikan orangtua. Artinya hasil penelitian ini diyakini dapat mewakili populasi remaja pada umumnya.

"Pesannya adalah remaja harus memiliki gaya hidup sesehat mungkin. Ikut-ikutan menjalani perilaku orang dewasa yang tidak bahagia sama sekali tidak akan membantunya tampak dewasa," kata Dr Brooker. [IK/Hdy]

sumber : http://www.bersamadakwah.com

Senin, 04 Juni 2012

Inilah Seabrek Penyakit Akibat Rokok

E-LIFE
Kamis, 31 Mei 2012 , 09:40:00


JAKARTA - Indonesia saat ini mempunyai prestasi yang cukup menyedihkan seputar rokok. Praktisi Kesehatan Dr.Ari Fahrial Syam membeberkan, dilihat dari jumlah rokok yang dikonsumsi, Indonesia merupakan konsumen rokok terbesar di dunia setelah China, Amerika Serikat, Rusia dan Jepang  di tahun 2007. 

Amerika saat ini sudah berhasil menekan penduduknya untuk tidak merokok sehingga hanya tinggal 19,3 persen pada tahun 2010. "Keberhasilan Amerika untuk dapat menekan jumlah perokok pada masyarakatnya adalah karena kampanye media secara massal yang terus menerus dan konsisten akan dampak buruk merokok, harga rokok yang selalu meningkat dan memperluas daerah bebas rokok," ujar Ari dalam keterangan persnya, Kamis (31/5). 

Pernyataan Ari berkaitan dengan peringatan Dunia Tanpa Tembakau yang jatuh pada hari ini, 31 Mei 2012.

Lebih lanjut dijelaskan, di Indonesia, hasil Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) tahun 2010 menunjukkan bahwa satu dari tiga orang Indonesia merokok. Prevalensi kelompok umur diatas 15 tahun yang merokok tiap hari secara nasional sebesar 28,2 persen.

Sedang penduduk Indonesia yang kadang-kadang merokok sebanyak 6,5 persen. Paling tinggi perokok Indonesia  pada kelompok umur 25-64 tahun. Sebagian besar orang yang merokok di Indonesia adalah penduduk pedesaan, tingkat pendidikan rendah, umumnya mereka  pekerja informal dengan status ekonomi rendah.

"Kondisi ini sungguh menarik dan menjadi renungan kita bersama," ujar Ketua Bidang Advokasi PB.PAPDI itu.

Orang-orang yang berpendidikan tinggi cenderung menghindari rokok. Hanya 19,6 persen perokok setiap hari yang bertitel sarjana, 28,1 persen tamat SMA, 26 persen tamat SMP, 30,4 persen tamat SD, 31,9 persen tidak tamat SD dan 26,7 persen tidak sekolah.

Dikatakan, orang-orang dengan penghasilan tetap dan status ekonomi baik juga berkurang yang merokok. Salah satu hal yang membuat mereka mengurangi mengkonsumsi merokok karena mereka bekerja di ruang-ruang tertutup dan ber AC yang membuat mereka tidak dapat merokok setiap saat di ruangan tertutup.

"Disisi lain yang perlu kita simak profil para perokok Indonesia dari RISKESDAS tersebut adalah lebih dari 60 persen usia pertama kali orang merokok di Indonesia kurang dari 20 tahun. Kelompok umur 15-19 tahun merupakan kelompok yang terbesar merokok dengan angka 43,3 persen. Usia ini adalah usia mereka kelas 3 SMP, SMA dan awal kuliah. Umumnya kelompok ini adalah anak ABG yang memulai merokok untuk menunjukkan bahwa mereka sudah dewasa," urainya.

Tetapi, lanjutnya, ada hal yang sangat menyedihkan bahwa ada sekitar 2,2 persen orang yang mulai merokok pada masa anak-anak yaitu pada umur 5-9 tahun.  "Bahkan kita juga semua tahu bahwa beberapa anak Balita kita sudah menjadi pencandu rokok," urainya.

Dokter yang dekat kalangan wartawan itu mengatakan, sebenarnya kita semua sudah tahu bahwa rokok berdampak buruk bagi kesehatan. Hanya masalahnya bagi perokok karena sudah menjadi candu, tidak mudah bagi mereka untuk meyakinkan diri  untuk tidak merokok.

"Bagi perokok kadang-kadang yang menjadi patokan dampak merokok buat mereka adalah gangguan pernafasan. Sehingga jika mereka tidak batuk dan tidak sesak mereka masih tetap merokok. Padahal efek samping dari merokok tidak melulu berdampak pada saluran pernafasan," paparnya.

Pasien yang mengalami kanker antara lain kanker lidah, kanker kerongkongan, kanker usus besar, kanker paru atau kanker pankreas akan menyesali kenapa mereka merokok, setelah menderita kanker.

"Rasanya cerita dampak buruk rokok pada seseorang akan selalu kita alami terjadi pada keluarga kita. Apalagi saya yang sehari-sehari bertemu dengan pasien, melihat langsung dampak rokok pada kesehatan seseorang. Kalau penyakit akibat rokok tidak terlalu berat biasanya pasien hanya mengurangi sedikit rokoknya dan kembali lagi untuk merokok setelah sehat. Tetapi jika dampak sakit pada perokok tersebut cukup berat biasanya mereka berhenti merokok total," kata Ari.

Serangan stroke ringan atau TIA juga kadang kala membuat kapok seorang perokok untuk tidak merokok lagi. "Ini terjadi pada ayah sendiri dimana beliau seorang perokok kuat dan berhenti total setelah jatuh di kamar mandi dan mengalami serangan stroke ringan," sambungnya.

Para perokok yang mengalami hipersensitifitas pada saluran pernafasannya dimana jika mulai merokok maka akan merasakan sesak, pasti tidak akan pernah untuk mencoba rokok. Serangan jantung juga bisanya membuat kapok seseorang untuk tidak merokok kembali.

Dampak lain yang sebenarnya tidak diketahui oleh para perokok, papar Ari, bahwa rokok akan menyebabkan gangguan pada saluran pencernaan atas seseorang. Mereka yang merokok sering merasa begah, cepat kenyang dan kembung. Rokok juga menyebakan asam lambung naik kembali ke kerongkongan atau refluks yang mencetuskan penyakit GERD.

Belum lagi rokok juga dapat merusak gusi serta gigi geligi. Mereka umumnya tidak nafsu makan karena lambungnya sudah terasa penuh dengan gas akibat hirupan asap rokok. Kondisi hipoksia kronis pada seseorang perokok juga dapat mencetuskan penurunan nafsu makan. "Oleh karena itu kita sering mendengar seseorang perokok yang berhenti merokok berat badannya akan naik karena nafsu makannya bertambah atau menjadi meningkat setelah berhenti merokok," kata Ari.(sam/jpnn)
sumber : http://www.jpnn.com/

Sabtu, 02 Juni 2012

Ibu Hamil, Jauhi Asap Rokok demi Kesehatan Bayi!

BAIKNYA wanita hamil menjauhi asap rokok atau lingkungan yang pekat dengan perokok. Efek negatif asap rokok berbahaya bagi janin, bahkan mengakibatkan kematian mendadak.

Ibu yang merokok atau sering terkena paparan asap rokok selama hamil mengakibatkan tekanan darah janin menjadi abnormal. Nah, itulah yang menjadi penyebab kematian bayi.

Tim peneliti dari Sweden's Karolinksa Institute menemukan paparan asap rokok selama hamil bisa menyebabkan tekanan darah bayi menjadi abnormal bahkan hingga anak tersebut dewasa nanti.

Tekanan darah yang abnormal membuat jantung harus memompa lebih cepat dan lebih keras. Studi menunjukkan kerusakan pada sirkulasi ini dapat menjadi faktor risiko pada sindrom kematian bayi mendadak (SIDS).

Dr Gary Cohen dan tim menganalisis 36 bayi yang baru lahir, 17 di antaranya lahir dari ibu yang merokok selama hamil. Saat bayi yang sering terpapar asap rokok tersebut diperiksa, menunjukkan adanya ketidaknormalan pada denyut jantung dan tekanan darahnya. Keadaan ini semakin memburuk sepanjang tahun pertama kehidupannya.

"Biasanya ketika seseorang berdiri detak jantung meningkat dan pembuluh darah menegang. Pada bayi dari ibu yang merokok, masalah tersebut terus menerus terjadi mulai dari lahir hingga 1 tahun pertama dan menjadi semakin buruk dari waktu ke waktu," ujar Dr Cohen.

Ia menambahkan selama beberapa waktu orang sudah mengetahui adanya pengaruh kardiovaskular pada kasus kematian bayi mendadak. Dan ini kemungkinan bisa menjelaskan mengapa hal tersebut bisa terjadi. Terpapar asap rokok sejak awal kehidupan membuat mekanisme kontrol tekanan darahnya terganggu.

"Pengaruhnya bukan hanya pada pernapasan bayi tapi juga kontrol dari tekanan darah dan denyut jantungnya," ujar Dr Cohen.

Sementara itu Prof George Haycock, penasihat dari Foundation for the Study of Infant Deaths (FSID) menyatakan bahwa hasil penelitian ini sangat masuk akal. "Kematian bayi mendadak bisa dihindari dengan tidak membiarkan ada asap rokok di dalam ruangan yang sama dengan bayi. Selain itu sepertiga kematian bayi mendadak bisa dihindari jika ibunya tidak merokok selama hamil," tegasnya.(go4/RRN)
sumber : http://www.metrotvnews.com/

Minggu, 27 Mei 2012

Fakta, 22 Persen Perokok Alami Penurunan Fungsi Seksual






Fakta, 22 Persen Perokok Alami Penurunan Fungsi Seksual


TEMPO.COJakarta - Slogan peringatan rokok terhadap gangguan fungsi seksual benar-benar terbukti nyata. Menurut Johannes Soedjono, ahli andrologi dari Rumah Sakit Angkatan Laut Hang Tuah Surabaya, penelitian di Cina pada 2000-2001 menunjukkan gangguan disfungsi ereksi terjadi pada semua kategori umur. 

Responden yang diambil sebanyak 7.684 orang dengan usia 35 hingga 74 tahun. "Risiko disfungsi ereksi meningkat setelah setahun atau lebih merokok," ujar Johannes dalam diskusi seksologi di Hotel Le Meredien, Jakarta, Jumat, 28 Oktober 2011.

Ada 22 persen perokok yang pasti mengalami disfungsi ereksi. Jadi, ia menguraikan, di antara 100 ribu penduduk, ada 22 ribu orang yang mengalami gangguan dalam hubungan intim.

Tingkat disfungsi ereksi perokok pria dipengaruhi oleh jumlah rokok yang dihisap per harinya. "Semakin banyak, semakin parah kerusakannya," papar Johannes. 

Adapun durasi merokok akan mempengaruhi berat ringannya disfungsi ereksi. Kalau perokok di atas 10 tahun, maka kerusakannya lebih berat ketimbang yang baru merokok setahun.

"Yang perlu diwaspadai adalah perokok yang sudah mengisap kretek selama 6 hingga 10 tahun," ujar dia. Soalnya, perokok dalam kategori ini mempunyai kerentanan disfungsi ereksi paling berat. Mereka berada di ambang batas menuju kerusakan disfungsi ereksi parah dan moderat. 

"Kansnya 2,2 kali," kata Johannes. Artinya, bisa lebih parah jika jumlah batang rokoknya dihisap semakin banyak atau membaik jika menghentikan merokok. "Semakin cepat berhenti, semakin baik," papar dia.


http://www.tempo.co/

GRATIS PLUS HADIAH

Hosting Gratis