website trackingwebsite tracking

PTC..PELUANG DAPAT UANG HANYA DENGAN MODAL KLIK

Cara Instan Untuk Verifikasi PayPal !
Tampilkan postingan dengan label VIRUS-BAKTERI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label VIRUS-BAKTERI. Tampilkan semua postingan

Rabu, 11 Juli 2012

Ilmuwan Temukan Bakteri Ekstrim Pemakan Racun




SPONSORED BY
Komisi Gratis | Bisnis Online Tanpa Modal
KLIK GAMBAR ATAU DI SINI UNTUK BERGABUNG



Sebuah bakteri unik ditemukan dapat bertahan dari racun arsenik. Selain bertahan dari arsenik, bakteri tersebut juga menyatukan racun itu dengan DNA-nya.

detail beritaDiwartakan Live Science, Selasa (10/7/2012), hasil riset tersebut didetilkan secara daring (online) dalam jurnal Science. Riset baru ini membantah sebuah temuan pada Desember 2010 dan jika dikonfirmasi, riset ini akan merevolusi pendapat kita tentang kehidupan.

"Jika benar temuan ini akan memilikidampak penting bagi pemahaman kita tentang kebutuhan dasar hidup, karena semua bentuk kehidupan yang diketahui di Bumi menggunakan enam elemen yaitu oksigen, karbon, hidrogen, nitrogen, fosfor dan belerang," menurut sebuah pernyataan dimuat dalam Science.

Bila organisme di Bumi ditemukan bertahan hidup tanpa salah satu elemen tersebut, hal ini bisa berarti kehidupan di planet lain (dan juga kita sendiri) akan lebih mudah beradaptasi dari yang diperkirakan.

Pemimpin riset pada 2010 silam, Felisa Wolfe-Simon telah mengakui kadar fosfat dalam penelitiannya sangat rendah. Sehingga, mereka menyimpulkan kontaminasi yang terjadi tidak cukup untuk menumbuhkan GFAJ-1 (nama bakteri tersebut).

Sekarang, dua studi terpisah itu menemukan bahwa medium yang dipakai Wolfe-Simon tidak cukup mengandung fosfat untuk mendukung pertumbuhan GFAJ-1. Pasalnya GFAJ-1, beradaptasi dengan baik di lingkungan dengan kadar arsenik tinggi.

Wolfe-Simon dan rekan-rekannya menemukan bakteri di Danau Mono, California. DI tempat itulah mereka menemukan bukti, extremophiles dapat memakan arsenik untuk bertahan hidup tanpa adanya fosfor. dimana diketahui sebelumnya, fosfor meupakan unsur yang telah lama diidentikan dengan bahan penting yang menopang kehidupan makhluk hidup
okezone.com

Sabtu, 23 Juni 2012

Menurut Penelitian Terbaru Inggris dan AS : Alkohol Lemahkan Sistem




Kekebalan Tubuh. SEBUAH studi terbaru di Inggris dan Amerika Serikat menemukan bahwa mengonsumsi alkohol berdampak langsung pada setiap orang untuk melakukan "unsafe sex" atau "hubungan seks yang tidak sehat dan tidak aman".
Alkohol mempengaruhi setiap orang dalam mengambil keputusan, begitu pula dalam urusan melakukan hubungan intim. Dengan terpengaruh oleh alkohol, orang mungkin tak akan berfikir untuk menjaga keamanannya dari terjangkit HIV-AIDS.

Dalam penelitian tersebut disebutkan bahwa tubuh yang dikandungi oleh alkohol membuat sistem kekebalan tubuh menurun terhadap segala macam virus penyakit.

Semakin banyak alkohol dikonsumsi, maka akan semakin besar pula peluang untuk tak terlindungi dari berbagai virus termasuk HIV.

Penelitian ini diterbitkan dalam edisi Januari dari jurnal Addiction, dan hasil dari 12 percobaan yang diuji menyatakan adanya hubungan sebab akibat secara sistematis antara konsumsi alkohol dengan hubungan seks yang tidak sehat dan aman.

Setelah penyatuan hasil percobaan tersebut, para peneliti menemukan bahwa konsumsi alkohol akan mempengaruhi seseorang dalam pengambilan keputusan. Dampak ini meningkat dengan semakin banyaknya jumlah alkohol yang dikonsumsi.

Tim peneliti bereksperimen terhadap dua kelompok lelaki. Kelompok lelaki pertama dipengaruhi alkohol dan semakin banyak alcohol dikonsumsi, maka semakin tinggi kesediaan mereka untuk melakukan unsafe sex.

Di kelompok pertama, ada peningkatan tingkat alkohol dalam darah yakni 0,1 mg/mL, dan menghasilkan peningkatan sebesar 5,0% (95% CI: 2,8% -- 7,1%). Dengan begitu, kelompok itu terlibat dalam unsafe sex, salah satu contohnya yaitu adalah hubungan intim tanpa alat pelindung.

Minum alkohol memiliki efek kausal pada kemungkinan untuk terlibat dalam seks tak aman. Dengan demikian, mengonsumsi alkohol harus dimasukkan sebagai faktor utama dalam upaya pencegahan HIV, demikian komentar Dr J Rehm, pemimpin penelitian ini. (ic/bh)
http://www.analisadaily.com

Jumat, 22 Juni 2012

Janin yang Terpapar HIV Berisiko Tuli





Shutterstock
Ilustrasi janin dalam rahim
TERKAIT:
Gangguan pendengaran ternyata berisiko tinggi diderita oleh janin yang terpapar virus HIV. Menurut penelitian terbaru, gangguan pendengaran itu bisa terjadi ketika anak-anak tersebut berusia 16 tahun.
Menurut riset yang dilakukan ilmuwan dari National Institute of Health Research Network, risiko gangguan pendengaran anak yang terinfeksi HIV adalah 9-15 persen. Sementara itu, anak yang bebas HIV tetapi terlahir dari ibu yang terinfeksi HIV, risikonya adalah 5-8 persen.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mendefinisikan gangguan pendengaran sebagai berkurangnya kemampuan mendengar pada empat frekuensi (500, 1.000, 2.000, dan 4.000 Hz) yang sangat penting untuk memahami bahasa, atau 20 desibel atau lebih tinggi daripada level normal pendengaran telinga.

"Anak-anak yang terpapar HIV sebelum kelahiran berada pada risiko lebih tinggi mengalami gangguan pendengaran. Hal ini penting untuk mereka, juga bagi penyedia layanan kesehatan yang merawat mereka agar menyadari hal ini," kata George K Siberry, MD, dari Eunice Kennedy Shriver National Institute of Child Health and Human Development (NICHD).

Temuan ini dipublikasikan secara online dalam The Pediatric Infectious Disease Journal.

Menurut peneliti, dibandingkan anak lain, anak dengan infeksi HIV pada 200 sampai 300 persen lebih mungkin untuk mengalami gangguan pendengaran. Anak-anak yang lahir tanpa HIV dari ibu yang memiliki HIV, sebanyak 20 persen lebih mungkin mengalami gangguan pendengaran.

"Jika orangtua dan guru tahu anak mengalami masalah pendengaran, mereka mungkin mengambil langkah-langkah untuk membuat pengaturan komunikasi yang berbeda, seperti menempatkan anak untuk duduk di barisan depan kelas atau menghindari suara bising," urai Howard Hoffman, MA, Direktur Epidemiologi dan Statistik Program dari National Institute on Deafness and Other Communication Disorders (NIDCD), yang menyediakan dana untuk penelitian ini.

Kehilangan pendengaran ringan pada anak-anak dapat menunda kemampuan bahasa. Untuk gangguan pendengaran yang lebih parah, mungkin mereka memerlukan penggunaan alat bantu dengar.

Dalam kajiannya, peneliti melibatkan lebih dari 200 anak dan remaja. Semua telah terkena HIV sebelum kelahiran, dan sekitar 60 persen adalah HIV positif pada saat penelitian.

Peneliti melakukan tes pendengaran pada anak-anak bila orangtua atau pengasuh melaporkan ada masalah pendengaran. Anak-anak ini juga cenderung memiliki skor yang rendah saat menjalani tes kemampuan bahasa atau masalah pendengaran.

Temuan menunjukkan, proporsi lebih besar dari kasus gangguan pendengaran terjadi pada anak-anak dengan HIV positif, dan peneliti menemukan bahwa mereka yang telah mengembangkan AIDS pada level berapa pun bahkan lebih mungkin memiliki gangguan pendengaran, meski penyakit dapat dikendalikan pada saat penelitian berlangsung.

Penelitian sebelumnya telah menemukan bahwa anak dengan HIV rentan terhadap infeksi telinga tengah. Infeksi telinga tengah yang berulang dapat menyebabkan gangguan pendengaran. Namun, 60 persen kasus dalam penelitian ini menunjukkan gangguan pendengaran lebih diakibatkan oleh masalah transmisi suara dari saraf telinga ke otak, bukan kerusakan di telinga tengah akibat infeksi telinga.

Sumber :Kompas.com...........................Bramirus Mikail | Lusia Kus Anna | Jumat, 22 Juni 2012 | 17:02 WIB

Selasa, 19 Juni 2012

Peneliti Temukan Protein yang Bisa Tingkatkan Kemanjuran Vaksin

Para pakar di Irlandia telah menemukan semacam tombol untuk menghidupkan dan mematikan kekebalan tubuh dalam protein yang disebut “off-switch,” yang memungkinkan dokter mengontrol kekebalan tubuh terhadap penyakit, dan bisa meningkatkan kemanjuran vaksin melawan penyakit, seperti HIV dan malaria.



Tombol “off-switch” itu adalah protein yang disebut TMED7. Para peneliti pada Universitas Trinity di Dublin, Irlandia, mengatakan, dalam sel-sel normal dan sehat, protein itu menenangkan sistem kekebalan tubuh setelah membasmi bakteri.
Anne McGettrick, salah seorang kepala penelitian yang menemukan TMED7 itu, mengumpamakan sistem kekebalan tubuh itu dengan orkes yang terdiri dari banyak alat musik yang berbeda, dan TMED 7 adalah salah satu dari alat musik itu. TMED7 merupakan protein pertama yang merupakan pengatur penting sistem kekebalan itu.
Ia mengatakan, “Mengapa itu membuat kami merasa gembira, karena semakin banyak kita bisa memahami sebagian kecil saja sistem kekebalan tubuh kita, dan semakin kita memahami bagaimana setiap sel bekerja, semakin mungkin kita memahami apa yang terjadi kalau kita sakit – mengapa orang menunjukkan gejala berbeda – dan ketika sistem kekebalan tubuh tidak berfungsi, kita bisa menelusuri apa yang tidak beres.”
Apabila TMED7 tidak berfungsi sebagai rem, ujar McGettrick, sistem kekebalan itu akan kacau setelah menetralisir infeksi bakteri.
Para peneliti menon-aktifkan protein itu dan kemudian menulari sel-sel itu dengan bakteri. Mereka menemukan reaksi sel-sel kekebalan tubuh menjadi terlalu aktif.
McGettrick yakin pembuatan obat-obatan, atau modifikasi vaksin, yang memperkuat sistem kekebalan tubuh dengan memisahkan TMED7 dari sel-sel bisa membantu mendorong kemanjuran vaksin melawan HIV dan malaria. Vaksin bekerja lebih baik jika sistem kekebalan tubuh kuat.
Artikel mengenai penemuan protein “off-switch” sistem kekebalan tubuh, TMED7, yang ditulis Anne McGettrick dan rekan-rekannya diterbitkan dalam Nature Communcation.
http://www.voaindonesia.com

Sabtu, 16 Juni 2012

Saktinya ASI ... bisa membunuh virus HIV



Jumat, 15 Juni 2012 18:21 WIB | 2339 Views
Menyusui (flickr.com/photos/sheahammond)
 Ini karena ASI bisa menolak sepenuhnya transmisi dua bentuk HIV yang ditemukan di ASI ibu positif HIV, yaitu partikel virus dan sel-sel yang terinfeksi virus.
Berita Terkait
Jakarta (ANTARA News) - Pemberian air susu ibu (ASI) memang tidak bisa terbantahkan lagi bisa memberikan begitu banyak manfaat bagi bayi.

Namun para peneliti HIV selama ini masih mencurigai bayi-bayi yang mendapatkan ASI dari ibu yang terpapar HIV akan turut terinfeksi virus pelemahan sistem daya tahan tubuh tersebut.

Penelitian terbaru dari University of North Carolina School of Medicine mendapati bahwa terhadap uji coba di tubuh tikus, pemberian ASI kepada bayi justru mencegah penularan HIV.

ASI memiliki efek kuat membunuh virus HIV, dan pada saat bersamaan mencegah transmisi oral HIV dari ibu ke bayi.

"Penelitian kami menunjukkan bahwa ASI memiliki kemampuan yang sangat luar biasa dalam hal penghancuran virus HIV dan mencegahnya bertransmisi," kata J. Victor Garcia, salah seorang peneliti.

Tim Garcia mempelopori model tikus yang diimplan sumsum tulang belakang, hati, dan jaringan timus manusia. Tikus ini tidak memiliki sistem imun sendiri.

Lalu tikus yang diimplan tadi membangun sistem imun manusia yang berfungsi normal dan bisa terpapar HIV seperti manusia normal.

Para peneliti kemudian memberikan ASI dari ibu yang negatif HIV kepada tikus tersebut, dan hasilnya virus itu tidak menular ke si tikus.

"Ini karena ASI bisa menolak sepenuhnya transmisi dua bentuk HIV yang ditemukan di ASI ibu positif  HIV, yaitu partikel virus dan sel-sel yang terinfeksi virus," kata Garcia seperti dikutip dari ScienceDaily.

Temuan ini membantah hipotesis yang menyebutkan bahwa HIV yang terdapat di sel-sel tubuh akan lebih sulit dibunuh oleh sel imun daripada HIV yang berada di partikel virus, tambah dia.

Dengan hasil ini, para peneliti meyakini bahwa pemberian ASI bukan hanya merupakan asupan nutrisi yang terbaik bagi bayi tapi juga upaya pencegahan penularan HIV yang sangat prospektif.
(E012)
ww.antaranews.com

Minggu, 10 Juni 2012

Ilmuwan Memodifikasi HIV agar Tidak Mampu Menyerang Sistem Kekebalan


oleh Kumpulan Artikel Penelitian Ilmiah Terbaru

Suka dengan artikel ini?

Jelajahi artikel-artikel KUMPULAN ARTIKEL PENELITIAN ILMIAH TERBARU yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
 Login

Dengan mengubah virus, para peneliti mampu membangkitkan kembali respon sistem kekebalan terhadap HIV dan meniadakan sifat-sifatnya.

Para peneliti dari Johns Hopkins telah memodifikasi HIV (human immunodeficiency virus) dengan cara membuatnya tidak lagi mampu menekan sistem kekebalan tubuh. Dalam laporan yang dipublikasikan online 19 September dalam jurnal Blood, mereka menyebut bahwa hal ini bisa menghapus rintangan utama dalam pengembangan vaksin HIV dan mengarah pada pengobatan baru.
“Hal tentang HIV adalah menurunkan respon kekebalan tubuh, bukan memicunya, sehingga sulit untuk mengembangkan vaksinnya,” kata David Graham, Ph.D., asisten profesor molekul dan patobiologi dan obat-obatan komparatif. “Kami sekarang sepertinya memiliki cara untuk menghindari penghalang ini,” tambahnya.
Biasanya, ketika sel-sel sistem kekebalan tubuh terserang virus, mereka mengirimkan alarm dengan melepaskan zat kimia yang disebut interferon untuk memperingatkan seluruh tubuh akan adanya infeksi virus. Namun, ketika sel-sel kekebalan menghadapi HIV, mereka melepaskan interferon terlalu banyak, sehingga menjadi kewalahan dan menutup respon untuk melawan virus berikutnya.
Para peneliti telah belajar dari penelitian lain bahwa ketika sel-sel kekebalan tubuh manusia (sel darah putih) kehabisan kolesterol, HIV tidak bisa lagi menginfeksi mereka. Ternyata selubung yang mengelilingi dan melindungi genom HIV juga kaya dengan kolesterol, mengarahkan tim riset Johns Hopkins untuk menguji apakah HIV yang kurang kolesterol juga masih bisa menginfeksi sel.

Sebuah model HIV yang menunjukkan organisasi kolesterol membran yang terkait (warna kuning). (Kredit: Johns Hopkins Medical Institutions/Jenny Wang)
Para peneliti memasukkan HIV dengan bahan kimia yang bisa menghilangkan kolesterol dari selubung virus. Kemudian mereka memasukkan HIV yang sudah berkurang kolesterolnya ini ke dalam sel-sel kekebalan tubuh manusia yang bertumbuh dalam tabung kultur, serta mengukur bagaimana sel-sel tersebut meresponnya. Hasilnya, sel-sel yang terkena HIV kurang-kolesterol tidak melepaskan interferon, sedangkan sel-sel yang terpapar HIV normal melepaskan interferon.
“Pengubahan HIV tidak membanjiri sistem dan alih-alih memicu respon imun bawaan untuk bereaksi, sepertinya ini melakukannya pada setiap pertemuan virus pertama,” kata Graham.
Selanjutnya, para peneliti memeriksa apakah HIV kurang-kolesterol mengaktifkan respon imun adaptif – respon yang membantu tubuh mengingat patogen spesifik jangka panjang sehingga tubuh mengembangkan imunitas dan melawan infeksi di masa depan. Untuk melakukannya, mereka menempatkan HIV normal atau yang kurang kolesterol pada sampel darah, yang berisi semua sel berbeda yang diperlukan untuk respon imun adaptif.
Lebih spesifik lagi, mereka menguji sampel darah dari orang yang sebelumnya sudah terkena HIV untuk melihat apakah darah mereka mampu menunggangi respon imun adaptif. Sampel darah yang digunakan berasal dari 10 orang positif HIV dan dari 10 orang sehat yang berulang kali dipaparkan HIV. Saat HIV kurang-kolesterol dipaparkan pada darah yang tidak terinfeksi dalam tabung, sel-sel respon imun adaptif bereaksi terhadap virus. Dengan mengubah virus, para peneliti mampu membangkitkan kembali respon sistem kekebalan terhadap HIV dan meniadakan sifat-sifatnya, jelas Graham.
“Selain aplikasi vaksin, penelitian ini juga membuka jalan bagi pengembangan obat untuk menyerang selubung virus HIV sebagai terapi tambahan terhadap promosi deteksi virus pada sistem kekebalan tubuh,” kata Graham.
Penelitian ini didukung pendanaan dari Wellcome Trust dan Institut Kesehatan Nasional.
Kredit: Johns Hopkins Medical Institutions
Jurnal: A. Boasso, C. M. Royle, S. Doumazos, V. N. Aquino, M. Biasin, L. Piacentini, B. Tavano, D. Fuchs, F. Mazzotta, S. Lo Caputo, G. M. Shearer, M. Clerici, D. R. Graham. Over-activation of plasmacytoid dendritic cell inhibits anti-viral T-cell responses: a model for HIV immunopathogenesisBlood, 2011; DOI: 10.1182/blood-2011-03-344218


Kamis, 07 Juni 2012

Vaksin Flu H1N1 Untungkan Ibu Hamil


Tak seorang pun ingin terkena flu. Namun, bagi ibu hamil, mendapatkan vaksinasi influenza ternyata dapat memberikan keuntungan tersendiri.
Sekelompok tim peneliti dari Kanada menemukan bahwa vaksin virus H1N1 ternyata tidak menimbulkan efek samping apa pun bagi sang ibu. Sebaliknya, vaksin yang diberikan saat si ibu teserang flu ini secara signifikan dapat mengurangi kematian saat bayi lahir dan kelahiran prematur yang menyebabkan bayi lahir dengan berat badan terlalu kecil.

"Ini mengherankan, tetapi juga menarik. Penemuan ini adalah salah satu contoh hubungan antara vaksinasi flu dan kematian bayi saat lahir. Sungguh sesuatu yang langka terjadi," kata Deshayne Fell, peneliti dari McGill University, yang mengaitkan hasil penelitian dengan data kematian bayi.

Para peneliti menemukan, wanita hamil yang menerima vaksin H1N1 memiliki keuntungan kesehatan berlipat ganda. Sebanyak 34 persen terhindar dari kematian bayi saat lahir, 28 persen terhindar dari persalinan prematur, dan 19 anak lahir dengan kondisi berat badan yang baik.  Dalam riset ini, para peneliti menggunakan basis data data kelahiran di Ontario. Setidaknya ada 55.570 kelahiran di Ontario selama pandemi H1N1 yang dikaji para peneliti.

"Penemuan ini sangat bermanfaat. Wanita hamil biasanya akan sangat berhati-hati dengan apa yang dimasukkan ke dalam tubuh mereka. Namun, H1N1 ini akan sangat membantu mereka untuk pengobatan flu dan juga membawa keuntungan lain bagi bayi," kata Mark Walker, salah seorang anggota tim peneliti dari University of Ottawa.
Dituliskan dalam makalah berjudul "H1N1 Influenza Vaccination During Pregnancy and Fetal and Neonatal Outcomes", penelitian ini juga dipublikasikan dalam American Journal of Public Health(win)
KOMPAS.com Asep Candra | Selasa, 29 Mei 2012 | 19:50 WIB

Pil Cegah HIV untuk Orang Sehat



shutterstock

KOMPAS.com - 
Panel kesehatan Amerika Serikat untuk pertama kalinya mendukung penggunaan obat pencegah HIV untuk orang sehat.

Panel merekomendasikan regulator AS untuk menyetujui pil harian, Truvada, untuk digunakan oleh orang-orang sehat yang dianggap berisiko tinggi terkena virus penyebab AIDS. Sebelumnya sejumlah petugas kesehatan dan kelompok yang aktif di komunitas HIV menolak obat ini. Penolakan didasarkan pada pertimbangan bahwa pengguna akan mendapat rasa aman yang palsu dan kekhawatiran akan munculnya jenis HIV baru yang kebal obat.

Di sisi lain, kalangan yang mendukung Truvada beralasan bahwa penggunaan obat tersebut semata-mata untuk upaya pencegahan HIV. Upaya tersebut memang tidak untuk dijadikan upaya tunggal pencegahan, karena upaya-upaya lain tetap dijalankan seperti kampanye seks secara aman, penggunaan alat pelindung, dan rutin melakukan pemeriksaan HIV.

Truvada selama ini memang digunakan untuk orang dengan HIV positif dan penggunaannya dilakukan bersamaan dengan obat-obat anti-retroviral. Hasil penelitian tahun 2010 menunjukan bahwa Truvada, obat buatan Gilead Sciences yang berbasis di California, dapat mengurangi risiko HIV pada pria homoseksual sehat dan juga untuk kalangan heteroseksual yang HIV negatif tetapi memiliki pasangan HIV positif, antara 44 persen sampai 73 persen.

Badan pengawas obat dan makanan AS, FDA, akan mempertimbangkan usulan panel dan diharapkan sudah membuat keputusan final pada 15 Juni nanti. (Ni Ketut Susrini/BBC)
sumber : Kompas.com
Asep Candra | Selasa, 15 Mei 2012 | 11:52 WIB

Senin, 04 Juni 2012

107 Bakteri per milimeter persegi PEMBALUT WANITA


Mengapa wanita mudah terinfeksi bakteri?

Tahukah Anda bahwa menurut penelitian terdapat sebanyak 107 bakteri per milimeter persegi ditemukan di atas pembalut wanita biasa, kondisi inilah yang membuat pembalut biasa menjadi sumber sarang pertumbuhan bakteri merugikan, meski pembalut biasa hanya dipakai selama 2 jam saja. Bayangkan banyaknya bakteri pada permukaan seluas pembalut, apalagi jika dipakai lebih dari 2 jam.

Hampir semua wanita tidak pernah tahu tentang pembalut yang biasa mereka beli dan pakai selama ini.Banyak wanita suka membeli pembalut biasa yang ada dipasaran hanya memikirkan harga murah dan cukup enak dipakai, tanpa mengetahui sedikitpun resiko kesehatan dari pemakaian pembalut atau pantyliner biasa.

Pembalut wanita, termasuk klasifikasi produk konsumer cepat saji dan produk sekali pakai. Karena itulah para produsen pembalut biasa kerap mendaur ulang bahan sampah kertas bekas dan menjadikan sampah kertas bekas ini menjadi bahan dasar untuk menghemat biaya produksi.
Dalam proses daur ulang sampah kertas bekas ini, tentu banyak menggunakan bahan-bahan kimia untuk proses pemutihan kembali, menghilangkan bau sampah kertas bekas dan proses sterilisasi bakteri yang terdapat pada sampah kertas bekas.



FAKTA PENTING UNTUK PARA WANITA INDONESIA!!

1
  • Di Indonesia, setiap satu jam, satu wanita meninggal karena kanker serviks.

  • Di Indonesia, setiap harinya 40-45 perempuan terdiagnosis kanker serviks dan 20-25 di antaranya meninggal dunia.
    (www.kankerserviks.com)

  • Diperkirakan, 52 juta perempuan Indonesia berisiko terkena kanker serviks, sementara 36% perempuan dari seluruh penderita kanker adalah pasien kanker serviks. Ada 15.000 kasus baru per tahun dengan kematian 8.000 orang per tahun. (www.kompas.com)

  • Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan, saat ini penyakit kanker serviks menempati peringkat teratas di antara berbagai jenis kanker yang menyebabkan kematian pada perempuan di dunia terutama di Asia Tenggara / Indonesia.

Apa Faktor Penyebabnya..??

Salah satu faktor penyebab dari kanker serviks adalah Pemakaian pembalut wanita yang mengandung bahan DIOXIN (akibat bahan pemutih yang dipakai untuk memutihkan pembalut hasil daur ulang dari barang bekas)

Kertas bekas dan serbuk kayu
Bahan Pemutih
Dari hitam menjadi putih


Limbah kertas bekas dan serbuk kayu dibersihkan/diputihkan dengan menggunakan bahan kimia 
pemutih. Hasilnya dari limbah yang hitam menjadi putih, nah proses inilah yang menghasilkan 
sisa zat  DIOXIN BERBAHAYA.


Ancaman Bahaya Dioxin

Kongres Amerika H.R. 890 tahun 1999 Menyatakan sebagai berikut :

Dari hasil penelitian, bahwa zat Dioxin dan serat Sintetis yang ada di pembalut wanita dan produk sejenis lainnya, berisiko tinggi terhadap kesehatan wanita, termasuk risiko terhadap yang berhubungan dengan cervical cancer, endometriosis, infertility, kanker ovarium, kanker payudara, immune system deficiencies, pelvic inflammatory disease, dan toxic shock syndrome, dan lainnya. 



Dioxin adalah senyawa kimia/racun yang sangat kuat
bahkan diberi julukan sebagai "toksin/racun yang paling kuat zaman ini" dan merupakan pemicu kanker utama bagi manusia.

Dioxin merupakan racun yang tidak berwarna, tidak berbau, terbentuk atau terjadi sebagai akibat dari proses industri yang menggunakan klorin seperti : 
Industri kertas, dalam proses pembuatan kertas termasuk industri pembalut wanita, tisue, diaper dan sebagainya. 

Dioxin adalah salah satu dari sedikit bahan kimia yang telah diteliti secara intensif yang dapat menyebabkan kerusakan pada organ tubuh secara luas dan dipastikan dapat menimbulkan kanker.


Investigasi TRANS7 mengenai pembalut yang mengandung 

bahan kimia berbahaya DIOXIN :





STOP PAKAI PEMBALUT BIASA !!!

sumber : http://pembalut-herbal-in3.blogspot.com/

GRATIS PLUS HADIAH

Hosting Gratis