website trackingwebsite tracking

PTC..PELUANG DAPAT UANG HANYA DENGAN MODAL KLIK

Minggu, 24 Juni 2012

Dampak Revolusi Digital pada Proses Belajar-Mengajar


Teknologi digital yang terus berkembang akan membawa perubahan-perubahan besar dalam pendidikan tinggi, termasuk tawaran pemberian mata kuliah lewat internet.


Bayangkan sebuah matakuliah di universitas yang diikuti oleh 160.000 mahasiswa yang duduk di depan komputer di seluruh dunia, semua belajar dari profesor yang sama. Ini bukan cerita fiksi ilmiah. Ini adalah matakuliah di Universitas Stanford, California yang diberikan oleh Sebastian Thrun.

Matakuliah “artificial intelligence” yang diberikan oleh Sebastian Thrun dan Peter Norvig dapat ditemukan di YouTube. Matakuliah ini gratis, dan para pendukungnya mengatakan hal itu menunjukkan bahwa cendekiawan ternama dapat mengajar beberapa mata pelajaran untuk siapapun, di manapun.

Menurut Profesor Rita McGrath dari Universitas Columbia di New York, selama ini banyak universitas yang lamban mengikuti perubahan.

"Model bisnis dasar pendidikan tinggi kita belum berubah sejak zaman Socrates. Model itu adalah dengan menampilkan seorang dosen berdiri di depan kelas. Versi terbaru dari model ini adalah dengan melibatkan mahasiswa untuk mengajukan pertanyaan,” kata Profesor McGrath.

Profesor McGrath melacak industri yang mengalami perubahan cepat. Ia mengatakan teknologi digital telah meningkat dan akan memicu perubahan besar. Perubahan-perubahan itu termasuk bagaimana guru mengajar, menurut Profesor Spencer Benson dari Universitas Maryland.

Ia memaparkan, "Cara mengajar telah berubah, termasuk peran guru atau profesor yang tadinya menjadi penyampai isi matakuliah menjadi orang yang membantu mahasiswa mencari dan mengevaluasi dan pada akhirnya dapat menggunakan isi matakuliah itu."

Perubahan lain adalah bagaimana tingkat kemajuan mahasiswa diukur. Rob Hughes, pimpinan TopCoder, perusahaan yang memberikan ijazah bagi mahasiswa yang menempuh pelajaran melalui internet, berbicara melalui Skype.

"Tentu saja kode, pengembangan piranti lunak, matematika, algoritma, ilmu komputer; berbagai mata kuliah seperti itu sangat baik untuk sistem pengujian yang obyektif dan dilakukan secara otomatis," ujarnya.

Yang lebih sulit dinilai adalah kemajuan mahasiswa dalam bidang sastra, sejarah, dan bidang non-teknis lainnya. Salah satu solusinya adalah dengan menggunakan kelas online untuk menyajikan materi, tetapi masih menggunakan instruktur untuk menilai pemahaman mahasiswa.

Itulah yang telah dilakukan oleh Profesor George Siemens di Universitas Athabasca di Alberta, Kanada. Ia berbicara kepada VOA melalui Skype.

"Sekarang ini benar-benar merupakan waktu yang sangat menarik dalam bidang pendidikan, tetapi agak sedikit meresahkan karena ada pertanyaan besar tentang apakah universitas akan bertahan, dan jika ya, nantinya seperti apa?" paparnya.

Sementara para pimpinan lembaga pendidikan berpendapat kelak banyak mata kuliah akan diberikan secara online, sebagian mahasiswa di Universitas Maryland khawatir.

Cooper Gilbert, salah seorang mahasiswa, mengatakan, "Tampak akan sedikit asing dan lebih sulit belajar dengan cara demikian.”

Mahasiswa lainnya, Chuma Obinemen, mengatakan, "Belajar sampai larut malam bersama teman-teman di asrama rasanya penting untuk mendapat nilai baik dan memahami mata kuliah.”

Para mahasiswa itu menyukai gagasan bahwa kuliah online bisa lebih murah dari kuliah tradisional dan tersedia untuk orang di luar universitas. Sementara sebagian cendekiawan mengatakan universitas akan menolak perubahan, sebagian yang lain mengatakan dengan tegas bahwa kuliah online besar-besaran hanya merupakan bagian revolusi digital yang akan segera membawa perubahan-perubahan dramatis terhadap bagaimana kita mengumpulkan dan berbagi ilmu pengetahuan.



sumber : http://www.voaindonesia.com

Minum 4 Cangkir Teh Sehari Turunkan Resiko Diabetes

Minum 4 Cangkir Teh Sehari Turunkan Resiko DiabetesJakarta - Diabetes adalah salah satu penyakit keturunan yang sulit disembuhkan. Untuk mencegahnya mungkin beberapa orang telah melakukan diet untuk tetap menjaga pola makannya. Sebuah penelitian baru berhasil menemukan minuman yang dapat mencegah diabetes.

Sebuah studi yang dilakukan di Eropa menemukan bahwa orang yang minum teh sebanyak empat cangkir perhari memiliki resiko 20 persen lebih rendah untuk terkena penyakit diabetes tipe-2. Penelitian ini telah terbukti di negara Inggris yang rata-rata warganya sering minum teh.

Penelitian ini juga menemukan bahwa orang yang minum teh kurang dari empat cangkir ternyata tidak dapat menurunkan resiko terkena diabetes tipe-2.

Tim penelitian ini dipimpin oleh Criatian Herder dari Leibniz Center for Diabetes Research dari Heinrich Heine Universitas Duesseldorf, Jerman. Ia juga mengatakan bahwa, hasil analisis sebelumnya menunjukkan bahwa konsumsi teh dihubungkan dengan kejadian penurunan resiko diabetes tipe-2.

Penelitian ini telah melibatkan banyak orang karena dilakukan di 26 wilayah didelapan negara Eropa. Tediri dari 12.403 responden dengan kasus diabetes tipe-2 dan ditambah ribuan responden lainnya yang tanpa penyakit.

Obesitas adalah faktor utama terjadinya penyakit diabetes, namun faktor makanan juga sangat berperan. Teh dapat menyerap glukosa dengan melindungi beta-sel dari kerusakan radikal bebas. Kandungan polifenol dalam teh sangat menguntungkan untuk tubuh.

"Minum sedikitnya empat cangkir teh per hari dan akan menurunkan resiko 20 persen terkena diabetes, dibandingkan dengan mereka yang hanya minum satu atau tiga cangkir teh perhari." ungkap Herder.

Laporan kejadian penyakit diabetes cepat meningkat. Dengan mengubah gaya hidup dipercaya juga dapat mengurangi resiko diabetes. Minum teh bisa dijadikan sebagai bagian gaya hidup baru yang menyehatkan.


Dyah Oktabriawatie Waluyani - detikFood
detik,com

Dikembangkan, udang tahan virus dan cepat tumbuh











Jakarta (ANTARA News) - Upaya pencarian bibit udang windu nan handal terus dilakukan oleh para peneliti Indonesia, dan besar harapan dalam waktu yang relatif tak lama lagi udang windu Indonesia akan tahan virus dan lebih cepat tumbuh.

Saat ini para peneliti yang tergabung di Balai Penelitian dan Pengembangan Budidaya Air Payau (BPPBAP) Maros, Sulawesi Selatan, sedang mengembangkan bibit udang windu yang telah direkayasa segara genetik agar tahan terhadap penyakit serta cepat tumbuh.

"Kalau hasil penelitian ini sukses, dalam 3-4 tahun ke depan kita sudah bisa menghasilkan bibit udang windu yang tahan penyakit sekaligus cepat tumbuh," kata Kepala Balai Penelitian dan Pengembangan Budidaya Air Payau (BPPBAP), Dr. Rachmansyah di Maros, Sulawesi Selatan, Minggu.

Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa bibit udang windu yang dikembangkan di BPPBAP Maros telah sampai ditahap pembesaran benih.

"Kami telah menemukan gen yang menentukan daya tahan udang terhadap virus bintik putih/white spot syndrome virus (WSSV) dan gen yang membuat pertumbuhan lebih cepat," kata Andi Parenrengi, salah seorang peneliti yang terlibat dalam penelitian itu.

Lebih lanjut Andi menjelaskan bahwa rekayasa genetik ini memungkinkan pencarian bibit udang windu yang tahan terhadap WSSV, dengan mengambil gen yang berperan sentral lalu diimplan kepada bibit udang.

Pada beberapa tahun terakhir, industri udang windu Indonesia sangat terpukul oleh serangan WSSV sehingga banyak petambak beralih membudidaya komoditas lain.
(E012)

http://www.antaranews.com
Editor: Ella Syafputri

COPYRIGHT © 2012

GRATIS PLUS HADIAH

Hosting Gratis