website trackingwebsite tracking

PTC..PELUANG DAPAT UANG HANYA DENGAN MODAL KLIK

Minggu, 10 Juni 2012

650 Ribu ABG tak Perawan


Hasil penelitian dari Australia National University (ANU) dan Pusat Penelitian Kesehatan Universitas Indonesia (UI) pada 2010/2011 untuk daerah Kota Jakarta, Tangerang dan Bekasi dengan jumlah sampel 3.006 responden usia 17-24, menunjukkan bahwa 20,9 persen remaja mengalami kehamilan dan kelahiran sebelum menikah. Dan 38,7 persen remaja mengalami kehamilan sebelum menikah dan kelahiran setelah menikah. Hasil riset UI menunjukkan bahwa sebanyak 650 ribu perempuan golongan ABG sudah hilang keperawanannya. Dengan kata lain, mereka telah melakukan seks di luar nikah.  Yang mengejutkan lagi, 50 persen dari total ABG yang berusia 15-17 pernah melakukan seks.

“Fenomena ini membuktikan bahwa perilaku seks be­bas di kalangan remaja ini mungkin hanya salah satu implikasi masalah dari sederet persoalan yang dihadapi anak dan remaja di masa sekarang,” kata Deputi Bidang Keluarga Sejahtera dan Pemberdayaan Keluarga BKKBN Dr Sudibyo Alimoeso MA.
Menurut Sudibyo, remaja butuh berbagai informasi tentang kesehatan reproduksi, hak-hak seksualitas dan penghargaan pada keberagaman seksualitas. “Inilah yang sampai sekarang masih menjadi persoalan di Indonesia,” kata Sudibyo.
Menurutnya, BKKBN sebagai badan yang mempunyai tugas dalam mengatasi ledakan penduduk dan berperan dalam masalah kesehatan reproduksi remaja, berupaya menciptakan model keluarga berkualitas.
Karena itulah, selain getol menggarap akseptor pria di daerah permukiman kumuh perkotaan, BKKBN juga membidik 84 juta generasi muda usia 15-24 tahun untuk menjadi sasaran sosialisasi Generasi Berencana (GenRe).
Lewat program Triad, yaitu generasi muda jauh dari seks bebas, terhindar dari NAPZA dan ter­bebas dari HIV/AIDS, BKKBN tahun ini menggelar kegiatan GenRe Goes To School yang memfokuskan ke beberapa sekolah yang menjadi Pusat Informasi Komunikasi (PIK) unggulan tahun 2011.
Yaitu SMAN 36 Ja­karta Timur, SMAN 11 Bekasi, SMAN 8 Ma­lang, SMA Swadipha Natar Lampung Selatan, SMA PAN Samarinda, SMA Kosgoro Tomohon, SMAN Binaan Khusus Dumai, SMAN 1 Prisenggela Lombok Timur dan SMA Negeri 7 Binjai Sumatera Utara. Sekolah ini bisa jadi adalah rumah kedua bagi para pelajar. Betapa tidak, hampir separuh hari mereka dihabiskan di lingkungan sekolah. Makanya, sekolah menjadi salah satu sasaran BKKBN.
GenRe Goes to School merupakan kegiatan BKKBN pusat yang diadakan  di 10 sekolah terpilih. Jawa Barat menjadi provinsi kedua setelah DKI Jakarta. GenRe Goes to School untuk ketiga kalinya digelar di SMA Negeri 7 Binjai.
Di setiap kesempatan kegiatan ini, Kepala BKKBN Pusat Sugiri Syarief meminta seluruh generasi muda, terutama kepada siswa SMA agar menghindari Triad KRR, yaitu seks bebas, narkoba dan HIV/AIDS.
“Kalau remaja terlibat dengan itu pasti hasilnya tidak mengun­tungkan bagi generasi muda,” katanya.
Menurut Sugiri, GenRe Goes to School memang dikemas untuk anak-anak sekolah tingkat atas dan tingkat pertama. “Saat ini dikemas untuk tingkat SMA yang selanjutnya akan membidik pe­lajar SMP,” ujarnya.
Sugiri juga menceritakan, saat ini fakta dan data para remaja  sangat mengkhawatirkan, seperti melahirkan di luar nikah, terlibat narkoba, bahkan tertular HIV/AIDS. “Dari 115.404 pecandu narkoba, sebanyak  51.986 orang adalah mereka yang berusia remaja,” ujarnya. (rm/jpnn)

sumber : http://www.hariansumutpos.com

Dua Kali CT Scan, Risiko Kanker Otak Naik Tiga Kali Lipat




MENURUT para ilmuwan, risiko kanker otak naik tiga kali lipat pada anak-anak setelah melakukan CT scan dua atau tiga kali. Mereka juga berisiko lebih besar terkena leukemia (kanker darah).

Para peneliti memperkirakan setiap 10.000 anak berusia 10 tahun atau kurang yang di-CT scan, satu dari mereka terkena tumor otak dan satu lagi didiagnosis mengidap leukemia. Tetapi mereka juga mengatakan, CT scan dapat menyelamatkan nyawa dan risiko berkembangnya kanker sangat kecil.

Dr. Mark Pearce dari Newcastle University mengatakan, “CT scan bersifat akurat dan cepat, sehingga harus digunakan bila manfaat langsung CT scan lebih besar daripada risiko jangka panjangnya. Kami telah diberi tahu bahwa CT scan meningkatkan risiko kanker, tetapi ini adalah penyakit langka. Risikonya pun kecil, tapi kita harus tetap menyadari bahwa risiko apapun tetap adalah risiko.”

Dalam studi yang dipublikasikan di The Lancet, para peneliti dari Newcastle University dan National Cancer Institute di AS mengamati 175.000 anak dan remaja di bawah usia 21 yang dirawat di NHS dan menerima CT scan pertama mereka antara 1985 dan 2002.

Mereka memperkirakan dan menghubungkan jumlah radiasi yang diterima tubuh akibat CT scan dengan risiko tumor otak dan leukemia selama 10 tahun ke depan. Risiko tumor otak meningkat tiga kali lipat setelah kepala menyerap 50-60 milligray unit radiasi. Jumlah itu adalah tingkat pemaparan usai melakukan CT scan sebanyak 2-3 kali.

Dosis radiasi yang sama pada sumsum tulang yang diproduksi oleh lima sampai 10 kali CT scan pada kepala dapat melipatgandakan risiko terkena leukemia sebanyak tiga kali.

Seorang juru bicara Departemen Kesehatan mengatakan, CT scan dilakukan hanya ketika “dibenarkan secara klinis”. Setiap 100.000 anak berusia sampai 19 tahun di Inggris, ditemukan tiga kasus tumor otak dan empat sampai lima kasus leukemia, seperti dilansir Dailymail.



Sumber : koranFB

Lindungi Jantung dengan Selalu Bersikap Optimistis

Kamis, 19/04/2012 11:02 WIB 

Rahma Lillahi Sativa - detikHealth


img
(Foto: Thinkstock)
Jakarta, Optimisme tak hanya membuat apapun yang Anda lakukan menjadi mudah, namun juga baik bagi jantung Anda.

Peneliti Harvard menemukan bahwa optimisme, kebahagiaan dan emosi positif lainnya bisa melindungi kesehatan jantung serta mengurangi risiko serangan jantung, stroke dan penyakit kardiovaskular lainnya. Tampaknya faktor kesehatan psikologis ini pun memperlambat kemajuan penyakit kardiovaskular.

Penemuan ini merupakan hasil kajian sistematis pertama dan terbesar yang pernah ada. Penelitian ini dilaporkan secara online dalam Psychological Bulletin oleh Julia Boehm dan Laura Kubzansky, profesor di departemen masyarakat di Harvard School of Public Health, Boston, Massachusetts.

Sudah banyak studi yang menunjukkan kondisi psikologis yang negatif seperti kemarahan, cemas, kebencian dan depresi buruk bagi kesehatan jantung.

Namun peneliti mengaku tak tahu banyak tentang bagaimana emosi positif berkaitan dengan penyakit kardiovaskular sehingga Boehm dan Kubzansky terdorong untuk meneliti lebih jauh.

Hasilnya, Boehm menyatakan bahwa absennya emosi negatif tidaklah sama dengan hadirnya emosi positif.

Faktor-faktor seperti optimisme, kepuasan hidup dan kebahagiaan dapat dikaitkan dengan berkurangnya risiko penyakit kardiovaskular, bahkan jika tanpa mempertimbangkan faktor-faktor seperti usia, status sosial ekonomi, kebiasaan merokok atau berat badan.

"Misalnya risiko individu yang paling optimistis terserang penyakit kardiovaskular bisa berkurang sekitar 50 persen dibandingkan dengan rekan-rekannya yang kurang optimistis," ujarnya seperti dilansir dari Medical News Today, Kamis (19/4/2012).

Kedua peneliti pun menemukan bahwa kondisi psikologis yang positif melindungi tubuh terhadap penyakit kardiovaskular secara konsisten dan independen dan spesifiknya.

"Optimisme merupakan emosi terkuat yang mampu mengurangi risiko penyakit kardiovaskular," kata Boehm.

Peneliti juga menemukan bahwa orang yang memiliki sense of well-being atau emosi positif dalam pikirannya cenderung lebih rajin berolahraga, menjalankan diet yang seimbang dan memiliki tidur cukup, tekanan darah rendah, profil lemak darah yang sehat dan berat tubuh normal.

Sebagai bahan review, Boehm dan Kubzansky memeriksa hasil dari 200 studi yang dipublikasikan dalam dua database ilmiah utama.

Selain memeriksa bukti-bukti yang terkait dengan faktor kondisi psikologi positif dan penyakit kardiovaskular, kedua peneliti juga melihat kaitannya dengan merokok, minum alkohol, olahraga, tidur dan diet serta melibatkan tanda-tanda biologis yang berkaitan dengan kesehatan kardiovaskular.


sumber : detik.com

Sehatkan Jantung Anda dengan Kalium

Selasa, 01/05/2012 09:00 WIB 

Linda Mayasari - detikHealth

img
ilustrasi (foto: Thinkstock)
Jakarta, Seseorang yang mengonsumsi makanan yang memiliki kandungan kalium yang rendah dan tinggi dapat meningkatkan risiko penyakit jantung. Untuk membalikkan risiko tersebut Anda harus menaikkan asupan kalium dan menurunkan asupan natrium dalam makanan.

Para peneliti dari U.S. National Heart, Lung, and Blood Institute menemukan bahwa orang yang pada keadaan normal memiliki tekanan darah cukup tinggi, risiko terhadap penyakit jantung meningkat sebesar 24 persen terhadap setiap kenaikan kadar natrium dalam tubuhnya seperti dilansir dari myrecipes, Selasa (1/5/2012).

Salah satu fungsi kalium adalah untuk membantu mengirimkan impuls saraf yang mempengaruhi detak jantung. Asupan kalium yang cukup sangat penting bagi Anda yang memiliki tekanan darah tinggi, gagal jantung, atau masalah pada detak jantung.

Meskipun Anda tidak dapat mengobati atau mencegah penyakit jantung hanya dengan memenuhi asupan kalium saja, tetapi banyak penelitian menunjukkan bahwa dengan memenuhi kebutuhan kalium bermanfaat besar bagi kesehatan jantung. Dalam satu studi disebutkan bahwa orang dengan tekanan darah tinggi yang mengonsumsi suplemen kalium dapat menurunkan tekanan darah sistolik hingga sekitar 8 poin.

Tapi Anda tidak harus minum pil kalium untuk memperoleh manfaat jantung sehat. Buah-buahan, sayuran, dan makanan rendah lemak susu dapat membantu menurunkan tekanan darah sistolik lebih rendah hingga lebih dari 10 poin pada orang dengan tekanan darah tinggi.

Pastikan kebutuhan kalium Anda tercukupi dengan makan lebih banyak buah dan sayuran. Buah dan sayuran memilik kandungan kalium yang tinggi, rendah sodium, bebas lemak jenuh dan kolesterol yang dapat membantu menurunkan tekanan darah dan kadar kolesterol untuk mengurangi risiko penyakit jantung


Sumber : detik.com

Arteri Jantung Makin Sehat Jika Rajin Konsumsi Ini

Rabu, 09/05/2012 09:08 WIB 

Linda Mayasari - detikHealth

img
(Foto: thinkstock)
Jakarta, Jantung mungkin dalam kondisi yang baik untuk memompa darah dan mengalirkannya ke arteri, tetapi jika muncul plak dan terjadi penyempitan arteri oleh kolesterol, akan berpengaruh besar pada kesehatan jantung Anda. Jantung akan bekerja lebih keras agar darah tetap dapat mengalir ke seluruh tubuh.

Agar jantung dan arteri sehat, Anda perlu menjaga pola makan Anda agar bebas dari kolesterol jahat yang menyumbat darah. Anda juga dapat mengonsumsi makanan yang memiliki manfaat untuk membersihkan arteri Anda.

Berikut 18 makanan yang bermanfaat memperlancar peredaran darah di arteri, seperti dikutip dari shape, Rabu (8/5/2012) antara lain:

1. Alpukat
Sebuah studi pada tahun 1996 yang dilakukan oleh para peneliti di Meksiko menemukan bahwa orang yang makan alpukat setiap hari selama satu minggu dapat mengalami penurunan tingkat kolesterol dalam darah hingga 17 persen. Selain dapat menurunkan kolesterol buruk (LDL) dalam darah, alpukat juga dapat meningkatlkan kolesterol baik (HDL).

2. Gandum utuh
Serat larut ditemukan dalam biji-bijian seperti roti gandum, beras merah dan oatmeal yang dapat mengikat kolesterol dalam makanan Anda dan membawanya keluar dari tubuh. Sehingga, ketika tubuh Anda membutuhkan manfaat dari kolesterol, tubuh akan menarik pasokan kolesterol dari darah, efektif menurunkan tingkat kolesterol dalam darah dan risiko penyakit jantung.

3. Minyak zaitun
Sebuah studi 2011 menemukan bahwa orang pada usia 65 atau lebih tua yang secara teratur mengonsumsi minyak zaitun baik untuk masakan terhindar dari risiko penyakit stroke hingga 41 persen lebih rendah dibandingkan orang yang tidak mengonsumsi minyak zaitun sama sekali.

4. Kacang-kacangan
Kacang-kacangan adalah camilan yang sehat untuk jantung. Kacang almond mengandung lemak tak jenuh tunggal, vitamin E, dan serat, sementara kenari merupakan sumber asam lemak omega-3 nabati yang disebut alpha-linolenic acid. Menurut American Heart Association, lemak tak jenuh tunggal dapat membantu menurunkan kadar kolesterol jahat dalam darah dan menurunkan risiko penyakit jantung dan stroke.

5. Lemak ikan salmon
Lemak ikan seperti makarel, herring, tuna, dan salmon yang penuh dengan asam lemak omega-3. Makan ikan dua kali seminggu dapat mengurangi risiko penyakit jantung dengan mengurangi peradangan, menurunkan kadar trigliserida, dan membantu meningkatkan tingkat HDL Anda.

6. Asparagus
Asparagus merupakan salah satu jenis makanan yang terbaik untuk arteri. Asparagus bekerja dalam 100.000 mil pembuluh darah dan melepaskan tekanan pada arteri, sehingga memungkinkan tubuh mengakomodasi peradangan yang telah terakumulasi selama bertahun-tahun.

7. Buah Pome
Pomegranate mengandung phytochemical yang bertindak sebagai antioksidan untuk melindungi lapisan pembuluh darah dari kerusakan. Sebuah studi pada tahun 2005 yang diterbitkan dalam Proceedings of the National Academy of Sciences menemukan bahwa jus pomegranate kaya akan antioksidan yang dapat merangsang produksi oksida nitrat dalam tubuh, yang memperlancar aliran darah dalam arteri.

8. Brokoli
Brokoli kaya akan vitamin K, yang diperlukan untuk pembentukan tulang dan membantu untuk menjaga agar kalsium tidak merusak arteri. Belum lagi, brokoli penuh dengan serat, dan penelitian menunjukkan diet tinggi serat juga dapat membantu untuk menurunkan tekanan darah dan kadar kolesterol.

9. Kunyit
Kunyit adalah anti inflamasi alami yang kuat. Kunyit juga mengandung kurkumin yang menurunkan peradangan penyebab utama arteriosklerosis atau pengerasan pembuluh darah. Sebuah studi pada tahun 2009 menemukan bahwa kurkumin dapat membantu mengurangi lemak berlebih dalam arteri sebanyak 26 persen.

10. Kesemek
Makan buah kesemek setiap hari adalah cara yang lebih baik untuk kesehatan arteri. Penelitian menunjukkan polifenol yang ditemukan dalam buah kesemek dapat membantu menurunkan kadar kolesterol LDL dan trigliserida.

11. Jus jeruk
Sebuah studi 2011 yang diterbitkan secara online di American Journal of Clinical Nutrition menemukan bahwa minum dua cangkir jus jeruk setiap hari dapat membantu mengurangi tekanan darah diastolik. Jus jeruk mengandung antioksidan untuk membantu meningkatkan fungsi pembuluh darah.

12. Ganggang spirulina
Sebanyak 4.500 mg ganggang biru-hijau yang biasanya dikonsumsi dalam bentuk kapsul suplemen atau bubuk, dapat membantu mengendurkan dinding arteri dan menormalkan tekanan darah. Hal ini juga dapat membantu hati Anda menyeimbangkan kadar darah, menurunkan lemak kolesterol LDL Anda sebesar 10 persen dan meningkatkan kolesterol HDL sebesar 15 persen.

13. Kayu manis
Hanya satu sendok teh kayu manis sehari yang kaya antioksidan dapat membantu mengurangi lemak dalam aliran darah, membantu mencegah berkembangnya plak di arteri dan menurunkan kadar kolesterol jahat sebanyak 26 persen.

14. Kopi
Menurut peneliti di Belanda, orang yang minum lebih dari dua, tapi tidak lebih dari empat, cangkir kopi sehari selama 13 tahun memiliki risiko penyakit jantung sekitar 20 persen lebih rendah daripada orang yang minum kopi lebih banyak atau kurang dari dua cangkir. Kafein adalah stimulan yang dapat menyebabkan peningkatan sementara dalam tekanan darah. Tetapi jika konsumsi kopi terlalu berlebihan, dapat menyebabkan jantung berdetak tidak teratur.

15. Keju
Percaya atau tidak, keju bisa membantu menurunkan tekanan darah Anda. Sebuah penelitian terbaru di Women 's Hospital dan Harvard Medical School menemukan bahwa orang yang makan tiga porsi keju yang rendah lemak susu sehari memiliki tekanan darah sistolik yang lebih rendah dibandingkan yang makan lebih sedikit.

16. Teh hijau
Teh hijau kaya akan catechin, senyawa yang telah terbukti menurunkan penyerapan kolesterol dalam tubuh Anda.

17. Semangka
Semangka juga dapat membantu melindungi jantung Anda. Sebuah studi di Florida State University menemukan bahwa orang diberi 4.000 mg suplemen L-citrulline (asam amino yang ditemukan dalam semangka) mengalami penurunan tekanan darah hanya dalam waktu enam minggu. Para peneliti mengatakan bahwa asam amino dalam semangka dapat membantu tubuh Anda memproduksi oksida nitrat, yang memperlebar pembuluh darah.

18. Bayam
Kandungan potasium dan folat yang ditemukan dalam bayam dapat membantu menurunkan tekanan darah dan membantu mengurangi risiko penyakit jantung sebesar 11 persen.

Sumber  : detik.com

Jantung Karyawan Akan Lebih Sehat Kalau Karirnya Lancar

Senin, 11/06/2012 07:16 WIB 

AN Uyung Pramudiarja - detikHealth

img
(Foto: Thinkstock)
Jakarta, Bagi karyawan, sering promosi atau naik jabatan tidak hanya membanggakan tetapi juga menyehatkan. Menurut sebuah penelitian, karir yang lancar dalam arti sering naik jabatan bisa mengurangi risiko serangan jantung hingga 20 persen.

Penelitian yang dilakukan di University College London ini membuktikan, karyawan yang punya peluang lebih besar untuk naik jabatan memiliki risiko lebih rendah untuk mengalami serangan jantung. Pembandingnya adalah karyawan yang biasa-biasa saja, yang peluang promosinya lebih kecil.

Temuan ini menunjukkan bahwa pengalaman naik jabatan memberikan dampak yang menyehatkan, bukan hanya secara kejiwaan tetapi juga secara fisik terutama di jantung.

Menurut penelitian yang dipublikasikan dalam Economic Journal ini, perbedaan risiko serangan jantung pada karyawan yang lancar karirnya dengan yang biasa-biasa saja cukup signifikan. Karir yang lancar mampu mengurangi risiko tersebut hingga 20 persen dalam periode 15 tahun.

"Nilai lebih dari penelitian ini adalah, membuktikan bahwa hubungan yang benar adalah posisi sosial mempengaruhi kesehatan, bukan kesehatan yang mempengaruhi posisi sosial. Orang dengan status sosioekonomi tinggi cenderung lebih sehat," kata Sir Michael Marmot yang memimpin penelitian ini seperti dikutip dari Dailymail, Senin (11/6/2012).

Menurut Sir Michael, promosi atau naik jabatan merupakan salah satu mekanisme yang dapat mengangkat status sosial seseorang. Mobilitas atau pergerakan status sosial ke level yang lebih tinggi akan mempengaruhi kesehatan secara keseluruhan, termasuk kondisi jantungnya.

Dalam penelitian tersebut, Sir Michael melibatkan tak kurang dari 4.700 pegawai negeri di Inggris dari berbagai level jabatan. Para pegawai negeri yang menjadi partisipan dalam penelitian tersbeut diamati perkembangan karirnya selama 15 tahun dan dipantau kodnisi kesehatannya.

Hasil penelitian ini sejalan dengan berbagai penelitian terhahulu yang mengaitkan status sosial dengan kesehatan. Di antaranya membuktikan bahwa pemenang Oscar hidup lebih lama dibandingkan runner up atau juara duanya, demikian juga pemain baseball yang namanya masuk Hall of Fame cenderung hidup lebih lama dibanding yang biasa-biasa saja.


sumber : detik.com

Meditasi Tingkatkan Kesehatan Otak


Bramirus Mikail | Asep Candra | Sabtu, 30 Juli 2011 | 09:11 WIB

Dalam beberapa literatur disebutkan, meditasi adalah praktik rileksasi yang melibatkan pengosongan pikiran dari semua hal yang menarik, membebani, maupun mencemaskan dalam hidup sehari-hari. Meditasi sebenarnya sudah ada sejak lama dan sering dilakukan orang-orang zaman dulu.
Selama ini, meditasi sering disalahartikan sebagian besar orang karena dianggap sebagai kegiatan yang tidak ada gunanya dan membuang-buang waktu. Padahal, bermeditasi secara tidak langsung berhubungan dengan permainan pada otak.
Bahkan, meditasi diyakini bisa menambah banyak masukan untuk meningkatkan kemampuan otak Anda. Sebuah penelitian sebelumnya telah membuktikan bahwa berlatih meditasi dalam waktu yang lama dapat meningkatkan materi abu-abu pada otak.
Sekarang, sebuah studi terbaru mengklaim, dengan bermeditasi risiko seseorang mengalami penyusutan otak jauh lebih rendah. Meditasi juga dipercaya dapat meningkatkan sel-sel otak dalam mengirimkan sinyal-sinyal listrik lebih efisien.
Hasil sebuah penelitian menunjukkan, individu yang bermeditasi secara rutin dalam jangka panjang mampu menurunkan materi putih pada otak sebagai penyebab penuaan.
Penelitian ini melibatkan sebanyak 27 relawan yang berlatih meditasi dengan berbagai gaya dengan usia antara 5 tahun sampai 46 tahun. Sementara itu, 27 relawan lainnya adalah mereka yang tidak melakukan meditasi. Mereka berasal dari jender yang sama dan kelompok usia. Otak dari kedua kelompok ini dipindai menggunakan teknologi pencitraan difusi tensor untuk mengetahui perbedaan dalam konektivitas struktural otak pada masing-masing kelompok.
Hasilnya, peneliti menyimpulkan bahwa meditasi membawa perubahan positif dalam pertumbuhan anatomi otak. Pada waktu yang sama, meditasi juga efektif dalam mencegah penyusutan otak. Para peneliti berpendapat, meditasi meningkatkan kesehatan otak dengan mempromosikan fungsi dari sistem kekebalan tubuh.

sumber : kompas.com

Meditasi 15 Menit Sehatkan Jantung


Bramirus Mikail | Asep Candra | Senin, 11 Juni 2012 | 09:34 WIB

shutterstock
Salah besar jika Anda menganggap  meditasi adalah kegiatan yang membuang-buang waktu dan tak berguna. Sebuah penelitian terbaru yang dimuat jurnal Evidence-Based Complementary and Alternative Medicinemengindikasikan, bermeditasi secara teratur dapat meningkatkan kualitas kesehatan dengan caa menurunkan risiko penyakit kardiovaskular, khususnya pada kalangan remaja paling berisiko.
Penelitian melibatkan puluhan remaja berkulit hitam yang memiliki tekanan darah tinggi membuktikan bahwa meditasi secara signifikan membantu memperbaiki kondisi kesehatan. Mereka yang bermeditasi dua kali sehari selama 15 menit cenderung memiliki massa ventrikel kiri ( Massa LV ) lebih rendah. Dalam dunia medis, peningkatan Massa LV dikenal sebagai salah indikator penyakit kardiovaskuler di masa depan.

Setengah dari kelompok remaja dilatih dalam meditasi transendental dan diminta untuk bermeditasi selama 15 menit di dalam  kelas dan 15 menit di rumah selama jangka waktu empat bulan. Sementara partisipan lain hanya diberikan edukasi masalah kesehatan tentang cara menurunkan tekanan darah (hipertensi) dan risiko penyakit kardiovaskular, tapi tidak dengan praktik meditasi.

Massa LV diukur dengan alat echocardiogram dua dimensi sebelum dan sesudah penelitian. Kelompok remaja yang bermeditasi menunjukkan adanya penurunan yang signifikan pada Massa LV.

"Peningkatan massa ventrikel otot jantung kiri umumnya disebabkan oleh beban kerja ekstra pada jantung dengan tekanan darah tinggi. Beberapa remaja sudah memiliki massa ventrikel kiri lebih tinggi akibat naiknya tekanan darah, kondisi ini akan terus dibawa sampai dewasa," jelas dr Vernon Barnes, dari Medical College of Georgia dan Georgia Health Sciences University Institute of Public and Preventive Health.

Selama meditasi, partisipan beristirahat lebih dalam, aktivitas sistem saraf simpatik berkurang dan tubuh melepaskan lebih sedikit hormon stres ketimbang biasanya. "Akibatnya, pembuluh darah rileks, tekanan darah menurun dan jantung bekerja lebih sedikit," katanya.

Bahkan kata Barnes, catatan sekolah menunjukkan adanya perbaikan perilaku diantara para remaja yang melakukan meditasi. "Meditasi transendental jauh lebih dalam mengistirahatkan tubuh ketimbang Anda tidur," kata Barnes.

"Statistik menunjukkan bahwa satu dari setiap 10 remaja kulit hitam memiliki tekanan darah tinggi. Jika dipraktekkan dari waktu ke waktu, meditasi dapat mengurangi risiko remaja ini mengidap penyakit jantung disamping juga tambahan manfaat kesehatan lainnya, "ujarnya.


Sumber : KOMPAS.com 

PARA ILMUWAN PROGRAM ULANG SEL KANKER DENGAN OBAT EPIGENETIK


Release Date: 2012/03/29
ILMUWAN memprogram ulang sel KANKER DENGAN DOSIS RENDAH OBAT epigenetik
Bereksperimen dengan sel dalam kultur, para peneliti di Johns Hopkins Kimmel Cancer Center telah meniupkan kehidupan baru mungkin ke dua obat yang dulu dianggap terlalu beracun untuk pengobatan kanker manusia.  Obat-obatan, azacitidine (AZA) dan decitabine (DAC), adalah epigenetik bertarget narkoba dan bekerja untuk memperbaiki penyebab kanker perubahan yang memodifikasi DNA.
Para peneliti mengatakan obat juga ditemukan membidik sub-populasi kecil tapi berbahaya sel memperbaharui diri, kadang-kadang disebut sebagai kanker sel induk, yang menghindari obat kanker yang paling dan kambuh penyebab dan menyebar.
Dalam laporan yang diterbitkan dalam, 20 Maret 2012, isu Cancer Cell , Johns Hopkins tim mengatakan bahwa penelitian mereka memberikan bukti bahwa dosis rendah obat diuji pada kultur sel menyebabkan tanggapan antitumor pada kanker payudara, paru-paru, dan usus besar.
Agen kemoterapi konvensional bekerja dengan tanpa pandang bulu meracuni dan membunuh sel-cepat membagi, termasuk sel kanker, dengan merusak mesin seluler dan DNA. "Sebaliknya, dosis rendah AZA dan DAC dapat mengaktifkan kembali gen yang menghentikan pertumbuhan kanker tanpa menyebabkan kerusakan langsung membunuh sel-atau DNA," kata Stephen Baylin , MD, Ludwig Profesor Onkologi dan wakil direktur dari Johns Hopkins Kimmel Cancer Center .
Banyak ahli kanker telah meninggalkan AZA dan DAC untuk pengobatan kanker umum, menurut para peneliti, karena mereka adalah racun bagi sel-sel normal pada dosis tinggi standar, dan ada sedikit penelitian menunjukkan bagaimana mereka mungkin bekerja untuk kanker pada umumnya.  Baylin dan nya rekan Cynthia Zahnow , Ph.D., memutuskan untuk melihat lagi pada obat setelah dosis rendah obat yang menunjukkan manfaat pada pasien dengan gangguan pra-leukemia disebut sindrom myelodysplastic (MDS).  Johns Hopkins peneliti juga menunjukkan manfaat dari dosis rendah obat dalam tes dengan sejumlah kecil pasien kanker paru-paru lanjut."Hal ini bertentangan dengan cara kita biasanya melakukan hal-hal dalam penelitian kanker," kata Baylin, mencatat bahwa "biasanya, kita mulai di laboratorium dan kemajuan ke uji klinis.  Dalam hal ini, kami melihat hasil dalam uji klinis yang membuat kita kembali ke laboratorium untuk mencari cara untuk memindahkan terapi ke depan. "
Untuk penelitian ini, tim Baylin dan Zahnow yang bekerja dengan leukemia, payudara, dan baris sel kanker lainnya dan sampel tumor manusia menggunakan dosis serendah mungkin yang efektif melawan kanker. Secara keseluruhan, para peneliti mempelajari enam baris sel leukemia, leukemia sampel tujuh pasien, tiga baris sel kanker payudara, tujuh sampel tumor payudara (termasuk empat sampel tumor yang telah menyebar ke paru-paru), satu paru-paru sampel kanker tumor, dan satu kanker usus besar sampel tumor.  Tim diperlakukan jalur sel dan sel-sel tumor dengan dosis rendah AZA dan DAC dalam budaya selama tiga hari dan memungkinkan obat-diperlakukan sel untuk beristirahat selama seminggu. Sel diperlakukan dan sampel tumor kemudian ditransplantasikan ke tikus di mana para peneliti mengamati tanggapan antitumor dilanjutkan hingga 20 minggu. Respon diperpanjang ini sejalan dengan pengamatan pada beberapa pasien MDS yang terus memiliki efek antikanker lama setelah menghentikan obat.
Terapi dosis rendah terbalik jalur kanker gen sel, termasuk yang mengontrol siklus sel, perbaikan sel, pematangan sel, diferensiasi sel, interaksi sel kekebalan tubuh, dan kematian sel. Efek bervariasi pada sel tumor individu, tetapi para ilmuwan umumnya melihat bahwa sel kanker kembali ke keadaan yang lebih normal dan akhirnya meninggal.  Hasil ini disebabkan, sebagian, dengan perubahan lingkungan epigenetik, atau kimia, DNA.  kegiatan epigenetik menghidupkan gen tertentu dan lain-lain blok, kata Zahnow, asisten profesor onkologi dan Evelyn Grolman Glick Cendekia di Johns Hopkins.
Stephen Baylin, MD, Ph.D., menjelaskan Epigenetika:



Tim peneliti juga menguji AZA dan efek DAC pada jenis sel kanker payudara metastatik berpikir untuk mendorong pertumbuhan kanker dan menolak terapi standar.  sel metastatik sulit untuk belajar dalam model tumor laboratorium standar, karena mereka cenderung untuk melepaskan diri dari tumor asli dan mengapung di dalam darah dan cairan getah bening.  The Johns Hopkins tim diciptakan kembali lingkungan metastasis sel induk ', yang memungkinkan mereka untuk tumbuh sebagai bola mengambang.  "Sel-sel ini tumbuh dengan baik sebagai bulatan di suspensi, tetapi ketika kita diobati sel dengan AZA, baik ukuran dan jumlah bola secara dramatis berkurang, "kata Zahnow.
Mekanisme yang tepat tentang bagaimana kerja obat adalah fokus dari studi berkelanjutan oleh Baylin dan timnya.  "Temuan kami dapat ditemukan bukti dari uji klinis terakhir menunjukkan bahwa obat mengecilkan tumor lebih lambat dari waktu ke waktu karena mereka memperbaiki mekanisme diubah dalam sel dan gen kembali ke fungsi normal dan sel-sel mungkin akhirnya mati, "kata Baylin.
Para hasil uji klinis pada kanker paru-paru , yang dipimpin oleh Johns Hopkins 'Charles Rudin, MD, dan diterbitkan akhir tahun lalu di Penemuan Kanker , juga menunjukkan bahwa obat membuat tumor lebih responsif terhadap pengobatan obat standar antikanker.  Ini berarti, kata mereka, bahwa obat yang bisa menjadi bagian dari pendekatan kombinasi perlakuan daripada terapi yang berdiri sendiri dan sebagai bagian dari pendekatan pribadi pada pasien yang kanker cocok profil epigenetik dan genetik tertentu.
Dosis rendah dari kedua obat tersebut disetujui oleh US Food and Drug Administration untuk pengobatan MDS dan leukemia myelomonocytic kronis (CMML). Uji klinis pada payudara dan kanker paru-paru mulai pada pasien dengan penyakit lanjut, dan uji coba pada kanker usus besar yang direncanakan.
Stand Up Untuk Kanker Tim Epigenetika Dream:



Selain Baylin dan Zahnow, peneliti lain yang berpartisipasi dalam penelitian ini meliputi Hsing-Chen Tsai, Huili Li, Leander Van Neste, Yi Cai, Carine Robert, Feyruz V. Rassool, James J. Shin, Kirsten M. Harbom, Robert Beaty, Emmanouil Pappou, James Harris, Ray-Whay Yen Chiu, Nita Ahuja, Malcolm V. Brock, Vered Stearns, David Feller-Kopman, Lonny B. Yarmus, Yi-Chun Lin, Alana L. Welm, Jean-Pierre Issa, Il Minn , William Matsui, Yoon-Young Jang, dan Saul J. Sharkis.
Penelitian ini didanai oleh hibah spora untuk kanker paru-paru dari National Institutes of Health, Hodson Kepercayaan Foundation, Industri Hiburan Foundation, Lee Jeans, Samuel Waxman Cancer Research Foundation, Departemen Pertahanan Kanker Payudara Program Penelitian, Huntsman Cancer Foundation, dan Cindy Rosencrans Dana untuk Riset Kanker Payudara triple negatif.  Semua penelitian telah dipercepat oleh pendanaan dari Stand Up untuk Kanker (SU2C) proyek dalam kemitraan dengan American Association of Cancer Research (AACR).

Sumber : http://www.hopkinsmedicine.org/
Translator : Google Translate
Versi Asli (ingris) : klik  dibawah
http://penelitianilmiahterbaru.blogspot.com/2012/06/scientists-reprogram-cancer-cells-with.html

SCIENTISTS REPROGRAM CANCER CELLS WITH EPIGENETIC DRUGS


oleh Kumpulan Artikel Penelitian Ilmiah Terbaru

Suka dengan artikel ini?

Jelajahi artikel-artikel KUMPULAN ARTIKEL PENELITIAN ILMIAH TERBARU yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
 Login


Release Date: 03/29/2012
SCIENTISTS REPROGRAM CANCER CELLS WITH LOW DOSES OF EPIGENETIC DRUGS
Experimenting with cells in culture, researchers at the Johns Hopkins Kimmel Cancer Center have breathed possible new life into two drugs once considered too toxic for human cancer treatment. The drugs, azacitidine (AZA) and decitabine (DAC), are epigenetic-targeted drugs and work to correct cancer-causing alterations that modify DNA.
The researchers said the drugs also were found to take aim at a small but dangerous subpopulation of self-renewing cells, sometimes referred to as cancer stem cells, which evade most cancer drugs and cause recurrence and spread.
In a report published in the March 20, 2012, issue of Cancer Cell, the Johns Hopkins team said their study provides evidence that low doses of the drugs tested on cell cultures cause antitumor responses in breast, lung, and colon cancers.
Conventional chemotherapy agents work by indiscriminately poisoning and killing rapidly-dividing cells, including cancer cells, by damaging cellular machinery and DNA. “In contrast, low doses of AZA and DAC may re-activate genes that stop cancer growth without causing immediate cell-killing or DNA damage,” says Stephen Baylin, M.D., Ludwig Professor of Oncology and deputy director of the Johns Hopkins Kimmel Cancer Center.
Many cancer experts had abandoned AZA and DAC for the treatment of common cancers, according to the researchers, because they are toxic to normal cells at standard high doses, and there was little research showing how they might work for cancer in general.  Baylin and his colleague Cynthia Zahnow, Ph.D., decided to take another look at the drugs after low doses of the drugs showed a benefit in patients with a pre-leukemic disorder called myelodysplastic syndrome (MDS).  Johns Hopkins investigators also showed benefit of low doses of the drugs in tests with a small number of advanced lung cancer patients. “This is contrary to the way we usually do things in cancer research,” says Baylin, noting that “typically, we start in the laboratory and progress to clinical trials.  In this case, we saw results in clinical trials that made us go back to the laboratory to figure out how to move the therapy forward.”
For the research, Baylin and Zahnow’s team worked with leukemia, breast, and other cancer cell lines and human tumor samples using the lowest possible doses that were effective against the cancers. In all, the investigators studied six leukemia cell lines, seven leukemia patient samples, three breast cancer cell lines, seven breast tumor samples (including four samples of tumors that had spread to the lung), one lung cancer tumor sample, and one colon cancer tumor sample.  The team treated cell lines and tumor cells with low-dose AZA and DAC in culture for three days and allowed the drug-treated cells to rest for a week. Treated cells and tumor samples were then transplanted into mice where the researchers observed continued antitumor responses for up to 20 weeks. This extended response was in line with observations in some MDS patients who continued to have anticancer effects long after stopping the drug.
The low-dose therapy reversed cancer cell gene pathways, including those controlling cell cycle, cell repair, cell maturation, cell differentiation, immune cell interaction, and cell death. Effects varied among individual tumor cells, but the scientists generally saw that cancer cells reverted to a more normal state and eventually died.  These results were caused, in part, by alteration of the epigenetic, or chemical environment, of DNA.  Epigenetic activities turn on certain genes and block others, says Zahnow, assistant professor of oncology and the Evelyn Grolman Glick Scholar at Johns Hopkins.
Stephen Baylin, M.D., Ph.D., explains epigenetics:

The research team also tested AZA and DAC’s effect on a type of metastatic breast cancer cell thought to drive cancer growth and resist standard therapies.  Metastatic cells are difficult to study in standard laboratory tumor models, because they tend to break away from the original tumor and float around in blood and lymph fluids.  The Johns Hopkins team re-created the metastatic stem cells’ environment, allowing them to grow as floating spheres.  “These cells were growing well as spheres in suspension, but when we treated the cells with AZA, both the size and number of spheres were dramatically reduced,” says Zahnow.
The precise mechanism of how the drugs work is the focus of ongoing studies by Baylin and his team.  “Our findings match evidence from recent clinical trials suggesting that the drugs shrink tumors more slowly over time as they repair altered mechanisms in cells and genes return to normal function and the cells may eventually die,” says Baylin.
The results of clinical trials in lung cancer, led by Johns Hopkins’ Charles Rudin, M.D., and published late last year in Cancer Discovery, also indicate that the drugs make tumors more responsive to standard anticancer drug treatment.  This means, they say, that the drugs could become part of a combined treatment approach rather than a stand-alone therapy and as part of personalized approaches in patients whose cancers fit specific epigenetic and genetic profiles.
Low doses of both drugs are approved by the U.S. Food and Drug Administration for the treatment of MDS and chronic myelomonocytic leukemia (CMML). Clinical trials in breast and lung cancer have begun in patients with advanced disease, and trials in colon cancer are planned.
Stand Up To Cancer Epigenetics Dream Team:

In addition to Baylin and Zahnow, other investigators participating in this study include Hsing-Chen Tsai, Huili Li, Leander Van Neste, Yi Cai, Carine Robert, Feyruz V. Rassool, James J. Shin, Kirsten M. Harbom, Robert Beaty, Emmanouil Pappou, James Harris, Ray-Whay Chiu Yen, Nita Ahuja, Malcolm V. Brock, Vered Stearns, David Feller-Kopman, Lonny B. Yarmus, Yi-Chun Lin, Alana L. Welm, Jean-Pierre Issa, Il Minn, William Matsui, Yoon-Young Jang, and Saul J. Sharkis.
The research was funded by a SPORE grant for lung cancer from the National Institutes of Health, the Hodson Trust Foundation, Entertainment Industry Foundation, Lee Jeans, Samuel Waxman Cancer Research Foundation, Department of Defense Breast Cancer Research Program, Huntsman Cancer Foundation, and the Cindy Rosencrans Fund for Triple Negative Breast Cancer Research.  All of the studies have been accelerated by funding from the Stand Up to Cancer(SU2C) project in partnership with the American Association of Cancer Research (AACR).


Sumber : http://www.hopkinsmedicine.org/
Translator : Google Translate
Versi Terjemahan (indonesia) : klik  dibawah
http://penelitianilmiahterbaru.blogspot.com/2012/06/para-ilmuwan-program-ulang-sel-kanker.html



Ilmuwan Memodifikasi HIV agar Tidak Mampu Menyerang Sistem Kekebalan


oleh Kumpulan Artikel Penelitian Ilmiah Terbaru

Suka dengan artikel ini?

Jelajahi artikel-artikel KUMPULAN ARTIKEL PENELITIAN ILMIAH TERBARU yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
 Login

Dengan mengubah virus, para peneliti mampu membangkitkan kembali respon sistem kekebalan terhadap HIV dan meniadakan sifat-sifatnya.

Para peneliti dari Johns Hopkins telah memodifikasi HIV (human immunodeficiency virus) dengan cara membuatnya tidak lagi mampu menekan sistem kekebalan tubuh. Dalam laporan yang dipublikasikan online 19 September dalam jurnal Blood, mereka menyebut bahwa hal ini bisa menghapus rintangan utama dalam pengembangan vaksin HIV dan mengarah pada pengobatan baru.
“Hal tentang HIV adalah menurunkan respon kekebalan tubuh, bukan memicunya, sehingga sulit untuk mengembangkan vaksinnya,” kata David Graham, Ph.D., asisten profesor molekul dan patobiologi dan obat-obatan komparatif. “Kami sekarang sepertinya memiliki cara untuk menghindari penghalang ini,” tambahnya.
Biasanya, ketika sel-sel sistem kekebalan tubuh terserang virus, mereka mengirimkan alarm dengan melepaskan zat kimia yang disebut interferon untuk memperingatkan seluruh tubuh akan adanya infeksi virus. Namun, ketika sel-sel kekebalan menghadapi HIV, mereka melepaskan interferon terlalu banyak, sehingga menjadi kewalahan dan menutup respon untuk melawan virus berikutnya.
Para peneliti telah belajar dari penelitian lain bahwa ketika sel-sel kekebalan tubuh manusia (sel darah putih) kehabisan kolesterol, HIV tidak bisa lagi menginfeksi mereka. Ternyata selubung yang mengelilingi dan melindungi genom HIV juga kaya dengan kolesterol, mengarahkan tim riset Johns Hopkins untuk menguji apakah HIV yang kurang kolesterol juga masih bisa menginfeksi sel.

Sebuah model HIV yang menunjukkan organisasi kolesterol membran yang terkait (warna kuning). (Kredit: Johns Hopkins Medical Institutions/Jenny Wang)
Para peneliti memasukkan HIV dengan bahan kimia yang bisa menghilangkan kolesterol dari selubung virus. Kemudian mereka memasukkan HIV yang sudah berkurang kolesterolnya ini ke dalam sel-sel kekebalan tubuh manusia yang bertumbuh dalam tabung kultur, serta mengukur bagaimana sel-sel tersebut meresponnya. Hasilnya, sel-sel yang terkena HIV kurang-kolesterol tidak melepaskan interferon, sedangkan sel-sel yang terpapar HIV normal melepaskan interferon.
“Pengubahan HIV tidak membanjiri sistem dan alih-alih memicu respon imun bawaan untuk bereaksi, sepertinya ini melakukannya pada setiap pertemuan virus pertama,” kata Graham.
Selanjutnya, para peneliti memeriksa apakah HIV kurang-kolesterol mengaktifkan respon imun adaptif – respon yang membantu tubuh mengingat patogen spesifik jangka panjang sehingga tubuh mengembangkan imunitas dan melawan infeksi di masa depan. Untuk melakukannya, mereka menempatkan HIV normal atau yang kurang kolesterol pada sampel darah, yang berisi semua sel berbeda yang diperlukan untuk respon imun adaptif.
Lebih spesifik lagi, mereka menguji sampel darah dari orang yang sebelumnya sudah terkena HIV untuk melihat apakah darah mereka mampu menunggangi respon imun adaptif. Sampel darah yang digunakan berasal dari 10 orang positif HIV dan dari 10 orang sehat yang berulang kali dipaparkan HIV. Saat HIV kurang-kolesterol dipaparkan pada darah yang tidak terinfeksi dalam tabung, sel-sel respon imun adaptif bereaksi terhadap virus. Dengan mengubah virus, para peneliti mampu membangkitkan kembali respon sistem kekebalan terhadap HIV dan meniadakan sifat-sifatnya, jelas Graham.
“Selain aplikasi vaksin, penelitian ini juga membuka jalan bagi pengembangan obat untuk menyerang selubung virus HIV sebagai terapi tambahan terhadap promosi deteksi virus pada sistem kekebalan tubuh,” kata Graham.
Penelitian ini didukung pendanaan dari Wellcome Trust dan Institut Kesehatan Nasional.
Kredit: Johns Hopkins Medical Institutions
Jurnal: A. Boasso, C. M. Royle, S. Doumazos, V. N. Aquino, M. Biasin, L. Piacentini, B. Tavano, D. Fuchs, F. Mazzotta, S. Lo Caputo, G. M. Shearer, M. Clerici, D. R. Graham. Over-activation of plasmacytoid dendritic cell inhibits anti-viral T-cell responses: a model for HIV immunopathogenesisBlood, 2011; DOI: 10.1182/blood-2011-03-344218


Jenis-Jenis Kerontokan Rambut Cewek dan Cara Mengatasinya


oleh KUMPULAN ARTIKEL PENELITIAN ILMIAH

SPONSORED BY
Komisi Gratis | Bisnis Online Tanpa Modal
KLIK GAMBAR ATAU DI SINI UNTUK BERGABUNG



Bagi banyak wanita, rambut rontok yang tak terjelaskan dapat memberikan gangguan psikologis pada mutu hidup keseluruhannya. Dari merubah gaya rambut untuk menyembunyikan bagian yang menipis hingga memperbanyak rezim perawatan rambutnya untuk menghambat kerontokan rambut, wanita menggunakan tak terhitung cara menutupi masalah ini – dan hasilnya seringkali mengecewakan. Pilihan yang lebih baik adalah menemui dermatolog, seorang dokter yang terlatih dalam perawatan kulit, rambut dan kuku, yang dapat mendiagnosa dengan tepat dan dalam banyak kasus, berhasil mengalahkan rambut rontok pada wanita.


Berbicara dalam Pertemuan Tahunan Akademi Dermatologi Amerika ke-68 tanggal 1 Maret 2010, dermatolog Mary Gail Mercurio, MD, FAAD, asisten profesor dermatologi dan direktur program dermatologi rumah tangga di Universitas Rochester, N.Y., membahas bentuk-bentuk rambut rontok pada wanita dan pilihan perawatan yang tersedia.
“Di masa lalu, banyak wanita yang mengalami rambut rontok akan menderita sendirian, tidak tahu kemana harus minta tolong dan mencoba cara terbaik menyembunyikan masalahnya,” kata Dr. Mercurio. “Namun sekarang, saya melihat semakin banyak wanita dalam praktek saya mencari perawatan rambut rontok dan secara aktif mencari solusinya. Hal tersebut bagus, karena semakin awal rambut rontok di diagnosa, semakin baik kemungkinan kita mengalahkannya.”
Rambut Rontok berpola Perempuan : Sangat Umum, Sangat Mudah diatasi
Bentuk paling umum kerontokan rambut pada perempuan adalah rambut rontok berpola perempuan, yang biasanya memiliki komponen genetik kuat yang dapat diwarisi dari ibu atau ayah. Ia juga merujuk padaandrogenetik alopecia, tipe rambut rontok yang dapat berawal pada masa remaja akhir – dan semakin awal ia muncul, cenderung semakin parah rambut rontok yang terjadi.
Walaupun rontok rambut berpola mempengaruhi pria dan wanita, hal ini sangat berbeda pada perempuan. Sebagai contoh, rambut rontok berpola perempuan tidak ditandai dengan mundurnya garis rambut atau titik botak di puncak kepala yang umum pada pria. Pada wanita, garis rambut depan biasanya tetap terjaga, namun ada penipisan tampak di daerah mahkota. Selain itu, pada pria dan wanita, rambut terminiatur karena memendeknya siklus pertumbuhan dimana rambut tetap di kepala hanya dalam waktu singkat. Rambut halus ini, yang seperti bulu tangan, tidak mencapai panjang yang biasanya.
“Bagi wanita, tanda pertama rambut rontok yang sering mereka kenali adalah pelebaran atau pemendekan poni,” kata Dr. Mercurio.
Minoxidil 2% adalah perawatan topikal yang disetujui oleh Food and Drug Administration (FDA) untuk rambut rontok berpola perempuan, dan minoxidil 5% hanya disetujui FDA untuk rambut rontok berpola laki-laki. Walau begitu, Dr. Mercurio menunjukkan kalau minoxidil 5% terbukti juga sangat efektif pada wanita, namun menyarankan wanita berkonsultasi dengan dermatolog sebelum mulai perawatan karena ia berefek samping pada tumbuhnya rambut di wajah wanita. Baik larutan 2% maupun 5% tersedia dalam bentuk cairan dan 5% juga tersedia dalam bentuk busa. Walaupun minoxidil tidak menumbuhkan rambut baru, ia memperpanjang fase pertumbuhan rambut – memberi lebih banyak waktu bagi rambut untuk tumbuh pada kepadatannya yang penuh. Dr. Mercurio menekankan kalau wanita harus sabar dengan perawatan ini, karena hasil yang teramati biasanya perlu waktu tiga hingga empat bulan dan produknya harus digunakan dua kali sehari.

Minoxidil, terbukti ilmiah
Karena tidak ada masalah struktural dengan rambut pada rambut rontok berpola wanita, wanita harus terus merawat rambutnya seperti biasa. “Kadang wanita yang mengalami rambut rontok berpikir kalau mereka harus berhenti keramas atau mewarnai rambutnya, namun hal ini tidak akan berpengaruh pada arah kerontokan rambut atau mempercepat proses,” kata Dr. Mercurio.
Dalam sebagian kasus, Dr. Mercurio menjelaskan kalau ketidaknormalan hormon, seperti kelebihan hormon laki-laki yang disebut androgen, dapat bertanggung jawab atas kerontokan rambut wanita. Salah satu petunjuk kalau hormon terlibat adalah bila pola kerontokan rambutnya mirip dengan pola kerontokan rambut pria. Walaupun kerontokan rambut berpola perempuan yang disebabkan oleh ketidakseimbangan hormon dapat dirawat dengan resep dokter seperti spironolactone atau kontrasepsi oral, penting kalau wanita tersebut menemui dermatolog untuk diagnosis dan perawatan yang tepat.
Dr. Mercurio menambahkan kalau pilihan perawatan lain untuk memperbaiki kerontokan rambut adalahtransplantasi rambut, dimana folikel rambut kecil diambil dari satu daerah kepala lalu ditransplantasi ke daerah yang mengalami kerontokan. Pendekatan bedah untuk memperbaiki kehilangan rambut ini sangat efektif dan memberi hasil permanen yang terlihat alamiah.


Teknik Transplantasi Rambut
“Saya menyarankan wanita yang mempertimbangkan operasi restorasi untuk mencari dermatolog yang sangat berpengalaman dengan transplantasi rambut wanita, karena ia lebih paham mengenai kerontokan rambut perempuan,” kata Dr. Mercurio.
Hiperandrogenisme
Hiperandrogenisme, sebuah kondisi medis yang ditandai dengan produksi hormon laki-laki (androgen) berlebih juga dapat menyebabkan kerontokan rambut pada wanita. Penyebab paling umum hiperandrogenisme wanita adalah hiperandrogenisme ovarian fungsional, juga disebut sindrom ovarium polisistik. Selain kerontokan rambut, tanda lain gangguan endokrin perempuan termasuk kegemukan, jerawat, dan menstruasi tidak beraturan, dan ini adalah salah satu penyebab utama kemandulan.
Kadang wanita yang terpengaruhi oleh kerontokan rambut karena hiperandrogenisme ovarium fungsional juga mengembangkan sindrom metabolisme, yaitu kombinasi kondisi medis yang dapat membawa pada resiko tinggi penyakit diabetes atau kardiovaskuler. Dalam hal ini, Dr. Mercurio menjelaskan kalau dermatolog dapat mendiagnosa masalah sistemik serius dimana kerontokan rambut adalah tanda utama masalah ini.
“Dermatolog tahu kalau kerontokan rambut dapat menjadi petunjuk penting hal lain yang terjadi di dalam tubuh, seperti ketidaknormalan hormon, lupus atau penyakit tiroid,” kata Dr. Mercurio. “Itu mengapa saya sangat menekankan pentingnya diagnosis awal dan akurat pada kerontokan rambut.”
Sementara kerontokan rambut yang berakar dari hiperandrogenisme dapat dirawat dengan minoxidil, Dr. Mercurio mengatakan kalau arah perawatan akan tergantung pada kondisi lain yang terlibat dan bagaimana ia dirawat.
Cicatricial Alopecia
Juga disebut alopecia gores, cicatricial alopecia adalah jenis kerontokan rambut pria dan wanita yang ditandai dengan keberadaan goresan di kepala dimana sumber kehancuran folikel rambut terjadi. Berbeda dengan bentuk kerontokan rambut lainnya, cicatricial alopecia menghasilkan lokasi-lokasi kerontokan rambut tersebar dan biasanya berkaitan dengan pemerahan dan iritasi di kepala. Walau tidak ada penyebab mengapa tipe kerontokan rambut ini juga mempengaruhi sebagian wanita, ia sering terjadi ketika pasien mengalami lupus, gangguan sistem kekebalan tubuh, atau lichen planus, sejenis penyakit pendarahan kulit.
“Sayangnya, bagi tipe kerontokan rambut ini, tidak ada harapan kalau rambut yang terpengaruh dapat tumbuh kembali,” kata Dr. Mercurio. “Tujuan perawatannya hanya mencegah agar kerontokan rambut tidak meluas.”
Dr. Mercurio menambahkan kalau pendarahan dapat dikurangi dengan pengobatan topikal, suntik atau oral, seperti kortikosteroid atau obat anti malaria. Minoxidil tidak dapat digunakan untuk cicatricial alopecia. Perawatan juga tergantung pada keparahan kondisi, dan Dr. Mercurio menambahkan kalau pasien dengan bentuk kerontokan rambut ini perlu diawasi dengan ketat oleh dermatolog dalam perawatannya.
“Kerontokan rambut adalah hal penting bagi sejumlah besar wanita, dan penelitian terus dilakukan untuk memberikan perawatan yang efektif,” kata Dr. Mercurio. “Sebagian terapi berbasis cahaya dan laseryang digunakan untuk perawatan kerontokan rambut terbukti menjanjikan dalam studi awalnya. Kami berharap kalau teknologi ini akan memungkinkan dermatolog memperluas pilihan perawatan untuk segala bentuk kerontokan rambut di masa depan.”

GRATIS PLUS HADIAH

Hosting Gratis