website trackingwebsite tracking

PTC..PELUANG DAPAT UANG HANYA DENGAN MODAL KLIK

Kamis, 07 Juni 2012

Vaksin Flu H1N1 Untungkan Ibu Hamil


Tak seorang pun ingin terkena flu. Namun, bagi ibu hamil, mendapatkan vaksinasi influenza ternyata dapat memberikan keuntungan tersendiri.
Sekelompok tim peneliti dari Kanada menemukan bahwa vaksin virus H1N1 ternyata tidak menimbulkan efek samping apa pun bagi sang ibu. Sebaliknya, vaksin yang diberikan saat si ibu teserang flu ini secara signifikan dapat mengurangi kematian saat bayi lahir dan kelahiran prematur yang menyebabkan bayi lahir dengan berat badan terlalu kecil.

"Ini mengherankan, tetapi juga menarik. Penemuan ini adalah salah satu contoh hubungan antara vaksinasi flu dan kematian bayi saat lahir. Sungguh sesuatu yang langka terjadi," kata Deshayne Fell, peneliti dari McGill University, yang mengaitkan hasil penelitian dengan data kematian bayi.

Para peneliti menemukan, wanita hamil yang menerima vaksin H1N1 memiliki keuntungan kesehatan berlipat ganda. Sebanyak 34 persen terhindar dari kematian bayi saat lahir, 28 persen terhindar dari persalinan prematur, dan 19 anak lahir dengan kondisi berat badan yang baik.  Dalam riset ini, para peneliti menggunakan basis data data kelahiran di Ontario. Setidaknya ada 55.570 kelahiran di Ontario selama pandemi H1N1 yang dikaji para peneliti.

"Penemuan ini sangat bermanfaat. Wanita hamil biasanya akan sangat berhati-hati dengan apa yang dimasukkan ke dalam tubuh mereka. Namun, H1N1 ini akan sangat membantu mereka untuk pengobatan flu dan juga membawa keuntungan lain bagi bayi," kata Mark Walker, salah seorang anggota tim peneliti dari University of Ottawa.
Dituliskan dalam makalah berjudul "H1N1 Influenza Vaccination During Pregnancy and Fetal and Neonatal Outcomes", penelitian ini juga dipublikasikan dalam American Journal of Public Health(win)
KOMPAS.com Asep Candra | Selasa, 29 Mei 2012 | 19:50 WIB

Rutin Minum Pereda Sakit Picu Impotensi?


Bagi Anda khususnya pria yang rutin menenggak obat pereda sakit sebaiknya mulai waspada. Penggunaan obat-obat pereda rasa sakit atau kerap disebut painkiller yang terlalu sering diduga berkaitan dengan gangguan fungsi seksual di kalangan kaum Adam.
Studi terbaru yang dipublikasikan Journal of Urologymengindikasikan adanya hubungan antara impotensi dan penggunaan obat-obat penahan rasa sakit. Hubungan ini bahkan tetap muncul meskipun peneliti telah memperhitungkan beberapa faktor seperti usia dan beberapa jenis penyakit yang mungkin dapat menjelaskan keterkaitan.
Berdasarkan riset tersebut, pria yang secara rutin menenggak obat-obat seperti aspirin,acetaminophenibuprofen, dan celebrex berisiko mengalami disfungsi ereksi (DE) hingga 38 persen lebih besar, ketimbang pria yang tidak menenggak obat yang juga disebut nonsteroidal anti-inflammatory itu.
Menurut penjelasan Dr Joseph Gleason, urolog yang menulis penelitian ini, obat-obat pereda sakit memang dapat mengganggu produksi hormon yang memicu ereksi pada pria. Hal itu setidaknya dapat membantu memberikan penjelasan akan temuan ini.
Namun, Gleason menekankan, penelitian ini tidak serta-merta membuktikan bahwa obat painkillerdapat menyebabkan impotensi. Menurutnya, faktor-faktor lainnya yang belum dapat diketahui sangat dimungkinkan ikut berperan memicu DE.
Sebagai contoh, banyak pria yang meminum aspirin dalam dosis rendah karena  dalam kondisi berisiko tinggi mengalami serangan jantung. Alhasil, pembuluh darah mereka tidak sedang dalam kondisi terbaiknya. Secara otomatis, hal itu juga dapat memengaruhi tingkat kekerasan penis.
"Kami menyebut penis sebagai termometer bagi penyakit vaskuler atau problem  yang berkaitan dengan pembuluh darah," ujar Dr Brant Inman, urolog dari Duke University Medical Center di North Carolina, yang tak terlibat dalam riset ini.
Inman menambahkan, pembuluh arteri dalam penis salurannya lebih kecil ketimbang yang mengalir di jantung dan, oleh sebab itu, mungkin saja bisa tersumbat selama beberapa tahun sebelumnya. Arteri yang menyempit dapat menghalangi aliran darah yang seharusnya membuat penis berkembang dan menjadi keras.
Lima kali seminggu
Dalam penelitiannya, Gleason beserta koleganya menganalisis hasil kuesioner sekitar 81.000 pria berusia 45 hingga 69. Sekitar 50 persen pria mengaku mengonsumsi obat pereda sakit secara teratur (sekurangnya lima kali dalam seminggu) dan kurang dari sepertiganya dilaporkan mengalami impotensi mulai dari level ringan hingga parah.
Pria yang mengaku rutin menenggak painkiller, 64 persennya mengatakan, mereka tidak pernah mengalami ereksi. Sedangkan pria yang mengaku tidak sering menggunakan obat, kasus DE hanya ditemukan 36 persen.
Setelah memperhitungkan beragam faktor, seperti usia, berat badan, tensi, dan riwayat sakit jantung, peneliti masih menemukan risiko lebih tinggi di kalangan pria yang menggunakan painkiller, yakni mencapai 38 persen.
Oleh karena penelitian ini tidak menguji obat secara langsung, Inman berpesan agar pria tidak perlu menghentikan penggunaan painkillers karena khawatir tidak bisa ereksi.

KOMPAS.com — Asep Candra | Kamis, 3 Maret 2011 | 17:22 WIB

Obat Pereda Sakit Picu Risiko Stroke


Ini adalah peringatan bagi Anda yang rutin mengonsumsi obat-obatan pereda sakit. Riset terbaru para ahli di Kanada mengindikasikan, konsumsi obat pereda rasa sakit secara rutin setiap hari dan dalam dosis tinggi dapat meningkatkan risiko serangan jantung dan stroke hingga 40 persen.
Menurut peneliti, pasien yang secara teratur mengonsumsi diclofenac (obat penghilang nyeri dan anti-radang), akan mengalami gangguan jantung dua-perlima lebih tinggi. Sementara itu, penggunaan obat penghilang rasa nyeri yang lain seperti ibuprofen telah dikaitkan dengan peningkatan risiko serangan jantung dan stroke sebesar 18 persen lebih tinggi.
Diclofenac adalah salah satu obat dari jenis non-steroidal anti-inflammatory drug (NSAID) dengan rumus kimia 2-(2,6-dichloranilino) phenylacetic acid. Obat-obatan jenis NSAID ini umumnya digunakan untuk mengatasi rematik, sakit pinggang, encok sakit kepala dan flu.
Sebuah kelompok studi kecil para peneliti dari Hull York Medical School dan University of Toronto, Kanada, telah mempelajari dan membandingkan efek dari penggunaan obat pereda sakit pada dosis rendah dan tinggi (untuk keluhan yang lebih serius). Obat-obat yang diteliti cukup beragam, mulai dari jenis yang digunakan di rumah sakit, obat yang diresepkan dokter, hingga obat-obat pereda sakit yang biasa ditemukan seperti ibuprofen dan naproxen.
Hasil penelitian menunjukkan, menggunakan diclofenac dalam dosis rendah (untuk mengobati rasa sakit pascaoperasi), berkaitkan dengan risiko 22 persen lebih tinggi mengalami masalah jantung. Sementara itu, pada dosis yang lebih besar, kemungkinan pasien terkena penyakit jantung atau stroke meningkat sebesar 98 persen.
Pada obat NSAID lainnya seperti ibuprofen, penggunaan obat sesuai dengan rekomendasi tidak berdampak negatif pada pasien. Tetapi, pada orang yang memakai dalam dosis besar, dapat meningkatkan risiko jantung sebesar 78 persen.
"Dalam memilih yang salah satu jenis obat NSAID yang ada, pasien dan dokter harus memperhatikan keseimbangan antara manfaat dan kerugian yang mungkin bisa ditimbulkan dalam penggunaan obat ini," kata salah satu peneliti utama, Dr Patricia McGettigan.
Menurut McGettigan, naproxen dan ibuprofen adalah obat penghilang rasa sakit yang paling aman untuk jantung, asalkan digunakan dalam dosis yang rendah.
Sementara itu, Doireann Maddock, perawat jantung senior dari British Heart Foundation mengatakan, penggunaan obat penghilang rasa sakit sangat berisiko khususnya pada orang dengan penyakit jantung.
"Hal ini sudah diketahui sejak lama dan temuan baru ini tidak boleh diabaikan. Tetapi para ilmuwan dan ahli obat perlu untuk menggali lebih dalam sebelum menarik kesimpulan tentang efek samping obat-obatan ini," katanya.
Ia menambahkan, "Penggunaan obat penghilang rasa sakit apapun pasti ada manfaat dan risikonya. Jika Anda sudah terlanjur meminum obat tersebut dan khawatir akan efeknya, Anda harus berkonsultasi dengan dokter terlebih dahulu. Karena manfaat yang Anda dapat mungkin jauh lebih besar ketimbang risikonya".
KOMPAS.com - Bramirus Mikail | Asep Candra | Rabu, 28 September 2011 | 13:21 WIB

Parasetamol Tingkatkan Daya Ingat


Parasetamol, golongan obat yang lebih populer sebagai pereda sakit dan demam, mulai digali manfaatnya sebagai obat untuk meningkatkan daya ingat.
Menurut situs Daily Mail, tim peneliti dari Swedia yakin parasetamol bekerja pda sel-sel otak yang mengendalikan memori. Pengujian klinik sudah dilakukan dan menunjukkan orang yang sering mengonsumsi parasetamol memiliki hasil tes memori yang lebih baik.
Penelitian di laboratorium menunjukkan parasetamol memicu pengeluaran serotonin di otak. Secara tidak langsung serotonin memicu peningkatan daya ingat. Hal ini terjadi karena serotonin memiliki efek mengurangi stres dan membuat otak lebih rileks.
Sementara itu efek langsung dari parasetamol adalah mengaktifkan area otak yang berkaitan dengan kemampuan belajar, memori dan pemecahan masalah, yakni area hipokampus.
Penelitian di Swedia menunjukkan tingkat kegelisahan pasien demensia berkurang hingga 17 persen setelah mengonsumsi parasetamol dosis tinggi selama dua bulan.
Menurut Dr.Anne Corbet, peneliti dari The Alzheimer Society, menjelaskan, masalah yang dihadapi pasien demensia bukan hanya lupa di mana meletakkan barang-barang. Pasien juga seringkali tidak bisa mengenali keluarganya dan kehidupannya.
Meski parasetamol tampak menjanjikan, namun Corbet menyarankan agar pasien tidak melakukan eksperimen sendiri dengan parasetamol karena riset-riset yang dilakukan para ilmuwan masih dalam tahap awal.

Sumber : kompas.com
Lusia Kus Anna | Sabtu, 6 Agustus 2011 | 10:38 WIB

Risiko Sakit Mata Akibat Obat Jerawat

Riset terbaru para ilmuwan di Tel Aviv Israel mengungkapkan, penggunaan obat jerawat dalam bentuk pil (oral) berisiko memicu infeksi mata seperti konjungtivitis (mata merah). Temuan ini didasarkan pada banyaknya remaja yang menderita jerawat, yang kemudian menggunakan obat jerawat seperti Accutane atau Roaccutane.

Dr Gabriel Chodick dari Tel Aviv University School of Public Health, Sackler Faculty of Medicine, mengatakan, para ahli sebetulnya sudah lama mengetahui hubungan antara jerawat dan risiko infeksi mata. Tetapi sayangnya, masih sedikit penelitian yang mengkaji hubungan antara keduanya.

"Jerawat itu sendiri dapat meningkatkan risiko penyakit mata. Ada kecenderungan yang lebih besar terhadap peradangan, dan kadang-kadang ini menyebabkan iritasi," jelasnya.

Temuan menyimpulkan bahwa pasien yang menggunakan obat-obatan oral dua kali lipat berisiko menderita infeksi mata, dibandingkan dengan mereka yang tidak mengambil obat-obatan oral untuk mengatasi jerawatnya.

Dalam kajiannya, Chodick dan tim mengamati hampir 15.000 remaja yang turut berpatisipasi dalam Maccabi Health Care Service. Kemudian Peneliti membaginya kedalam tiga kelompok, yakni, kelompok bebas jerawat, kelompok yang memiliki jerawat tapi tidak minum obat oral, dan kelompok yang memiliki jerawat plus diberi resep obat seperti Accutane atau Roaccutane.

Dari 15.000 peserta, 1.791 di antaranya mengalami inflamasi (peradangan) pada mata. Pada kelompok yang diberikan obat jerawat seperti Accutane, 991 di antaranya mengalami sakit mata. Infeksi yang paling umum adalah konjungtivitis, biasa disebut mata merah.

"Efek samping yang sangat umum dari penggunaan Accutane dan Roaccutane adalah kekeringan pada kulit dan bibir. Hal ini secara alami juga akan mempengaruhi pelumasan pada kelopak mata - khususnya kelenjar minyak di sepanjang tepi kelopak mata," kata Dr Chodick.

Air mata sangat penting karena mereka melumasi permukaan mata dan mereka membersihkan puing-puing, termasuk bakteri dan virus yang bisa menginfeksi mata. Infeksi pada kelenjar itu sendiri dapat menyebabkan sties, dan infeksi bakteri yang lebih serius dapat mengakibatkan pembengkakan kelopak mata secara keseluruhan.

Meskipun bukan kondisi medis yang serius, jerawat masih layak mengobati, kata Chodick. Tetapi para dermatologis dan pasien harus menyadari efek samping penggunaan obat tersebut, karena ada potensi kerusakan jangka panjang.

Menurut beberapa penelitian, termasuk yang dipublikasikan dalam Optometri Clinical and Experimental, dikatakan, iritasi dan menggosok mata dapat menyebabkan masalah mata struktural seperti keratoconus, degenerasi kornea.

Dr Chodick mengimbau agar setiap pasien yang mengobati jerawat mereka dengan obat-obatan oral untuk bertanya kepada tenaga medis tentang bagaimana cara meminimalkan gangguan mata. Salah satu langkah sederhana adalah dengan menggunakan obat tetes mata untuk melumasi mata.

Temuan ini dipublikasikan dalam Archives of Dermatology.

sumber : kompas.com
Bramirus Mikail | Asep Candra | Senin, 28 Mei 2012 | 09:37 WIB

Waspadai Kelebihan Dosis Parasetamol



SHUTTERSTOCK
Ilustrasi obat-obatan

Penelitian mengindikasikan, jutaan orang di dunia mungkin berada pada risiko kelebihan dosis parasetamol. Penggunaan yang tidak sesuai anjuran dari obat-obat pereda sakit paling populer ini bukan hanya akan menimbulkan risiko overdosis, melainkan juga kerusakan pada organ hati.

Kajian para ahlii dari Northwestern University di Chicago AS menyatakan, hampir 25 persen orang dewasa keliru dalam mengonsumsi parasetamol. Banyak di antara pasien meminum obat ini melebihi dosis yang direkomendasikan dalam kurun waktu 24 jam.

Para pengguna kebanyakan menghiraukan instruksi dosis atau tata cara penggunaan, terutama kaum lanjut usia yang kerap lupa berapa tablet yang sudah mereka konsumsi. Ada pula pasien yang tidak menyadari kalau mereka sedang dalam perawatan menggunakan obat lain yang mengandung acetaminophen, bahan aktif  Parasetamol.

Rekomendasi dokter untuk dosis maksimal parasetamol adalah delapan tablet 500 mg dalam sehari. Maksimal hanya dua tablet saja untuk sekali minum dalam setiap empat jam. Bila melebihi batas yang ditentukan, salah satu konsekuensinya adalah overdosis yang menyebabkan kerusakan liver dan penumpukan cairan di otak yang berisiko fatal.

Dalam riset yang dimuat Journal of General Internal Medicine edisi online tersebut, Dr Michael Wolf melakukan kajian mengenai prevalensi penyalahgunaan acetaminophen dan kemungkinan overdosis. Wolf mewawancarai lebih dari 500 pasien dewasa yang berobat ke klinik di sejumlah kota di AS antara September 2009 hingga Maret 2011.

Para peneliti menguji sejauhmana pemahaman pasien mengenai dosis dan kemampuan mengonsumsi obat acetaminophen secara tepat. Hasilnya ternyata cukup mengejutkan. Lebih dari seperempat pasien berada dalam risiko overdosis karena mengonsumsi obat pereda sakit melebihi batas maksimal 4 gram dalam 24 jam. Selain itu, ada 5 persen pasien yang membuat kesalahan fatal karena menenggak obat lebih dari 6 gram dalam 24 jam. Sedangkan hampir 50 persen pasien berisiko overdosis karena melakukan "double-dipping" atau menenggak dua jenis obat yang mengandung acetaminophen.

"Temuan kami mengindikasikan banyak konsumen yang tidak mengenal atau membedakan bahan aktif dalam obat pereda sakit yang dijual bebas, mereka juga tidak menyimak dengan cermat instruksi pada label kemasan obat," ujar Wolf.

"Dengan adanya prevalensi, risiko signifikan dari efek buruk, dan minimnya pemahaman, seorang dokter seharusnya memberi panduan  dalam pengambilan keputusan dan menganjurkan pasien tentang penggunaan obat yang tepat," tambahnya.

KOMPAS.com - 

Asep Candra | Senin, 4 Juni 2012 | 14:20 WIB

Pil Cegah HIV untuk Orang Sehat



shutterstock

KOMPAS.com - 
Panel kesehatan Amerika Serikat untuk pertama kalinya mendukung penggunaan obat pencegah HIV untuk orang sehat.

Panel merekomendasikan regulator AS untuk menyetujui pil harian, Truvada, untuk digunakan oleh orang-orang sehat yang dianggap berisiko tinggi terkena virus penyebab AIDS. Sebelumnya sejumlah petugas kesehatan dan kelompok yang aktif di komunitas HIV menolak obat ini. Penolakan didasarkan pada pertimbangan bahwa pengguna akan mendapat rasa aman yang palsu dan kekhawatiran akan munculnya jenis HIV baru yang kebal obat.

Di sisi lain, kalangan yang mendukung Truvada beralasan bahwa penggunaan obat tersebut semata-mata untuk upaya pencegahan HIV. Upaya tersebut memang tidak untuk dijadikan upaya tunggal pencegahan, karena upaya-upaya lain tetap dijalankan seperti kampanye seks secara aman, penggunaan alat pelindung, dan rutin melakukan pemeriksaan HIV.

Truvada selama ini memang digunakan untuk orang dengan HIV positif dan penggunaannya dilakukan bersamaan dengan obat-obat anti-retroviral. Hasil penelitian tahun 2010 menunjukan bahwa Truvada, obat buatan Gilead Sciences yang berbasis di California, dapat mengurangi risiko HIV pada pria homoseksual sehat dan juga untuk kalangan heteroseksual yang HIV negatif tetapi memiliki pasangan HIV positif, antara 44 persen sampai 73 persen.

Badan pengawas obat dan makanan AS, FDA, akan mempertimbangkan usulan panel dan diharapkan sudah membuat keputusan final pada 15 Juni nanti. (Ni Ketut Susrini/BBC)
sumber : Kompas.com
Asep Candra | Selasa, 15 Mei 2012 | 11:52 WIB

Tidur Minimal 9 Jam/Hari Bisa Melawan Gen Penyebab Gemuk

Jakarta, Bagi orang-orang yang memang memiliki gen penyebab gemuk, diet dan olahraga saja kadang-kadang tidak sukses mengontrol berat badan. Dibutuhkan juga istirahat yang cukup, bukan hanya 7 jam tiap hari tetapi minimal 9 jam tiap hari.

Sebuah penelitian yang dilakukan terhadap 1.088 pasangan anak kembar menunjukkan, makin lama waktu yang dihabiskan untuk tidur maka pengaruh faktor genetik terhadap berat badan makin berkurang. Artinya meski punya gen gemuk, badan tetap bisa kurus asal tidurnya cukup.

Namun waktu tidur yang dikatakan cukup agak berbeda dari yang disarankan selama ini yaitu 7 -8 jam dalam sehari. Menurut penelitian ini, waktu tidur yang dianggap cukup untuk melawan pengaruh gen penyebab gemuk adalah minimal 9 jam dalam sehari.

Penelitian ini dilakukan oleh para ahli dari University of Washington, dengan melibatkan 1.088 pasangan anak kembar yang dianggap memiliki kemiripan tinggi secara genetik. Hasil penelitian ini telah dipublikasikan dalam jurnal Sleep yang terbit baru-baru ini.

Sebelumnya, berbagai penelitian telah membuktikan bahwa beberapa gen dalam tubuh manusia sangat mempengaruhi berat badan. Gen-gen tersebut mempengaruhi metabolisme energi, proses penimbunan dan pembakaran lemak menjadi energi serta pengaturan sinyal rasa lapar.

"Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa waktu tidur yang pendek membuat pengaruh lingkungan makin kuat terhadap ekspresi gen-gen yang berhubungan dengan obesitas," kata Dr Nathaniel Watson yang memimpin penelitian itu, seperti dikutip dari Telegraph, Selasa (1/5/2012).

Meski diakui bahwa hasil penelitian ini masih terlalu awal untuk disimpulkan, Dr Watson meyakini bahwa istirahat yang cukup akan sangat mempengaruhi keberhasilan diet.

Makin banyak tidur, pengaruh gen-gen penyebab gemuk makin berkurang sehingga diet menjadi lebih efektif.






Sumber : http://health.detik.com
Selasa, 01/05/2012 18:27 WIB 
AN Uyung Pramudiarja - detikHealth

Atraksi sepeda

Makanan yang Sebaiknya Dihindari Saat Sedang Haid

Jakarta, Kram dan nyeri adalah hal yang umum pada perempuan yang sedang menstruasi alias haid. Rasa sakit pada saat menstruasi itu bisa semakin parah bila perempuan salah memilih menu makanan.

Makanan yang salah dapat mempengaruhi keparahan dan lamanya pra-menstruasi dan kram menstruasi yang menyakitkan. Penyebab paling umum dari kram menstruasi adalah prostaglandin, sejenis bahan kimia yang terjadi secara alami dalam tubuh yang mengatur ketegangan otot.

Membatasi makanan tinggi gula dan garam juga dapat mengurangi kembung dan perubahan suasana hati. Selain memodifikasi diet, salah satu hal paling penting yang dapat Anda lakukan adalah meningkatkan tingkat aktivitas.

Berikut beberapa makanan yang sebaiknya dihindari saat sedang menstruasi, seperti dilansir Livestrong, Senin (28/5/2012):

1. Cokelat
Hindari kafein dalam makanan seperti coklat, teh, soda dan kopi selama siklus menstruasi. Kafein menyempitkan pembuluh darah dan membuat dehidrasi tubuh, yang dapat menyebabkan sakit kepala dan dapat meningkatkan kegelisahan selama periode haid sehingga menyebabkan ketidaknyamanan menstruasi.

2. Produk susu
Susu mengandung asam arachadonic, yang dapat meningkatkan produksi prostaglandin. Karena prostaglandin dilepaskan ke dalam tubuh, rahim merespons dengan menyebabkan kram atau kejang.

Makanan tinggi asam lemak omega-3 dapat menghambat pelepasan prostaglandin. Dengan demikian, makan salmon, biji rami dan kenari sebenarnya dapat membantu meringankan kram menstruasi.

3. Makanan olahan
Mengurangi asupan natrium atau garam akan mengurangi retensi air dan kembung. Hindari makanan kaleng, makanan olahan seperti daging kaleng dan produk keju, saus dan MSG, serta setiap makanan kemasan yang mengandung natrium 200mg atau lebih per porsi.

4. Gorengan
Makanan tinggi lemak seperti daging, susu penuh lemak, gorengan dan minyak meningkatkan kadar estrogen dalam tubuh. Perubahan estrogen dapat menyebabkan perubahan rahim yang dramatis dan menimbulkan kram dan rasa sakit.


Sumber : http://health.detik.com
Senin, 28/05/2012 07:46 WIB 
Merry Wahyuningsih - detikHealth

Kurang Asam Folat Saat Hamil Berisiko Lahirkan Anak Autis

Jakarta, Ibu hamil harus menjaga keseimbangan nutrisi, termasuk mengonsumsi makanan yang banyak mengandung asam folat. Jika tidak memenuhi kebutuhan asam folat sesuai yang dianjurkan, maka risiko untuk melahirkan anak autis akan meningkat.

Penelitian terbaru membuktikan, asupan asam folat atau dikenal juga dengan nama Vitamin B-9 pada ibu hamil bisa mengurangi risiko melahirkan anak dengan gangguan tumbuh kembang. Autisme dan sindroma Asperger termasuk dalam gangguan yang dimaksud.

Untuk itu, para peneliti menganjurkan ibu hamil terutama di usia kehamilan 1 bulan untuk mengonsumsi asam folat minimal 600 mcg (mikrogram)/hari. Konsumsi asam fola dengan jumlah sesuai anjuran tersebut terbukti mengurangi risiko kelahiran anak autis hingga 38 persen.

"Folat menjadi sangat kritis di tahap awal kehidupan, sebagaimana pada tahun pertama kehidupan, ketika otak sedang mulai membangun koneksi dan fungsi," kata Edward Quadros dari SUNY Downstate Medical Center yang melakukan penelitian tersebut seperti dikutip dari Reuters, Jumat (8/6/2012).


Sumber : http://health.detik.com
AN Uyung Pramudiarja - detikHealth
Jumat, 08/06/2012 08:41 WIB

Abstract : DAMPAK MODEL PRAKTIK KEPERAWATAN PROFESIONAL (MPKP)TERHADAP KEPUASAN PASIEN DAN LOS (LENGTH OF STAY)


SPONSORED BY
Komisi Gratis | Bisnis Online Tanpa Modal
KLIK GAMBAR ATAU DI SINI UNTUK BERGABUNG


Abi Muhlisin
Arum Pratiwi
Fakultas Ilmu Kedokteran
Universitas Muhammadiyah Surakarta
Abstract
Tenaga keperawatan di rumah sakit mempunyai beberapa peran, di antaranya memberikan asuhan keperawatan terhadap keluarga dan pasien. Dalam memberikan asuhan keperawatan ada berbagai metode, di antaranya metoda profesional (MPKP) dan metode non-MPKP. Dengan metode yang berbeda akan berbeda pula cara pemberian asuhan keperawatannya sehingga akan berdampak pada kualitas asuhan keperawatan yang diberikan. Penelitian ini bertujuan untuk melihat perbedaan kepuasan pasien antara metoda MPKP dan non-MPKP . Jenis penelitian ini adalah survey dengan metode deskriptif komparatif yang digunakan untuk menjawab hipotesis penelitian. Sejumlah 30 orang pasien yang memenuhi kriteria dipakai sebagai sampel .
Instrumen pengumpulan data dibuat dari teori tentang Metode asuhan keperawatan kemudian dibuat pedoman observasi dan wawancara serta dibuat angket yang diisi sendiri oleh perawat. Hasil analisis dengan uji Wilcoxon disimpulkan adanya perbedaan kepuasan pasien antara metode MPKP dan non-MPKPl dengan Z -2,084 dan nilai P 0,037.
Kata kunci: model praktik keperawatan
Tahun pelaksanaan : 2007
Sumber Dana : Dikti / Dosen Muda

Abstract : MODEL PROMOSI KESEHATAN UNTUK MENCEGAH PENYAKIT MENULAR SEKSUAL DAN HIV/AIDS : STUDI TENTANG PEREMPUAN PEKERJA SEKS KOMERSIAL DI SURAKARTA


SPONSORED BY
Komisi Gratis | Bisnis Online Tanpa Modal
KLIK GAMBAR ATAU DI SINI UNTUK BERGABUNG


Arif Widodo
Kinik Darsono
Suwaji
Fakultas Ilmu Kedokteran
Universitas Muhammadiyah Surakarta
Abstract
Data dari Komisi Penanggulangan Aids Daerah Surakarta, mulai bulan Oktober 2005 sampai dengan Juni 2007 terdapat 78 penderita yang positif HIV/AIDS. Salah satu faktor yang mempengaruhi tingginya tingkat infeksi HIV/AIDS pada perempuan pekerja seks adalah rendahnya pemakaian kondom. Tujuan penelitian ini adalah menggali faktor-faktor yang membuat perempuan pekerja seks tidak menawarkan kondom pada tamunya, aspek-aspek sosial yang mempengaruhi negosiasi penggunaan kondom, serta mencari model promosi kesehatan untuk mencegah PMS dan HIV/AIDS.
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan teknik diskusi kelompok terarah, wawancara mendalam, dan observasi partisipasi. Subjek penelitian ini sebanyak 27 orang, yang terdiri dari 20 perempuan pekerja seks, 3 tamu pelanggan, 1 pemilik kamar, 1 orang tua angkat, 2 orang dari LSM, dan 1 orang ketua KPAD Surakarta.
Pada umumnya responden mengetahui bahwa semua orang termasuk dirinya berisiko tertular AIDS, tetapi sebagian besar tidak menawarkan kondom kepada tamunya karena takut dimarahi, dipukul, dan takut tidak mendapatkan uang. Perempuan pekerja seks yang beroperasi di bekas lokalisasi Silir dalam pemakaian kondom dan pencegahan penyakit menular seksual dan HIV/AIDS mendapatkan secara gratis dari Dinas Kesehatan Kota Surakarta. Tidak adanya dukungan sosial dari teman sebaya, pemilik kamar, pemilik hotel, maupun dari tamu pelanggannya mengenai pemakian kondom pada perempuan pekerja seks jalanan yang beroperasi di tempat-tempat tidak resmi akan berakibat perempuan pekerja seks di jalanan lebih berpotensi dan berisiko menularkan penyakit seksual daripada yang beroperasi di bekas lokalisasi Silir.
Rendahnya kemampuan negosiasi perempuan pekerja seks dalam penggunaan kondom dengan tamu pelanggannya disebabkan oleh kesalahan persepsi terhadap perilaku seksual “aman semu”, perilaku mencari “pertolongan” pengobatan, tekanan psikis, dan masalah ekonomi. Hasil penelitian ini merupakan penjajagan kebutuhan yang akan dikembangkan dalam strategi pendidikan kesehatan reproduksi pada perempuan pekerja seks secara komprehensif.
Kata kunci: model promosi kesehatan
Tahun Pelaksanaan : 2007
Sumber Dana : Dikti / Hibah Bersaing

Football : funny football I

Bosan cari artikel , berikut ini hiburan dari http://penelitianilmiahterbaru.blogspot.com/ untuk anda. Setelah menonton...silahkan lanjutkan perjalanan anda mencari artikel tentang Kumpulan penelitian ilmiah : sains, kesehatan, ptk, kualitatif, dan kuantitatif Kumpulan artikel penelitian ilmiah terbaru dan akurat: "sains, kesehatan, kualitatif, kuantitatif plus penelitian tindakan kelas(ktk)," Key word : 2012, penelitian, penelitian terbaru, penelitian terbaru 2012, penelitian 2012, abstrak, abstrak penelitian, alamiah, sains, kesehatan, sehat, penelitian kuantitatif, penelitian kualitatif, penelitian sains, sains, penelitian tindakan kelas, ktk, kualitatif, kuantitatif, khasiat, manfaat, kandungan, khasiat avokad, buah avokad, avokad, buah, antioksidan, menemukan, meningkatkan, buahan, merusak, peneliti, ahli, kumpulan, artikel, contoh, bahaya

KLIK LINK UNTUK MEMBUKA

Manfaat Olahraga bagi Anak Sekolah

SELAIN metode belajar yang menyenangkan, ternyata olahraga juga mampu meningkatkan prestasi anak di sekolah. Demikianlah sebuah kesimpulan dari penelitian yangdilakukan oleh para ilmuwan asal Swedia. Penelitian tersebut diikuti oleh lebih dari 200 siswa sekolah yang berusia pra sekolah sampai 9 tahun. 

Selama penelitian, anak-anak tersebut diberikan beberapa tugas berupa kegiatan fisik, dan pelatihan tambahan mengenai keterampilan seperti keseimbangan dan koordinasi.  Dilihat dari hasil penelitian, dapat dilihat bahwa sebanyak 96 persen siswa dalam kelompok tersebut mengalami peningkatan nilai rata-rata mata pelajaran. 

Selain itu peneliti juga menemukan sebanyak 93 persen siswa pada kelompok tersebut memiliki keterampilan motorik fisik yang labih baik dari sebelumnya. Menurut peneliti, pendidikan jasmani juga penting untuk diterapkan dis ekolah-sekolah. Bukan hanya sekedar untuk ilmu pengetahuan, namun bila dilakukan secara teratur mampu meningkatkan prestasi para siswa. 

“Pendidikan fisik tidak hanya meningkatkan kemampuan motorik para siswa, namun juga prestasi sekolahnya,” ujar Ericsson dari Malmo University. (Livescience.com/*/OL-06) 


sumber : http://www.mediaindonesia.com
02 Juni 2012 12:30 WIB

Perempuan Pekerja Malam Berisiko Kanker Payudara

Jumat, 01 Juni 2012 09:30 WIB
Penulis : Prita Daneswari


PEREMPUAN yang rutin bekerja pada malam hari lebih mungkin untuk mengalami kanker payudara, kata para ilmuwan melalui sebuah studi. Secara keseluruhan, ada 40 persen risiko lebih besar jika dibandingkan dengan perempuan yang bekerja pada siang hari. Mereka adalah perempuan yang bekerja malam tiga kali atau lebih dalam seminggu selama lebih dari enam tahun. 

"Hasil penelitian kami menunjukkan kerja malam meningkatkan risiko untuk kanker payudara, terlebih dengan durasi yang lebih lama," kata Dr Johnni Hansen, dari Masyarakat Kanker Denmark yang melakukan penelitian tersebut. 

Risiko bahkan hampir empat kali lipat jika mereka harus bangun pagi. Ini mungkin karena mereka lebih rentan terhadap gangguan jam biologis tubuh, kata studi tersebut. 
Studi yang dimuat dalam jurnal Occupational and Environmental Medicine ini didasarkan pada 692 tanggapan yang 141-nya berasal dari perempuan penderita kanker payudara. 

Kecenderungan ini ditengarai karena terganggunya pola tidur normal yang dianggap mengekang hormon pelindung kanker, melatonin yang diproduksi oleh otak dalam keadaan gelap. (Mirror/Pri/OL-06)


sumber : http://www.mediaindonesia.com

Ereksi dan Kulit Gatal Ada Kaitannya?

Asep Candra | Senin, 27 Februari 2012 | 15:02 WIB
KOMPAS.com - Bagi pria yang selama ini sering mengabaikan kesehatan kulit sebaiknya mulai waspada. Bukan tidak mungkin, kehidupan seks Anda bakal terancam berantakan gara-gara terlalu 'cuek' dengan kondisi kulit. Lalu apa sebenarnya hubungan antara seks dengan kesehatan kulit?   

Penelitian terbaru mengindikasikan bahwa gangguan ereksi berkaitan dengan kondisi kesehatan kulit pria. Seperti yang dilaporkanJournal of Sexual Medicine, pria yang memiliki eksim ternyata berisiko lebih tinggi mengalami disfungsi ereksi (DE) atau impotensi.  Eksim adalah sejenis alergi kulit yang menyebabkan kulit gatal-gatal dan bersisik.

Eksim juga lebih dikenal dengan dermatitis atopik yakni peradangan kulit akibat reaksi hipersensitif terhadap alergen. Pada umumnya eksim bersifat kambuhan, tetapi dapat dikendalikan agar tak mudah kambuh. Sebagian para ahli membedakan antara eksim dan dermatitis namun kebanyakan tidak membedakannya.

Dalam sebuah kajian, para ilmuwan dari Taipei Medical University Taiwan mengumpulkan informasi dari 4.000 pria yang didiagnosa mengalami impotensi. Data dan informasi ini kemudian dibandingkan dengan data 20.000 pria yang tidak mengidap DE.

Hasil kajian mengungkapkan,  sekitar 11 persen pria pengidap DE pernah menderita eksim sebelum didiagnosa impotensi. Sementara itu, hanya 7 persen pria non DE yang memiliki riwayat eksim. Setelah memperhitungkan beragam faktor lain seperti diabetes dan penyakit jantung, peneliti menemukan bahwa pria impotensi 60 persen lebih mungkin memiliki riwayat eksim ketimbang pria yang tidak mengalami disfungsi ereksi.    

"Ada hubungan antara DE dengan riwayat dermatitis atopik. Penelitian lanjutan diperlukan, baik untuk mereplikasi hasil yang tampak dalam riset ini maupun mengklarifikasi mekanisme di baliknya," ungkap pemimpin riset Shiu-Dong Chung.

Donald Leung, pakar alergi dan imunolog dari National Jewish Health di Denver, Colorado, berpendapat penelitian ini masih terlalu dini dan perlu dikaji lebih lanjut.  Ia menilai, studi ini hanya berpatokan pada data administratif sehingga belum tentu akurat. Selain itu, ada keterbatasan pada riset ini yakni tidak jelas diungkapkan apakah pria menderita eksim pada saat didiagnosis DE atau beberapa tahun sebelumnya.

Doyan Buah dan Sayur Bikin Kulit Mulus


Bramirus Mikail | Asep Candra | Kamis, 8 Maret 2012 | 11:14 WIB
KOMPAS.com - Sebuah riset terbaru mengindikasikan, diet tinggi sayur dan buah-buahan merupakan cara terbaik dan alami untuk membuat kulit terlihat lebih menarik. Bahkan dalam riset terbarunya, para peneliti dari Skotlandia menemukan, diet tinggi buah dan sayuran akan memberikan perubahan warna kulit menjadi kemerahan dan kekuningan pada orang kulit putih.
Peneliti beranggapan, buah dan sayur sebagai makanan yang kaya antioksidan dan sarat dengan pigmen nabati, yang dapat mempengaruhi warna kulit. Temuan ini dipublikasikan dalam journal online PLoS ONE.

Dalam risetnya, peneliti mengumpulkan data dari 35 mahasiswa di University of St Andrews, Skotlandia. Usia mereka rata-rata adalah 21 tahun. Peserta studi diminta untuk mengisi kuisioner frekuensi makanan yang menjelaskan seberapa sering mereka makan makanan tertentu selama tiga sesi penelitian selama enam minggu.

Hasil kuesioner menunjukkan bahwa, rata-rata para siswa makan 3,5 porsi buah dan sayuran sehari.

Para ilmuwan juga mengukur warna kulit setiap peserta di tujuh lokasi tubuh, termasuk bagian pipi, dahi, bahu, dan lengan atas, pada awal penelitian, serta di minggu ke tiga dan minggu ke enam.

Hasil temuan menunjukkan, tidak butuh waktu yang lama dan tidak butuh peningkatan besar dalam makanan untuk memperbaiki penampilan kulit. Setelah enam minggu, para ilmuwan melihat adanya peningkatan yang nyata dalam warna kulit di mana lebih kemerahan dan kekuningan pada orang yang meningkatkan asupan buah dan sayuran.

"Perubahan warna kulit ada hubungannya dengan apa yang Anda makan selama periode waktu yang relatif singkat dan itu dicapai melalui perubahan pola makan yang relatif sederhana," kata peneliti.

Peneliti berpendapat senyawa seperti karotenoid - pigmen yang memberikan warna merah, kuning, dan oranye pada buah-buahan dan sayuran - adalah agen utama yang memainkan peran penting dalam memberikan warna pada kulit. Makanan seperti wortel, ubi, labu, dan aprikot sangat kaya akan beta-karoten, seperti juga beberapa sayuran hijau tua, termasuk bayam dan kangkung. Sementara itu jenis karotenoid lain seperti likopen, banyak ditemukan pada tomat dan produk jeruk.

Para ilmuwan menambahkan bahwa mereka tidak tahu apakah temuan ini akan memberikan manfaat yang sama pada orang dengan pigmentasi kulit yang berbeda, atau apakah orang dewasa yang lebih tua akan mengalami perubahan yang sama dalam warna kulit dengan orang dewasa muda.

Pria Lebih Banyak Menyimpan Bakteri

Asep Candra | Rabu, 6 Juni 2012 | 08:58 WIB
KOMPAS.com - Tangan dan mulut pria lebih besar daripada perempuan, maka memiliki permukaan yang lebih luas juga untuk bakteri tumbuh dan berkembang biak.
Sebuah penelitian baru menyatakan lebih dari 500 jenis bakteri ditemukan di sebuah kantor di Amerika Serikat. Penelitian sebelumnya menyebutkan jumlah bakteri yang sama juga ditemukan di sebuah kamar mandi dan pesawat terbang.

Para tim peneliti mencatat bahwa kumpulan bakteri ternyata terkonsentrasi pada ponsel dan kursi di kantor. Hasil temuan ini tentunya masuk akal karena posisi mulut kita yang berdekatan dengan gagang telepon saat menelepon.

Sementara untuk temuan bakteri yang ditemukan di kursi, para ilmuwan sedikit kesulitan untuk menjelaskannya. Kenyataannya para ilmuwan ini lebih mudah menangkap mikroba ini pada permukaan kursi dibanding dengan permukaan keyboard komputer yang memiliki tekstur tidak rata.

Namun, jumlah bakteri yang terkonsentrasi pada suatu ruangan berbeda-beda. Faktanya, kantor yang ditempati pria ternyata lebih banyak ditemukan kumpulan spesies mikroba dibandingkan ruangan yang dihuni perempuan.

Scott Kelley, seorang ahli biologi di San Diego State University mengungkapkan dua hipotesis, mengapa bakteri lebih banyak ditemukan pada pria.

Pertama menurut Kelly, yakni mengenai kebersihan. Anggapan bahwa pria lebih jorok dibanding perempuan ternyata tidak dapat dielakkan. Penelitian terdahulu menunjukkan jika kaum pria ternyata lebih jarang mencuci tangan dan menggosok gigi mereka daripada kaum perempuan.

"Mungkin, bagaimanapun juga pria memang lebih besar. Karena pria memiliki tangan dan mulut lebih besar daripada perempuan, maka memiliki permukaan yang lebih luas juga untuk bakteri tumbuh dan berkembang biak," katamya.

Kelly menegaskan selain menyebabkan penyakit seperti influenza yang sering menyebar di sekitar kita, bakteri kantor tidak perlu ditakuti. "Saya tidak ingin orang-orang takut dengan kantor mereka sendiri," ujar Kelly.

Di negara maju, jutaan orang menghabiskan hampir 90 persen dari waktu mereka dengan berada di dalam ruangan. Berdasarkan penelitian, sebagian besar dari mereka menghabiskan delapan hingga sembilan jam setiap harinya berada di dalam kantor tanpa pergi ke luar ruangan.

Menurut Kelly ruangan di mana tempat kita menghabiskan hampir sebagian waktu dianggap sebagai "habitat manusia". Penting untuk mengetahui apa saja yang berada di dalam habitat tersebut dan darimana asalnya.

"Karena manusia adalah sumber utama bakteri di kantor, jadi kitalah salah satu yang terus-menerus menyebarkan kontaminasi pada lingkungan kita sendiri. Secara umum ini bukanlah masalah. Namun, di tempat-tempat seperti rumah sakit dan panti jompo, bahkan bakteri yang tidak berbahaya sekalipun akan menjadi masalah," kata Kelly. (Umi Rasmi/ National Geographic News)

Jangan Remehkan Waktu Makan



SARAPAN, makan siang, dan makan malam, ternyata sama-sama penting untuk menjaga berat badan normal. Makanan yang dimakan pun, tentu juga berpengaruh. Itulah yang dikatakan peneliti dari Salk Institute for Biological Studies, Amerika Serikat.

Peneliti melakukan penelitian menggunakan tikus. Tikus dibagi dua kelompok. Tikus di kelompok pertama hanya diberi makan pada siang hari, selama delapan jam. Sedangkan kelompok kedua sama sekali tidak dibatasi dan bisa makan setiap saat, dengan makanan yang sama dengan kelompok sebelumnya. 

Tikus peda kelompok pertama tidak menunjukkan perkembangan obesitas atau penyakit metabolik lainnya.

Menurut peneliti, temuan ini menunjukkan, kemungkinan obesitas disebabkan ketidaksesuaian jadwal makan dan jadwal kerja tubuh, yaitu jam biologis. Satchidananda Panda Senior Research Fellow dari Salk Institute mengatakan, setiap tubuh manusia memiliki jam sendiri. 

Contoh, hati dan usus dapat bekerja dengan efisiensi maksimum hanya dalam waktu tertentu di siang hari. Sisa waktunya, hati dan usus hanya 'tertidur'. 

Siklus metabolisme ini sangat penting untuk berbagai proses, termasuk penurunan kolestrol dan produksi glukosa. Dengan demikian, organ-organ tersebut harus 'dihidupkan' selama mengonsumsi makanan dan 'ditisurkan' selama istirahat, atau sebaliknya. 

Siklus metabolisme normal akan terganggu ketika seseorang tidak makan dengan teratur, baik siang maupun malam hari. (geniusbeauty/***)

Sumber : http://www.metrotvnews.com/

Oksigen Penyebab Utama Perkembangan Kanker?

RENDAHNYA tingkat oksigen dalam sel (hipoksia) dapat menjadi penyebab utama pertumbuhan tumor tak terkendali dalam beberapa jenis kanker.

Studi terbaru dari ilmuwan di University of Georgia, Amerika Serikat,  ini bertentangan dengan kepercayaan umum. Sebelumnya, mutasi genetik dipercaya bertanggung jawab penuh terhadap pertumbuhan sel kanker. 

Para peneliti menganalisa sampel transkripsi RNA (sintetis RNA menggunakan DNA sebagai template, atau transfer informasi genetik dari DNA ke RNA) dari tujuh jenis kanker berbeda menggunakan database umum. Mereka pun menemukan, kekurangan oksigen berkepanjangan dalam sel bisa menjadi faktor kunci pertumbuhan tumor.

Pada sejumlah studi sebelumnya, peneliti sudah mengkaitkan tingkat oksigen di dalam sel dengan perkembangan kanker. Dengan penelitian terbaru ini, faktor yang mengaitkan tingkat oksigen menjadi lebih jelas.

Tidak ada yang perlu diragukan. Tingkat kanker di seluruh dunia tidak bisa dijelaskan oleh mutasi genetik secara acak. 

Itulah mengapa terapi modern sering mengalami kegagalan. Alih-alih mencoba memberikan obat untuk menghancurkan mutasi pada tingkat molekular, kanker justru terus berkembang.

Penelitian ini telah dipublikasikan di Journal of Molecular Cell Biology.(genius/***)


Sumber : http://www.metrotvnews.com/

Rasa Pedas Cabe Bisa Bantu Kempeskan Perut Buncit

imgJakarta, Meskipun pedas, cabe banyak disukai orang karena ciri khasnya dan banyak digunakan untuk membuat sambal. Menurut penelitian, bahan yang memberikan rasa pedas dari cabe bisa menjadi alternatif untuk menurunkan berat badan.

Ali Tavakkoli, MD, ahli bedah Brigham and Women 's Hospital dan timnya telah menerbitkan sebuah penelitian yang menyelidiki 2 jenis operasi penurunan berat badan. Kedua operasi ini disebut-sebut dapat mengurangi risiko penyakit akibat obesitas namun memiliki efek samping yang lebih sedikit dibandingkan operasi bedah biasa.

2 jenis operasi tersebut adalah operasi yang disebut dengan vagal de-afferentation yang menggunakan capsaicin, komponen yang menyebabkan rasa pedas pada cabai yang terbakar dan operasi vagatomy.

Setelah menguji 2 operasi di laboratorium, para peneliti menemukan bahwa vagotomy mengurangi lemak tubuh total secara signifikan. Vagotomy juga dapat menyingkirkan lemak perut yang menumpuk pada ruang antara organ perut atau lemak visceral.

Operasi vagal de-afferentation juga berhasil mengurangi lemak, tetapi pada tingkat lemak yang lebih rendah. Namun menurut para peneliti, penurunan tersebut masih terbilang luar biasa sebab efek samping operasi ini lebih ringan dibanding vagotomy.

"Penurunan lemak antara organ perut sangat penting. Volume lemak visceral yang tinggi adalah pertanda obesitas dan penyakit yang berkaitan dengan obesitas seperti diabetes. Hilangnya lemak visceral setelah menjalani vagal de-afferentation menyoroti potensi prosedur ini," kata Tavakkoli seperti dilansir Eurekalert, Jumat (11/5/2012).

Operasi vagotomy menghilangkan saraf vagus yang mengirimkan informasi antara usus dan otak. Vagal de-afferentation juga mengotak-atik saraf vagus, namun tidak menghilangkan saraf sepenuhnya. Ahli bedah menggunakan capsaicin untuk menghancurkan serat saraf tertentu.

Capsaicin merusak serat saraf yang membawa sinyal dari usus ke otak dan membiarkan serat saraf yang mengirim sinyal ke arah yang berlawanan, dari otak ke usus. Di antara 2 operasi tersebut, vagal de-afferentation memiliki efek samping yang lebih sedikit.

Para peneliti mencatat bahwa masih butuh banyak penelitian yang perlu dilakukan untuk mengetahui apakah operasi ini dapat digunakan pada manusia dan apakah capsaicin dapat digunakan langsung pada serat vagal manusia. Hasil penelitian yang dimuat jurnal Digestive Diseases and Sciences ini cukup menjanjikan sebagai prosedur untuk mengatasi obesitas di masa depan.

"Karena permintaan untuk operasi yang mengurangi berat badan dan penyakit terkait obesitas makin meningkat, prosedur yang terbukti berhasil dengan sedikit pembedahan akan menjadi semakin penting," kata Tavakkoli.

Menurut Tavakkoli, ilmu bedah saat ini semakin penting dan berkembang pesat, terutama karena kasus penyakit diabetes makin melambung di seluruh dunia dan banyak orang mencoba menemukan terapi yang efektif untuk melawan epidemi ini.


sumber : http://health.detik.com

Kesedihan Mendalam Picu Serangan Jantung




JANGAN terlalu lama larut dalam kesedihan. Pasalnya, penelitian terbaru yang dirilis demikianThe Wall Street Journal menyebutkan bahwa serangan jantung akan lebih kompleks jika penderita mengalami kesedihan yang mendalam.

Penelitian yang dilakukan terhadap 1.985 orang dewasa yang menjadi korban serangan jantung, menemukan bahwa resiko serangan jantung meningkat hingga 21 kali lebih tinggi dalam rentan waktu yang dekat setelah orang yang dicintainya meninggal dunia.

Mengapa hal tersebut dapat memicu serangan jantung? Salah satu peneliti, Elizabeth Mostofsky melaporkan, tekanan yang diakibatkan oleh rasa kehilangan memicu denyut jantung yang lebih tinggi, sehingga memicu pembekuan darah yang meningkat.

Penelitian yang juga dipublikasikan dalam Circulation: Journal of American Hearth Associationitu menyebutkan bahwa stres-induced cardiomyopathy (kardiomiopati yang diinduksi oleh stres). Yaitu keadaan akibat dipicu oleh emosi akut atau trauma fisik dan melepaskan gelombang adrenalin yang menguasai hati, seperti kesedihan, kecemasan, maupun kemarahan, juga menjadi penyebab meningkatnya risiko seranga jantung. (go4/Wrt3)


Sumber : http://www.metrotvnews.com/

atraksi motor

Bosan cari artikel , berikut ini hiburan dari http://penelitianilmiahterbaru.blogspot.com/ untuk anda. Setelah menonton...silahkan lanjutkan perjalanan anda mencari artikel tentang Kumpulan penelitian ilmiah : sains, kesehatan, ptk, kualitatif, dan kuantitatif Kumpulan artikel penelitian ilmiah terbaru dan akurat: "sains, kesehatan, kualitatif, kuantitatif plus penelitian tindakan kelas(ktk)," Key word : 2012, penelitian, penelitian terbaru, penelitian terbaru 2012, penelitian 2012, abstrak, abstrak penelitian, alamiah, sains, kesehatan, sehat, penelitian kuantitatif, penelitian kualitatif, penelitian sains, sains, penelitian tindakan kelas, ktk, kualitatif, kuantitatif, khasiat, manfaat, kandungan, khasiat avokad, buah avokad, avokad, buah, antioksidan, menemukan, meningkatkan, buahan, merusak, peneliti, ahli, kumpulan, artikel, contoh, bahaya

KLIK LINK UNTUK MEMBUKA

GRATIS PLUS HADIAH

Hosting Gratis