website trackingwebsite tracking

PTC..PELUANG DAPAT UANG HANYA DENGAN MODAL KLIK

Minggu, 27 Mei 2012

Pengertian Penelitian kualitatif


Kumpulan Penelitian Ilmiah Terbaru
Kumpulan Artikel Penelitian Kualitatif dan Kuantitatif Terbaru dan Akurat

Penelitian kualitatif adalah riset yang bersifat deskriptif dan cenderung menggunakan analisis dengan pendekatan induktif. Proses dan makna (perspektif subyek) lebih ditonjolkan dalam penelitian kualitatif. Landasan teori dimanfaatkan sebagai pemandu agar fokus penelitian sesuai dengan fakta di lapangan. Selain itu landasan teori juga bermanfaat untuk memberikan gambaran umum tentang latar penelitian dan sebagai bahan pembahasan hasil penelitian. Terdapat perbedaan mendasar antara peran landasan teori dalam penelitian kuantitatif dengan penelitian kualitatif. Dalam penelitian kuantitatif, penelitian berangkat dari teori menuju data, dan berakhir pada penerimaan atau penolakan terhadap teori yang digunakan; sedangkan dalam penelitian kualitatif peneliti bertolak dari data, memanfaatkan teori yang ada sebagai bahan penjelas, dan berakhir dengan suatu “teori”.
Penelitian kualitatif jauh lebih subyektif daripada penelitian atau survei kuantitatif dan menggunakan metode sangat berbeda dari mengumpulkan informasi, terutama individu, dalam menggunakan wawancara secara mendalam dan grup fokus. Sifat dari jenis penelitian ini adalah penelitian dan penjelajahan terbuka berakhir dilakukan dalam jumlah relatif kelompok kecil yang diwawancarai secara mendalam.
Peserta diminta untuk menjawab pertanyaan umum, dan interviewer atau moderator group periset menjelajah dengan tanggapan mereka untuk mengidentifikasi dan menentukan persepsi, pendapat dan perasaan tentang gagasan atau topik yang dibahas dan untuk menentukan derajat kesepakatan yang ada dalam grup. Kualitas hasil temuan dari penelitian kualitatif secara langsung tergantung pada kemampuan, pengalaman dan kepekaan dari interviewer atau moderator group.
Jenis penelitian yang sering kurang dilakukan dari survei karena mahal dan sangat efektif dalam memperoleh informasi tentang kebutuhan komunikasi dan tanggapan dan pandangan tentang komunikasi tertentu. Dalam hal ini sering metode pilihan dalam kasus di mana pengukuran atau survei kuantitatif tidak diperlukan.

sumber : http://id.wikipedia.org

Pengertian Penelitian kuantitatif


SPONSORED BY
Komisi Gratis | Bisnis Online Tanpa Modal
KLIK GAMBAR ATAU DI SINI UNTUK BERGABUNG


Penelitian kuantitatif adalah penelitian ilmiah yang sistematis terhadap bagian-bagian dan fenomena serta hubungan-hubungannya. Tujuan penelitian kuantitatif adalah mengembangkan dan menggunakan model-model matematisteori-teori dan/atau hipotesis yang berkaitan dengan fenomena alam. Proses pengukuran adalah bagian yang sentral dalam penelitian kuantitatif karena hal ini memberikan hubungan yang fundamental antara pengamatan empiris dan ekspresi matematis dari hubungan-hubungan kuantitatif.
Penelitian kuantitatif banyak dipergunakan baik dalam ilmu-ilmu alam maupun ilmu-ilmu sosial, dari fisika dan biologi hingga sosiologi dan jurnalisme. Pendekatan ini juga digunakan sebagai cara untuk meneliti berbagai aspek dari pendidikan. Istilah penelitian kuantitatif sering dipergunakan dalam ilmu-ilmu sosial untuk membedakannya dengan penelitian kualitatif.
Penelitian kuantitatif adalah definisi, pengukuran data kuantitatif dan statistik objektif melalui perhitungan ilmiah berasal dari sampel orang-orang atau penduduk yang diminta menjawab atas sejumlah pertanyaan tentang survei untuk menentukan frekuensi dan persentase tanggapan mereka. Sebagai contoh: 240 orang, 79% dari populasi sampel, mengatakan bahwa mereka lebih percaya pada diri mereka pribadi masa depan mereka dari setahun yang lalu hingga hari ini. Menurut ketentuan ukuran sampel statistik yang berlaku, maka 79% dari penemuan dapat diproyeksikan ke seluruh populasi dari sampel yang telah dipilih. pengambilan data ini adalah disebut sebagai survei kuantitatif atau penelitian kuantitatif.
Ukuran sampel untuk survei oleh statistik dihitung dengan menggunakan rumusan untuk menentukan seberapa besar ukuran sampel yang diperlukan dari suatu populasi untuk mencapai hasil dengan tingkat akurasi yang dapat diterima. pada umumnya, para peneliti mencari ukuran sampel yang akan menghasilkan temuan dengan minimal 95% tingkat keyakinan (yang berarti bahwa jika Anda survei diulang 100 kali, 95 kali dari seratus, Anda akan mendapatkan respon yang sama) dan plus / minus 5 persentase poin margin dari kesalahan. Banyak survei sampel dirancang untuk menghasilkan margin yang lebih kecil dari kesalahan.
Beberapa survei dengan melalui pertanyaan tertulis dan tes, kriteria yang sesuai untuk memilih metode dan teknologi untuk mengumpulkan informasi dari berbagai macam responden survei, survei dan administrasi statistik analisis dan pelaporan semua layanan yang diberikan oleh pengantar komunikasi. Namun, oleh karena sifat teknisnya metode pilihan pada survei atau penelitian oleh karena sifat teknis, maka topik yang lain tidak tercakup dalam cakupan ini.

sumber : http://id.wikipedia.org/

Perbedaan Penelitian Kualitatif dan Penelitian Kuantitatif



Kumpulan Penelitian Ilmiah Terbaru
Kumpulan Artikel Penelitian Kualitatif dan Kuantitatif Terbaru dan Akurat

Perbedaan Penelitian Kualitatif dan Penelitian Kuantitatif (Penelitian Naturalistik)

Berikut ini, disajikan tabel perbedaan penelitian kualitatif dengan penelitian kuantitatif.


Tabel Perbedaan Penelitian Kuantitatif dengan Penelitian Kualitatif
Penelitian KualitatifPenelitian Kuantitatif
Desain tidak terinci, fleksibel, timbul "emergent" serta
berkembang sambil jalan antara lain mengenai tujuan, subjek,
sampel, dan sumber data.
Desain terinci dan mantap.
Desain sebenarnya baru diketahui dengan jelas setelah penelitian
selesai (retrospektif).
Desain direncanakan sebelumnya pada tahapan persiapan

(projektif)
Tidak mengemukakan hipotesis sebelumnya, hipotesis lahir
sewaktu penelitian dilakukan; hipotesis berupa "hunches", petunjuk
yang bersifat sementara dan dapat berubah; hipotesis berupa
pertanyaan yang mengarahkan pengumpulan data.
Mengemukakan hipotesis sebelumnya, yang akan diuji

kebenarannya.
Hasil penelitian terbuka, tidak diketahui sebelumnya karena jumlah variabel penelitian tidak terbatasHipotesis menentukan hasil yang diharapkan; hasil telah diramalkan (apriori); hasil penelitian telah terkandung di dalam

hipotesis, jumlah variabel terbatas
Desain fleksibel, langkah-langkah tidak dapat dipastikan sebelumnya dan hasil penelitian tidak dapat diketahui atau diramalkan sebelumnyaDalam desain jelas langkah-langkah penelitian serta hasil yang

diharapkan
Analisis data dilakukan sejak mula penelitian dan dilakukan

bersamaan dengan pengumpulan data, walaupun analisis akan lebih

banyak pada tahap-tahap selanjutnya.
Analisis data dilakukan setelah semua data terkumpul pada tahap

akhir.

sumber : http://penelitiantindakankelas.blogspot.com/

INFORMASI TERBARU TENTANG MANFAAT ASI


Kumpulan Penelitian Ilmiah Terbaru
Kumpulan Artikel Penelitian Kualitatif dan Kuantitatif Terbaru dan Akurat

INFORMASI TERBARU TENTANG MANFAAT ASI



Pemberian ASI secara eksklusif selalu dikampanyekan oleh pemerintah, karena akhir-akhir ada tren penurunan pemberian ASI pada bayi. kampanye pemerintah untuk ASI eksklusif tentunya didasari oleh bukti-bukti penelitian yang menunjukan keunggulan ASI dibandingkan dengan susu formula. Beberapa hasil penelitian terbaru kembali menemukan manfaat baik ASI bagi bayi yaitu : ASI mampu mencegah gumoh, meningkatkan kesehatan usus bayi dan penemuan terakhir mendapatkan bahwa ASI mampu mencegah penularan HIV pada bayi
ASI MENCEGAH GUMOH/REGURGITASI
Gumoh atau regusgitasi adalah peristiwa saat susu yang sudah masuk lambung bayi dimuntahkan kembali, karena belum bekerjanya otot di ujung kerongkongan untuk menutup jalan masuk makanan ke lambung.
Berbagai hasil penelitian di dunia mendapatkan bahwa bayi yang di beri (ASI) air susu ibu secara eksklusif mengalami gumoh (regurgitasi) lebih sedikit dibandingkan dengan bayi yang minum susu formula.
Penelitian di Indonesia juga mendapatkan hasil yang sama. Dalam riset yang dilakukan tahun 2004 di RSCM Jakarta atas 138 bayi yang baru lahir, diketahui intensitas bayi yang gumoh atau mengeluarkan isi lambung sehabis minum susu lebih banyak dijumpai pada bayi yang mengonsumsi susu formula.
Bagaimana dengan bayi yang tidak bisa mendapatkan ASI secara eksklusif ?
Salah satu solusi bagi bayi yang minum susu formula agar tidak sering gumoh adalah dengan pengentalan susu yakni menambahkan tepung beras ke susu formula, atau membeli susu formula dengan suplemen antiregurgitasi.
ASI MENJAGA KESEHATAN USUS BAYI
Sebuah studi terbaru mengindikasikan bahwa bayi yang diberi ASI cenderung memiliki usus yang lebih sehat ketimbang bayi yang diberi susu formula. Kolonisasi “bakteri baik” pada usus bayi sangat penting untuk perkembangan saluran usus mereka dan dalam pengembangan kekebalan tubuh.
Hasil penelitian menunjukkan, perbedaan kolonisasi bakteri pada bayi yang diberi susu formula dan yang diberi ASI, mengarah ke perubahan dalam ekspresi bayi pada gen yang terlibat dalam sistem kekebalan tubuh dan pertahanan terhadap patogen.
Dalam kajiannya, para peneliti menggunakan analisis transkriptome untuk membandingkan kondisi usus pada bayi yang selama tiga bulan diberi ASI eksklusif dan susu formula. Analisis transkriptome melihat pada sebagian kecil dari kode genetik yang ditranskripsi ke dalam molekul RNA dan mengukuran apakah gen dapat secara aktif membuat protein.
Hasil penelitian menunjukkan, bayi yang diberi ASI memiliki jangkauan mikroba yang lebih luas dalam usus mereka daripada bayi yang diberi susu formula, meski sistem kekebalan tubuh mereka telah dikembangkan untuk mengatasinya.
ASI MENCEGAH PENULARAN HIV
Satu lagi alasan mengapa Air Susu Ibu harus tetap diberikan oleh setiap bayi baru lahir, meskipun ibu mereka terinfeksi virus HIV. Riset terbaru mengklaim, para peneliti telah mengisolasi antibodi dalam ASI yang dapat melindungi bayi dari ancaman virus HIV.
Peneliti mengatakan, hanya satu dari sepuluh orang wanita yang terinfeksi HIV, yang dapat menularkan virus tersebut kepada bayi yang dikandungnya. Temuan ini dipublikasikan dalam PLoS One

Meningkatkan Kekuatan Otak


SPONSORED BY
Komisi Gratis | Bisnis Online Tanpa Modal
KLIK GAMBAR ATAU DI SINI UNTUK BERGABUNG

Otak Anda bukan otot, tetapi karena Anda menua olahraga dapat meningkatkan memori dan kemampuan berpikir lain, sebuah studi baru menunjukkan.
Dan olahraga tidak harus sebagai ketat seperti maraton, penelitian menunjukkan. Dalam studi baru, pria paruh baya dan wanita yang bersepeda atau melakukan peregangan rutin dan koordinasi selama dua jam seminggu selama enam bulan memiliki perbaikan dalam memori dan kemampuan berpikir lainnya.
Menggabungkan dua dapat memberikan hasil yang lebih baik, kata peneliti Kirsten hotting, PhD, seorang dosen psikologi di Universitas Hamburg, Jerman. “Saya akan menebak bahwa menggabungkan berbagai bentuk latihan mungkin meningkatkan efek menguntungkan mereka,” katanya pada WebMD. Studi ini diterbitkan dalam Psikologi Kesehatan.
Pada masa dewasa akhir, para ahli mengatakan, daerah otak yang terlibat dalam memori, hippocampus, menyusut.
Penelitian sebelumnya telah menemukan bahwa daerah ini telah tumbuh setahun setelah dewasa yang lebih tua mulai berolahraga. Pertumbuhan yang disertai dengan memori ditingkatkan.
Untuk penelitian baru, hotting ingin fokus pada setengah baya dewasa. Dia dievaluasi 68 pria aktif dan wanita berusia antara 40 hingga 56. Dia ditugaskan ke program peregangan atau program bersepeda.
Dia menambahkan sekelompok 18 orang non-aktif sebagai kelompok pembanding.
Sebelum studi, semua orang mendapat tes kebugaran jantung. Setiap program yang diawasi dan berlangsung satu jam, dua kali seminggu, hotting kata.
“Pelatihan / koordinasi peregangan dimulai dengan tahap pemanasan singkat, diikuti dengan peregangan dan penguatan otot-otot utama dari tubuh secara keseluruhan,” katanya. “Koordinasi adalah latihan keseimbangan latihan, gerakan kompleks dari lengan dan kaki, dan sebagainya Pelatihan ini diakhiri dengan beberapa latihan relaksasi..”
Para pengendara sepeda disuruh latihan di denyut jantung target mereka (sebagaimana ditentukan oleh tes kebugaran) selama sekitar 45 menit, hotting kata. Mereka diakhiri dengan pendinginan.
Sebelum dan sesudah penelitian, tim hotting yang diukur memori dan kemampuan berpikir lainnya.
Kelompok bersepeda meningkatkan kebugaran jantung mereka dengan 15%. Kelompok-kelompok peregangan dan tidak aktif tidak memiliki perubahan nyata dalam kebugaran mereka.
Tapi kedua bersepeda dan kelompok peregangan melakukan yang lebih baik pada tes memori belajar daftar item daripada kelompok yang tidak aktif.
Peningkatan ini nilai ujian dikaitkan dengan peningkatan kebugaran.
Kelompok bersepeda ditingkatkan lebih dari yang lain dalam tes pengakuan. Ini tes retensi jangka panjang bahan belajar.
Salah satu temuan mengejutkan: Kelompok peregangan sebenarnya ditingkatkan lebih dalam tes perhatian daripada kelompok bersepeda. Dalam tes kertas dan pensil, mereka harus menemukan dan menandai huruf tertentu dengan cepat.
Hotting tidak menemukan perbedaan nyata dalam kinerja untuk setiap keterampilan berpikir lainnya.
Peningkatan di memori berguna, dia mengatakan kepada WebMD. “Dalam kehidupan sehari-hari, belajar daftar item yang relevan ketika belajar kosa kata, daftar belanja, atau mengingat daftar yang harus dilakukan.”
Tes pengakuan mencerminkan kemampuan mengingat item dipelajari selama lebih dari beberapa menit, katanya. “Itu yang relevan untuk banyak hal yang ingin Anda ingat dalam kehidupan sehari-hari.”
Temuan penelitian menggemakan penelitian sebelumnya, kata Scott Small, MD, Herbert Irving profesor neurologi di Columbia University. Dia terakhir temuan namun tidak terlibat dalam penelitian di Jerman.
Penelitian lain juga menemukan bahwa peningkatan kebugaran terkait dengan perbaikan selektif dalam memori, ia memberitahu WebMD.
Dalam penelitiannya sendiri, Kecil telah menemukan bahwa orang yang tidak aktif yang menjadi aktif secara fisik dapat meningkatkan aliran darah ke otak. Mereka kemudian mencetak gol lebih baik pada tes memori.
Salah satu kekuatan dari studi baru, ia memberitahu WebMD, adalah panjang dari pelatihan. Lainnya adalah fokus pada pria paruh baya dan wanita. Dia mengatakan mereka sering khawatir tentang masalah memori.
Sumber  : http://setengahbaya.info/

Sensasi Rasa Baru Di Ujung Lidah


Sebuah penelitian baru membuktikan bahwa selain dapat merasakan manis, pahit,asam,asin dan gurih lidah pada manusia bisa merasakan sensasi rasa baru yang lebih luas. Benarkah?
Adalah kalsium, sebuah sensasi rasa baru yang ditemukan oleh para ahli kimia di Philadelphia.Temuan itu dilaporkan Michael G. Tordoff dan timnya dari Monell Chemical Senses Center di Philadelphia.
Seperti dikutip FoxNews,Tordoff membuktikan bahwa lidah mencit (tikus putih kecil) memiliki sensor rasa kalsium. Berdasarkan temuan itu, Tordoff menduga manusia juga sama. Karenanya, mencit dan manusia berbagi bermacam gen yang sama.
“Orang tidak mengonsumsi kalsium sebanyak yang dianjurkan ahli nutrisi,” kata Tordoff. “Itu terjadi karena makanan tinggi kalsium rasanya tidak enak.”
Awalnya, Tordoff agak kesulitan menerangkan seperti apa rasa kalsium yang tidak enak itu. “Rasanya seperti kalsium,” kata dia.
“Tak ada kata yang lebih tepat dari itu. Rasanya getir, mungkin sedikit asam. Tapi rasanya tak cuma itu karena ada reseptor untuk kalsium, bukan cuma pahit atau asam.”
Ilmuwan itu menyatakan bahwa penyesuaian rasa kalsium dapat membuat orang yang kekurangan nutrisi penting itu mau mengonsumsinya.
“Dengan memahami bagaimana kalsium dideteksi dalam mulut, kami bisa mempermudahnya dikonsumsi dengan mengurangi rasanya yang getir atau membuat agen farmakologis yang membuatnya terasa lebih enak,” tutur Tordoff.
Tidak hanya sensasi rasa kalsium saja, menurut penelitian yang dilakukan Tordoff, masih dapat merasakan beberapa rasa baru lagi antara lain :
Kesejukan
Sensasi rasa kesejukan mungkin menggambarkan sensasi rasa mint dan segar dari peppermint atau mentol. Persepsi sensorik bekerja pada rasa tersebut, reseptor sentuh diaktifkan, disebut TPRM8.
Sebagai sensasi sentuhan, baik piquance dan kesejukan yang ditransmisikan ke otak melalui saraf trigeminal, bukan tiga saraf klasik untuk rasa. Himpunan saraf yang membawa sensasi terbakar dan pendinginan berbeda dari dari sensasi rasa.
Lemak
Banyak orang yang menikmati makanan berlemak. Hasil penelitian telah menujukkan bahwa, tikus dapat mencicipi lemak. Tampaknya manusia juga dapat merasakan lemak. Hasil penelitian tersebut telah dipublikasikan dalam British Journal of Nutrition. Asam lemak cenderung terasa pahit di mulut.
Metallicity
Rasa logam, seperti emas dan perak juga dapat dirasakan di rongga mulut. Para peneliti telah menunjukkan bahwa, sensasi rasa ini mungkin ada hubungannya dengan konduktivitas listrik.
“Hal tersebut seperti baterai kecil, dengan setetes air liur, maka akan mendapatkan sekitar 550 milivolt,” kata Harry Lawless, seorang profesor emeritus ilmu makanan di Cornell University. [mor]
Rasa Gatal Bisa Menular?

Radiasi Handphone tak ganggu kesehatan

Banyak berita baik di media cetak, elektronik maupun digital yang menganjurkan pemakaian telepon genggam agar tidak terlalu sering lantaran akibat-akibat yang akan ditimbulkannya (baca= tips mudah amankan bahaya radiasi ponsel)

Banyak penelitian yang mengungkapkan dampak buruk dari pemakaian handphone terhadap tubuh manusia. Namun sebuah penelitian terbaru yang dilakukan Lembaga Perlindungan Kesehatan Inggris menyatakan belum ada bukti konkrit antara sinyar elektromagnetik dengan kesehatan.

bahaya ponsel, radiasi handphone, tips aman dari radiasi sinyal, penjelasan tentang bahaya gelombang sinyal hpLaporan tersebut merupakan update dari tinjauan oleh Advisory Group on Non-ionising Radiation's (AGNIR) pada 2003 lalu. Lembaga perlindungan kesehatan Inggris mempertimbangkan bukti ilmiah tentang paparan medan elektromagnetik frekuensi radio yang diproduksi oleh teknologi handphone dan perangkat nirkabel lainnya, seperti WiFi, serta televisi dan pemancar radio.

Laporan ini menjelaskan bahwa setelah penelitian intensif, tidak ada bukti yang meyakinkan bahwa frekuensi radio berefek pada kesehatan orang dewasa atau anak-anak.Profesor Anthony Swerdlow, Ketua lembaga perlindungan kesehatan, menyimpulkan: "Masih ada keterbatasan dalam penelitian-penelitian yang dilakukan. Ini menghalangi keputusan akan efek frekuensi radio secara definitif, namun bukti secara keseluruhan tidak menunjukkan efek merugikan pada kesehatan manusia dari paparan medan frekuensi radio asal beradi di bawah tingkat pedoman yang diterima secara internasional. " ungkap Swerdlow. 
Sumber : http://www.teknokers.com/

Info Kesehatan Terbaru



Info Kesehatan Terbaru

  1. Penelitian terbaru ahli nurisi menyebutkan bahwa nikotinamida dapat meningkatkan daya ingat. Nikotinamida sendiri termasuk salah satu bentuk vitamin B3. Asupan yang dianjurkan adalah 14 mg per hari. Jumlah ini bisa kita dapatkan dari seporsi nasi merah dan sepotong daging ayam.
  2. Menyukai makanan manis ternyata bukan sekedar kebiasaan, tetapi juga dipengaruhi oleh DNA kita. DNA yang disebut Glucose Transporter Type 2 (GLUT2) adalah variasi gen yang dapat merangsang otak mengkonsumsi makanan secara berlebihan. Hasil penelitian ini dikeluarkan oleh Department of nutritional Sciences, University of Toronto, Kanada. Penelitian ini juga menyebutkan bahwa pola makan seseorang dapat bersifat genetik.
  3. Kebiasaan berkebun ternyata tidak hanya menyenangkan tetapi dapat membuat panjang umur. Menurut Dan Buettner, pengarang The Blue Zones: Lesson for living Longer from the People Who've lived the Longest, berkebun membuat kita lebih sehat, fisik maupun mental, karena dapat mengurangi stres. Aktivitas berkebun juga memungkinkan kita terpapar sinar matahari yang dapat membantu tubuh memproduksi vitamin D yang berfungsi memperkuat tulang dan mencegah kanker.
  4. Penuaan dini dan beragam penyakit bisa kita cegah dengan mengkonsumsi sayur-sayuran dengan porsi yang tepat, bervariasi, dan dalam jumlah yang banyak. Setidaknya inilah hasil penelitian yang dikeluarkan oleh Jean Mayer USDA Human Nutritional Research Center on Ageing, Tufts University.

Sumber: Majalah Prevention Edisi Juni 2009

Ponsel Tidak Meningkatkan Risiko Kanker Otak

Ponsel Tidak Meningkatkan Risiko Kanker Otak


S
ekarang kita sudah bisa lebih tenang lagi untuk melakukan panggilan telepon menggunakan ponsel. Karena sebuah penelitian di Denmark telah mengungkapkan bahwa ponsel tidak meningkatkan risiko kanker otak.

Salah satu penelitian terbesar dan terlama ini menemukan bahwa tidak ada tumor otak pada orang-orang yang menggunakan ponsel selama lebih dari 17 tahun. Dikatakan bahwa kalau pun memang ada, maka risiko tersebut sangatlah kecil.
Penelitian-penelitian sebelumnya memang banyak yang menyatakan hal yang sebaliknya. Bahkan WHO pun sampai menempatkan ponsel sebagai benda yang mungkin bersifat karsinogenik alias dapat menyebabkan kanker.
Namun penelitian terbaru yang diterbitkan di BMJ edisi 20 Oktober ini tampaknya telah memperlihatkan fakta lain. Peneliti telah mengumpulkan data dari sekitar 360.000 orang di Denmark yang menggunakan ponsel dan tidak menemukan adanya peningkatan insidensi tumor pada mereka. Peneliti memang sempat menemukan adanya sedikit peningkatan risiko glioma (sejenis tumor otak ganas) pada laki-laki, namun risiko ini menghilang dengan sendirinya setelah lima tahun.
Walaupun sudah ada fakta baru ini, ada baiknya kita tetap mengikuti anjuran WHO untuk membatasi penggunaan ponsel langsung ke telinga untuk menelepon, melainkan dengan menggunakan earphone. Paling tidak kita ikuti anjuran ini sampai WHO mengubah pandangannya tentang ponsel.
Health Day: Cell Phones Don't Raise Brain Cancer Risk, Study Says




Perhatian: 
Dibebaskan menyalin sebagian ataupun keseluruhan isi blog ini demi kepentingan pendidikan kesehatan bagi masyarakat umum dengan ketentuan mencantumkan alamat link blog ini sebagai sumbernya.





Sumber : 
http://gigisehatbadansehat.blogspot.com/


Fakta, 22 Persen Perokok Alami Penurunan Fungsi Seksual






Fakta, 22 Persen Perokok Alami Penurunan Fungsi Seksual


TEMPO.COJakarta - Slogan peringatan rokok terhadap gangguan fungsi seksual benar-benar terbukti nyata. Menurut Johannes Soedjono, ahli andrologi dari Rumah Sakit Angkatan Laut Hang Tuah Surabaya, penelitian di Cina pada 2000-2001 menunjukkan gangguan disfungsi ereksi terjadi pada semua kategori umur. 

Responden yang diambil sebanyak 7.684 orang dengan usia 35 hingga 74 tahun. "Risiko disfungsi ereksi meningkat setelah setahun atau lebih merokok," ujar Johannes dalam diskusi seksologi di Hotel Le Meredien, Jakarta, Jumat, 28 Oktober 2011.

Ada 22 persen perokok yang pasti mengalami disfungsi ereksi. Jadi, ia menguraikan, di antara 100 ribu penduduk, ada 22 ribu orang yang mengalami gangguan dalam hubungan intim.

Tingkat disfungsi ereksi perokok pria dipengaruhi oleh jumlah rokok yang dihisap per harinya. "Semakin banyak, semakin parah kerusakannya," papar Johannes. 

Adapun durasi merokok akan mempengaruhi berat ringannya disfungsi ereksi. Kalau perokok di atas 10 tahun, maka kerusakannya lebih berat ketimbang yang baru merokok setahun.

"Yang perlu diwaspadai adalah perokok yang sudah mengisap kretek selama 6 hingga 10 tahun," ujar dia. Soalnya, perokok dalam kategori ini mempunyai kerentanan disfungsi ereksi paling berat. Mereka berada di ambang batas menuju kerusakan disfungsi ereksi parah dan moderat. 

"Kansnya 2,2 kali," kata Johannes. Artinya, bisa lebih parah jika jumlah batang rokoknya dihisap semakin banyak atau membaik jika menghentikan merokok. "Semakin cepat berhenti, semakin baik," papar dia.


http://www.tempo.co/

Penelitian Terbaru Ungkap Bahaya Radiasi Ponsel


Penelitian Terbaru Ungkap Bahaya Radiasi Ponsel


TEMPO InteraktifJakarta: Tengoklah iklan tarif telepon seluler dari berbagai perusahaan. Tawaran mereka benar-benar menggiurkan: gratis bicara sepanjang hari, bebas menelepon semaumu atau ngobrol sampai dower, dan banyak iming-iming lainnya. Gara-gara tarif murah, orang dengan mudah berhalo-halo tanpa batas. Pulsa mungkin saja "aman", namun kesehatan bisa terancam.
Pembantu rumah tangga atau buruh bangunan pun mengantongi telepon. Di Indonesia, menurut Budi Putra, pengamat dan pengelola blog teknologi komunikasi, pengguna telepon seluler kini mencapai 115 juta orang, sekitar separuh dari jumlah penduduk Indonesia. Menurut data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), pengguna handphone di seluruh jagat mencapai tiga miliar orang. Dua kali lipat dibandingkan data 2005.

Di balik semua kemudahan berkomunikasi, telepon genggam memunculkan kekhawatiran, terutama bagi kesehatan. Pemicunya, penelitian Vini Gautam Khurana, ahli bedah saraf dari Universitas Nasional Australia, Canberra, yang dipublikasikan pada akhir Maret lalu.

Selama 15 bulan, Khurana menelaah lebih dari 100 penelitian yang telah dilakukan berbagai lembaga, tentang keselamatan penggunaan telepon seluler. Hasil penelitian itulah yang menimbulkan gelombang reaksi besar hingga sekarang, karena Khurana menyatakan penggunaan telepon seluler akan memicu epidemi tumor otak, yang akan membunuh lebih banyak orang ketimbang rokok. Menurut riset profesor peraih 14 penghargaan medis ini, penggunaan telepon seluler--langsung dari handset--lebih dari 10 tahun akan menggandakan risiko terkena kanker otak.

Tidak hanya Khurana yang punya perhatian besar terhadap dampak buruk penggunaan telepon seluler, lembaga penelitian bergengsi lain juga demikian. Pada Juni lalu Mobile Telecommunications and Health Research di Inggris, bekerja sama dengan Imperial College, London, mengadakan penelitian besar-besaran tentang apakah telepon genggam bisa memicu gejala kanker otak, alzheimer, dan parkinson. Penelitian yang didanai pemerintah Inggris dan sejumlah perusahaan seluler ini akan "membuntuti" 90 ribu orang responden selama setahun. Lalu mengevaluasi dampak kesehatannya.

Menjawab kekhawatiran dunia akan bahaya telepon genggam, Organisasi Kesehatan Dunia juga telah meluncurkan Health Evidence Network. Ini merupakan layanan informasi Organisasi Kesehatan Dunia Kantor Regional Eropa, sebagai referensi bagi pengambil keputusan di bidang medis.

Ternyata, menurut organisasi kesehatan di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa ini, bukti bahwa radiasi telepon seluler dapat memicu tumor otak, tumor pada sel saraf pendengaran, tumor kelenjar saliva, leukemia dan limfoma, masih "lemah dan tak bisa disimpulkan". Alasannya, orang hanya memakai telepon dalam waktu terbatas--bukan sepanjang hari secara terus-menerus.

Meski begitu, lembar fakta Organisasi Kesehatan Dunia menyebutkan, tidak ada bukti bukan berarti tidak ada efek. Harus ada penelitian lanjutan yang lebih spesifik untuk tiap-tiap kasus. Untuk itu, pada Oktober 2009, organisasi ini akan mengeluarkan rekomendasi resmi tentang aturan menggunakan telepon genggam, tentu saja berdasar penelitian yang lebih kredibel. Khurana sendiri menyarankan untuk membuat penelitian dampak penggunaan telepon seluler dalam jangka 10-15 tahun, agar menghasilkan "kajian ilmiah yang solid".

Belum adanya kepastian tentang tingkat bahaya penggunaan telepon seluler itulah yang menjadi masalah. Para dokter di Indonesia menyatakan, meski pemakaian telepon seluler meningkat belakangan ini, belum ada penelitian di Tanah Air tentang bahayanya bagi kesehatan. Menurut Silvia F. Lumempouw, dari berbagai kasus penyakit saraf yang ia tangani--termasuk alzheimer dan neuroma akustik--belum pernah ada yang terkait langsung dengan penggunaan telepon genggam. Spesialis saraf dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo dan Rumah Sakit Dharma Nugraha ini menyatakan, radiasi dari seluler sebetulnya tak terlalu berbahaya jika dibandingkan dengan sumber radiasi lain seperti rontgen atau CT-scan. Para pekerja medis yang setiap hari berurusan dengan radiasi pun aman, apalagi "cuma" telepon.

Silvia juga mengingatkan, sebetulnya kita juga dikelilingi radiasi dari televisi, radio, komputer, dan berbagai peranti lain. Karena itu, ia menyarankan, kita juga wajib mewaspadai gejala akibat penggunaan handphone yang berlebihan. "Teknologi kan diciptakan untuk memudahkan, bukan untuk membuat sakit," katanya.

Pengurus Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia (Perdossi) ini membandingkan telepon genggam dengan obat. Jika sebelum dipasarkan, obat harus sukses melalui serangkaian proses (dicoba di hewan, lalu di manusia, kemudian di orang sakit), alat-alat teknologi pun seharusnya begitu. "Mesti ada aturan dari sisi kesehatan, sebelum produk itu dipasarkan," kata Silvia. Jangan hanya berorientasi pada kecanggihan tapi tak mementingkan sisi medis.

Himawan W.H. juga menyatakan hal senada. Dokter spesialis telinga, hidung, dan tenggorokan di jaringan Rumah Sakit Mitra Internasional ini menyebut semua radiasi pada dasarnya berbahaya. Namun radiasi dari telepon genggam relatif kecil.

Selain dari telepon genggam, potensi radiasi di sekitar kita yang patut diwaspadai adalah penggunaan microwave, telepon tanpa kabel, paparan sinar matahari langsung, dan penerbangan. Laporan United States Federal Aviation Administration menyatakan, mereka yang terbang secara rutin terekspos radiasi setara dengan 170 kali dipindai sinar X. Karena selalu mengarungi udara itulah, pramugari dan pilot lebih rentan terkena kanker. (Majalah Tempo)
http://www.tempo.co/

Penelitian Terbaru, Deodoran Dapat Picu Kanker Payudara


SPONSORED BY
Komisi Gratis | Bisnis Online Tanpa Modal
KLIK GAMBAR ATAU DI SINI UNTUK BERGABUNG


LENSAINDONESIA.COM: Kabar yang menyatakan deodoran menyebabkan kanker payudara sudah menyebar dari beberapa tahun yang lalu. Namun penelitian inilah untuk pertama kalinya menjelaskan kenapa hal ini bisa terjadi.
Penelitian terbaru telah menemukan zat pengawet kimia pada ribuan produk antiperspirant atau deodeoran, yang memicu timbulnya tumor kanker payudara.
Zat kimia, yang dikenal sebagai paraben, tak hanya ditemukan di produk deodoran, tapi juga produk-produk lainnya, seperti shampoo, sabun mandi dan make up, serta daging olahan, kue kering bahkan pil kontrasepsi. Namun, penelitian ini lebih memfokuskan paraben pada produk deodoran.
Peneliti dari University of Reading percaya bahwa terdapat hubungan penting antara paraben dengan pemicu kanker payudara setelah melakukan penelitian dengan menganalisis sampel kanker payudara dari 40 wanita yang menjalani mastektomi (operasi pengangkatan kanker payudara) antara rentan tahun 2005 hingga 2008.
Kemudian para peneliti mengukur konsentrasi paraben dalam jaringan payudara melalui empat titik, mulai dari ketiak, payudara hingga tulang dada.
Peneliti menemukan bahwa sekitar 99 persen wanita yang diuji dalam penelitian positif memiliki satu paraben, sedangkan 60 persen diantaranya diketahui memiliki hingga lima paraben dalam jaringan payudaranya. Peneliti juga berhasil mendeteksi paraben dalam sampel ini dengan tingkat konsentrasi menjadi 20,6 ng/gram dalam setiap jaringan.
Para peneliti menjelaskan bahwa kini paraben telah menunjukkan reaksi yang sama dengan fungsi hormon estrogen pada wanita. Seperti yang diketahui bahwa hormom estrogen merupakan penyebab risiko kanker payudara.
Bagian lainnya dari kanker payudara juga terletak di atau dekat ketiak, dimana biasanya deodoran digunakan. Peneliti meyakini bahwa paraben bisa masuk dan meresap kedalam kulit.
Namun, Dr.Philippa Darbre, peneliti dari Reading’s School of Biological Sciences yang melakukan penelitian ini tak mau terburu-buru menyimpulkan semuanya. Mengingat sekitar tujuh persen wanita yang diuji dalam penelitian menyatakan bahwa mereka tidak pernah menggunakan deodoran, sehingga kemungkinan lainnya paraben bisa masuk dari sumber lain, selain deodoran. noviar

Editor: Rosdiansyah


Kumpulan Penelitian Ilmiah Terbaru
Kumpulan Artikel Penelitian Kualitatif dan Kuantitatif Terbaru dan Akurat 
Sumber : http://www.lensaindonesia.com/

GRATIS PLUS HADIAH

Hosting Gratis