website trackingwebsite tracking

PTC..PELUANG DAPAT UANG HANYA DENGAN MODAL KLIK

Selasa, 19 Juni 2012

Peneliti AS Temukan Terobosan Baru dalam Pengobatan Leukimia


Ada terobosan baru dalam pengobatan leukemia, kanker darah yang sulit diobati dan biasanya fatal. Para peneliti di Universitas Pennsylvania, Philadelphia telah memodifikasi secara genetik sistem kekebalan sel T pasien, mengubahnya menjadi sel "pembunuh serial", yang kemudian diarahkan untuk melenyapkan kanker darah.

Gambar sel T pasien yang dimodifikasi (berwana cokelat), seperti terlihat lewat mikroskop. Sel T ini disuntikkan ke pasien setelah kemoterapi standar, dimasukkan pada sel-sel B kanker dalam sumsum tulang, sehingga setiap limfosit T mampu membunuh ribuan

sumber : http://www.voaindonesia.com

Viktor Pattianakotta

Peneliti : Sebagian Ibu Hamil Kekurangan Nutrisi Mikro



int
Direktur Riset Asia Pasifik Gizi Bayi Danone Dr Jacques Bindels mengatakan, 6 dari 10 ibu hamil di Indonesia mengalami kekurangan asupan nutrisi mikro seperti zat besi, seng, vitamin A dan C, serta asam folat.
Menurut Dr Jacques di Jakarta, Kamis, hasil tersebut didapat setelah melakukan studi dari Southeast Asian Food and Agricultural Science and Technology (SEAFAST), lembaga independen yang bernaung di bawah Institut Pertanian Bogor (IPB) dan studi ini dilakukan selama satu tahun, yaitu Agustus 2010 sampai Agustus 2011.

"Selain hasil yang cukup mengejutkan itu, ditemukan pula bahwa lebih dari 50 persen ibu hamil mengalami kekurangan asupan protein. Kondisi ini mendukung banyaknya masalah pada bayi yang baru lahir seperti prematur dan berat badan yang tidak sesuai," katanya.

Untuk itu, lanjut dia, pihaknya mengembangkan SGM Bunda Presinutri yang formulanya mengandung nutrisi esensial yang dibutuhkan ibu untuk melengkapi asupan makanan selama kehamilan dan menyusui dan dikembangkan secara presisi.

"Kekurangan nutrisi makro maupun mikro pada ibu hamil dan menyusui akan berdampak pada kualitas kesehatan anak pada masa mendatang," tambahnya..

Sementara itu, Manager Senior Merk SGM Bunda Presinutri Anie Zetga mengatakan dari survei yang dilakukan terungkap bahwa di Indonesia hanya satu dari tiga ibu hamil dari golongan ekonomi menengah ke bawah yang meminum susu khusus ibu hamil.

"Hal ini disebabkan mereka (ibu hamil) tidak menyukai rasa susu dan juga harga susu ibu hamil dan menyusui relatif kurang terjangkau bagi ibu hamil," kata Anie.

Oleh karenanya, tambah Anie, SGM Bunda Persinutri hadir dalam varian SGM Bunda Presinutri Hamil dan SGM Bunda Presinutri Menyusui dengan kesegaran rasa jeruk dan mangga yang dijual dengan harga terjangkau.

"Ibu hamil cukup menyisihkan Rp3.000 per hari untuk segelas SGM Bunda Presinutri guna membantu melengkapi kebutuhan nutrisi harian ibu hamil dan menyusui," katanya. (Ant)

Peneliti IPB Lahirkan Produk Pangan Mirip Beras


Bogor, (Analisa). Peneliti dari F-Technopark Institut Pertanian Bogor melahirkan produk pangan alternatif mirip beras, yang diberi nama "beras analog".
"Produk mirip beras yang kita kembangkan dibuat dari tepung lokalselain beras dan terigu," kata Direktur F-Tecnopark Fakultas Teknologi Pertanian IPB Dr Slamet Budijanto kepada ANTARA di Bogor,Jawa Barat, Minggu (15/4).

Ia menjelaskan, peneliti di perguruan tinggi dan badan penelitian, ada yang menyebutnya "beras artifical", "beras tiruan" dan lainnya.

Dikemukakannya bahwa produk pangan tersebut dirancang khusus untuk menghasilkan sifat fungsional dengan menggunakan bahan tepung lokal, seperti sorgum, sagu, umbi-umbian dan bisa ditambahkan "ingridient" pangan, seperti serat, antioksidan dan lainnya yang diinginkan.

Menurut dia, di luar negeri seperti China dan Filipina, diproduksidari beras menir menjadi beras utuh untuk kebutuhan fortifikasi vitamin atau mineral tertentu. "Di antaranya untuk fortifikasi zat besi," katanya menambahkan.

Mengenai teknologi pembuatannya, menurut dia, Technopark menggunakan teknologi ekstrusi menggunakan "tween screw extruder" dengan "dye" yang dirancang khusus dengan mengatur kondisi proses dan formulanya.

Secara umum, teknologi ekstrusi memungkinkan untuk melakukan serangkaian proses pengolahan seperti mencampur, menggiling, memask, mendinginkan, mengeringkan dan mencetak dalam satu rangkaian proses.

Rincian tahapan proses dalam pembuatan beras analog itu, pertama melakukan formulasi penimbangan bahan-bahan yang diperlukan, kedua pencampuran dengan menggunakan "mixer" sampai campuran bahan rata (homogen).

Ketiga, penambahan air dan dilakukan pencampuran menggunakan "mixer" sampai air bercampur dengan baik dan rata. Keempat, bahan yang tercampur dengan baik dimasukkan ke dalam "hopper".

Tahap kelima, adonan dilakukan ke dalam ekstruder dengan kondisi proses dengan mengatur T, V "auger", V "screew", dan V "piasu", sehingga didapatkan bentuk beras yang diinginkan.

Sedangkan tahapan keenam pengeringan dan ketujuh pengemasan.

Mengenai bahan baku, ia menjelaskan yang digunakan dari sumber karbohidrat adalah tepung umbi-umbian, seperti ubikayu, ubijalar, talas, garut ganyong dan umbi lainnya, tepung jagung, tepung sorgum, tepung hotong, sagu, dan sagu aren.

Untuk sumber protein berasal dari kedelai, kacang merah atau sumber lainnya.

Sedangkan "ingridient" lainnya berupa "stabilized rice bran" (sumber seratI, minyak merah (antioksidan), vitamin, mineral, serta "ingridient" lainnya.

Keunggulan

Ia mengemukakan bahwa beberapa keunggulan dari produk tersebut adalah lebih awet, pada waktu menanak tidak perlu pencucian, dapat dimasak persis beras.

Kemudian, dapat dirancang khusus untuk menghasilkan produk beras analog dengan fungsional tertentu, misalnya beras analog untuk penderita diabetes, yakni dengan indeks glisemiks rendah.

"Atau beras dengan kandungan serat tinggi, dan untuk keperluan fortifikai dan lainnya yang sangat didapatkan dari beras konvensional," katanya.

Dikemukakannya bahwa keunggulan utama lainnya adalah produk pangan tersebut menggunakan bahan baku lokal 100 persen.

Sedangkan kelemahannya, kata dia, dari beberapa kajian yang telah dilakukan dan studi referensi, biaya produksi produk pangan tersebut masih relatif mahal, sekitar Rp9.000 hingga Rp14.000 per kilogram, tergantung "ingridient" yang digunakan.

"Kelemahan lainnya, warnanya belum dapat menyerupai beras putih," katanya.

Namun, Slamet Budijanto optimistis dengan penelitian lanjutan, ke depan kelemahan tersebut bisa diperbaiki. (Ant)
http://www.analisadaily.com

Peneliti Temukan Protein yang Bisa Tingkatkan Kemanjuran Vaksin

Para pakar di Irlandia telah menemukan semacam tombol untuk menghidupkan dan mematikan kekebalan tubuh dalam protein yang disebut “off-switch,” yang memungkinkan dokter mengontrol kekebalan tubuh terhadap penyakit, dan bisa meningkatkan kemanjuran vaksin melawan penyakit, seperti HIV dan malaria.



Tombol “off-switch” itu adalah protein yang disebut TMED7. Para peneliti pada Universitas Trinity di Dublin, Irlandia, mengatakan, dalam sel-sel normal dan sehat, protein itu menenangkan sistem kekebalan tubuh setelah membasmi bakteri.
Anne McGettrick, salah seorang kepala penelitian yang menemukan TMED7 itu, mengumpamakan sistem kekebalan tubuh itu dengan orkes yang terdiri dari banyak alat musik yang berbeda, dan TMED 7 adalah salah satu dari alat musik itu. TMED7 merupakan protein pertama yang merupakan pengatur penting sistem kekebalan itu.
Ia mengatakan, “Mengapa itu membuat kami merasa gembira, karena semakin banyak kita bisa memahami sebagian kecil saja sistem kekebalan tubuh kita, dan semakin kita memahami bagaimana setiap sel bekerja, semakin mungkin kita memahami apa yang terjadi kalau kita sakit – mengapa orang menunjukkan gejala berbeda – dan ketika sistem kekebalan tubuh tidak berfungsi, kita bisa menelusuri apa yang tidak beres.”
Apabila TMED7 tidak berfungsi sebagai rem, ujar McGettrick, sistem kekebalan itu akan kacau setelah menetralisir infeksi bakteri.
Para peneliti menon-aktifkan protein itu dan kemudian menulari sel-sel itu dengan bakteri. Mereka menemukan reaksi sel-sel kekebalan tubuh menjadi terlalu aktif.
McGettrick yakin pembuatan obat-obatan, atau modifikasi vaksin, yang memperkuat sistem kekebalan tubuh dengan memisahkan TMED7 dari sel-sel bisa membantu mendorong kemanjuran vaksin melawan HIV dan malaria. Vaksin bekerja lebih baik jika sistem kekebalan tubuh kuat.
Artikel mengenai penemuan protein “off-switch” sistem kekebalan tubuh, TMED7, yang ditulis Anne McGettrick dan rekan-rekannya diterbitkan dalam Nature Communcation.
http://www.voaindonesia.com

Terobosan Baru untuk Atasi Penyakit Malaria


Sebuah terobosan baru dalam dunia kedokteran, ilmuwan Amerika mengatakan bahwa analisis atas sejenis protein vital di dalam parasit penyebab malaria menunjukkan kelemahan dalam parasit mikroskopik ini dan memberi titik awal yang baik untuk obat anti-malaria baru.


Parasit Plasmodium Falciparum, protozoa satu sel yang hidup dalam nyamuk dan menyebabkan tipe malaria yang paling mematikan, di antara sel-sel darah.

Sekelompok ilmuwan di Universitas Washington di St. Louis, Missouri, menghabiskan enam tahun dalam upaya mereka memahami struktur dan fungsi protein yang sangat penting untuk kelangsungan hidupPlasmodium Falciparum.
Ini adalah protozoa satu sel yang hidup dalam nyamuk dan menyebabkan tipe malaria yang paling mematikan. Parasit miskroskopis ini membutuhkan protein jenis ini – enzim yang disebut PMT – untuk membuat membran sel-selnya, dan tak dapat hidup tanpa protein ini.
Joseph Jez, yang memimpin tim penelitian, mengatakan bahwa memecahkan kode desain PMT ini seperti menemukan kelemahan fatal malaria.
"Jika kita dapat membidik protein tersebut dan pada dasarnya membunuh aktivitas protein tersebut, kita bisa mematikan produksi bahan dasar membran yang selanjutnya dapat mematikan organisme ini atau memperlambat pertumbuhannya,” paparnya.
Dr. Jez dan timnya menggunakan metode rumit yang disebut kristalisasi protein untuk dapat mengamati struktur molekul PMT dalam tiga dimensi. Ia mengatakan metode ini sangat penting untuk penelitian mereka.
"Jika kita dapat memahami bagaimana bentuk molekul ini dalam tiga dimensi, maka kita dapat membuat obat yang dapat membidik protein tersebut secara spesifik,” ujarnya.
Dr. Jez menambahkan bahwa karena Plasmodium PMT tidak dapat ditemukan dalam sel manusia, semua obat yang ditujukan pada protein ini dapat dengan aman diberikan kepada manusia.
Dr. Neeraj Mistry adalah direktur pelaksana Jaringan Global untuk Penyakit Tropis yang Terabaikan.Ia mengatakan bahwa riset ini merupakan langkah penting ke arah ditemukannya obat baru yang ampuh dan aman untuk memerangi wabah malaria.
"Penemuan ini membuka pintu ke arah pengembangan obat baru yang secara spesifik hanya akan mempengaruhi parasitnya. Hal ini juga berarti bahwa begitu jalan ini teridentifikasi, kita mungkin akan dapat menghasilkan obat yang unik, yang benar-benar mempengaruhi parasit malaria tersebut,” ujarnya.
Upaya untuk mengidentifikasi senyawa yang menarget Plasmodium PMT baru saja dimulai. Namun penelitian Universitas Washington ini memberi harapan baru, bukan saja untuk obat anti malaria baru, namun juga untuk zat yang dapat membasmi berbagai ulat parasit penyebab penyakit dan juga tumbuhan gulma yang semuanya bergantung pada protein PMT yang sama.
http://www.voaindonesia.com

Tak Selalu Harus Diobati, Batuk Kadang Cuma Ada di Pikiran



img
Ilustrasi (dok: Thinkstock)
Jakarta, Banyak orang terlalu menggantungkan diri pada obat ketika mulai mengeluh batuk-batuk. Padahal menurut penelitian, terkadang batuk hanya ada di pikiran dan tetap sembuh meski cuma diberi obat palsu yang sebenarnya tidak ada isinya.

Penelitian yang dilakukan di University of Queensland ini melibatkan 21 orang dewasa yang diminta menghirup uap menyengat yang mengandung capcaicin. Uap ini dibuat dari saripati cabe, yang dalam penelitian ini difungsikan sebagai perangsang batuk.

Sebelumnya, sebagian partisipan diminta menghirup obat semprot yang oleh peneliti dikatakan mengandung anestesi lokal bernama lidocain. Secara teori, pemberian lidokain akan meredam respons batuk, sehingga partisipan lebih tahan menghirup uap cabe tanpa batuk-batuk.

Benar saja, partisipan yang lebih dulu disemprot obat sebelum menghirup uap cabe lebih sedikit yang batuk-batuk. Rangsang batuk yang dialami para partisipan di kelompok ini 45 persen lebih rendan dibanding partisipan yang tidak disemprot obat apapun.

Namun seusai penelitian, para ilmuwan mengungkap bahwa ternyata obat yang disemprotkan adalah plasebo alias obat kosong sehingga tidak secara langsung mempengaruhi repons batuk. Artinya tanpa diobati, sebenarnya batuk bisa diatasi sendiri dengan cara mengontrol pikiran.

"Saya sangat terkejut melihat betapa besarnya respons partisipan terhadap penggunaan plasebo. Ini sangat besar," kata Stuart Mazzone yang memimpin penelitian ini seperti dikutip dari Dailymail, Selasa (19/6/2012).

Sebelumnya, penelitian di Cardiff University juga pernah mengungkap bahwa efek plasebo memang bekerja pada keluhan batuk-batuk ringan. Tingkat kesembuhan pada pasien yang diberi plasebo atau obat kosong sama saja dengan yang diberi obat batuk sungguhan.

"Saya pikir kuncinya adalah, bahwa jika pasien percaya pada pengobatannya maka apapun obatnya (termasuk obat kosong) tetap akan muncul efeknya," kata Ronald Eccles, seorang peneliti dari Cardiff University.




AN Uyung Pramudiarja - detikHealth

Selasa, 19/06/2012 19:02 WIB 

Kunci Pengobatan Malaria Mungkin Ada dalam Darah Pasien


Penelitian baru menunjukkan bahwa salah satu kunci untuk mengendalikan penyakit malaria kemungkinan ada di dalam darah pasien
Parasit Plasmodium Falciparum, protozoa satu sel yang hidup dalam nyamuk dan menyebabkan tipe malaria yang paling mematikan, tampak di antara sel-sel darah.



S
ebuah tim ilmuwan menemukan cara dengan menggunakan sampel darah untuk mengidentifikasi perubahan genetik penting dalam parasit penyebab malaria. Analisa ini, yang dijelaskan jurnal ilmiah Nature edisi13 Juni, dapat membantu peneliti mengidentifikasi "hot spot" di seluruh dunia di mana parasit berkembang paling cepat dan kebal terhadap obat anti malaria konvensional. 

Malaria sering ditemui di daerah tropis. Lebih dari 200 juta orang terjangkit penyakit ini setiap tahunnya, dan hampir 2.000 orang meninggal setiap hari - kebanyakan anak-anak balita.

Walaupun puluhan tahun dilakukan penelitian, dokter masih belum memiliki vaksin malaria. Dan Plasmodium falciparum, parasit penyebab penyakit ini, dengan cepat mengembangkan kekebalan terhadap obat yang dipakai untuk melawannya. Berbagai varietas parasit malaria yang kebal obat berkembang di berbagai wilayah dunia, dan para ilmuwan kesulitan melacak perubahan genetik yang cukup cepat untuk mencegah wabah penyakit baru.

Sebuah tim peneliti yang dipimpin oleh Dominic Kwiatkowski dari Universitas Oxford di Inggris mengembangkan metode untuk mengekstrak DNA parasit malaria langsung dari darah manusia dan menentukan perubahan genetik menit ke menit untuk memahami penyebabnya. Ini menghilangkan proses penumbuhan parasit yang lama di laboratorium sebelum gen parasit itu dapat diuraikan.
http://www.voaindonesia.com

GRATIS PLUS HADIAH

Hosting Gratis