website trackingwebsite tracking

PTC..PELUANG DAPAT UANG HANYA DENGAN MODAL KLIK

Senin, 11 Juni 2012

Minum Soda Sebabkan Turunnya Produksi Sperma?


Linda Mayasari - detikHealth

img
(Foto: Thinkstock)
Jakarta, Soda memang minuman yang banyak digemari karena rasanya yang enak. Tetapi apakah konsumsi soda yang berlebihan berpengaruh terhadap kesehatan reproduksi Anda, terutama produsi sperma?

Sebuah badan militer di Denmark melakukan pemeriksaan kesehatan terhadap lebih dari 2.500 pria usia 18 tahun yang akan menjalani tes masuk layanan militer. Penelitian tersebut dilakukan antara tahun 2001 dan 2006.

Pada waktu itu, subyek penelitian adalah tentang faktor gaya hidup, termasuk pola makan. Penelitian ini awalnya dilakukan untuk menguji pengaruh kafein terhadap kualitas sperma dan kuantitas.

Tetapi kemudian para peneliti juga tertarik dengan konsumsi soda di kalangan pemuda yang terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir ini. Studi ini tidak menemukan bahwa konsumsi kafein yang tinggi terkait dengan penurunan jumlah produksi sperma.

Penelitian menunjukkan hasil lain yaitu pengaruh minuman bersoda terhadap produksi sperma. Pria yang minum satu liter atau lebih minuman bersoda sehari memproduksi sperma sekitar 3.500 mililiter. Pria yang tidak minum minuman bersoda memproduksi sperma sekitar 5.000 mililiter per harinya.

Sementara kedua jumlah sperma tersebut masih berada dalam kisaran normal, pria dengan jumlah sperma lebih rendah memiliki risiko yang lebih tinggi terhadap masalah kesuburan. Efek ini tampaknya tidak disebabkan oleh kandungan kafein dalam minuman bersoda, karena tidak terlihat pada peminum kopi atau teh.

Para peminum soda umumnya makan lebih banyak dan lebih cepat dibanding orang yang minum air putih ketika makan. Ketika Anda minum soda, Anda akan lebih memilih makan makanan ringan yang asin daripada sayuran dan buah-buahan. Konsumsi soda yang berlebihan termasuk gaya hidup yang kurang sehat dan bisa bertanggung jawab terhadap penurunan sperma.

Penelitian ini diterbitkan dalam American Journal of Epidemiologypada tanggal 15 April 2010, seperti dilansir darithedoctorwillseeyounow, Selasa (12/6/2012).

Detik.com

Serangan Jantung di Pagi Hari Lebih Mematikan


AN Uyung Pramudiarja - detikHealth

img
foto: Thinkstock
Madrid, Risiko kematian selalu tinggi ketika terjadi serangan jantung. Namun jika terjadi pada pagi hari, serangan jantung 20 persen lebih berisiko memicu kematian dibandingkan serangan jantung yang terjadi di waktu-waktu lain sepanjang hari.

Berbagai penelitian sebelumnya memang menunjukkan bahwa serangan jantung lebih sering terjadi pada pagi hari. Meski begitu, belum ada yang membandingkan risiko kematian akibat serangan jantung yang terjadi pada waktu-waktu tertentu termasuk di pagi hari.

Baru-baru ini, para peneliti dari National Center of Cardiovascular Disease di Spanyol berhasil mengaitkan risiko kematian dengan waktu terjadinya serangan jantung. Serangan jantung yang terjadi antara pukul 6 pagi hingga tengah hari paling mematikan dibandingkan pada waktu lainnya.

Peningkatan risiko kematian pada serangan jantung yang terjadi di pagi hari cukup tinggi, yakni seitar 20 persen. Diduga, pemicunya adalah sistem hormonal dan metabolisme yang mengalami peningkatan aktivitas pada pagi hari setelah bangun tidur.

Peningkatan tekanan darah di pagi hari juga diyakini juga ikut mempengaruhi meski pendapat ini masih kontroversial. Sebab penelitian terbaru di Harvard Medical School menunjukkan, jam biologis manusia justru membuat tekanan darah turun ke titik terendah pada pagi hari.

Penelitian tersebut melibatkan 811 pasien serangan jantung yang dirawat di berbagai rumah sakit di kota Madrid, antara tahun 2003-2009. Dikutip dari Dailymail, Jumat (29/4/2011), sebagian besar partisipan mengalami infark myokardiak, yakni serangan jantung yang dipicu penyumbatan pembuluh darah yang berkepanjangan.

Sesuai dengan penelitian-penelitian terdahulu, sebagian besar partisipan yakni 269 orang mengalami serangan jantung antara pukul 6 pagi hingga tengah hari. Sisanya, 240 orang mengalaminya antara tengah hari hingga pukul 6 sore, 161 antara pukul 6 sore hingga tengah malam dan 141 antara tengah malam hingga pukul 6 pagi.


Sumber : detik.com

Operasi Jantung Bisa Akibatkan Kehilangan Ingatan?


Putro Agus Harnowo - detikHealth

img
(Foto: thinkstock)
Durham, North Carolina,Tidak ada suatu prosedur pengobatan yang tidak berisiko, begitu pula operasi jantung yang menyangkut nyawa seseorang. Seorang pasien jantung di Jerman, mengalami penurunan kemampuan berpikir dan kemampuan mengingat beberapa bulan setelah operasi bypass jantung.

Dokter telah lama mengkhawatirkan dampak penurunan kemampuan mental ini pada pasien yang menjalani operasi bypass cangkok arteri koroner atau coronary artery bypass grafting (CABG).

Dan ternyata memang benar, hilang ingatan lebih banyak terjadi setelah menjalani operasi tersebut. Pasien yang menjalani CABG kebanyakan memiliki penyakit aterosklerosis (penebalan dinding pembuluh darah) koroner yang parah.

"Penurunan kemampuan mental setelah operasi ini lebih berhubungan dengan tingkat keparahan aterosklerosis daripada karena operasi itu sendiri," kata Dr Mark Newman dari Duke University Medical Centre di Durham, North Carolina, yang tidak terlibat dalam penelitian ini seperti dilansir Health24.com, Rabu (9/11/2011).

Untuk memastikan hal itu, para peneliti ini memantau 37 orang pasien yang menjalani prosedur stent dan menjalani CABG 47. Sebagian besar pasien berusia 60-an dan awal 70-an. Metode stent adalah prosedur dimana adalah sebuah tabung buatan dimasukkan ke dalam pembuluh darah untuk mencegah atau mengatasi penyempitan aliran darah.

Peserta diberi tes kemampuan berpikir dan memori sebelum operasi dan tiga bulan setelahnya. Setelah beberapa bulan, pasien dalam kelompok stent lebih banyak mengalami penurunan skor pada dua tes dari sepuluh tes yang diberikan dibandingkan dengan kelompok kontrol. Namun skor pada pasien bypass menurun pada tujuh tes dari sepuluh tes.

"Yang belum jelas adalah, seberapa banyak perubahan kemampuan mental yang benar-benar mengganggu kehidupan pasien setelah menjalani operasi jantung?" kata peneliti, Dr. Tibo Gerriets dari Universitas Justus Liebig di Giessen.

Dr Newman menduga bahwa untuk beberapa pasien, perubahan kemampuan berpikir dan kemampuan memori mungkin terasa perbedaannya antara hidup mandiri dengan membutuhkan bantuan orang lain. Namun tidak semua ahli spakat dengan hasil penelitian yang dimuat dalam Journal American Heart ini.

Dr Todd Rosengart, kepala bedah kardiotoraks di Stony Brook University Medical Centre di New York, mengatakan bahwa risiko penurunan kemampuan mental setelah operasi bypass tergantung pada prosedur yang dilakukan. Ia mencurigai bahwa pasien dalam penelitian ini tidak ditangani dengan teknik yang baik.

"Prosedur yang baik bukan berarti hanya berhasil menyelesaikan operasi tanpa menyebabkan kematian, namun juga membuat pasien berada dalam kondisi yang yang paling baik," pungkasn
(ir/ir


sumber : detik.com

Obat Darah Tinggi Malah Bahaya Jika Minumnya Tidak Teratur


AN Uyung Pramudiarja - detikHealth

img
foto: Thinkstock
Jakarta, Tidak semua kasus hipertensi atau tekanan darah tinggi perlu diobati, kadang cukup dengan perubahan gaya hidup. Namun jika dokter sudah memberikan obat, maka harus diminum secara rutin sebab jika tidak risikonya malah bisa berbahaya.

Pesan itu disampaikan oleh ahli jantung dari RS Siloam Lippo Karawaci, Dr Antonia Anna Lukito, SpJP-FIKA dalam pemaparan hasil studi CRUCIAL. Studi internasional tentang hipertensi ini dilakukan oleh Pfizer dan melibatkan 1.461 pasien dari 19 negara di Asia, Timur Tengah, Eropa dan Amerika Latin.

Menurut Dr Anna, obat hipertensi yang diminum tidak teratur sama bahayanya dengan hipertensi yang tidak diobati. Risiko terburuknya adalah komplikasi di 4 organ utama yakni stroke di otak, gagal ginjal, serangan jantung dan kerusakan pembuluh darah di mata atau retinopati.

"Sebelum memberi obat, pasien selalu kita edukasi sejak awal bahwa pengobatannya harus teratur. Kalau nggak bisa teratur, mendingan nggak usah sama sekali karena nggak ada gunanya," ungkap Dr Anna di Restoran Kembang Goela, Rabu (12/10/2011).

Dr Anna menambahkan, fungsi obat hipertensi tidak hanya menurunkan tekanan darah tetapi juga mencegah timbulnya komplikasi jangka panjang. Risiko ini sering tidak disadari oleh pasien, sehingga sering menghentikan pengobatan saat gejalanya sudah tidak terasa.

Sementara itu, spesialis penyakit dalam dari RS Cipto Mangunkusumo, Prof Dr Lukman Hakim, SpPD-KKV mengatakan ketidakpatuhan dalam minum obat hipertensi juga bisa memicu rebound. Artinya tekanan darah yang sudah turun saat diobati tiba-tiba bisa melonjak lebih tinggi saat obat dihentikan.

Kalau hanya sesekali tidak minum obat karena lupa, mungkin efeknya tidak akan terlalu signifikan. Pasien dikatakan tidak patuh dan berisiko tinggi mengalami rebound jika terlalu sering menghentikan pengobatan saat merasa tubuhnya baik-baik saja.

"Kalau memang gejalanya berkurang, dokter akan menurunkan dosisnya dan tidak menghentikan pengobatan sama sekali. Kadang-kadang pasien tidak tahu kondisi yang sebenarnya sehingga memang harus rajin-rajin kontrol ke dokter," kata Prof Lukman.

CRUCIAL merupakan studi tentang pengobatan hipertensi yang dilakukan di 19 negara termasuk Indonesia. Penelitian ini membuktikan, pengobatan dengan satu tablet kombinasi dapat meningkatkan kepatuhan minum obat dibandingkan beberapa tablet dan bisa menunda risiko serangan jantung hingga 10 pers
(up/ir
Sumber : detik.com

Kaos Cerdas yang Bisa Memonitor Denyut Jantung dan Suhu Tubuh


Merry Wahyuningsih - detikHealth

img
(dok. dailymail)
Madrid, Untuk memonitor detak jantung, biasanya pasien harus berada di tempat tidur dengan beberapa kabel terhubung ke monitor. Kini hal itu bisa dilakukan sambil berjalan karena ilmuwan mengembangkan kaos cerdas yang bisa memonitor denyut jantung dan suhu tubuh.

Para ilmuwan di Spanyol telah berhasil mengembangkan T-shirt atau kaos cerdas yang dapat memantau denyut jantang dan suhu tubuh seseorang dengan baik. Kaos cerdas tersebut akan bisa dijual dalam enam bulan.

Kaos cerdas tersebut terbuat dari 'e-tekstil' konduktif yang memiliki elektroda terintegrasi ke kain. Bahan ini digunakan untuk mengukur denyut jantung seseorang dan bahkan bisa digunakan untuk EKG (elektrokardiogram).

Data mentah dikumpulkan oleh 'perangkat akuisisi' (acquisition device/AD) yang dikenakan di leher di bagian dalam T-shirt, kemudian mengirimkan secara nirkabel (wireless) ke sistem manajemen yang akan manfsirkan hasilnya.

AD juga berisi sebuah termometer yang menekan melawan kulit dan accelerometer, yang akan mengungkapkan suhu pasien saat berbaring atau duduk dan seberapa aktif mereka.

"Ide dari perangkat ini agar tidak mengganggu (non-intrusive). Pasien dapat memonitor denyut jantung tanpa kabel karena platform nirkabel, sehingga mereka bisa berada di tempat tidur atau berjalan-jalan seperti yang mereka inginkan," ungkap Jose Ignacio Moreno, dari Carlos III University di Madrid, seperti dilansir Dailymail, Selasa (4/10/2011).

Sistem ini juga memiliki alarm yang dapat disesuaikan dokter untuk setiap pasien sehingga memancarkan peringatan jika suhu atau denyut jantung meningkat ke tingkat yang berbahaya bagi pasien.

Kaos cerdans yang dikembangkan oleh perusahaan Textronics bahkan dapat dicuci untuk menjaga kualitas agar menghilangkan kuman rumah sakit. Kaos yang diberi nama 'Lobin healthcare-monitoring system' dikembangkan selama 18 bulan oleh empat perusahaan Spanyol dalam kemitraan dengan Jose Moreno, Gregorio Lopez dan Victor Custodio di Carlos III University, Madrid.

Kaos ini juga telah diuji coba tahun 2010 pada 5 pasien di Unit Kardiologi La Paz Hospital di Madrid. Para peneliti mengatakan percobaan tiga bulan menghasilkan hasil menjanjikan yang sebanding dengan monitor tradisional, selama pasien tidak melakukan gerakan tiba-tiba seperti melompat.

"Dalam jangka pendek T-shirt tidak bertujuan untuk menggantikan perangkat konvensional EKG. Namun, T-shirt dapat digunakan untuk memantau pasien dengan status waktu yang cukup lama," tutup Moreno.


sumber : detik.com

Insomnia Tingkatkan Risiko Serangan Jantung


Putro Agus Harnowo - detikHealth


Jakarta,
 Orang yang mengalami kesulitan tidur memiliki risiko serangan jantung yang lebih tinggi. Hubungan antara insomnia dan peningkatan risiko serangan jantung memang masih belum jelas, tapi gangguan tidur berpengaruh terhadap tekanan darah dan peradangan yang bisa menjadi faktor risiko serangan jantung.
"Insomnia cukup umum dan mudah diobati. Penting bagi orang-orang untuk menyadari hubungan antara insomnia dan serangan jantung. Sebaiknya berkonsultasilah dengan dokter jika memiliki gangguan tidur," kata Dr Lars Erik Laugsand, internis dari Norwegian University of Science and Technology di Trondheim.

Laugsand bersama timnya mengumpulkan data pada hampir 53.000 orang pria dan wanita yang berpartisipasi dalam survei kesehatan nasional di tahun 1995 hingga 1997 dan diminta menjawab pertanyaan tentang kebiasaan tidurnya. Para peneliti juga mengidentifikasi hampir 2.400 orang yang mengalami serangan jantung pertama selama 11 tahun berikutnya.

Para peneliti menemukan bahwa orang yang mengalami kesulitan tidur hampir setiap hari mengalami 45 persen peningkatan risiko serangan jantung, dibandingkan dengan mereka yang tidak mengalami gangguan tidur.

Selain itu, orang yang mengalami kesulitan untuk tetap tertidur memiliki risiko 30 persen lebih tinggi terkena serangan jantung dibandingkan dengan yang tidak memiliki kesulitan untuk tetap tidur. Orang yang tidak merasa segar setelah tidur malam juga memiliki 27 persen peningkatan risiko serangan jantung, dibandingkan dengan yang merasa segar.

Menurut para peneliti, 33 persen dari populasi umum setidaknya memiliki satu gejala insomnia. Selain itu, kajian sebelumnya yang lebih kecil telah menemukan hubungan antara penyakit jantung dan insomnia serta tekanan darah tinggi dan serangan jantung.

Penelitian yang dilansir HealthDay, Selasa (25/20/2011) ini juga mencatat ada dua keterbatasan penting yang perlu diperhatikan. Pertama, peneliti tidak mempertimbangkan apnea tidur obstruktif, gangguan yang menyebabkan tidur terganggu karena jeda pernapasan selama tidur. Kedua, hasil ini mungkin tidak berlaku untuk Amerika karena jam dan pola tidur yang berbeda dengan Norwegia.

Temuan ini hanyalah sebatas hubungan dan sebab akibatnya belum terbukti. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengkonfirmasi temuan dan mengungkap mekanisme yang mungkin menyebabkan hubungan tersebut.

"Kajian sebelumnya telah menghasilkan hasil yang beragam dan masih belum diketahui apakah tidur yang lebih nyenyak menghasilkan jantung yang sehat," kata Dr. Gregg Fonarow, profesor kardiologi di University of California, Los Angeles dan juru bicara American Heart Association.

"Satu penjelasan yang mungkin untuk temuan ini adalah bahwa semua proses metabolisme dalam tubuh diatur oleh apa yang disebut irama sirkadian yang bervariasi antara siklus tidur-bangun," kata Dr Edward A. Fisher, The Leon H. Charney Profesor Kedokteran Kardiovaskular di Langone NYU Medical Center di New York City.

"Telah diketahui bahwa hewan yang terganggu ritme sirkadiannya berisiko mengalami perubahan metabolisme. Jika hal ini terjadi pada manusia, akan meningkatkan risiko penyakit jantung," ujar Fish
(ir/ir


Sumber : detik.com

Jus Semangka Bisa Kurangi Risiko Sakit Jantung


Putro Agus Harnowo, AN Uyung Pramudiarja - detikHealth

img
Ilustrasi (foto: Thinkstock)
Jakarta, Bukan hanya segar untuk disantap saat cuaca sedang panas, semangka juga bagus untuk menjaga kesehatan jantung. Menurut penelitian, jus semangka bisa mencegah atherosclerosis atau kerusakan pembuluh darah akibat penumpukan kolesterol.

Sebuah eksperimen yang dilakukan baru-baru ini di University of Kentucky berhasil membuktikan manfaat tersebut. Meski baru diujikan pada tikus, namun hasil penelitian ini diyakini akan memberi harapan yang sangat besar untuk diterapkan pada manusia.

Dalam eksperimen tersebut, beberapa ekor tikus diberi makan dengan kandungan kolesterol tinggi kemudian dibagi menjadi 2 kelompok. Kelompok pertama diberi jus semangka setiap hari, sedangkan kelompok satunya dijadikan sebagai pembanding dan hanya diberi air putih.

Pada pekan ke-8, para peneliti mengamati kandungan kolesterol dalam darah para tikus, memeriksa kondisi pembuluh darah dan menghitung risiko terserang penyakit jantung. Dari berbagai komponen tersebut, tikus yang mendapat jus semangka setiap hari tampak lebih sehat.

"Semangka punya banyak manfaat, salah satunya mencegah atherosclerosis. Tujuan kami nantinya adalah mengidentifikasi senyawa berkhasiatnya, lalu menerapkannya pada manusia," ungkap Dr Sibu Saha yang memimpin penelitian itu seperti dikutip dari Eurekalert, Senin (31/10/2011).

Tikus yang mendapat jus semangka setiap hari teramati memiliki kadar kolesterol jahat yang lebih rendah di dalam darahnya. Demikian juga ketika diperiksa pembuluh darahnya, penebalan yang mencirikan gejala atherosclerosis tidak teramati pada kelompok ini.

Atherosclerosis merupakan kondisi penebalan pembuluh darah yang terjadi akibat penumpukan kolesterol, serta menjadi salah satu faktor risiko stroke dan serangan jantung. Penebalan ini membuat dinding pembuluh darah tidak elastis, sehingga mudah pecah saat terjadi perubahan tekanan dar
(up/ir


sumber : detik.com

Mengapa Pria Lebih Sering Kena Serangan Jantung?

AN Uyung Pramudiarja - detikHealth
img
foto: Thinkstock
Jakarta, Ketika bicara tentang ancaman serangan jantung, umumnya pria dianggap lebih rentan dibandingkan wanita. Anggapan ini ada benarnya, sebab hingga usia tertentu pria memiliki lebih banyak faktor risiko untuk mengalami masalah kardiovaskular. 

Salah satu faktor yang menyebabkan pria lebih rentan mengalami serangan jantung adalah konsumsi garam. Umumnya pria lebih banyak mengkonsumsi garam, padahal natrium dalam garam bisa meningkatkan tekanan darah sekaligus risiko serangan jantung. 

Dikutip dari USDA.gov, Senin (7/2/2011), survei di Amerika Serikat mengungkap bahwa pria mengonsumsi garam rata-rata 10 gram/hari sementara wanita hanya 7 gram/hari. Padahal asupan natrium yang disarankan tidak lebih dari 2,4 gram atau sekitar 6 gram garam dapur. 

Survei yang dilakukan tahun 1997 tersebut mengungkap, para pria mendapat garam lebih banyak karena lebih sering mengonsumsi junk food atau makanan cepat saji. Di antaranya dari masakan-masakan yang memiliki cita rasa sangat kuat seperti pizza, cheesse burger dan kentang goreng (french fries). 

Faktor lainnya adalah kondisi hormonal. Pada wanita yang masih mendapatkan menstruasi teratur, jantung dan sistemn peredaran darahnya dilindungi oleh hormon-hormon tertentu yang membuatnya lebih kuat dan tidak mudah mengalami gangguan seperti pada pria. 

Selama belum memasuki usia menopause, wanita cenderung lebih aman dari serangan jantung kecuali jika memiliki faktor-faktor risiko lain. Faktor-faktor yang meningkatkan risiko serangan jantung pada wanita di usia subur antara lain diabetes dan kadar kolesterol di atas 260 mg (6,5 mmol). 

Namun setelah masuk menopause dan siklus menstruasi berhenti, risiko serangan jantung pada wanita akan semakin menyamai pria. Statistik tahun 1990 menunjukkan pada usia 65 tahun ke atas, 56 persen kematian akibat serangan jantung di Amerika Serikat terjadi pada wanita dan 44 persen sisanya terjadi pada pria. 

Berikut ini perbandingan risiko serangan jantung antara pria dan wanita berdasarkan usianya.
Usia (tahun)Rasio PriaRasio Wanita
351001
40201
50101
6552
7054
7511
Serangan jantung memiliki tanda-tanda:
  1. Rasa tertekan (serasa ditimpa beban, sakit, terjepit dan terbakar) yang menyebabkan sesak napas dan tercekik di leher.
  2. Rasa sakit ini bisa menjalar ke lengan kiri,leher dan punggung.
  3. Rasa sakitnya bisa berlangsung sekitar 15-20 menit dan terjadi secara terus menerus.
  4. Timbul keringat dingin, tubuh lemah, jantung berdebar dan bahkan hingga pingsan.
  5. Rasa sakit ini bisa berkurang saat sedang istirahat, tapi akan bertambah berat jika sedang beraktivit
    (up/ir

sumber : detik.com

Kebiasaan Baik untuk Menjaga Kesehatan Jantung


AN Uyung Pramudiarja - detikHealth

img
foto: Thinkstock
New York, Untuk bisa mendapatkan umur panjang, jantung adalah salah satu organ yang mutlak harus dijaga kesehatannya. Gangguan jantung bisa sangat mematikan, oleh karena itu pencegahan menjadi langkah paling bijak untuk menghindari kematian mendadak akibat serangan jantung.

Holly Andersen, peneliti dari Ronald O Perelman Heart Institute di New York menjelaskan beberapa kebiasaan baik yang bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari agar jantung terjaga kesehatannya. Mulai dari hal sepele seperti berjalan kaki hingga mengetahui angka-angka vital.

Dikutip dari Indiavision, Kamis (13/1/2011), berikut ini kebiasaan-kebiasaan baik yang dimaksud.

1. Ketahui angka-angka vitalSebelum ada masalah dengan jantung, ada baiknya untuk mengetahui angka-angka penting yang merupakan indikator kesehatan jantung. Di antaranya adalah tekanan darah, denyut nadi, kadar lemak total, kolesterol dan trigliserida.

2. Berjalan kakiKesibukan dan aktivitas yang selalu padat jangan dijadikan alasan untuk tidak pernah berolahraga. Sesekali tinggalkan kendaraan pribadi lalu berjalan kaki menuju halte terdekat untuk naik angkutan umum ke kantor. Cukup dengan berjalan kaki selama 20-30 menit sehari, risiko kematian dini akibat serangan jantung bisa dikurangi hingga 50 persen.

3. Tertawa sesering mungkinKalaupun untuk sekedar berjalan kaki saja masih sulit untuk meluangkan waktu, cobalah untuk lebih sering tertawa. Bicara soal pembakaran kalori, tertawa terbahak-bahak selama 15 menit bisa disetarakan dengan aerobik selama 30 menit. Tertawa juga menekan pelepasan hormon stres kortisol, sehingga tekanan darah lebih terkendali.

4. Perhatikan lingkar pinggangKesalahan yang sering terjadi adalah orang terlalu mengkhawatirkan berat badan, padahal faktor risiko sindrom metabolik dan berbagai masalah jantung justru lebih banyak berhubungan dengan lingkar pinggang. Obesitas sentral atau perut buncit menandakan perlemakan hati yang menyebabkan kadar kolesterol sulit dikontrol.

5. Tidur yang cukupBergadang hingga larut malam tidak hanya membuat tubuh cepat merasa letih keesokan harinya. Kurang tidur juga bisa meningkatkan stres dan tekanan darah sehingga bisa memberikan dampak buruk bagi kesehatan jantung. Kelihatannya sepele tapi istirahat yang cukup merupakan syarat penting yang harus dipenuhi jika ingin berumur panja
(up/ir


sumber : detik.com

Ibuprofen Memicu Stroke pada Pemakaian Jangka Panjang


AN Uyung Pramudiarja - detikHealth

img
foto: Thinkstock
Jakarta, Salah satu obat pereda nyeri yang bisa dibeli tanpa resep adalah ibuprofen. Meski aman dan mudah didapatkan, obat ini tidak boleh digunakan sembarangan sebab dalam jangka panjang bisa menyebabkan masalah jantung dan pembuluh darah termasuk stroke. 

Ibuprofen bukan satu-satunya pereda nyeri yang meningkatkan risiko penyakit jantung. Pada tahun 2004, pereda nyeri yang lain yakni Rofecoxib yang dipasarkan dengan nama dagang Vioxx ditarik dari peredaran karena dapat memicu stroke dan serangan jantung. 

Risiko yang sama ternyata juga ada pada ibuprofen, yang hingga saat ini sangat populer penggunaannya termasuk untuk meredakan nyeri menstruasi. Bedanya pada ibuprofen peningkatan risiko terjadi hanya dalam pemakaian jangka panjang. 

"Pada umumnya pasien minum ibuprofen dalam periode singkat sekedar untuk mengatasi nyeri akut. Asal tidak berlebihan, risikonya sangat kecil," ungkap Prof Simon Maxwell dari British Pharmacological Society’s Prescribing Committee seperti dikutiop dari Dailymail, Kamis (13/1/2011). 

Menurut Prof Maxwell, risiko untuk mengalami stroke baru akan meningkat pada penggunaan ibuprofen sebanyak 3-4 butir/hari dengan dosis hingga 2.000 mg berturut-turut selama beberapa bulan atau bahkan 1 tahun. Untuk sekedar mengatasi sakit kepala, dosis dan lama pemakaian tentunya tidak akan sebesar itu. 

Kekhawatiran atas pengunaan ibuprofen mencuat setelah para ahli dari University of Bren di Swiss mempublikasikan temuan terbarunya baru-baru ini. Temuan yang dipublikasikan di British medical Journal itu merupakan hasil penelusuran terhadap 31 uji klinis yang melibatkan 116.429 pasien. 

Para ahli mengungkap bahwa pasien yang menggunakan ibuprofen sebagai antiradang maupun sebagai pereda nyeri dalam jangka waktu lama bisa meningkatkan risiko stroke hingga 3 kali lipat. Antiradang yang lain yang juga meningkatkan risiko stroke pada pemakaian jangka panjang adalah di
(up/ir


sumber : detik.com

Rajin Makan Tomat Cegah Serangan Jantung


AN Uyung Pramudiarja - detikHealth

img
foto: Thinkstock
Kyoto, Sekali menyerang, penyakit jantung dan pembuluh darah bisa sangat mematikan sehingga pencegahan akan jauh lebih baik dibandingkan pengobatan. Banyak makan tomat termasuk langkah pencegahan, sebab buah ini terbukti baik untuk kesehatan jantung.

Salah satu nutrisi yang terkandung dalam tomat adalah 9-okso-oktadekadioneat, senyawa yang mampu mengartasi dislipidemia atau ketidaknormalan kadar lemak dalam darah. Kadar lemak yang tidak normal di dalam pembuluh darah merupakan faktor risiko serangan jantung.

"Dislipidemia seringkali tidak menunjukkan gejala. Namun jika dibiarkan, kondisi ini bisa memicu gangguan serius seperi arteriosclerosis dan cirrhosis," ungkap Dr Teruo Kawada dari Kyoto University seperti dikutip dari Indiavision, Senin (10/1/2011).

Arteriosclerosis merupakan radang di pembuluh darah yang dipicu oleh lemak berlebih yang akhirnya membentuk plak pada dinding pembuluh darah. Sementara itu cirrhosis merupakan radang kronis di hati yang akan memperparah gangguan metabolisme lemak.

Penelitian yang dilakukan Dr Teruo menunjukkan kandungan 9-okso-oktadekadioneat dalam tomat dapat membantu pengaturan metabolisme lemak di hati. Dalam bentuk asam, senyawa ini dapat menetralisir kelebihan lemak dalam aliran darah dan mencegah serangan jantung.

Meskipun demikian, Dr Teruo tetap menyarankan pengaturan diet yang sehat jika ingin bebas dari risiko serangan jantung. Percuma rajin makan tomat jika sehari-hari masih sering mengonsumsi makanan yang banyak mengandung kolesterol.

Hasil penelitian tersebut dipublikasikan dalam jurnal Molecular Nutrition and Food Research baru-baru ini.

Selain baik bagi jantung, tomat sejak dulu juga dikenal sebagai sumber antioksidan. Senyawa ini mampu menangkal radikal bebas yang merupakan pemicu berbagai gangguan kesehatan termasuk kanker dan proses penu
(up/ir


sumber : detik.com

Jus Buah Delima Hambat Penyebaran Sel Kanker


AN Uyung Pramudiarja - detikHealth

img
foto: Thinkstock
Los Angeles, Manfaat buah-buahan dalam mengatasi penyakit kanker kembali diungkap oleh para ahli. Kali ini jus buah delima terbukti menghambat penyebaran kanker prostat ke jaringan tulang. Diyakini buah ini berkhasiat juga untuk jenis kanker lainnya.

Buah delima atau pomegranate (punica granatum) berasal dari Timur Tengah, namun telah menyebar ke berbagai wilayah. Tanaman ini bisa hidup di iklim tropis maupun subtropis dan sering ditanam sebagai tanaman hias yang buahnya bisa dimakan.

Khasiatnya menghambat pertumbuhan sel kanker terungkap dalam sebuah penelitian di University of California, Los Angeles (UCLA) beberapa bulan yang lalu. Namun pada saat itu para peneliti gagal menjelaskan mekanisme biologis termasuk senyawa apa yang menyebabkan buah ini berkhasiat.

Bahkan perusahaan yang menyuplai buah delima untuk penelitian tersebut, yakni Pom Wonderful sempat didenda oleh Komisi Perdagangan Amerika Serikat. Pasalnya perusahaan ini dianggap memberikan klaim palsu terkait manfaat buah delima yang saat itu belum jelas betul.

Namun baru-baru ini peneliti yang sama akhirnya berhasil mengungkap bahwa penghambatan sel kanker dipicu oleh kandungan asam lemak dalam buah delima. Pada kanker prostat, senyawa ini bisa mencegah serangan kanker meluas ke jaringan tulang di sekitarnya.

Keberhasilan mengidentifikasi senyawa bermanfaat dalam buah delima dianggap cukup penting meski sebenarnya khasiat buah ini sudah diketahui sebelumnya. Para peneliti mengatakan modifikasi terhadap senyawa alami tersebut kini bisa dilakukan untuk meningkatkan efektivitasnya.

"Karena gen dan protein yang terlibat dalam persebaran sel kanker prostat tidak jauh berbeda dengan jenis kanker lain, maka asam lemak dalam buah delima bisa sedikit dimodifikasi untuk jenis kanker yang lain," ungkap Dr Manuela Martins-Green dari UCLA seperti dikutip dari Dailymail, Selasa (14/12/2010).

Hasil penelitian tersebut dipersentasikan dalam pertemuan tahunan American Society of Cell Biology(up/ir


sumber : detik.com

EURO 2012 LIVE

TV Online Live Streaming Piala Eropa Euro 2012

Jantung Lebih Sehat Jika Sering Mendengarkan Orang Curhat


AN Uyung Pramudiarja - detikHealth

img
foto: Thinkstock
Boston, Hipertensi atau tekanan darah tinggi merupakan faktor risiko serangan jantung yang gampang-gampang susah untuk dikendalikan. Selain dengan obat, tekanan darah bisa juga dikendalikan dengan kebiasaan baik yakni mendengarkan orang curhat.

Peneliti dari University of Massachusetts, Dr Thomas Houston mengungkap hal itu dalam sebuah eksperimen yang dilakukannya baru-baru ini. Eksperimen tersebut melibatkan 230 orang dewasa dengan riwayat tekanan darah tinggi atau hipertensi.

Para relawan dibagi menjadi 2 kelompok, salah satunya diberi 3 keping DVD yang berisi curahan hati (curhat) penderita hipertensi tentang upayanya menjaga kesehatan. Kelompok yang lain juga diberi DVD, namun isinya tidak berhubungan dengan kesehatan.

Setelah 3 bulan, para peneliti menemukan perbedaan profil tekanan darah pada kedua kelompok relawan. Kelompok yang menonton DVD 'curhat' secara rutin setiap hari memiliki tekanan darah lebih rendah dan terkontrol dibandingkan kelompok yang menonton DVD biasa.

Kelompok relawan yang menonton DVD orang curhat memiliki tekanan sistolik 6,53-11,21 poin lebih rendah dibandingkan kelompok yang satunya. Sementara untuk tekanan diastoliknya, pada kelompok tersebut teramati lebih rendah 3,05-6,43 poin dibanding kelompok yang lain.

"Saya rasa penelitian ini memperkuat bukti bahwa komunikasi positif bisa membantu orang-orang untuk lebih mudah mengontrol kesehatannya," ungkap Dr Houston seperti dikutip dari Time, Selasa (18/1/2011).

Meski demikian, efek mendengarkan curhat bagi hipertensi tidak bertahan dalam jangka panjang apalagi permanen. Dalam 6 bulan sejak eksperimen tersebut dihentikan, tekanan darah para relawan kembali tidak terkontrol sehingga harus mengonsumsi obat-obatan seperti sediaka
(up/ir


sumber : detik.com

Kurangi Kadar Garam dengan Mencium Makanan


Merry Wahyuningsih - detikHealth

img
(Foto: thinkstock)
Burgundy, Bermain-main dengan bau makanan bisa menjadi kunci untuk membuat makanan tampak lebih asin. Mencium makanan sebelum Anda memakannya bisa membantu mengurangi kadar garam yang Anda makan.

Otak bisa tertipu dan berpikir makanan lebih asin daripada yang sebenarnya, yaitu dengan menggunakan bau tertentu yang meningkatkan persepsi garam dalam makanan.

Menurut peneliti, mencium makanan sebelum Anda memakannya dapat mengurangi kandungan garam dari makanan lebih dari 25 persen, dengan meningkatkan intensitas bau tertentu.

Penelitian baru yang dilakukan oleh ilmuwan University of Burgundy, menunjukkan bahwa dengan menambahkan aroma buatan yang terkait dengan rasa asin, seperti berasal dari sarden, keju atau daging, bisa menipu pikiran konsumen bahwa ada lebih banyak garam dalam makanan dibandingkan yang sebenarnya. Peneliti telah mengidentifikasikan 14 bau berbeda yang dapat meningkatkan persepsi asin makanan tanpa tambahan garam.

"Dalam penelitian kami mengamati peningkatan rasa asin disebabkan oleh bau sarden tetapi tidak dengan bau wortel. Bau sarden kongruen dengan rasa asin sedangkan wortel tidak bau," jelas Dr Thierry Thomas-Danguin, peneliti Centre for Science of Taste and Food di University of Burgundy, seperti dilansir Telegraph, Senin (15/8/2011).

Bau yang meningkatkan persepsi asin adalah sebuah fenomena yang terpusat berdasarkan memori asosiatif dan pengaktifan representasi internal dari bau garam.

Selain bau sarden, bau lain seperti kacang tanah, ham, teri dan bacon juga dapat meningkatkan rasa garam dalam makanan.

Dengan menambahkan bau tersebut untuk makanan, peneliti percaya hal itu akan dapat mengurangi jumlah garam pada makanan sebenarnya. Namun dibutuhkan penelitian lebih lanjut untuk dapat mengembangkannya.

Konsumsi garam berlebihan adalah faktor risiko utama pada penyakit jantung, tekanan darah tinggi dan stroke.

Food Standard's Agency memperkirakan bahwa pengurangan konsumsi garam hingga jumlah sehat 6 gram per hari dapat mencegah sekitar 20.000 kematian prematur per tahun. Saat ini rata-rata orang dewasa Inggris makan 8,6 gram garam sehari.


Sumber : detik.com

Makanan Asin Bisa Rusak Pembuluh Darah Dalam Waktu 30 Menit


Vera Farah Bararah - detikHealth

img
(Foto: thinkstock)
Jakarta, Mengonsumsi makanan dengan kadar garam atau natrium yang tinggi bisa menimbulkan masalah bagi tubuh. Namun ternyata efek ini lebih buruk daripada yang diperkirakan. Kadar garam tinggi bisa merusak pembuluh darah dalam waktu 30 menit.

Peneliti dari Australia mengungkapkan bahwa makanan yang sarat akan garam dengan cepat akan menghentikan pelebaran pembuluh darah, meskipun orang tersebut memiliki tekanan darah yang normal. Kerusakan pembuluh darah ini bisa terjadi hanya dalam waktu 30 menit dari saat ia makan.

Kacie M Dickinson dan rekannya dari Commonwealth Scientific and Industrial Research Organization di Adelaide melibatkan 16 orang sehat dalam studi ini. Partisipan dibagi menjadi dua kelompok, yang mana kelompok pertama diberikan sup tomat dengan kadar garam rendah sedangkan kelompok kedua diberikan sup tomat yang sama dengan kadar garam 10 kali lipat lebih banyak.

Setelah itu peneliti mengukur arteri (pembuluh darah) peserta dengan menggunakan ultrasound. Didapatkan arteri peserta yang mengonsumsi garam lebih banyak akan mengalami kerusakan yang membuat aliran darah terbatas. Efek ini akan mulai berkurang dalam waktu sekitar 2 jam. Hasil ini telah dipublikasikan dalamAmerican Journal of Clinical Nutrition.

"Yang penting dari studi ini adalah menambahnya bukti bahwa natrium bisa memberikan efek kronis langsung pada pembuluh darah," ujar Dr Sahil Parikh, ahli jantung dari University Hospitals Case Medical Center, seperti dikutip dari AOLHealth, Kamis (10/2/2011).

Ketika jantung memompa darah melalui arteri akan menghasilkan gas oksida nitrat yang menyebabkan dinding arteri menjadi rileks dan memungkinkannya untuk menyempit atau melebar, sesuai dengan keadaan.

Para ilmuwan percaya garam yang berlebih bisa menghalangi pelepasan oksida nitrat yang membuat dinding arteri mengeras dalam waktu singkat. Karenanya orang yang berpotensi atau memiliki faktor risiko terhadap hipertensi dan juga jantung harus melakukan diet garam atau natrium.

Parikh menyarankan masyarakat untuk mengikuti pedoman yang direkomendasikan dalam mengonsumsi garam per harinya. Sedangkan pada orang yang bekerja keras dan berolahraga mungkin membutuhkan kadar garam yang sedikit lebih tinggi dalam pola dietnya.

Rekomendasi konsumsi garam yang diberikan pakar kesehatan setiap hari berdasarkan usia adalah
0-6 bulan 1 gram
7-12 bulan 1 gram
1-3 tahun 2 gram
4-6 tahun 3 gram
7-10 tahun 5 gram
11-14 tahun 6 gram
Dewasa 6 gr
(ver/ir


sumber : detik.com

Penyakit-penyakit Akibat Konsumsi Garam Berlebih


Vera Farah Bararah - detikHealth

img
(Foto: thinkstock)
Jakarta, Garam merupakan bumbu yang selalu digunakan dalam masakan sehari-hari. Tapi sebaiknya perhatikan jumlah asupan garam yang dikonsumsi, karena jika berlebihan bisa memicu beberapa penyakit.

Garam adalah mineral yang terdiri dari 40 persen natrium dan 60 persen klorida. Mineral tersebut memang penting untuk semua makhluk hidup, tapi tidak boleh dikonsumsi secara berlebihan.

Kelebihan garam dalam tubuh bisa menyebabkan efek yang serius pada kesehatan, termasuk rasa haus, anemia, rasa lapar palsu dan beberapa penyakit utama seperti dikutip dari Lifemojo, Jumat (17/6/2011) yaitu:

1. Tekanan darah tinggi (hipertensi)
Asupan garam yang tinggi diketahui bisa meningkatkan tekanan darah. Studi tahun 2007 menemukan pasien dengan tekanan darah tinggi akan mendapatkan manfaat yang signifikan dengan mengurangi asupan garam.

2. Penyakit kardiovaskular
Tekanan darah yang tinggi bisa mengakibatkan seseorang terkena penyakit serius yang berhubungan dengan kardiovaskular seperti jantung dan kelumpuhan stroke. Diketahui mengurangi asupan 1 gram garam bisa mengurangi risiko stroke hingga seperenamnya.

3. Pembesaran jantung
Catatan medis menemukan asupan garam yang tinggi bisa membuat seseorang berisiko menderita left ventricular hypertrophy (pembesaran dari jaringan otot yang membentuk dinding utama jantung untuk memompa).

4. Retensi cairan
Jumlah natrium dalam tubuh menentukan tingkat cairan. Jika konsumsi garamnya terlalu banyak maka ginjal akan sulit menghilangkannya dan membuat tubuh mempertahankan cairan yang bisa memicu pembengkakan.

5. Gangguan sistem pencernaan
Garam berlebih yang masuk ke tubuh bisa berinteraksi dengan bakteri H.pylori yang menyebabkan tukak lambung, serta garam berlebih bisa mengurangi jumlah pepsin (enzim pencernaan) di dalam tubuh yang akan meningkatkan keasaman dan diare.

6. Meningkatkan sekresi empedu
Ketika seseorang banyak mengonsumsi makanan asin maka sekresi empedu akan meningkat yang menyebabkan kepadatan darah semakin tinggi sehingga mengurangi vitalitas. Hal ini juga mengakibatkan masalah kulit seperti wajah dan bibir kering serta kadang menyebabkan sakit dan pendarahan di bibir.

7. Osteoporosis 
Kelebihan garam bisa mencegah penyerapan kalsium dalam tubuh yang membuat seseorang rentan terkena osteoporos
(ver/ir


sumber : detik.com

Jutaan Kematian Bisa Dicegah dengan Mengurangi Garam


Vera Farah Bararah - detikHealth

img
(Foto: thinkstock)
Jakarta, Konsumsi garam yang terlalu tinggi bisa menimbulkan bahaya bagi tubuh termasuk penyakit kardiovaskular. Karenanya mengurangi asupan garam, bisa mencegah jutaan kematian di seluruh dunia.

Professor Francesco Cappuccio dari Warwick Medical School dalam pertemuan tahunan PBB tingkat tinggi mengenai penyakit tidak menular menuturkan asupan garam yang diturunkan memiliki potensi untuk menyelamatkan jutaan nyawa di seluruh dunia karena mengurangi kasus penyakit jantung dan stroke.

Penelitian baru yang dilakukan oleh Professor Cappuccio dalamBritish Medical Journal menunjukkan bahwa di Inggris pengurangan 3 gram garam per hari bisa mencegah 8.000 kematian stroke dan 12.000 kematian penyakit jantung koroner per tahun di Inggris.

Penurunan serupa juga terjadi di Amerika Serikat yaitu pengurangan kasus penyakit jantung koroner sebanyak 120.000, kasus stroke berkurang hingga 6.000 dan serangan jantung hingga 99.000 per tahunnya. Kondisi ini bisa menghemat biaya perawatan kesehatan sebesar US$ 24 miliar per tahunnya.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga telah menetapkan tujuan global dalam mengurangi asupan garam hingga kurang dari 5 gram (sekitar 1 sendok teh) per orang per tahunnya. Hal ini karena asupan garam di banyak negara saat ini sudah jauh melebihi yang dianjurkan.

"Harus diakui bahwa produsen makanan juga memberikan kontribusi terhadap epidemi penyakit kardiovaskular, karenanya mereka juga memiliki tanggung jawab yang besar," ujar Professor Cappuccio.

Professor Cappuccio memperingatkan pencegahan yang bisa dilaksanakan melalui reformulasi makanan, intervensi pasar atau tindakan wajib bagi seluruh industri, serta peran dari semua pihak termasuk akademisi, pemerintah dan organisasi kesehatan.

Garam adalah mineral yang terdiri dari 40 persen natrium dan 60 persen klorida. Mineral tersebut memang penting untuk semua makhluk hidup, tapi tidak boleh dikonsumsi secara berlebihan. Karena kelebihan garam dalam tubuh bisa menyebabkan efek yang serius pada kesehatan, termasuk rasa haus, anemia, rasa lapar palsu dan beberapa penyakit.<
(ver/ir


Sumber : detik.com

Garam Bisa Bikin Kecanduan Seperti Rokok dan Narkoba


Merry Wahyuningsih - detikHealth

img
(Foto: thinkstock)
Melbourne, Sama halnya dengan rokok dan obat-obatan terlarang, garam ternyata juga bisa bikin orang ketagihan. Penelitian menunjukkan garam, rokok dan narkoba menstimulasi daerah otak yang sama.

Temuan ini dapat menjelaskan mengapa banyak orang yang begitu sulit untuk mengurangi asupan garam, meskipun terdapat peringatan tentang bahaya tekanan darah tinggi dan kesehatan jantung.

Peneliti dari Australia dan Amerika menemukan bahwa garam dapat memicu gen, sel-sel otak dan koneksi otak yang sama dengan yang dilakukan oleh rokok dan obat-obatan terlarang.

"Dalam studi ini kami telah menunjukkan bahwa salah satu naluri klasik 'kelaparan' garam, menyediakan organisasi saraf sama seperti yang pada kecanduan opiat (opium) dan kokain," ujar Prof Derek Denton dari University of Melbourne, seperti dilansirTimeofindia, Selasa (11/10/2011).

Menurut Prof Denton, ketika orang makan makanan asin maka sel otak akan membuat protein lebih banyak dari biasanya, sama seperti yang terjadi ketika otak sudah kecanduan heroin, kokain dan nikotin.

Penelitian ini juga mengungkapkan bahwa setelah makan garam otak akan percaya telah memperbaiki tubuh dengan baik setelah sebelumnya 'kelaparan' garam. Dengan kata lain, perubahan yang disebabkan oleh 'nafsu' garam menghilang sebelum garam bisa meninggalkan usus, memasuki darah dan sampai ke otak.

"Sungguh menakjubkan melihat gen yang disetting 'off' ketika kehilangan natrium (garam) tiba-tiba kembali pada state awal hanya dalam beberapa menit," jelas Prof Denton.

Hasil penelitian ini telah dipublikasikan pada jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences.

Penelitian sebelumnya juga menemukan bahwa makanan yang mengandung garam akan terus merangsang otak sehingga dopamin akan menyala dan membuat seseorang terus memikirkan makanan tersebut yang akan memicu terjadinya ketagihan terhadap makanan tersebut.

Selain itu indera pengecap manusia memang mendambakan makanan asin dari waktu ke waktu, sehingga lebih banyak gula dan garam yang dimakan, maka keinginan untuk terus makan juga semakin kuat. Kondisi ini seperti halnya seseorang yang kecanduan nikotin dalam rokok.

Jika rasa ketagihan ini terus menerus muncul maka bisa memicu terjadinya obesitas, diabetes dan tekanan darah tinggi (hipertensi). Penyakit-penyakit tersebut diketahui bisa menimbulkan berbagai macam komplikasi.

Untuk itu masyarakat diharapkan mulai mengurangi asupan gula dan garam secara bertahap, misalnya dengan menghindari makan di depan televisi yang membuat seseorang menjadi overeating dan mengurangi stres.


sumber : detik.com

GRATIS PLUS HADIAH

Hosting Gratis