website trackingwebsite tracking

PTC..PELUANG DAPAT UANG HANYA DENGAN MODAL KLIK

Cara Instan Untuk Verifikasi PayPal !
Tampilkan postingan dengan label DEPRESI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label DEPRESI. Tampilkan semua postingan

Jumat, 15 Juni 2012

Riset: Olahraga Tak Bantu Atasi Depresi


Bramirus Mikail | Tri Wahono | Sabtu, 9 Juni 2012 | 07:37 WIB

SHUTTERSTOCK
KOMPAS.com — Penelitian terbaru mengklaim bahwa menggabungkan aktivitas fisik dengan perawatan konvensional untuk depresi ternyata tidak membantu proses pemulihan. Riset ini didanai oleh NHS dan dipublikasikan dalam British Medical Journal.
Dalam kajiannya, peneliti membantu para relawan untuk meningkatkan tingkat aktivitas mereka. Di sisi lain, mereka juga menerima terapi atau obat anti-depresi.

Setelah satu tahun, sebanyak 361 pasien mengalami tanda-tanda depresi lebih sedikit, tetapi tidak ada perbedaan antara kelompok yang berolahraga dan tidak. Pedoman saat ini menyarankan agar pasien yang mengalami depresi melakukan sampai tiga sesi latihan setiap minggu.

Pedoman itu disusun oleh National Institute for Health and Clinical Excellence (Nice) pada tahun 2004. Pada saat itu mereka mengatakan bahwa berdasarkan penelitian yang sudah ada, peningkatan aktivitas fisik dapat membantu orang-orang dengan gejala depresi ringan.

Menurut para peneliti, temuan ini mengejutkan dan di luar perkiraan karena mereka berharap latihan fisik akan membantu mengatasi depresi. Namun, harus juga diingat bahwa pada penelitian ini pasien sudah menjalani pengobatan sehingga mereka lebih fokus melakukan latihan ketimbang perawatan medis.

"Pesan yang ingin disampaikan adalah Anda tidak harus berhenti berolahraga. Latihan memiliki banyak manfaat yang lain, baik dalam hal penyakit jantung, menurunkan tekanan darah, menyeimbangkan lemak dalam darah, memperkuat otot, dan membakar kalori. Banyak orang yang mengalami depresi mungkin memiliki masalah kesehatan lain juga. Badan yang aktif akan membantu untuk menghasilkan pikiran yang sehat," kata Prof Alan Maryon-Davis, ahli kesehatan masyarakat, dari King College London.

Dalam riset terbarunya, tim dari Universities of Bristol and Exeter, mencoba mengamati bagaimana pengaruh latihan benar-benar bisa bekerja dalam pengaturan klinis.

Semua relawan (361 orang) mengambil bagian dalam riset tersebut dan diberi perawatan konvensional sesuai dengan tingkat depresi mereka. Tetapi, selama delapan bulan beberapa orang dalam kelompok secara acak juga diberikan kesempatan untuk meningkatkan aktivitas fisik mereka.

Mereka diberi kebebasan untuk memilih jenis aktivitas yang diinginkan. Pendekatan ini mendorong partisipan lebih banyak bergerak selama periode waktu yang berkelanjutan—sesuatu yang bisa memiliki manfaat untuk kesehatan fisik secara umum. Tetapi, pada akhir tahun, para peneliti tidak menemukan adanya pengurangan gejala depresi pada kelompok yang lebih aktif.

Prof John Campbell, dari Peninsula College of Medicine and Dentistry, yang juga mengambil bagian dalam studi itu, mengatakan, "Banyak pasien yang menderita depresi lebih suka tidak harus mengambil obat anti-depresan, dan lebih memilih untuk mencari alternatif pengobatan tanpa obat yang berbentuk terapi."

"Olahraga dan aktivitas sepertinya menawarkan harapan sebagai salah satu pengobatan depresi, tetapi studi penelitian ini dengan cermat telah menunjukkan bahwa olahraga tampaknya tidak efektif dalam mengobati depresi," ujarnya.

Campbell mengatakan, pesan dari studi ini tidak berarti bahwa olahraga buruk untuk Anda. Olahraga tetap baik, tetapi tidak cukup baik bagi orang yang mengalami depresi cukup parah.

Saat ini, NHS masih merujuk pasien untuk mengikuti program sesi latihan yang diawasi sebagai bagian dari pengobatan untuk sejumlah penyakit, termasuk depresi. Hadirnya temuan ini, kemungkinan akan diperhitungkan sebagai review untuk pedoman yang berikutnya.

Rabu, 13 Juni 2012

Depresi Punya Manfaat Bagi Kesehatan Mental


inda Mayasari - detikHealth

img
(Foto: Thinkstock)
Jakarta, Ketika Anda merasa sedih dan depresi, jangan terburu-buru mengambil obat anti depressan. Depresi tidak sepenuhnya buruk untuk kesehatan mental Anda, atasi dengan cara yang tepat untuk mendapatkan manfaat dari kondisi tersebut.

Sebuah studi yang diterbitkan tahun lalu dalam American Journal of Psychiatry menyatakan bahwa di antara pasien yang dirawat karena masalah kesehatan mental, sebanyak 57 persen menggunakan obat anti depressan saja, sementara hanya 11 persen menjalani psikoterapi sendirian dan sisanya mendapatkan kedua perlakuan tersebut bersama-sama.

"Ada banyak alasan mengapa penggunaan obat sangat populer dibandingkan terapi. Salah satunya adalah kebiasaan tentang cara termudah untuk menangani sakit apapun adalah dengan menelan pil," kata Mark Olfson, MD, seorang peneliti di Columbia University School of Medicine, seperti dilansir dari prevention, Kamis (14/6/2012).

Obat anti depressan juga dapat diperoleh dengan mudah di apotek tanpa mengeluarkan banyak uang. Jika Anda pergi ke psikiater, Anda akan mengeluarkan lebih banyak uang untuk setiap sesi konsultasi.

Tetapi, psikiater akan memberikan stimulus kepada Anda agar dapat menghadapi masalah Anda dan mnghilangkan depresi secara alami. Menurut teori, rasa sakit dan kesedihan yang Anda rasakan ketika sedih bertujuan sebagai kekuatan dan mengklarifikasi penyembuhan.

"Depresi mungkin cara alami tubuh Anda yang akan memberitahu Anda untuk berhenti dan fokus pada hal-hal yang mengganggu pikiran, sehingga Anda bisa melewatinya dan melanjutkan hidup Anda. Depresi mungkin menyebabkan kesehatan mental Anda menjadi lebih baik," kata Paul Andrews, PhD, ahli biologi di Virginia Commonwealth University.

Penelitian telah menemukan bahwa kesedihan bisa memicu penalaran analitis, yaitu sejenis pemikiran intens yang memungkinkan Anda untuk memecah masalah yang kompleks menjadi bagian-bagian kecil dan lebih mudah dikelola, sehingga lebih mudah untuk diatasi.

Lara Honos-Webb, PhD, seorang psikolog klinis di San Francisco, memberikan saran kepada pasiennya untuk memikirkan masalah yang membuatnya depresi. Dengan cara ini, pasien akan berusaha untuk semakin melepaskan diri dari cengkeraman penyebab depresi. Anda dapat menjadi lebih kuat dan lebih tangguh karena pengalaman depresi.

Sementara menelan pil anti depressan dapat mencegah penderitaan psikologis, Anda dapat meningkatkan kemampuan otak dengan memikirkan kembali hal-hal yang membuat Anda depresi. Menghadapi tantangan dapat menguatkan Anda dan membuat Anda lebih siap untuk menghadapi tantangan berikutnya.

Obat tidak boleh menjadi hal utama yang berperan dalam pengobatan depresi. Bagi sebagian orang yang menderita depresi klinis mungkin memang perlu untuk mengonsumsi obat anti depressan, bahkan hal ini dapat menyelamatkan nyawanya.

Tetapi jika Anda mengalami stres ringan karena kesedihan, Anda tidak perlu mengambil obat anti depressan. Anda hanya perlu bekerja sama dengan otak untu memerangi penyebab depresi.

Terapis harus membantu pasien untuk fokus pada hal-hal yang mengganggunya dengan memberikan perhatian lebih pada apa yang pasien renungkan. Sehingga terapis dapat mengidentifikasi masalah dan kemudian membantu pasien dengan memberikan solusi.

Jika Anda tidak ingin menempuh jalan terapi psikologi, Anda dapat mencoba teknik yang cukup membantu yaitu dengan menuliskan apa yang menganggu pikiran Anda.

Sebuah studi pada tahun 2006 dan 2008 menemukan bahwa ketika penderita depresi menuliskan hal yang dirasakannya secara ekspresif, akan memaksa untuk fokus pada masalahnya. Depresi akan cenderung menjadi ringan daripada seseorang yang hanya memendam sendiri masalahnya.

(ir/ir

Selasa, 12 Juni 2012

Penderita Diabetes Lebih Moody dan Depresi

imgJakarta, Orang yang mengidap penyakit diabetes cenderung menderita depresi, mudah cemas dan marah jika kadar gula darahnya tak terkontrol dengan baik.

Oleh karena itu Dr. Satish Garg, pemimpin redaksi Diabetes Technology & Therapeutics dan profesor kedokteran dan kedokteran anak di University of Colorado Denver dalam artikelnya menuliskan bahwa peningkatan pemahaman tentang hubungan antara variabilitas glikemi dan gangguan psikologis dapat membantu kita menyusun strategi-strategi yang efektif untuk mengelola kondisi pasien.

"Hal ini karena gangguan mood dan kaitannya dengan rendahnya kontrol glukosa yang dapat menyebabkan komplikasi diabetes jangka panjang adalah
kekhawatiran yang luar biasa," ujar Garg seperti dilansir dariUPI.com, Rabu (9/5/2012).

"Namun kami masih belum tahu kondisi mana yang datang lebih dulu. Hal ini membutuhkan investigasi lebih lanjut, terutama dengan menggunakan teknologi yang lebih baru seperti pemantauan glukosa secara kontinyu," lanjutnya.

Hasil penelitian ini didapatkan Garg dari Sue Penckofer dari Loyola University Chicago di Maywood, Ill., dan koleganya dari University of Illinois, Chicago, Saint Mary's College, Notre Dame and Integrated Medical Development di Princeton Junction, N.J. yang melakukan pemantauan glukosa secara kontinyu dari sekelompok wanita penderita diabetes tipe 2.

Dalam artikel berjudul 'Does Glycemic Variability Impact Mood and Quality of Life?' tersebut, Gard juga mengungkapkan bahwa peneliti menemukan variabilitas glikemi yang lebih besar mungkin saja berkaitan dengan mood negatif dan rendahnya kualitas hidup.


sumber : http://health.detik.com/

Jumat, 08 Juni 2012

1 dari 3 Pengidap Diabetes Depresi Menghadapi Penyakitnya



Jakarta, Gangguan metabolisme tubuh bisa berpengaruh langsung terhadap kondisi kesehatan jiwa. Menurut penelitian terbaru, 35 persen atau sekitar 1 dari 3 pengidap diabetes khususnya tipe 2 juga mengalami gangguan depresi dan kegelisahan.

Penelitian yang dilakukan oleh The Diabetes Miles Study tersebut mengungkap, 35 persen pengidap diabetes melitus tipe 2 mengalami depresi dengan tingkat keparahan sedang hingga berat. Gangguan kejiwaan ini biasanya disertai juga dengan kegelisahan.

Salah seorang peneliti, Lewis Kaplan mengatakan diabetes cukup banyak menyumbang kasus depresi. Di Australia misalnya, dengan perkiraan 200.000 pengidap diabetes melitus tipe 2 maka paling tidak 70.000 di antaranya juga mengalami depresi dan kegelisahan.

"Sebagai pengidap diabetes melitus tipe 1 selama 31 tahun, saya sangat senang bahwa perhatian tengah difokuskan pada hubungan antara depresi dengan diabetes," kata Kaplan yang kebetulan juga seorang pengidap diabetes, seperti dikutip dari NineMSN, Selasa (15/5/2012).

Diabetes melitus tipe 1 seperti yang diidap oleh Kaplan umumnya tidak bisa dicegah karena dipicu oleh gangguan metabolisme yang dibawa sejak lahir. Sementara diabetes melitus tipe 2, sangat mungkin dicegah karena erat hubungannya dengan diet dan gaya hidup sehat.

Baik diabetes melitus tipe 1 maupun tipe 2 sama-sama menghambat metabolisme gula menjadi energi, sebab fungsi hormon insulin tidak bekerja sebagaimana mestinya. Gejala yang sering dirasakan para pengidapnya antara lain pandangan kabur dan cepat lelah.

Selain memicu depresi, diabetes melitus juga memicu komplikasi lain di berbagai sistem organ. Pada mata bisa memicu kebutaan, di organ vital bisa memicu gagal jantung atau ginjal sementara khusus pada lelaki juga bisa menyebabkan disfungsi ereksi.
sumber : http://health.detik.com/

GRATIS PLUS HADIAH

Hosting Gratis