website trackingwebsite tracking

PTC..PELUANG DAPAT UANG HANYA DENGAN MODAL KLIK

Cara Instan Untuk Verifikasi PayPal !

Senin, 11 Juni 2012

Minum Soda Sebabkan Turunnya Produksi Sperma?


Linda Mayasari - detikHealth

img
(Foto: Thinkstock)
Jakarta, Soda memang minuman yang banyak digemari karena rasanya yang enak. Tetapi apakah konsumsi soda yang berlebihan berpengaruh terhadap kesehatan reproduksi Anda, terutama produsi sperma?

Sebuah badan militer di Denmark melakukan pemeriksaan kesehatan terhadap lebih dari 2.500 pria usia 18 tahun yang akan menjalani tes masuk layanan militer. Penelitian tersebut dilakukan antara tahun 2001 dan 2006.

Pada waktu itu, subyek penelitian adalah tentang faktor gaya hidup, termasuk pola makan. Penelitian ini awalnya dilakukan untuk menguji pengaruh kafein terhadap kualitas sperma dan kuantitas.

Tetapi kemudian para peneliti juga tertarik dengan konsumsi soda di kalangan pemuda yang terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir ini. Studi ini tidak menemukan bahwa konsumsi kafein yang tinggi terkait dengan penurunan jumlah produksi sperma.

Penelitian menunjukkan hasil lain yaitu pengaruh minuman bersoda terhadap produksi sperma. Pria yang minum satu liter atau lebih minuman bersoda sehari memproduksi sperma sekitar 3.500 mililiter. Pria yang tidak minum minuman bersoda memproduksi sperma sekitar 5.000 mililiter per harinya.

Sementara kedua jumlah sperma tersebut masih berada dalam kisaran normal, pria dengan jumlah sperma lebih rendah memiliki risiko yang lebih tinggi terhadap masalah kesuburan. Efek ini tampaknya tidak disebabkan oleh kandungan kafein dalam minuman bersoda, karena tidak terlihat pada peminum kopi atau teh.

Para peminum soda umumnya makan lebih banyak dan lebih cepat dibanding orang yang minum air putih ketika makan. Ketika Anda minum soda, Anda akan lebih memilih makan makanan ringan yang asin daripada sayuran dan buah-buahan. Konsumsi soda yang berlebihan termasuk gaya hidup yang kurang sehat dan bisa bertanggung jawab terhadap penurunan sperma.

Penelitian ini diterbitkan dalam American Journal of Epidemiologypada tanggal 15 April 2010, seperti dilansir darithedoctorwillseeyounow, Selasa (12/6/2012).

Detik.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

GRATIS PLUS HADIAH

Hosting Gratis